
Beberapa hari ini Aisyah terus mengalami hal yang sama, nenek Widya juga tidak tahu apa yang terjadi, selama ini ia hanya tinggal dengan para laki-laki, menantunya dulu pun tidak pernah tinggal dalam satu rumah, nenek Widya muda sering bepergian dan jarang sekali di rumah.
Tapi dalam keadaan yang seperti itu, Aisyah terpaksa harus masuk kuliah. Ia terlalu banyak ijin. Apa lagi sekarang saatnya ujian tengah semester.
“Yakin mau kuliah, ijin lagi aja ya, wajah kamu pucet banget itu, kita nunggu dokternya datang ya!”
“Nggak pa pa mas, Cuma bentar juga! Lagian kalau nunggu trus nggak jadi datang lagi gimana?”
"Ya kita yang ke rumah sakit, Ay!"
"Nanti aja lah mas, kalau udah kelar ujiannya, ini aku udah terlambat banget!"
"Baiklah ...., ayo aku antar!" ucap Alex sambil membawakan tas punggung milik istrinya itu.
Hari ini Aisyah sudah merasa lebih baik makanya dia nekat untuk kuliah. Alex mengantar Aisyah hingga depan kampus. Aisyah mencium punggung tangan suaminya.
"Aisyah berangkat dulu ya, mas!"
"Iya ...., telpon jika terjadi sesuatu!"
"Pasti ....! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Aisyah pun segera masuk ke halaman kampus, Alex masih setia menunggu istrinya itu hingga bayangan istrinya menghilang di antara kerumunan mahasiswa.
Aisyah segera masuk ke dalam kelasnya, ia mendapati Bianka yang sudah duduk di bangkunya.
"Assalamualaikum, Bi!"
Bianka pun segera mendongakkan kepalanya dan tersenyum, "Waalaikum salam, Ay! Duduklah ...., aku sudah sangat merindukanmu!"
Aisyah pun segera duduk di samping Bianka, Bianka memperhatikan wajah sahabatnya itu sedikit berbeda.
"Ay ...., kami sakit ya? Kamu juga agak kurusan?"
"Nggak pa pa, akhir-akhir ini aku sering masuk angin saja!"
"Masuk angin?" tanya Bianka memastikan.
"Iya ....!"
Tidak berapa lama kelas pun masuk, soal ujian mulai di bagikan. Tapi tampaknya wajah Aisyah semakin pucat karena menahan sesuatu.
"Kamu kenapa?" bisik Bianka.
"Nggak tahu, pengen muntah!"
Aisyah dengan cepat menyelesaikan soal ujiannya yang memang cuma lima soal dan segera menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Entah bau apa yang sudah memicunya untuk muntah.
Bianka pun melakukan hal yang sama, setelah selesai ia segera menyusul Aisyah.
Tok tok tok
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Bianka. Dan terdengar dari dalam Aisyah sedang muntah.
Tidak berapa lama Aisyah keluar dengan tubuh lemasnya.
"Kamu tambah pucat aja Ay, kita ke UKS aja ya!" Ajak Bianka sambil memapah tubuh Aisyah.
"Iya ....!"
Bianka membawa Aisyah ke UKS dan menidurkannya di sana, ia juga mencarikan teh hangat untuk Aisyah.
"Minumlah dulu ...!" ucap Bianka sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat itu.
“Kamu beneran nggak pa pa, Ay?” tanya Bianka setelah Aisyah meminum teh hangatnya.
“Aku nggak tahu Bi, tapi beberapa hari ini tubuhku kayak lemes banget! Cium apa apa muntah! Kayaknya bukan masuk angin biasa deh, nenek juga nggak tahu, aku mau tanya ibu juga nggak sempat, rasanya males banget buat pegang HP, kepala tambah puyeng kalau pegang HP!" ucap Aisyah panjang lebar.
"Ihhhh tetap aja cerewetnya walaupun sakit!" gumam Bianka, "Biar aki browsing deh siapa tahu ada jawabannya!"
Bianka pun mulai melakukan pencarian di laman pencarian, dia mengetikkan 'Penyebab muntah saat mencium berbagai macam aroma'
"Nah ini keluar semua penyebabnya!" ucap Bianka sambil terus mencroll layar ponselnya.
