
“Wihhhh …, so sweet banget suami kamu ...., di bawain makanan sama suami …!” goda Bianka saat melihat Aisyah kembali dengan membawa makanan.
“Apaan sih, Bi! Nggak gitu juga, tadi waktu berangkat mas Alex lihat aku ngantuk terus, aku juga nggak sempat sarapan gara-gara terlambat makanya di bawain kopi jadi sekalian
makanannya!”
“Itu sama aja, Ay! Di bawain juga!”
***
Sore ini Aisyah sudah bersiap di jemput Leon, Aisyah di antar Bianka ke depan kampus.
“Kamu beneran nggak pulang bareng Bi?”
“Nggak, Ay! Aku masih mau ngerjain tugas, kalau di rumah nggak ada buku, males pinjam
buku di bawa pulang!”
“Baiklah …, kalau gitu aku pulang dulu ya, assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!” Aisyah segera masuk ke dalam mobil, Leon juga segera menjalankan
kembali mobilnya. Bianka masih berdiri di tempatnya, menatap hingga mobil itu
menghilang.
Bianka kembali ke perpustakaan, ia mengambil tempat duduk di tempat yang paling
terbuka agar sewaktu-waktu perpus mau tutup ia bisa melihatnya. Karena jika sudah
sibuk mengerjakan tugas, Bianka akan lupa waktu.
“Bi…, belum pulang?”
Pertanyaan seseorang berhasil menyita perhatian Bianka, ia terpaksa memperhatikan sejenak orang yang telah menyapanya.
“Mas Fahmi …!”
“Ngerjain apa?” tanya gus Fahmi yang ikut duduk di depan Bianka.
“Ada tugas sedikit dari dosen, sebenarnya presentasinya besok, makanya Bianka
selesaiin sekarang!”
“Ya udah aku temenin ya!” gus Fahmi segera membuka buku yang ia bawa tadi dan
membacanya, Bianka hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sudah hampir Maghrib, “Sudah hampir Maghrib, bi!”
Gus Fahmi sudah menatap Bianka yang seakan mengatakan ayo pulang.
“Bentar lagi ya mas …!”
Gus Fahmi mengangguk dan kembali membuka bukunya yang sempat ia tutup. Lima belas menit kemudian Bianka mulai mengemasi barang-barangnya.
“Udah selesai?”
“Udah, ayo mas …!”
Tepat saat ia keluar dari dalam perpustakaan, azan magrib berkumandang. Untung saja
perpus kampus buka sampai jam Sembilan malam.
“Aku ke mushola kampus dulu, mau ikut nggak?” tanya gus fahmi yang tiba-tiba
menghentikan langkahnya dan menoleh pada Bianka.
Bianka tersenyum, mimpi apa semalam di ajak sholat berjama’ah sama gus Fahmi,
“Iya mas…!”
Akhirnya gus Fahmi dan Bianka berjalan menuju ke mushola kampus.sesampai di mushola mereka langsung memisahkan diri menuju ke tempat wudhu dan melaksanakan sholat.
__ADS_1
Bianka yang menyelesaikan sholatnya lebih dulu memilih menunggu gus fahmi di teras
mushola. Tak berapa lama gus fahmi pun keluar dari dalam mushola, ia berada di
beberapa langkah di sisi kanannya. Gus Fahmi sudah memakai kembali sepatunya.
“gus Fahmi naik apa tadi?” tanya Bianka saat mereka sudah hampir keluar dari kampus.
“Naik angkot!”
“Sebenarnya aku bawa motor, tapi aku nggak berani pulang sendiri kalau kemalaman gini!”
‘Maaf …, tapi aku nggak bisa nemenin kamu naik motor! Nggak akan baik di lihat
orang!”
“Aku ngerti kok mas, gini aja kalau gitu mas, aku ikut mas Fahmi aja deh naik angkot!”
Akhirnya mereka pun naik angkot yang sama, mereka turun di tempat yang sama juga,
berjalan menyusuri jalan yang sama, persis seperti saat gus Fahmi dengan
Aisyah. angkot yang mereka tumpangi sempat terjebak kemacetan, membuat mereka
pulang lebih larut, jalanan yang mereka lewati juga terlihat lebih sepi dari
biasanya.
“Mas Fahmi nggak ke luar kota lagi?” tanya Bianka memecah keheningan.
“Belum ada kesempatan lagi!”
