
...Rahasia itu ibarat belenggu, dan saat ada keberanian untuk mengungkapkan kebenarannya kita akan merasakan kebebasan dari belenggu yang begitu berat ...
...🌺Selamat membaca🌺...
"Kalau begitu Raka akan menemani kakek di sini!"
"Jangan! Sudah waktunya kamu kembali, kakek akan senang kalau kamu jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain! Kakek juga masih punya satu lagi rahasia yang belum kamu ketahui!"
"Apa?"
"Kamu masih punya saudara!"
Raka yang awalnya menunduk seketika menatap sang kakek, sebenarnya ada sebanyak rahasia apa dengan dirinya. Baru beberapa tahun lalu ia tahu jika ia masih punya seorang saudara perempuan, dan kini di tambah lagi, dia punya saudara.
"Kek, saya memang tidak terlalu mengenal kakek, tapi bisakah kakek mengingatkanku bagaimana bisa saya punya saudara?"
Gus Raka tetap dengan gaya tenangnya, pembawaannya yang tenang menambah karisma pada pria yang di ketahui masyarakat banyak seorang putra dari kyai besar.
Hehhhh ....
Terdengar helaan panjang dari pria yang sudah menampakkan betapa banyak jumlah umurnya dari kerutan yang begitu banyak di wajah dan dadanya yang terbuka. Rambutnya juga juga sudah putih seluruhnya tanpa menyisakan sehelai pun warna hitam.
Pria tua itu meletakkan anyamannya yang baru setengah jadi. Tangannya terlihat meraih sesuatu di dalam saku baju berwarna hitam yang sudah ia lepas sedari tadi, mengambil sebuah dompet lusuh yang ia dapat dari membeli perhiasan, walaupun sudah memudar, tapi tulisan nama toko perhiasan di salah satu kota Denpasar itu masih terbaca, mungkin itu dompet bekas sang kakek membelikan perhiasan untuk cucunya.
Ia membuka resleting dan mengeluarkan dua lembar foto yang sudah lusuh dan menyerahkannya pada Gus Raka.
"Foto itu kakek sengaja kakek ambil saat akan mengantarkan kalian ke tempat Abi kamu, saat itu ayah dan ibu kamu baru saja meninggal!"
Gus Raka melihat foto itu, benar ada dua anak laki-laki berusia lima tahunan, memakai baju yang sama, hanya warnanya saja yang berbeda. Kemeja berwarna biru muda dan biru tua. Walaupun usianya terlihat sama, tapi wajah mereka sedikit berbeda. Sepertinya dua anak dalam foto itu kembar tapi tidak identik.
Gus Raka masih mengenal wajahnya waktu kecil, anak kecil berbaju biru muda itu dirinya sedangkan biru tua, mungkin saudaranya.
Setelah memberi waktu Gus Raka untuk mengamati foto itu, sang kakek pun kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Saat itu kakek tidak bisa menghidupi kalian bertiga, apalagi Yani saat itu masih berusia dua tahu. Saat ada kyai yang sedang menawarkan ingin mengadopsi kalian, kakek pikir mungkin itu keputusan terbaiknya. Sepasang suami istri dari pesantren yang sedang menginginkan kehadiran buah hati karena sudah lima tahun menikah dan belum di karunia buah hati.
Tidak masalah bagi kakek jika kalian menjadi seorang muslim, toh dulu ibu kalian juga seorang muslim.
Kakek pun menitipkan Yani pada saudara dan membawa kalian ke Surabaya, saat di perjalanan tiba-tiba bus yang kita tumpangi kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan.
Kita bertiga di larikan ke rumah sakit terdekat, kakek terluka parah hingga kakek tidak bisa langsung mencari kalian di rumah sakit.
Kakek memutusakan untuk menghubungi Abi mu dan memintanya untuk mencari kalian. Tapi saat di cari, mereka hanya menemukanmu. Dan kata dokter, kamu pun dalam keadaan gegar otak kemungkinan amnesia.
Setelah di cari, saudaramu benar-benar tidak di temukan, polisi mengatakan jika mungkin saudaramu berada di salah satu korban yang terjatuh ke jurang dan sedang dalam pencarian.
Kakek menunggu kabar dari polisi, dan tetap tidak menemukan kabar tentang saudaramu sedangkan korban yang lainnya sudah di temukan semuanya.
__ADS_1
Kakek pasrah, kakek memilih berpamitan pulang saat kondisi kakek sudah lebih baik karena kakek tidak mungkin meninggalkan Yani terlalu lama.
Kakek sengaja tidak menemuimu lagi agar kamu hanya akan mengingat keluarga barumu."
Kakek menghentikan ceritanya, sepertinya kakek baru saja mengeluarkan banyak tenaga untuk kembali mengenang kejadian buruk itu. Tetap saja, walaupun sudah lama bekas luka itu pasti sulit untuk di sembuhkan. Dan saat mengingatnya kembali, luka itu akan kembali terbuka.
Setelah mendengar begitu panjang cerita dari sang kakek, ia merasa bersyukur karena saat itu Allah membuatnya hilang ingatan, jika tidak mungkin sampai saat ini ia tidak bisa lupa dengan kejadian yang menyeramkan itu. Tapi di sini lain, ia juga masih ingin mengingat terakhir kali ia menggengam tangan saudaranya dan bagaimana dia bisa melepaskan genggaman tangan itu. Jika saja waktu itu dia bisa menggenggam tangan saudaranya lebih erat lagi, mungkin sekarang masih bersama, tumbuh bersama dalam lingkungan pesantren.