"Apa pemyebabnya?" tanya Aisyah yang tidak kalah penasaran.
"Ini salah satunya .....!" ucap Bianka sambil melihat wajah Aisyah.
"Apa?"
"Kamu muntahnya lebih sering di waktu pagi?" tanya Bianka dan Aisyah mengangguk.
"Tanggal berapa kamu terakhir haid?" tanya Bianka lagi.
"Seharusnya dua minggu yang lalu sih, tapi aku juga biasa telat datang bulan!" ucap Aisyah sambil mengingat-ingat jadwal haidnya.
“jangan-jangan kamu hamil, Ay!” ucap Bianka dengan senyum mengembang.
“Hamil?” tanya Aisyah yang malah bingung.
“Iya …, kalian sudah melakukan itu kan?” tanya Bianka sambil menyatukan kedua ujung jari telunjuknya.
Aisyah mengangguk membuat Bianka semakin tersenyum.
“Gini aja deh, kamu di sini biar aku belikan testpack untukmu ya!” ucap Bianka.
“Tapi Bi, aku nggak yakin!”
Mas Alex baru saja sembuh, tidak mungkin kan secepat ini ....., batin Aisyah. Ia tidak bisa berharap banyak.
“Sudah nggak pa pa kan nyoba! Apa salahnya nyoba, kalau belum berarti Allah belum ngasih, gitu aja!” ucap Bianka sambil beranjak dari duduknya.
Bianka pun segera meninggalkan Aisyah, ia pergi ke sebuah apotek yang tidak jauh dari kampus dan membeli dua buah testpack.
Setelah itu ia segera kembali ke tempat Aisyah.
__ADS_1
“Kamu coba ya!” ucap Bianka sambil menyerahkan testpack itu pada Aisyah.
Aisyah pun segera turun dari tempat tidur, "Doakan ya!"
"Iya ....!"
Aisyah pun segera ke kamar mandi. Ia mengunci kembali kamar mandi itu setelah berada di dalam,
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Aisyah segera mencobanya, setelah menunggu dua menit Aisyah segera mengambilnya dan melihat hasilnya.
"Ini artinya apa ya?" gumam Aisyah. Selama ini dia terlalu fokus dengan hal-hal yang menurutnya penting, ia tidak pernah mengerti dengan waktu garis-garis itu.
Aisyah pun segera keluar dan menghampiri Bianka.
"Gimana Ay?" tanya Bianka.
“ Ini Bi …, aku nggak ngerti!” ucap Aisyah sambil menyodorkan testpack itu pada Bianka.
Bianka pun segera mengambilnya, dan mengamati hasilnya.
“Gimana itu bacanya, Bi? Apa hasilnya?” tanya Aisyah yang tidak sabar.
“Ada dua garis Bi, artinya apa ya?” tanya Aisyah lagi saat Bianka tidak juga mengeluarkan suaranya.
"Itu berarti iya, Ay! Selamat ya …!” ucap Bianka sambil memeluk sahabatnya itu.
Aisyah hanya bisa terbengong menerima kenyataan ini, ia tidak pernah berfikir akan secepat itu.
...***...
Di tempat lain, Alex tampak tidak tenang dengan pekerjaannya, pikirannya saat ini hanya tertuju pada istrinya saja. Apalagi ia sudah menghubungi istrinya itu tapi tidak juga ada yang mengangkatnya.
"Dia keras kepala sekali ....!" gumamnya sambil melempar bolpoinnya begitu saja.
"Apa ada masalah tuan?" tanya Leon yang sedari tadi memperhatikan tuannya itu.
"Masih berapa lama rapatnya?" tanya Alex yang sudah kesal.
"Masih satu jam lagi, tuan! Saya harap anda bersabar sebentar soalnya ini rapat penting!" ucap Leon dengan sedikit berbisik agar anggota rapat tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
Akhirnya mau tidak mau, Alex harus menunggu hingga rapat selesai dan menyusul istrinya. Ia sudah di buat kesal semalam karena dokter keluarganya tiba-tiba membatalkan janjinya karena keluarganya ada yang meninggal.
Bersambung
Selama Author masih belum sehat, Author hanya bisa up satu saja dari tiga cerita ya, mohon di maklumi🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