
Alex sudah sampai di rumah sakit, hari sudah petang. Melihat kedatangan Alex, Aisyah
pun segera berpamitan pada Alex untuk melaksanakan sholat magrib, karena sudah
lima menit lalu azan magrib berkumandang.
“Mas aku ke mushola rumah sakit dulu ya, aku mau sholat!”
“hemmm!”
“mas Alex nggak sekalian ikut sholat?”
“Berisik banget sih jadi orang, kalau mau sholat, ya sholat aja!”
Aisyah hanya bisa mendengus kesal dengan jawaban suaminya itu, Aisyah segera berlalu
meninggalkan suaminya itu. Ia tidak mau menunda waktu lagi, waktu sholat magrib
sangat pendek.
Ternyata mushola rumah sakit cukup jauh dari ruangan itu, ia membutuhkan waktu sepuluh
menit untuk sampai di mushola. Setelah mengambil wudhu dan melaksanakan sholat
magrib, Aisyah kembali bergegas ke kamar nenek widya.
Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan saat melihat pintu ruangan sedikit terbuka, ia
mengintip ke dalam dan ternyata Alex sudah berada di dalam, sepertinya dokter
sudah mengijinkan masuk.
Terlihat Alex memeluk tubuh neneknya, dan berulang kali mengecup keningnya. Ada perasaan hangat di hati Aisyah. ia tidak mengerti dengan orang yang ia lihat saat ini,
lain waktu ia begitu keras tapi di satu saat ia juga bisa bersikap lembut dan hangat.
Aisyah pun segera menyusul masuk, “assalamualaikum!”
Dua orang yang sedang berpelukan itu segera menoleh ke Aisyah.
“Waalaikum salam!” jawab nenek Widya, ia tersenyum melihat kedatangan Aisyah.
“Sayang …, nenek merindukanmu!”
Aisyah pun segera mencium punggung tangan nenek Widya, terdapat luka di sana,
“Nenek ini …?”
“Tidak pa pa, dokter sudah merawat nenek dengan baik, bagaimana kabarmu? Apa sudah ada kabar baik?”
Aisyah mengerutkan keningnya tidak mengerti, ‘Kabar baik?”
“Apa cicit nenek sudah mulai tumbuh di sana?” tanya nenek membuat Alex dan Aisyah
saling menatap, mereka sepertinya begitu bingung harus menjawab apa, tidak
mungkin mereka menjawab jika prosesnya saja tidak pernah.
“Apa sih nenek ini, yang penting nenek sembuh dulu! Ya sudah Aisyah sudah kembali
jadi Alex harus pergi dulu ya!”
“Kamu mau ke mana?’ tanya nenek Widya.
“Ada urusan sebentar dengan Leon, nek! Tidak lama, alex pasti segera kembali!”
***
__ADS_1
Malam ini Aisyah dan Alex menginap di rumah sakit, sebenarnya alex memaksanya untuk
pulang tapi Aisyah tidak kalah keras kepalanya.
Alex sedang duduk di sofa sedangkan nenek Widya sudah tidur karena pengaruh obat.
Aisyah tidak tahu harus melakukan apa, ia sebenarnya ingin kembali ke mushola untuk melaksanakan sholat isya’ tapi jarak yang cukup jauh membuatnya memutuskan untuk sholat di kamar saja.
Aisyah berdiri dari duduknya dan menuju ke kamar mandi, ia mengambil wudhu. Setelah
selesai menyelesaikan wudhu nya ia segera keluar, di ruangan itu ia sudah tidak
mendapati suaminya, ia melihat suaminya itu sedang menerima telpon di luar.
Aisyah segera menggelar sajadah nya di lantai dan mulai melaksanakan sholat, usai
sholat ia juga menyempatkan diri untuk membaca al-qur’an. Alex yang sudah
menyelesaikan telponnya, ia berniat untuk kembali masuk, tapi langkahnya
terhenti saat mendengar aisyah sedang melantunkan ayat suci Al-qur’an.
Entah kenapa mendengarkan ayat suci al-Qur’an ia merasakan begitu damai, ia bisa
berlama-lama mendengarkannya.
“shodaqallahulazhim!” Aisyah mengakhiri bacaannya ketika menyadari jika Alex sudah kembali, Alex pun melanjutkan langkahnya dan kembali duduk di tempatnya.
