Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ektra part ( flashback)


__ADS_3

Nisa dan Leon berada di mobil yang sama, mereka mengiringi mobil medis yang membawa Asna. Alex juga berada di mobil yang sama dengan Nisa dan Leon, ia duduk di samping sopir sedangkan Leon dan Nisa di belakang, ia juga penasaran dengan cerita Leon kenapa bisa menggantikan Gus Raka.


Flashback


Hujan reda pada pagi hari, Leon terus saja meminta saudara kembarnya itu untuk bangun, untuk tetap sadar.


"Jangan tidur ya, aku akan mencari bantuan untuk kita!"


Saat Leon sudah akan berdiri, tangan gus Raka segera menahannya membuat Leon urung untuk beranjak,


"Ada apa?"


"Temani aku, jika ini hari terakhirku aku rela!" ucap Gus Raka dengan suara yang terbata-bata.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" Leon kembali melepas kaosnya yang masih melekat di tubuhnya, ia mengikatkan kaos itu ke luka Gus Raka yang masih mengalirkan darah. Leon dengan sisa kekuatannya menggendong tubuh Raka yang terkulai lemah membawanya keluar dari jurang yang ada di tengah hutan itu.


"Jangan pernah lepaskan tanganku!" ucap Leon. sambil menahan sakit di tubuhnya sendiri, "Kamu harus tetap kuat sampai kita dapat bantuan!"


"Nanti jika terjadi sesuatu padaku, jangan menampakkan diri sebagai dirimu, aku rela kamu jadi aku!"


"Aku tidak akan jadi kamu!"


"Harus, kamu harus jadi aku!"


"Bawel sekali sih kamu, memang aku bisa mengajar? Aku cuma lulusan S1 itu pun ijasah jadi-jadian!"


Gus Raka tersenyum, ia mengusap kepala Leon.


"Kamu pintar hanya saja kamu tidak menyadarinya!"


"Aku tahu!"


"Baiklah, jaga toko saja nggak usah ngajar, biar Abi cari pengajar yang lain, mengundurkan diri saja jadi dosen, nggak pa pa!"


Leon terus saja berjalan, ia juga terus mengajak bicara saudaranya itu agar tidak sampai tidak sadar. Hingga sebuah mobil menghampiri mereka.

__ADS_1


Sebenarnya ada rasa was-was di dada Leon, ia berharap itu orang baik dan betapa leganya dia saat yang keluar dari mobil itu ternyata adalah BI Merry.


"Bi Merry!"


Bi Merry pun meminta anak buahnya untuk membawa Leon dan Gus Raka masuk ke dalam mobil, tepat saat itu Leon pun ikut kehilangan kesadarannya. Ia kehausan sekaligus kelelahan.


Bi Merry sengaja tidak membawa mereka ke rumah sakit, mereka di rawat di rumah yang ia sewa di Bali dengan peralatan yang tidak kalah lengkap dengan peralatan rumah sakit, kebetulan Bi Merry mempunya kenalan dokter, salah satu temannya di masa SMA, teman papa Alex juga.


Butuh beberapa Minggu untuk memulihkan keadaan Leon, tapi Gus Raka, hingga kini pria itu bahkan bel sadar.


"Kamu sudah sehat, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya bi Merry.


"Saya akan membuka kejahatan mereka! Saya akan menjadi Raka untuk sementara waktu, dan untuk itu saya butuh bantuan BI Merry lagi, tolong palsukan kematian saya!"


"Haruskan seperti itu?"


"Iya, jika saya keluar sebagai Leon, mereka pasti akan menutup rapat kembali masalah ini, biarkan untuk sementara mereka merasa menang dan setelah itu aku akan keluar untuk membongkar semuanya! Sasaranh selanjutnya adalah keluarga mas Alex , dan aku takut jika mas Alex tidak menyadarinya!"


"Baiklah, kapan kamu siap, aku akan melaksanakannya!"


Setelah itu, ia meminta BI Merry untuk menyiapkan makam palsu.


Setelah semuanya siap, mereka pun memboyong Gus Raka yang masih terbujur koma ke Surabaya, tapi bukan ke salah satu rumah sakit di Surabaya, Bu Merry tetap takut jika keberadaan mereka akan bisa di lacak oleh orang-orang itu. Lagi-lagi BI Merry memilih merawat Leon di sebuah rumah yang jauh dari keramaian kota.


Setelah semua di rasa aman, Bi Merry pun memberitahu jika salah satu dari saudara kembar itu telah selamat pada Alex. Alex semakin terluka saat tahu jika Leon lah yang pergi, ia memang belum begitu mengenal Gus Raka tapi berbeda dengan Leon, ia Sudah mengenalnya semenjak kecil. Melihat Leon tumbuh seperti adik sendiri, walaupun dulu di waktu Leon kecil dia tidak begitu dekat, tapi ia menyayangi anak itu.


Flashback of


"Jadi mas Raka benar masih selamat?" Nisa begitu penasaran dengan keadaan Gus Raka.


"Insyaallah dia akan baik-baik saja!" Leon pun tidak tahu apakah saudaranya itu akan selamat atau sebaliknya, ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk saudaranya itu. Jika pun pergi adalah yang terbaik, dia akan mencoba untuk ikhlas tapi jika Allah masih menginginkan dia untuk melakukan kebaikan yang lainnya dia akan sangat bersyukur.


Tapi kali ini Nisa tidak benar-benar lega, ia masih kepikiran dengan sahabatnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya tapi ia tahu pasti terjadi sesuatu yang serius dengan sahabatnya itu.


"Mas, Asna akan baik-baik saja kan?" tanyanya pada sang suami lalu beralih pada pria yang duduk di samping sopir itu, "Pak Alex tadi pak Alex lihat Asna kan? Asna akan baik-baik saja kan?"

__ADS_1


Alex hanya menganggukkan kepalanya, walaupun ia tahu apa yang terjadi sebenarnya pada gadis itu.


"Nanti kamu bisa hubungi orang tuanya kan?" Leon mengusap kepala Nisa dan Nisa pun menganggukkan kepalanya.


Butuh waktu satu jam untuk sampai di rumah sakit, kaki Nisa terkilir hingga ia harus mendapatkan penanganan begitu pun dengan Leon sedangkan Alex memilih untuk menunggui Asna yang di beri obat penenang agar tidak histeris.


Nisa juga memberitahu keluarga Asna jika anak gadisnya masuk rumah sakit, Nisa tidak memberitahu kenapa karena memang dia tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.


"Mas, aku pengen lihat Asna!"


"Jangan dulu ya, nanti kalau kamu sudah sedikit lebih baik!"


"Kenapa? Kalau nggak bisa jalan, aku bisa pakek kursi roda mas!"


Nisa terus memaksa hingga Leon tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terpaksa memberi ijin pada Nisa untuk pergi.


Ia pun mengantar Nisa ke ruangan Asna dengan memakai kursi roda, ia mengabaikan tangannya yang juga sakit karena luka sabetan senjata tajam, memang sudah mendapatkan perawatan tapi lukanya masih baru jadi rawan untuk terbuka lagi.


Saat Nisa sampai di depan ruangan Asna, di depan ruangan itu sudah ada Alex yang menungguinya.


"Pak Alex, pak Alex nggak pulang?"


Alex tersenyum pada Nisa kemudian menatap ke arah Leon,


"Bukankah Nisa belum baik-baik saja, kenapa ke sini?" pertanyaan itu ia tujukan pada Leon, ia sudah meminta Leon untuk membawa Nisa mendekat, tapi Leon malah mengajaknya Nisa untuk menjenguk Asna.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2