
Asna terdiam mendengar pertanyaan suaminya, ia kembali mengamati wajah suaminya, menatap matanya.
"Apa mas Raka sudah ingat?"
Raka beralih menatap ke arah Shahia dengan tatapan kosong,
"Enggak! Belum, tapi aku tahu dari buku itu!"
"Buku apa?"
"Lupakan!" Raka berharap istrinya tidak pernah tahu tentang buku itu, tapi ia belum membaca halaman terakhirnya, ada tulisan Asna di sana.
Hehhhh ....
Asna menghela nafas, walaupun ia tahu buku apa yang di maksud tetap saja Asna tidak mau memaksa suaminya untuk berbicara. Cukup baginya, suaminya tahu bagaimana mereka menikah dan siap untuk memerankan fungsinya sebagai seorang suami.
Walau aku ragu tentang satu itu ....
Hingga tangisan Shahia menyadarkannya. Ternyata ia sudah berada dalam gendongan sang suami,
"Ada apa sayang?" Asna bergegas mengambil Shahia dari suaminya. "Kenapa mas Shahia nya?"
"Shahia lapar kayaknya!"
Asna kembali membawa duduk Shahia di pojokan, ia mengamati sekitar terlihat ramai tapi tetap saja ia harus menyusui Shahia.
Asna segera mengeluarkan putingnya dan menutupinya dengan jilbab segi empat miliknya, Raka tiba-tiba menghampirinya dan melepas jaketnya, duduk di depan Asna dan menutup mereka dengan jaket warna hitam miliknya.
Asna tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari sang suami. Walaupun tanpa di sadari itu adalah bentuk perhatian dari sang suami.
"Terimakasih ya mas!"
__ADS_1
"Harusnya kamu cari tempat khusus menyusui, sembarangan buka-bukaan di sini, kalau sampai ada yang lihat bagaimana?"
"Udah nggak sempat mas, lagian Shahia sudah menangis begini!"
"Jangan jadikan Shahia sebagai alasan, lagian Shahia juga sudah bisa makan MPASI!"
"Mas Raka tahu tentang MPASI?"
"Aku ini seorang bapak, mana mungkin nggak tahu soal begituan!"
"Cie ..., yang sudah mengakui statusnya!" Asna langsung tergelitik untuk menggoda sang suami.
Raka yang menyadari kesalahan bicara, segera mengalihkan perhatian.
"Sudah yuk, aku sudah lapar. Sekalian cari makana yang cocok untuk Shahia!"
Setelah Shahia merasa puas, mereka pun berjalan keluar dari area permainan dengan Shahia beralih dalam gendongan Raka. Mereka benar-benar seperti keluarga yang bahagia, tanpa ada kekurangan apapun.
"Memang boleh ya beli di luar?" Asna yang memang tidak pernah mengajak Shahia pergi terlihat ragu untuk memberi makanan yang bukan buatan rumah.
"Tidak pa pa, ini sudah terbukti! Beberapa orang tua malah kerap memesan makanan dari sini untuk anak-anaknya. Orang tua yang tidak sempat memasakkan makana untuk anaknya, mereka akan memilih memesan di sini untuk bekal anaknya." Raka menjelaskan panjang lebar seolah-olah ia benar-benar tahu secara detail, atau memang ia benar-benar tahu.
"Mas Raka cari tahu semuanya?" Asna tentu sangat terkejut mengetahui suaminya bisa tahu bahkan yang dia belum tahu.
"Kata seseorang, aku harus mencoba untuk berdamai dengan diriku yang sekarang!"
Asna kembali tersenyum dan menyadari sesuatu, suaminya bukannya tidak mau mengenalnya tapi sedang dalam fase di mana dirinya sendiri sedang bingung menentukan sikap.
Selesai makan, Raka kembali menelpon Ridwan untuk menjemput mereka. Ridwan sengaja meninggalkan mereka berdua agar bisa saling dekat kembali dan buktinya sedikit berhasil. Asna tidak lagi marah dan mencoba menghindari Raka dan Raka sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya.
"Ahhhh capeknya!" Asna segera duduk di sofa dan menselonjorkan kakinya setelah sampai di rumah. Shahia yang tertidur di dalam mobil sudah di urus oleh suaminya yang cukup pengertian.
__ADS_1
"Mau aku buatkan teh atau kopi?" Asna menoleh ke sumber suara sedikit mendongakkan kepalanya. Suaminya ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Mas Raka nggak capek? Lagi pula sebentar lagi waktu ashar, mas Raka nggak ke masjid?"
"Kenapa kalau aku tanya malah balik bertanya?!" protes Raka kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Asna. Ternyata Raka tetap pergi ke dapur, sepertinya ia membuatkan sesuatu untuk Asna.
Dan benar saja, ia kembali dengan membawa segelas minuman dingin bukan kopi atau teh, "Aku rasa jus buah akan lebih sehat untuk ibu menyusui sepertimu!"
Raka meletakkan gelas itu di meja yang ada di samping Asna,
"Minumlah, setelah itu mandi dan sholat sebelum Shahia bangun! Aku akan ke masjid, dan akan kembali selepas isya' sekalian ada pengajian sebentar nanti!"
Asna bahkan tidak mampu menutup mulutnya karena terlalu terkejut, suaminya yang cerewet kembali lagi dan sekarang lebih cerewet.
Apa ini efek merasa jadi bapak? Benar-benar mencengangkan ....
Raka sudah berlalu dan menyambar handuk yang tergantung di dekat jendela belakang, ia Sudja hampir masuk ke dalam kamar mandi tapi sekali lagi ia menoleh pada istrinya yang masih terdiam dengan posisi yang sama,
"Tutup mulutmu sebelum lalat masuk dan menggelitik tenggorokanmu!"
Asna segera tersadar dan segera mengalihkan wajahnya karena merasa malu,
"Dia benar-benar!" gerutu Asna dan hal itu malah membuat Raka tertawa.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...