
Ini hari ke dua Asna memilih tidur di rumah orang tuanya, Raka semakin merasa kesepian. Walaupun Asna tidak di rumah tapi dia tetap memperhatikan keperluan suaminya dengan meminta bantuan mbak Rumi, selain itu dia juga meminta Ridwan untuk mengantar dan menjemput Raka saat berangkat dan pulang dari toko.
"Dia sepertinya sengaja menghindari ku!" gumam Raka sambil terus menggengam ponselnya. Bahkan Asna tidak menghubunginya, tapi Raka juga tidak berniat untuk menghubunginya lebih dulu.
Asna yang menyibukkan diri dengan membantu mamanya dan bermain dengan putrinya agar tidak terlalu memikirkan suaminya, ia berencana untuk pulang dua atau tiga hari lagi.
"Mas Raka keterlaluan, dia bahkan tidak mau menghubungiku lebih dulu!" gerutu Asna sambil memegangi ponselnya. Ia sedang mengawasi Shahia yang sedang bermain dengan Aslan dan Abizar.
Mama Ayu yang membawakan minuman dan camilan untuk Asna dan anak-anak nya pun ikut duduk di samping Asna,
"Shahia sangat menggemaskan!" ucapan sang mama berhasil membuat Asna tersadar dari lamunannya.
"Iya ma, dia benar-benar mirip mas Raka!"
"Sayang! Tidak baik loh meninggalkan rumah terlalu lama, apapun itu masalahnya akan lebih baik jika di bicarakan berdua!"
"Asna tahu ma, Asna hanya sedang ingin memberi waktu pada mas Raka untuk mengingat semuanya! Asna takut jika terlalu memaksakan diri, mas Raka malah akan tertekan!"
"Tapi jika terlalu lama malah akan memperkeruh suasana, mama takut nanti hubungan kalian malah semakin renggang!"
"Iya ma!"
Di tempat lain, Raka pun semakin gelisah. Suara tawa Shahia seperti terus mengiang di telinganya, tapi saat ini ia hanya bisa memandangi foto bayi itu,
"Shahia!" gumamnya dengan tangan yang mengusap foto yang berada di atas nakas, ia baru menyadari jika begitu merindukan bayi itu. Walaupun pertemuan mereka tidak lama, tapi ia seperti bisa merasakan ikatan yang kuat dengan bayi cantik itu.
"Asna benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia tidak berniat untuk pulang!" gerutunya. Ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Asna untuk pertama kalinya.
Asna yang melihat ada panggilan dari sang suami, tidak percaya. Ia sampai harus menepuk pipinya berkali-kali,
"Ihhh sakit!?"
Asna pun segera meninggalkan ruang keluarga dan menuju ke teras samping, duduk di bangku kecil berwarna putih yang menghadap ke kebun.
"Assalamualaikum mas!"
__ADS_1
"Waalaikum salam, mau sampai kapan pergi dari rumah?" terdengar suara ngegas dari sang suami hingga membuat Asna menjauhkan ponselnya, bibirnya tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Tapi ia segera berusaha untuk bersikap biasa saja agar tidak terdengar kalau dia senang menerima telpon dari sang suami.
Bilang aja kalau kangen ....
Setelah bisa menormalkan bibirnya, Asna pun kembali menempelkan ponselnya ke daun telinga, "Rencananya sih dua atau tiga hari lagi mas, ada apa?"
"Memang kamu mau cuti sepanjang itu? Enak saja, siapa yang menggajimu!"
Masih saja gengsi dia, padahal kalau bilang kangen juga nggak masalah, aku juga tidak akan marah ...., Asna hanya bisa mencebirkan bibirnya. Ia tidak menyangka jika suaminya akan segengsi itu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Besok aku akan menjemput mau!"
"Mau jemput pakek apa mas?"
"Di antar Ridwan! Awas aja kalau masih mau beralasan!"
"Kan Asna masih mau tinggal di sini, mas! Lagi pula aku sama Shahia masih betah di sini!"
"Memang itu rumah kamu? Bisa-bisanya betah di sana!"
"Terserahlah, mau tidak mau besok aku akan jemput kamu dan Shahia! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Raka segera mematikan sambungan telponnya, membuat Asna kesal.
"Dia kenapa jadi keras kepala sih? Seharusnya tetap romantis kan, masak gara-gara koma bisa kehilangan kadar keromantisannya!?"
Setelah mematikan ponselnya, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya di ketuk. Raka melihat ke arah jam yang tergantung di dinding, sudah jam delapan malam.
"Siapa yang bertamu jam segini? Jangan-jangan si Zaki itu!" walaupun sambil menggerutu, Raka tetap saja berjalan menuju ke pintu dan membukanya.
"Assalamualaikum mas Raka!" sapa seorang yang seumuran dengan Abi nya yang berdiri di depan pintu.
"Waalaikum salam, pak Natan!"
__ADS_1
"Maaf mengganggu malam-malam, tadi kebetulan lewat depan sekalian mampir!"
"Nggak pa pa pak, silahkan masuk pak!"
"Kita bicara di luar saja!"
"Baiklah, silahkan duduk!"
Mereka pun memilih duduk di teras, pria yang sudah terlihat uban di sebagian rambutnya itu menyerahkan sebuah map.
"Ini apa ya pak?"
"Ini mas Raka, dua Minggu lalu mbak Asna datang ke kantor untuk melunasi rumah ini, dan karena proses pembuatan suratnya membutuhkan waktu saya meminta mbak Asna untuk kembali satu Minggu lagi, tapi sampai sekarang mbak Asna nggak datang-datang, jadi tadi kebetulan karena lewat sini akan lebih baik saya sekalian mengantar surat kepemilikan tanah dan rumah ini mas!"
Raka mendengarkan dengan seksama penjelasan pak Natan, ia tidak tahu sejak kapan ia mengansur rumah ini hingga rumah ini lunas.
"Jadi rumah ini sudah lunas ya pak?"
"Iya, selama mas Raka di rumah sakit, mbak Asna sengaja mengansur lebih cepat! Ya sudah begitu saja, kalau begitu saya permisi dulu ya mas Raka, maaf menggangu waktu anda!"
"Tidak pa pa pak, jangan sungkan!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah pria itu pergi meninggalkan rumahnya, Raka pun kembali masuk dengan membawa map berisi surat kepemilikan tanah atas nama Raka.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...