Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( Bertemu dengannya lagi)


__ADS_3

Hari-hari Leon dan Nisa masih berlalu begitu saja, beberapa hari di rumah Leon dan beberapa hari lagi gantian di rumah.


"Sebenarnya tidak enak jika harus begini terus sama mas Leon!" curhat Nisa pada temannya yang memang sudah begitu dekat dengannya semenjak di bangku kuliah. Gadis dengan perawakan mungil itu sedang asik menyesap minumannya melalui sedotan berwarna warni itu.


"Ya tinggal di rumah suami kamu lah Nis, kan enak nikah sudah ada rumah, nggak perlu ngontrak dulu atau cari kreditan rumah." jawabnya dengan nada santainya sesekali terlihat matanya mengamati layar gawainya yang terlihat begitu menarik.


"Mas Leon mau nggak ya, pasti nggak mudah buat mas Leon, apalagi papa kayaknya keberatan banget kalau aku pindah rumah."


"Resiko kamu itu, jadi anak bungsu ya emang gitu!"


Nisa memicingkan matanya pada sahabatnya itu, "Emang kamu engga?" tanyanya, jelas sahabatnya itu juga seorang anak bungsu, bukan cuma bungsu tapi juga tunggal.


"Tapi buktinya aku boleh ngekos!" jawabnya bersungut.


"Itu karena kamu nya yang suka kabur-kaburan, coba kalau enggak!"


"Nggak enak Nisa di rumah, serasa di kekang!"


"Kamu cewek Na, jangan sampai orang lain menganggap kamu buruk karena tidak menurut sama orang tua." Nisa tidak pernah berhenti menasihati sahabatnya itu, apalagi sekarang dia tidak bisa sedekat dulu saat belum menikah, dulu dia masih bisa membantu orang tua Asna untuk mengawasinya, sesekali Nisa juga menginap di kost an sahabatnya itu hanya untuk menemaninya.


"Orang yang mau dekat denganku berarti orang-orang yang bisa menerima cara berpikirku, Nis, memang aku tidak bisa memaksakan orang lain untuk bisa menerimaku apa adanya tapi setidaknya aku bisa hidup tanpa harus memikirkan apa kata orang!"


Sesekali Nana memang terlihat dewasa, bahkan pemikirannya lebih dewasa dari Nisa. Tapi dia tetaplah anak tunggal yang terbiasa di manja yang kadang datang tingkah manjanya, juga sedikit blak-blakan.


"Sudah ah, jangan bicarakan masalah aku, sekarang masalah kamu bagaimana? Mau tetep tinggal ma ortu atau mau berdua aja ma suami?"


"Nggak tahu lah, belum kepikiran, nanti aku aku tanya sama bokap, rela nggak jika aku hidup terpisah sama mereka."


Beberapa hal menjadi pertimbangannya, bukan tidak mungkin sewaktu-waktu teror itu akan kembali datang dan hinggap juga ke keluarganya. Nisa hanya bisa berharap semoga setelah ini tidak akan ada lagi, jika iya memang akan ada maka ia akan tetap menyimpannya bersama sang suami.


"Aduhhhh!" Nisa tiba-tiba memekik dan memegangi kepalanya.


"Kenapa Nis, kamu sakit ya? Wajah kamu sedari pagi pucet gitu!"


"Nggak pa pa, mungkin tadi pagi belum sarapan, makanya aku ajak kamu ke kantin tadi!"


"Pantes aja, tumben nggak sarapan. Biasanya nggak pernah absen sarapan?"


"Nggak tahu tadi males banget!"


"Sudah tahu tadi nggak sarapan, sekarang malam makan makanan pedas!"


"Sudah ah, mungkin nanti juga sembuh, kita balik aja yuk!"


"Yakin kuat? Itu kamu pucet loh!"


"Yakin, ayok! Bayarin dulu ya baksonya aku lupa nggak bawa dompet!"


"Kebiasaan kamu bisa!" gadis mungil itu melengos kesal, walaupun begitu ia tetap membayarkan makanan Nisa walaupun dia hanya meminum segelas jus.


Setelah melakukan pembayaran, mereka pun kembali ke ruangan mereka yang jaraknya lumayan jauh dari kantinnya.


***


Siang ini Leon memang ada meeting di luar dan selesai sebelum jam makan siang.


Leon yang sudah sampai kembali di kantor segera melangkahkan kakinya menghindarkan tubuhnya dari sengatan matahari yang terasa lebih panas dari biasanya.

__ADS_1


Kedatanganya di sambut beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya, mereka menyapa dan menunduk hormat.


Sudah banyak sekali perubahan dalam dirinya, dulu saat di sapa seperti akan lebih memilih berjalan saja melewati mereka tanpa berkeinginan untuk menyapanya kembali.


Tapi berbeda dengan Leon sekarang yang bisa tersenyum ramah pada semua karyawan, walaupun senyumnya kadang merugikan karyawan lain karena terlalu terkesima dengan senyum lembutnya.


Hingga netranya menangkap sosok yang beberapa bulan terakhir cukup dekat dengannya. Tapi sudah beberapa minggu ini mereka tidak saling bertemu setelah perjalanan panjang itu dan ternyata dia kembali muncul di tempatnya.


