Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (88)


__ADS_3

"Mas bisa nggak kalau panggil mama itu jangan Tante, Asna jadi nggak enak sama mama!" Asna langsung memarahi Raka saat Raka sedang bermain dengan Shahia. Mama Ayu sedang pergi karena ada acara arisan di rumah tetangga. Kini di rumah itu hanya tinggal mereka bertiga.


Raka yang di hardik segera mendongakkan kepalanya tanpa melepaskan mainan yang ada di tangannya.


"Memang aku harus memanggil apa?"


Gaya polos sekali dia ...., Asna mengerucutkan bibirnya.


"Memang aku kalau panggil umi, Tante? Enggak kan?"


"Ya kalau umi, anak-anak pesantren juga panggil umi!"


"Ahhhh terserah lah!" Asna tidak mau berdebat lagi, ia harus melancarkan rencananya untuk tetap cuek pada pria itu.


Asna memilih meninggalkan suaminya bersama sang putri, ia harus menjemput Abizar sekarang karena Aslan masih ada ekstrakulikuler dan pulang sore.


Melihat Asna kembali dengan pakaian rapi, Raka menjadi begitu penasaran. Walaupun begitu ia enggan untuk bertanya terlebih dulu.


"Mas, aku jemput Bizar dulu, kamu jagain Shahia sendiri sebentar nggak pa pa kan?"


"Biar aku aja yang pergi!" Raka segera berdiri dan menghampiri Asna.


"Jangan ngaco deh mas!"


"Kamu pikir aku belum bisa naik motor, kakiku sudah tidak begitu sakit, sudah bisa di gunakan buat naik motor!"


"Issttttty, memang mas Raka tahu sekolahnya Bizar?"


Seketika Raka terdiam, ia sepertinya pernah mengingat sebuah sekolah yang kerap ia kunjungi, tapi ia tidak yakin itu sekolah Abizar.


"Asna pergi! Assalamualaikum!"


Asna segera berlalu dari hadapan Raka dan mengambil helm yang ada di atas meja kecil tidak jauh dari Raka berada.


Walaupun berat tapi memang ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan Asna pergi.


...***...


Bel sekolah berbunyi menandakan jam sekolah berakhir, bergerombol anak mulai keluar dari gedung sekolah. Ada yang langsung di jemput dengan mobil sekolah dan ada juga yang di jemput dengan mobil pribadi, becak dan beberapa sepeda motor dan salah satu dari mereka adalah Asna. Wanita itu tampak asik bermain hp untuk mengusir rasa bosannya karena sudah menunggu setengah jam.

__ADS_1


"Mbak, mana mas Raka?" suara itu langsung berhasil membuat Asna mendongakkan kepalanya.


"Sudah tahu yang jemput aku, masih tanya yang lain!" Asna menjawabnya dengan kesal.


"Mbak Asna kok jadi sewot sama Bizar sih, Bizar kan cuma tanya!"


Asna pun segera menghela nafas, ia kesal dengan Raka tapi melampiaskannya pada Abizar.


"Mau tetap di sini atau pulang?"


"Ya pulang lah mbak!"


...****...


Malam hari, papa Tedi akhirnya pulang. Ia sebenarnya hanya beralasan ingin berbicara dengan Raka. Ia ingin melihat perkembangan menantunya itu.


"Bagaimana sekarang? Apa sudah lebih baik?"


Raka kembali mengingat apa yang di ucapkan oleh Asna tadi siang, Asna tidak suka jika dirinya memanggil sang mama dengan Tante, itu berarti juga berlaku untuk papanya.


"Alhamdulillah jauh lebih baik, pa!"


"Iya pa!"


"Sebenarnya papa sengaja menahan kalian agar tidak segera pulang, papa ingin melihat bagaimana keadaan kalian secara langsung. Kalau kayak gini kan papa jadi tenang!"


"Maaf ya pa jika Raka masih banyak kurangnya sebagai menantu papa, semoga kejadian ini tidak mengurangi kesan papa terhadap Raka!"


"Tidak, papa sudah menyerahkan putri papa sama kamu, walaupun mungkin kamu sekarang melupakan putri papa, tapi papa yakin hati kamu tidak akan pernah lupa!"


Mereka mengobrol di teras samping setelah makan malam, sengaja memilih teras samping agar mereka lebih leluasa bicara sebagai sesama laki-laki.


"Sudah malam, masuklah! Asna pasti sudah menunggumu!"


"Iya pak! Raka masuk dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Raka segera menuju ke kamar yang menurutnya masih asing, tapi ternyata langkah kakinya tidak pernah salah. Ia menuju ke kamar yang tepat.

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


Mendengar salam dari suaminya, Asna yang sedang menidurkan Shahia pun segera menoleh ke pintu,


"Waalaikum salam, masuk mas nggak di kunci!"


Setelah mendapat sahutan dari Asna, Raka pun perlahan membuka pintu dan melihat Asna masih menyusui Shahia.


"Astaghfirullah hal azim!" Raka segera memalingkan wajahnya dan memilih duduk di sofa.


Melihat Shahia sudah terlelap, Asna pun kembali merapikan bajunya.


"Sudah mas, tidurlah!"


Mendengar intruksi dari Asna, Raka pun segera menoleh dan memastikan yang di katakan Asna benar. Ternyata benar, Asna sudah berdiri dengan baju yang rapi, bahkan jilbab instannya sudah di kenakan kembali.


"Kalau kamu merasa tidak nyaman pakek jilbab pas tidur, lepas saja!" ucap Raka membuat Asna tercengang.


Kesambet Jin di mana nih orang ...., nggak pa pa gini aja, nanti malah mas Raka yang nggak nyaman.


"Aku akan berusaha untuk melakukan selayaknya seorang suami!"


Dan lagi Asna kembali tercengang, "Mas Raka udah ingat?"


Raka pun menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju ke tempat tidur, "Tapi aku akan memerankan sebagaimana layaknya seorang suami! Kecuali...!"


"Aku tahu lanjutannya, nggak usah di lanjutkan!" Asna bicara ketus dan melepas kembali jilbab instannya. Ia segera tidur di sisi lain dari Shahia dan memejamkan matanya.


Raka memiringkan tubuhnya menghadap mereka berdua, dua orang yang berarti dalam hidupnya tapi belum di sadari olehnya.


Semakin ia menatap Asna yang terlelap, ia semakin menyadari sesuatu. Ada rasa tenang dalam dadanya, berbeda dengan beberapa hari kemarin saat ia di rumah sendiri, ia bahkan terus saja dihantui rasa cemas yang menurutnya sulit di mengerti.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2