
Benar apa yang di katakan oleh Leon, tepat jam sepuluh pagi, dua orang dengan pakaian rapi datang menemuinya.
Mereka terlihat seperti orang baik-baik dan juga tampak berpendidikan tinggi.
Ada percakapan sebentar sebelum Leon meminta Nisa untuk mengambilkan berkas yang sudah ia siapkan.
"Terimakasih karena anda bersedia ke sini!" ucap Leon saat kedua orang itu akan berpamitan.
"Sama-sama pak Leon, semoga pak Leon cepat sembuh!"
"Terimakasih!"
"Kami permisi dulu!"
"Silahkan!"
Orang-orang itu pun meninggalkan ruangan Leon, walaupun belum terlalu banyak setidaknya sekarang Leon sudah bisa duduk sendiri tanpa bantuan orang lain, luka di perutnya sudah mulai mengering.
"Mas mau aku bantu sesuatu?"
Pertanyaan Nisa membuat Leon mengalihkan pandangannya terhadap pintu yang sudah tertutup kembali.
"Cairan infusku habis!" ucap Leon sambil menunjuk kantong infus yang menggantung dan iya, cairan itu habis.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Dengan cepat Nisa berlari ke luar ruangan, dia sepertinya sedang mengambil stok cairan infus. Selang lima menit Nisa kembali dengan kantong infus yang baru.
Tangannya begitu cekatan mengganti kantong infus itu, Leon tertarik untuk memperhatikan gadis itu, dia memang cantik dan lagi Solehah.
"Kenapa mas?" tanya Nisa yang ternyata sadar telah di perhatikan. Leon dengan cepat mengalihkan tatapannya.
"Bisa tidak setelah ini kamu merawatku di rumah!?"
Nisa dengan cepat menghentikan pekerjaannya yang sedang mengatur aliran cairan infus itu.
"Maksud mas Leon apa?"
"Saya sudah terlalu lama di sini, dan ada banyak hal yang membuat saya lebih baik untuk tinggal di rumah saja dan melakukan perawatan di sana!"
Nisa lagi-lagi terdiam, baginya tinggal sendiri dengan orang asing sungguh membuatnya tidak nyaman. Saat ini saja dia sudah menjadi bahan omongan teman-temannya karena menjadi perawat khusus pria di sampingnya itu.
Tapi sepertinya Leon juga sudah melakukan banyak pertimbangan sebelum memutuskan semuanya, Nisa masih di bawah naungan rumah sakit dan di gaji dari rumah sakit jadi walaupun melakukan perawatan di rumah masih atas pengawasan rumah sakit dan dokter akan datang berkala mengunjungi Leon untuk melakukan pemeriksaan.
"Memang sulit sih memutuskan, apalagi wanita sepertimu! Sebenarnya saya sudah menanyakan hal ini pada dokter Ardan dan dokter Reza, mereka berjanji akan menanyakan pada orang tuamu!"
Mendengar ucapan Leon, Nisa benar-benar terkejut, ia sampai menatap Leon tidak percaya.
"Mas Leon tahu jika mereka_?" tanya ya sambil menutup mulutnya.
"Nama kamu Aninda Nisa Aulya, anak ke empat dari empat bersaudara, ibu seorang ibu rumah tangga sedangkan ayah kamu pengacara, Kakak kamu yang pertama Auliya Sifa yang menikah dengan seorang putra dari ustad Maulana, pengasuh pondok pesantren Mambaul Hisyam. Kakak kedua kamu Dokter Ardan Wardana, menikah dengan salah satu dosen di universitas Surabaya. kakak ketiga kamu dokter Reza Ramadhan, baru saja menyelesaikan S2 kedokteran dan akan menikah bulan depan. Usia kamu bulan November kemarin baru genap dua puluh dua tahun!"
Nisa hanya terus tercengang mendengar kan apa yang di ucapkan oleh Leon dengan begitu benar dan tidak ada yang meleset sedikitpun.
"Mas Leon punya indra ke enam ya?"
Mendengar pertanyaan Nisa, Leon hanya memicingkan matanya, "Kamu seorang muslim taat, masih percaya dengan yang seperti itu?"
"Kenapa? tidak ada yang salah mas dari perkataan ku, memang dalam Islam itu ada beberapa orang yang memang dikaruniai sama Allah dengan kemampuan itu!"
"Dan kamu percaya saya salah satunya?"
__ADS_1
Nisa menggelengkan kepalanya, melihat penampilan Leon. Jelas Leon bukan orang yang taat hingga punya keistimewaan itu.
"Hanya untuk mencari informasi satu orang saja bukan hal yang sulit bagi saya!"
Nisa hanya bisa mengagumi pria di depannya itu, sebenarnya pria seperti apa yang sedang dia hadapi saat ini. Ternyata bukan hanya cerdas tapi juga punya sikap tanggap yang baik.
"Soal yang tadi, biar saya pikirkan dulu ya mas, saya juga harus ijin sama orang tua saya!"
"Itu hak kamu, lagi pula aku tidak memaksa!"
...🌺🌺🌺...
Ini kali ke dua Leon meminta Nisa untuk mengantarkan berkas ke rumah binaan pemasyarakatan. Nisa sebenarnya begitu senang. walaupun kali ini tidak sendiri, ia mengajak sang kakak.
Bukan karena dia tidak berani, tapi memang dia tidak mau kakaknya marah gara-gara ia pergi sendiri.
