Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (19)


__ADS_3

Selain di rumah Asna, ternyata di rumah Gus Raka pun sama sibuknya hari ini, Gus Raka juga sudah meminta salah satu toko kue untuk mengantarkan kue ke rumah Asna.


Gus Raka juga meminta beberapa orang untuk ikut ke sama nanti ba'dha magrib.


Ustadz Arif dan istrinya tampak begitu sibuk menyiapkan bingkisan yang akan di bawa ke rumah besan.


"Raka, kemeja kamu sudah siap kan?"


"Sudah umi! Abi mana umi?"


"Abi lagi ke rumah ustadz Somad sama pak RT, kata Abi kamu ustadz Ilyas tidak bisa ikut karena istrinya sakit!"


"Innalilahi, sakit apa umi?"


"Kemarin muntah-muntah pas di pengajian!"


"Titip salam deh umi kalau ke sana!"


"Besok umi rencananya mau jenguk!"


...***...


Akhirnya setelah selesai sholat magrib, beberapa orang yang akan di ajak ke rumah Asna sudah bersiap di depan rumah ustadz Arif.


Mereka sengaja membawa dua mobil saja, satu mobil pesantren dan satunya lagi mobil milik Gus Raka.


"Bagaimana, semuanya sudah siap?" tanya ustadz Arif.


"Bentar Abi, pengantinnya belum keluar!" terlihat busana umi dan Abi cople, mereka terlihat begitu kompak dengan warna baju Koko biru muda begitu juga dengan gaun syar'i umi.


"Nah itu pengantinnya!" salah satu dari mereka menunjuk ke pintu rumah, Gus Raka dengan setelan kemeja putih dan celana hitam dengan peci hitam begitu pas di tubuhnya.


"Ya Allah, memang aura pengantin itu pasti beda!" ucap ibu-ibu yang berdiri tidak jauh dari umi.


Raka yang sudah mendekat tersenyum malu,


"Semuanya sudah siap ya?"


"Tinggal pengantinnya ini, sudah siap belum? Sudah hafal belum ijab qabulnya?"


"Insyaallah siap budhe!" Gus Raka bicara pada wanita bertubuh sedikit berisi yang tetap berdiri di samping uminya itu.


"Ya sudah ayo berangkat, kasihan nanti keluarga pengantin perempuan kalau menunggu lama!" ustadz Arif segera menengahi pembicaraan mereka.


Perlahan mobil meninggalkan pelataran pesantren menuju ke rumah Asna.


Karena menurut informasi dari rumah Asna, mereka sudah menunggu di mushola dekat rumah Asna, mobil pun langsung berhenti di mushola.


Dan benar saja, di mushola itu sudah terlihat ramai orang, beberapa undangan dan jamaah yang sengaja tidak pulang hanya untuk melihat proses pernikahan Asna dan Gus Raka.


Satu per satu orang yang di bawa Gus Raka dan abinya keluar dari mobil, hanya sekitar sepuluh orang saja.


Dan yang terakhir turun, membuat Gus Raka heran karena ia tidak pernah melihat orang itu.

__ADS_1


"Mas siapa ya?" Gus Raka yang mengabsen satu persatu akhirnya menghentikan pria yang menurutnya tidak pernah ia lihat itu.


"Saya sopir mas, tadi yang menyetir mobil yang satu!"


"Bukannya yang nyetir pak Dhe Karwo?"


"Tadinya itu, tapi saya gantiin!"


Kenapa aku nggak asing sama suaranya ya? batin Gus Raka, ia pun kembali memperhatikan wajah asing itu.


Dia ....


Belum sampai Gus Raka berhasil menebaknya, tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Gus, ayo! Itu pak penghulunya sudah ada!"


"Iya ustadz!"


Akhirnya walaupun dengan berat, Gus Raka pun meninggalkan pria itu. Tapi sepertinya pria itu tetap mengikutinya di belakang. Pria itu adalah Leon, sebelum masuk ke dalam mushola ia terlebih dulu melakukan panggilan video call pada sang istri dan menyakukan ponselnya di saku kemeja dengan kamera menghadap depan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Sapaan Gus Raka langsung di sambut oleh semu orang yang ada di dalam mushola itu, Gus Raka tampak mengedarkan pandangannya, ia tidak bisa mendapati Asna karena Asna berada di ruang sebelah dengan di batasi sebuah sekat untuk memisahkan antara jamaah laki-laki dan jama'ah perempuan.


Gus Raka pun segera duduk di samping abinya, di depannya yang berbatasan dengan sebuah dampar (Meja kecil yang biasa di gunakan untuk alas mengaji) yang di tutup dengan sajadah duduk pak Tedi dan sepertinya kyai yang akan menikahkan mereka.