Sejauh yang ia dengan belum ada hal yang membuatnya percaya jika saudaranya masih hidup, Gus Raka kembali menatap sang kakek,
"Apa yang membuat kakek yakin kalau saudara Raka masih hidup?"
"Mungkin ini berita paling menggembirakan dalam hidup kakek, sebuah berita yang melepaskan kakek dari rasa penyesalan, rasa bersalah karena tidak bisa menjaga saudaramu, Dika!"
"Jadi namanya Dika?"
Saudara kembar dengan nama Raka dan Dika. Gus Raka sudah bisa menebak jika dia yang jadi kakaknya dan Dika adalah adiknya.
"Mungkin saja masih sama, atau mungkin sudah berubah namanya sekarang!"
Gus Raka berkali-kali mengerutkan keningnya, ingin sekali tahu bagaimana kelanjutan cerita sang kakek.
"Dua tahun setelah kejadian itu dua orang polisi datang ke mari menemui kakek, saat itu kakek sengaja meninggalkan nomor telpon dan alamat jika sewaktu-waktu mereka menemukan Dika.
Polisi mengatakan jika ada seorang saksi yang mengatakan melihat anak kecil juga terlempar dari bus dalan keadaan terluka parah dan di tolong oleh seseorang, seseorang itu membawanya bersama mobilnya tapi tidak ada yang tahu siapa orang itu dan anehnya tidak pernah ada data rumah sakit terdekat yang menerima pasien kecelakaan atas Dika!"
...🍂🍂🍂...
Kini Leon dan Nisa sudah sampai di resort kembali, rencana untuk ke pantai dan membelikan beberapa oleh-oleh mereka urungkan.
Sesampai di resort, Leon langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, entah ada suatu hal yang tiba-tiba membuatnya merasa begitu lelah.
"Mas Leon tidak pa pa?" Nisa mengikutinya di belakang dan memegang kening suaminya takut jika suaminya dengan sakit tapi ternyata suhu tubuhnya normal.
"Tidak pa pa, aku hanya lelah!"
"Aku ambilkan minum ya!" Nisa kembali beranjak tapi pergelangan tangannya sudah lebih dulu di genggam oleh Leon. Nisa menghentikan langkahnya dan menatap suaminya.
Leon segera bangun dan duduk di depan Nisa yang berdiri,
"Boleh aku memelukmu?"
Nisa pun menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba lengan Leon melingkar di pinggan Nisa dengan kepala menempel di perut rata Nisa.
Sebuah pelukan seperti ini sudah begitu lama ia rindukan. Oma Widya memang menyayanginya tapi tidak pernah memeluknya seperti saat ia ingin pelukan seorang ibu. Ia harus tumbuh menjadi pria kuat sendirian.
"Aku lelah, biarkan aku seperti ini sampai hilang lelahku!" ucap Leon lirih.
__ADS_1
Mas Leon ternyata punya sisi yang manja, aku tahu mungkin dia sudah terlalu lama bersikap kuat
Cukup lama dalam posisi itu, Nisa tetap membiarkannya sampai suaminya yang melepaskan sendiri.
"Maaf ya!" ucap Leon saat ia melepaskan pelukannya, "Sikapku pasti membuatmu ilfeel!"
"Tidak mas, kebiasaan deh!" Nisa ikut duduk di sampingnya dan menatap suaminya, "Sudah aku bilang, jangan suka menyimpulkan sesuatu sebelum kamu selesai mendengarkan, aku kan belum bicara sudah di simpulkan saja!"
Leon tersenyum dan mengusap puncak kepala Nisa,
"Katakan apa pendapatmu?"
"Aku suka dengan sisi mas Leon yang seperti ini, tidak setiap orang bisa langsung meluapkan segala emosinya, menangis, tertawa dan marah pada saat itu dan orang-orang seperti itu butuh waktu-waktu tertentu untuk mengeluarkan emosinya!"
Leon mencondongkan tubuhnya mendekati Nisa hingga membuat tubuh Nisa condong ke belakang,
"Jadi maksudnya aku termasuk salah satunya?" ucap Leon lirih sedikit berbisik.
"Mas, mau ngapain?" suara Nisa sedikit tercekat di tenggorokan.
"Mau meluapkan salah satu emosiku!"
"Apa_?"
Leon semakin mendekatkan tubuhnya, bahkan sekarang tangannya yang menjadi penyangga tubuhnya dan tubuh Nisa benar-benar sudah dalam posisi tidur sekarang dengan kanan kirinya di kungkung oleh kedua tangan Leon.
"Sedikit ciuman mungkin akan membuatku kembali baik-baik saja!"
"Hmm?"
Cup
Dan benar saja, bibir itu mendarat sempurna di bibir sang istri, salah dugaan jika Leon akan melanjutkan ciumannya.
Ternyata tadi hanya untuk menggoda tapi karena Nisa bergerak mebuat tangan Leon yang begitu dekat dengan tubuh Nisa kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya menimpa tubuh Nisa, bibir mereka bertemu.
Leon yang juga terkejut sampai membuka lebar matanya. Mereka terdiam hingga beberapa detik hingga Leon segera bangun dari tubuh Nisa.
...Tempat ternyaman ku saat ini adalah dirimu, biarkan aku tetap bisa merasakan ini dan jangan pernah lelah saat aku ingin menyandarkan hati yang rapuh ini...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...