Sepertinya orang yang sedang ia tatap menyadari kedatangannya, dia tersenyum ramah dan segera berdiri dari duduknya.


Leon pun mempercepat langkahnya agar segera sampai di depannya.


"Gus!"


"Mas Leon!"


Dua pria itu saling bersalaman dan mengucap salam satu sama lain.


"Jadi ini perusahaannya mas Leon?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang sangat luas dan tanpa penyekat selain dinding-dinding dan pintu dari kaca yang mengelilinginya.


"Bukan, punya Kakak saya, silahkan duduk Gus!"


Setelah di persilahkan duduk kembali oleh Leon, mereka pun akhirnya duduk dan berbincang banyak.


"Mau nyari siapa di sini, Gus?"


"Ada seseorang di sini yang tahu tentang orang yang pernah tinggal di rumah itu, tapi kata mbak resepsionis, orangnya sedang meeting dan sebentar lagi selesai!"


"Pernah? Jadi maksudnya orang itu sudah tidak tinggal di situ?"


Belum sempat Gus Raka menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ponsel Leon berdering membuat Gus Raka menghentikan bicaranya.


Leon merogoh ponselnya dan benar ada panggilan dari sang istri, Leon kembali menatap Gus Raka merasa tidak enak.


"Tidak pa pa, jawab saja!" ucap Gus Raka sambil tersenyum ramah seperti biasanya.


"Saya ke sana dulu ya!" Gus Raka menganggukkan kepalanya saat Leon meminta ijin untuk pergi.


Leon pun berjalan meninggalkan Gus Raka menuju ke balkon yang cukup sepi.


Setelah mengucapkan salam, terdengar bukan suara Nisa dari balik ponselnya,


"Ini siapa ya?"


"Saya Asna mas, temannya Nisa!"


"Nisa nya mana?"


"Nisa tiba-tiba pingsan mas!"


"Pingsan?"


"Iya mas!"


"Di mana sekarang?"


"Di rumah sakit mas, Nisa sedang di tangani dokter!"

__ADS_1


"Baiklah saya akan ke sana, tolong jaga Nisa!"


Sebelum mendapat sahutan dari sana, Leon sudah lebih dulu menutup sambungan telponnya, ia berjalan cepat menghampiri Gus Raka yang masih duduk di tempatnya.


"Gus, maaf saya harus pergi sekarang!"


"Iya tidak pa pa!"


Leon pun menyambar jasnya dan mengucapkan salam. Langkahnya yang tergesa membuat Gus Raka heran di buatnya ada apa sebenarnya dengan Leon.


Tapi saat bayangan Leon menghilang, Gus Raka di kejutkan dengan seorang wanita yang tadi memintanya menunggu,


"Mas, pak Alex nya sudah selesai meeting, anda di persilahkan bertemu!"


"Ahh, iya mbak! Kalau boleh tahu di mana ya ruangannya?"


"Ruangannya ada di lantai lima, mas! Di depan ruangan sudah ada sekretaris yang akan mengantar mas nya nanti!"


"Terimakasih ya mbak!"


"Sama-sama!" ucap wanita itu sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan senyum ramahnya.


Gus Raka pun memilih mengesampingkan rasa penasarannya dengan apa yang terjadi pada Leon, ia bergegas menuju ke pintu lift. Menunggu hingga pintu lift terbuka.


Untungnya begitu lama dan Gus Raka bisa langsung masuk dengan beberapa orang lainnya yang menuju lantai di bawahnya, seperti hanya dia yang akan menuju ke lantai lima.


Hingga ia sampai juga di ruangan yang di tuju dan benar saja ada seorang wanita yang duduk di depan ruangan itu, melihat kedatangan Gus Raka, wanita itu segera berdiri dan menyapanya.


"Selamat siang, mau bertemu dengan siapa?"


"Selamat siang mbak, saya mau bertemu dengan pak Alex, apa bisa?"


"Dengan siapa?"


"Saya Raka, pemilik toko buku Nurul Jannah!"


"Baik, sebentar ya mas, saya tanya sama pak Alex dulu, silahkan tunggu dulu di sana!" lagi dan lagi Gus Raka harus menunggu. Sebenarnya sudah masuk waktu dhuhur dan dia tidak punya banyak waktu lagi, tapi apa daya tidak ada cara lain selain melakukan ini.


"Baik mbak!" Gus Raka pun segera duduk di bangku yang sudah di tunjuk oleh wanita itu, terlihat wanita dengan tag name Raya itu sedang melakukan panggilan Hanya sebentar dan akhirnya Gus Raka kembali di panggil.


"Anda di persilahkan masuk, mas!"


Wanita itu pun segera meninggalkan tempatnya dan berjalan menuju ke arah pintu di ikuti oleh Gus Raka. Setelah mengetuk pintu barulah ada sahutan dari dalam.


"Silahkan mas!" wanita itu membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk.


...Selalu ada kebahagiaan di balik kesedihan dan begitu juga sebaliknya. Jika kamu sedang di uji dengan sebuah kebahagiaan makan jangan lupa itu hanya sebuah ujian yang sewaktu-waktu ujian itu akan berubah dengan kepedihan jika tidak di terima dengan bijak ~ no sombong, okey👍...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2