Umi Gus Raka mengeluarkan mas kawinnya, seperangkat alat sholat dan cincin pernikahan serta uang tunai.


"Sudah siap nak Raka?"


"Insyaallah siap!"


Pak Tedi sendiri yang menikahkan Gus Raka dengan Asna dengan bantuan dari pak kyai.


Pak Tedi menyalami tangan Gus Raka,


"Saya nikahkan engkau Raka Bimantara bin Brata dengan putri saya Asna putri ayunda binti Tedisyah dengan maskawin tersebut tunai!"


"Saya terima nikahnya Asna putri ayunda binti Tedisyah dengan mas kawin tersebut tunai!"


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


Suara sah menggema di seluruh penjuru ruangan mushola, tangis haru langsung terlepas dari mama Asna yang saat ini sedang memeluk putrinya.


Begitu juga Nisa yang hanya bisa menyaksinya dari jauh.


Asna hanya diam, ia saaat ini Tidka tahu harus bahagia tau harus sedih karena di balik pernikahannya ini, tersimpan begitu banyak luka yang harus ia kemas dengan begitu indah di hadapan orang lain.

__ADS_1


Setelah sah menjadi istri seorang Gus Raka, mam Asna pun mengajak Asna menghampiri Gus Raka.


Asna pun duduk di samping Gus Raka , Gus Raka terus menatap Asna dengan balutan kebaya, tampak begitu anggun.


Dengan perasaan was-was, Gus Raka pun perlahan mendekatkan bibirnya ke kening Asna dan mengecupnya sambil membaca doa di dalam hati. Ia begitu berharap saat ini Asna tidak akan histeris. Terlihat bagaimana Asna mulai mengepalkan tangannya yang mulai bergatar.


Dengan cepat Gus Raka kembali menjauhkan diri agar tidak sampai membangkitkan trauma Asna.


"Pakaikan cincinnya nak!" perintah umi dan Gus Raka pun segera mengambil kotak kecil yang berbahan bludur berwarna hitam dan membukanya, di dalamnya ada dua cincin satu cincin emas dan satunya cincin perak.


Gus Raka mengambil cincin emas dan meminta Asna untuk mengangkat tangannya, walaupun terlihat gemetar Asna tetap mengangkat tangannya dan dengan hati-hati Gus Raka memakaikan cincin itu di jari Asna.


Kini giliran Asna yang memakaikan pada Gus Raka, saat sudah sampai di tengah jarinya Gus Raka segera membantu Asna karena melihat tangan Asna yang semakin bergetar dan terlihat keringat dingin mulai memenuhi wajahnya.


Setelah acara selesai, kini tinggal ramah tamah. Beberapa perempuan membawa kue ke mushola dan menghidangkan pada para tamu.


Kini Asna dan Gus Raka duduk berdampingan dan ikut berbincang dengan para tamu yang hadir yang tidak seberapa itu.


Hingga acara ramah tamah berakhir dan orang-orang yang di bawa Gus Raka pun berpamitan untuk pulang.


Gus Raka mengantar mereka ke depan, bukan hanya itu tujuannya. Ia ingin menemui pria asing itu lagi.


Satu per satu mereka masuk kembali ke dalam mobil dan saat terakhir, pria asing itu Gus Raka segera menahan tangannya.


"Tunggu!"


Leon pun berhenti dan berbalik menatap Gus Raka.


"Ada apa?"


Srekkkk


Tiba-tiba Gus Raka memeluk tubuh Leon, "Jangan di kira aku tidak bisa mengenalimu!"


"Sudah jangan peluk-peluk, nanti kalau orang liat kita di kira penyuka sesama jenis!" Leon menatap cemas ke sekeliling, berharap tidak ada yang melihat mereka saat berpelukan.


Gus Raka pun tersenyum dan melepaskan pelukannya, "Kamu terlalu pintar untuk aku tebak!"


"Nah itu tahu, sudah aku mau pulang! Nisa sudah menungguku!"


"Baiklah, hati-hati!"


"Kau benar-benar membuatku terharu saja!" ucap Leon dan segera berlalu meninggalkan Gus Raka.


Gus Raka masih terus menatapnya, ia tahu Leon pasti tidak akan bergabung lagi dengan mobilnya, terlihat di ujung jalan mobil cukup bagus sudah menunggunya lengkap dengan sopir.


Setelah memastikan Leon masuk ke dalam mobilnya dan berlalu begitu juga dengan mobil yang membawa rombongannya pergi barulah Gus Raka kembali masuk.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2