Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (28)


__ADS_3

Seperti sebelumnya, Gus Raka tidak berani banyak bertanya, mereka hanya saling diam hingga sampai di rumah.


Sesampai di rumah pun Asna masih sama, ia tetap diam dana langsung masuk ke dalam kamar, terpaksa Gus Raka merapikan belanjaannya sendiri dan menyimpan makanan yang sudah ia beli tadi.


Setelah selesai, ia pun bergegas untuk mandi dan sholat isya' di masjid, ia sengaja tidak berpamitan pada Asna karena Asna langsung tidur, ia pikir tidak pa pa mungkin meninggalkan Asna sendiri karena dia sedang tidur.


Gus Raka tidak berlama-lama di masjid, ia khawatir Asna bangun saat dia belum pulang, ia bahkan sengaja menghindari mengobrol dengan para santri atau ustadz yang lain.


Sesampai di rumah, ia merasa aman karena ternyata Asna belum bangun, ia melanjutkan aktifitasnya di ruang kerja, ada beberapa pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan tadi di toko, rencananya besok ia akan pergi ke toko mesin pencetak buku, karena beberapa perusahaan percetakaan yang ia hubungi bersedia bekerja sama dengannya dan ia butuh mesin baru. Tapi beli baru juga membutuhkan uang yang banyak sedangkan saat ini keuangannya sedang menipis.


"Lalu bagaimana ya, kalau beli yang murah pasti cepat rusak!" Gus Raka memegang buku tabungannya, di sama hanya tinggal beberapa saja.


"Ini hanya cukup untuk membeli satu mesin cetak baru saja, dengan harga bagus!"


Saat ia sedang serius berpikir, tiba-tiba Asna muncul. Gus Raka pun dengan cepat menyembunyikan buku tabungannya. Bukannya ia tidak ingin memperlihatkan buku tabungannya, tapi tabungannya yang tinggal sedikit pasti akan membuat Asna semakin cemas nanti.


"Mas, di mana belanjaannya tadi?"


"Dek sudah bangun ya? Kamu pasti lapar, biar aku angetin ya makanannya!" Gus Raka segera berdiri dan menghampiri Asna yang terlihat baru bangun tidur.


"Mas, di mana belanjaannya tadi?"


"Sudah aku keluarin semuanya dek, di dapur!"


Asna pun segera berjalan ke dapur, dan di Kuti oleh Gus Raka. Asna segera mencari-cari sesuatu di setiap tempat yang ada di dapur, Gus Raka pun ikut membantu mencari walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang sedang di cari oleh istrinya.


Hehhhh


Asna menghela nafas dan meletakkan kedua tangannya di pinggang setelah tidak menemukan apa yang sedang ia cari.


"Sebenarnya cari apa sih dek?"


"Mas, tadi Asna beli pembalut nggak?"


"Memang kamu tadi ambil pembalut, dek? Mas kayaknya nggak lihat deh dek kamu masukin pembalut!"


"Gawat mas!" Asna begitu frustasi, ia segera mendudukkan bokongnya di kursi makan.


"Gawat kenapa dek?" tampak Gus Raka ikut panik, ia tidak tahu apa yang gawat hingga membuat istrinya begitu panik seperti itu.


"Pembalutku habis mas, seharusnya pembalut kan masuk ke dalam daftar list belanja bulanan, kenapa nggak ada? Lihat catatannya dong mas, masih kamu simpan kan?"


Gus Raka hanya mengangguk saja, ia belum terlalu faham dengan ocehan istrinya. Ia ingat masih menyimpan Lis belanja itu di laci dapur, buat mengingatkan bulan depan apa yang ingin di beli lagi.


Gus Raka pun segera mengambilnya dan menyerahkan pada Asna,


"Ini dek list nya, selama ini mas nggak pernah kurang sih kalau belanja bulanan, ya cuma ini kalau pas mas lagi tinggal di pesantren atau kos-kosan, atau menginap di toko!"


"Ini nggak ada semua mas!"


"Apanya yang nggak ada?"

__ADS_1


"Kebutuhan bulanan aku! Sabun wajah, pembalut, cream wajah, sampo aku, sabun aku!"


Sekarang gantian Gus Raka yang tampak frustasi,


Ya mana aku tahu kebutuhannya, kalau dia nggak ngomong ....


"Trus gimana dong sekarang?"