Aisyah mencium kitab al-qur’an dan meletakkannya di atas nakas dan segera melipat mukena dan sajadahnya kemudian memasukkannya kembali ke dalam tas ranselnya.
Ia memutuskan menghampiri suaminya, ia duduk di samping alex, "Mas!”
“hemmm!”
jawab Alex tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
Alex menoleh pada Aisyah, ia semakin kesal saja saat Aisyah terus mengajaknya bicara
tanpa di minta,
“Bukan urusanmu!”
“Ada mas, ayat itu mengingatkan pada kita untuk tidak terlalu mencintai dunia!”
“Hemmm, sudahkan? Sekarang diam!”
“belum selesai mas, mas ....! cinta Allah itu lebih besar jangan sampai mas Alex kehilangan cinta itu, mendekatlah pada-Nya, maka allah juga akan mendekat mas! Hati mas
bisa lebih tenang!”
***
Pagi ini Alex meninggalkan aisyah dengan neneknya, ada yang harus ia kerjakan. Leon
sudah menunggunya di depan rumah sakit. Setelah Alex masuk ke dalam mobil,
mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit.
Ia harus ke perusahaan neneknya, ada rapat pemegang saham. Alex harus datang
sebagai wakil dari nenek widya sebagai pemegang saham terbesar, nenek Widya
memiliki 36,8 % dari saham perusahaan sedangkan Alex hanya 18,4%.
Tapi saham mereka jika di satukan sudah lebih dari setengah saham perusahaan. Masuk
rumah sakitnya nenek Widya sudah terdengar oleh semua pemilik saham, maka dari
__ADS_1
itu mereka harus memutuskan siapa yang pantas untuk menggantikan nenek widya
sementara selama beliau di rawat, sebagian besar dari pemilik saham menunjuk
Alex sebagai wakil ketua.
Setelah menyelesaikan urusannya, Alex pun segera mengajak Leon meninggalkan perusahaan. Mobil mulai memecah kepadatan kota Surabaya yang semakin panas saja di siang hari.
“Kita ke toko buku dulu!” ucap Alex setelah sekian lama terdiam. Ucapan Aisyah
semalam memang sangat mengganjal di pikirannya. Ia juga penasaran, begitu
penasaran hingga ia tidak bisa tidur.
‘Tapi kita harus ke tempat dokter Adrian!”
“Itu bisa kita lakukan lain waktu!”
‘Tapi tuan!”
“Sudah ku bilang kita ke toko buku saja!”
Akhirnya Leon hanya bisa menurut pada Alex saja, ia tidak mungkin membantahnya. Tapi
setelah melihat perubahan alex saat ini ia merasa tuannya itu jauh lebih baik,
ia bisa mengontrol emosinya.
Mereka pun sampai di depan toko buku yang cukup besar, sulit bagi alex mengalahkan
egonya, dari pada bertanya pada seseorang yang tahu ilmunya ia memilih untuk
membaca buku, itu tidak akan melukai egonya.
“kamu di sini saja, buat aku masuk sendiri!”
‘Baik tuan!”
Entah kenapa ia begitu tertarik untuk mengetahui apa arti bacaan yang di lantunkan
Aisyah semalam, ia merasa begitu damai setelah mendengarkannya.
Alex mengelilingi semua rak buku itu, ia tidak tahu harus membeli buku apa. Ia juga
tidak tahu judul buku apa yang bagus untuknya.
“Mas Alex…, mau beli buku apa?” tanya seseorang yang kebetulan juga sedang memilih beberapa buku dengan ukuran sama dan judul yang sama, alex hanya melirik buku
yang di bawa oleh orang itu kemudian menatap pria berpeci dan bersarung itu. Dia adalah gus Fahmi.
Pria ini lagi ….
“Bukan apa-apa!” jawab Alex ketus,
“Jika butuh bantuan, aku akan membantu sebisaku!” ucap Gus Fahmi lagi.
‘Tidak perlu!”
“Ya sudah kalau begitu saya permisi, assalamualaikum!”
Setelah gus Fahmi menghilang di balik rak buku, Alex kembali menatap rak di depannya.
Ia mengambil buku yang sama dengan buku yang di ambil oleh gus Fahmi. Buku dengan judul ‘juz amma latin dan terjemah’ menjadi pilihannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️