"Kak Reza mau tetap di sini atau mau ikut masuk?" tanya Nisa saat ia akan turun dari mobil.
"Ya masuk lah, ogah aku sendiri di sini di kira sopir kamu entar!"
"Kan emang hari ini kak Reza jadi sopir aku!"
"Enggak ya!"
"Tapi awas ya kak kalau membuat keributan di sini!"
"Jangan khawatir!"
Walaupun selalu berdebat setiap kali bersama, tapi memang itu yang paling mereka rindukan.
Dokter Ardan dan dokter Reza memang mempunyai karakteristik yang berbeda. Dokter Arda lebih dingin, ia tidak banyak bicara tapi sangat perhatian dengan Nisa, adik perempuannya.
Dokter Reza terus mengikuti langkah Nisa di belakangnya. Nisa tetap dengan gamisnya yang selalu mampu menyihir mata siapapun yang melihatnya.
Satu kali kunjungan sudah membuat Nisa hafal dengan seluk beluk tempat yang membuatnya cukup berkesan.
Nisa melakukan hal yang sama, dia meminta ijin petugas untuk bertemu dengan pria yang bernama Alex itu.
Dan sesuatu yang sangat ia tidak sangka saat ingin menemuinya , pria itu sedang duduk dengan seorang pria yang seumuran dan sepertinya seorang ustadz.
"Sepertinya masih ada tamu kak, beliaunya!" ucap Nisa sambil menahan langkah dokter Reza. Pria yang di maksud sedang duduk di teras masjid seperti biasa, sepertinya itu memang tempat favorit bagi pria itu.
"Mana sih orangnya?" dokter Reza jadi sangat kepo dengan pria yang Nisa maksud.
"Itu!"
Dokter Reza mengikuti arah telunjuk Nisa, mungkin kesal pertama yang dokter Reza tangkap sama persis seperti yang di lihat Nisa pertama kali, pria yang cukup menonjol.
"Pantas kamu betah di sini, dia tampan!" celetup dokter Reza membuat Nisa dengan cepat mencubit pinggangnya.
"Aughhhh, sakit tahu!"
"Makanya jangan asal bicara!"
"Ahh iya, lupa aku! Kamu kan memang sudah terlanjur jatuh hati sama mas Leon!"
"Apaan sih kak!"
Mendengar candaan dokter Reza, wajah Nisa tiba-tiba bersemu merah.
"Eh tunggu, kayaknya aku kenal deh sama temennya itu!?"
__ADS_1
"Yang mana kak?"
"Itu yang di sampingnya! Kamu kenal nggak?"
"Ya nggak lah kak, aku ke sini baru kali ini!"
"Bagus!"
Dokter Reza berjalan cepat meninggalkan Nisa, ia tidak sabar untuk menghampiri pria itu.
"Assalamualaikum!" sapa dokter Reza dan berhasil membuat dua pria itu menoleh padanya.
"Waalaikum salam!" sahut keduanya, dan pria yang bersama dengan Alex terlihat mengerutkan keningnya.
"Reza kan?"
"Fahmi?"
"Iya!"
Seperti dua kawan lama yang baru bertemu kembali dan mereka saling bersalaman, menyatukan bahu mereka.
Ternyata dokter Reza dan ustad Fahmi adalah teman semasa mereka SMA.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan Alex mereka berpamitan untuk mengobrol berdua meninggalkan Alex dan Nisa.
"Assalamualaikum pak Alex!" sapa Nisa setelah memastikan kakaknya tidak menggangu lagi.
"Waalaikum salam!"
Alex cukup terkesan dengan penampilan Nisa, penampilannya selalu mengingatkannya pada seseorang, dan ucapan salamnya mampu menguatkan hatinya seakan Aisyah yang memberinya salam.
"Kamu di minta Leon lagi?"
"Iya!"
Nisa tidak menambah dengan menjanjikan mungkin Leon sendiri yang akan ke sini beberapa hari karena nyatanya janjinya yang kemarin tidak bisa ia tepati.
"Dia belum sembuh?"
Alex sudah menduganya, pasti bukan hanya kecelakaan biasa yang bisa membuat Leon sampai begitu lama di rumah sakit, Leon bukan orang yang manja hingga begitu betah berada di rumah sakit terlalu lama.
Lagi-lagi Nisa tidak bisa menjawabnya, ia tidak mau menjanjikan yang belum tentu akan bisa ia tepati setelah ini.
"Sampaikan saja salamku, aku baik-baik saja dan jangan mencemaskan ku!"
Alex kembali mengambil berkas yang ada di tangan Nisa dan membubuhkan tanda tangan pada beberapa berkas itu.
Sebenarnya ada proyek baru yang seharusnya sudah selesai tahun ini dan ternyata tidak bisa. Proyek ini sudah di rencanakan sejak sebelum Alex masuk penjara, perusahaannya sedang membuat yayasan yang bisa membangun sekolah-sekolah yang ada di daerah.
Karena terkendala keadaan, mungkin proyek ini akan selesai beberapa tahun lagi setelah Alex keluar dari tahanan.
Bersambung
...Berharap pada yang menciptakan bukan pada ciptaan-Nya. Dalam hidup, kamu akan bertemu dua jenis orang, orang yang membangunmu dan orang yang menjatuhkanmu. Namun pada akhirnya kamu akan berterima kasih pada mereka berdua. Karena dari keduanya kamu akan belajar arti sabar dan arti percaya....
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...