"Mas aku nggak mungkin kan pergi dalam keadaan begini!" Asna berdiri dan menujukkan bagian rok belakangnya yanga ada darah keringnya.


"Astaghfirullah hal azim!"


"Kok malah istighfar sih mas!"


"Maaf, mas cuma kaget! Ya sudah kamu mandi aja biar mas yang beli ya, kamu di rumah sendiri berani kan?"


"Jauh nggak tokonya?"


"Nggak, di samping rumah kebetulan ada mini market, untuk kebutuhan lainnya besok kamu bisa beli sendiri ke situ!"


"Baiklah, tapi janji jangan lama-lama, aku tunggu di kamar mandi!"


"Iya!"


Gus Raka pun bergegas meyambar dompetnya yang sedari tadi teronggok di atas meja makan dan berlari menuju ke minimarket dekat rumah.


Mini market itu biasanya akan tutup jam sembilan malam dan sekarang sudah jam delapan lebih empat puluh lima menit, tinggal seperempat jam lagi baru tutup.


"Selamat malam mbak!" Gus Raka pun langsung menuju ke rak yang menyediakan barang keperluan wanita itu, ternyata di sana begitu banyak pilihan hingga membuatnya bingung.


"Asna biasanya pakek yang mana ya?"


Kemudian tangannya menyentuh yang berwarna ungu, ia pernah membelikan itu untuk uminya.


"Tapi kan ini untuk umi, mungkin ada batasan usianya!" Gus Raka urung mengambilnya, ia pun beralih ke yang warna biru tua.


"Apa ini ya kira-kira?" Kemudian Gus Raka memperhatikan bungkusnya, tidak ada yang menyebutkan umur, hanya ada ukurannya saja.


"Mas, mau cari apa? Apa mau saya bantu?" salah satu karyawan ternyata melihat kebingunan Gus Raka.


"Ini mau cari pembalut, kalau boleh minta tolong, Carikan pembalut untuk wanita usia dua puluh tiga tahun yang mana ya?"


"Oh kalau pembalut tidak berdasarkan usia mas, mas bisa pilih yang mana aja, kalau baru-baru aja trus mens nya cukup deras, mending cari pembalut yang lebih panjang atau yang bersayap.


"Baiklah, kalau begitu saya cari yang lebih panjang dan bersayap saja!"


"Persis seperti yang mas pegang!"


"Baiklah, kalau begitu saya minta ini lima ya mbak!"


"Baik, mari saya bantu bawa ke kasir!"

__ADS_1


Gus Raka pun akhirnya berjalan lebih dulu ke kasir dan melakukan pembayaran atas apa yang ia beli.


"Mas yang baru pindah di sebelah ini ya?" tanya kasir sambil memasukkan barang belanjaannya ke dalam kantong plastik.


"Iya mbak!"


"Pengantin baru ya?"


"Iya!"


"Kasihan mas, pengantin baru sudah puasa aja!" Gus Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan kasir.


"Terimakasih, silahkan datang kembali!" Gus Raka segera berlalu dan sedikit berlari menuju ke rumah. Ia sudah terlalu lama di minimarket pasti Asna sudah menunggunya.


"Asna, kamu masih di dalam?" Gus Raka mengetuk pintu kamar mandi.


"Lama sekali sih mas!?" protes Asna dan pintu kamar mandi terbuka sedikit.


"Maaf, soalnya mas bingun tadi milihnya!"


"Asna pun segera mengambil bungkusan yang Gus Raka bawa, tapi saat ingin menutup pintu, ia kembali membukanya dan memelongokkan kepalanya.


"Mas!" Gus Raka yang sudah berbalik kembali berbalik menatap Asna.


"Iya?"


"Asna lupa bawa ****** *****!"


"Baiklah mas ambilkan!"


Gus Raka dengan cepat menuju ke lemari tempat Asna menyimpan pakaiannya, Gus Raka tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat Asna berani memintanya. Akhirnya ia menemukan benda tipis itu, lagi-lagi ia tersenyum.


Hari ini penutupnya, pasti lain waktu akan .....


"Mas, kok lama sih, tahu nggak sih mas?"


"Iya ini sudah ketemu!" Gus Raka dengan cepat menyerahkan benda tipis berwarna merah jambu itu pada istrinya.


"Terimakasih ya mas!" ucap Asna lembut, kali ini Asna bicara seperti dulu saat mereka pertama bertemu.


"Sama-sama!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2