“Mas Fahmi jangan keluar kotanya gara-gara mau menghindar dari semua ini!”
“Bukan itu juga, memang kalau ada yang butuhin, aku akan berangkat!”
“heeehhh …!” bianka menghembuskan nafasnya kasar,
“Aku sedikit kesal sih sebenarnya sama
tanpa menutupi apapun, itulah istimewanya Bianka. Selalu mengatakan apa saja
yang ingin di katakan.
Gus Fahmi dengan reflek menatap Bianka, tapi bIanka lebih memilih tersenyum seolah
mengatakan kalau dia juga sudah baik-baik saja.
Lama mereka menyusuri jalanan, akhirnya Bianka sampai di depan rumah Aisyah.
“Makasih ya mas udah nganter!”
“Sama-sama, kamu masuk gih …!”
“Assalamualaikum, mas Fahmi!”
“Waalaikum salam!”
Gus Fahmi menatap gadis itu hingga menghilang di balik pintu, semua kenangan itu
seperti satu persatu kembali muncul, yang berbeda sekarang gadis itu bukan
Aisyah tapi Bianka.
***
Mobil Aisyah masih terjebak kemacetan, walaupun traffic light sudah menyala merah,
tapi mobil yang di tumpangi Leon dan Aisyah belum berpindah dari tempatnya,
mereka menunggu giliran untuk bisa bergerak.
“Mas Alex kenapa nggak jadi jemput?” tanya Aisyah memecah keheningan di antara mereka. Tadi sepertinya suaminya itu sudah janji akan menjemputnya lebih awal tapi malah Leon yang datang.
__ADS_1
“Tuan tiba-tiba ada meeting mendadak sama klien dari luar negeri , nona!”
"Ooohhh ....!" Sebenarnya ada rasa kecewa saat menerima pesan dari Alex dan mengatakan kalau tidak bisa menjemputnya, hanya kecewa saja.
“Oh iya mas Alex!"
"Iya nona?"
"Boleh nggak kita mampir ke rumah sakit dokter Adrian?”
“Buat apa nona?”
“Ada urusan sebentar! Hanya sebentar saja, tapi jangan bicarakan ini sama mas Alex
ya!”
“Baik!”
Akhirnya mobil Leon pun sampai di depan rumah sakit yang kemarin di kunjungi oleh Alex. Aisyah benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi di masa lalu Alex.
Aisyah menanyakan pada petugas tentang dokter Adrian, ternyata nasib baik berpihak
padanya, dokter Adrian ada di tempat.
“Tapi harus ada janji dulu, mbak!”
“Tapi ini mendesak sekali, mbak! Bagaimana kalau mbak bilang aku istrinya Kevin
Alexander!”
“Baik, bentar mbak!”
Petugas itu segera menghubungi seseorang, terlihat wanita itu beberapa kali menganggukkan kepalanya menanggapi pembicaraan orang yang ada di seberang telpon.
“anda di persilahkan bertemu, mbak!”
“Makasih ya mbak!”
Aisyah pun menuju ke ruangan yang di tunjukan oleh petugas itu. Dan akhirnya ia
berhenti di depan sebuah ruangan.
Tok tok tok
Aisyah mengetuk pintu itu, baru beberapa ketukan saja, pintu sudah terbuka, di
depannya seorang pria seumuran dengan suaminya sedang berdiri dan tersenyum
padanya.
“Silahkan masuk …!”
Aisyah pun mendongakkan kepalanya masuk ke dalam ruangan itu, hanya ada mereka berdua,
“Maaf bisakah kita bicara di luar saja!”
Dokter Adrian memperhatikan penampilan Aisyah, sekarang ia mengerti kenapa wanita yang ada di hadapannya itu meminta bicara di luar saja.
“Baiklah …, mari …!”
Dokter Adrian mengajak Aisyah duduk di bangku yang ada di depan ruangannya, luas dan banyak penghijauan di sana.
“Maaf saya menggangu waktu dokter!”
“Tidak pa pa, saya yang begitu senang karena saya bisa melihat istri Kevin, kenalkan
saya Adrian!” ucap dokter Adrian sambil mengulurkan tangannya,
Tapi Aisyah dengan cepat mengatupkan kedua tangannya di depan dada, “Saya Aisyah!”
“Ohhh …, maaf!” dokter Adrian menarik tangannya kembali. “Apa yang membuat nyonya Kevin Alexander sampai datang kemari?”
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