Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Pria yang berbeda)


__ADS_3

Gus Raka benar-benar tidak menyangka, pria yang berperawakan tegas itu memiliki hati yang baik. Walaupun kenal dengan Leon tapi untuk Alex, bahkan pria itu jarang bertemu kliennya. Ia akan meminta orang lain untuk menggantikannya dan hari ini ia benar-benar bertemu dengan pria itu. Pria yang ia kira berbeda jauh dari Leon, pria yang mungkin sombong dan Arrogant.


Gus Raka pun mengeluarkan secarik kartu nama yang sudah usam dan tinggal separoh itu,


"Beberapa waktu lalu saya pergi ke alamat ini, tapi di sana hanya ada rumah tanpa penghuni dengan rumput yang bahkan lebih tinggi dari dinding rumah!" Gus Raka berucap sambil menggeser kartu nama usam itu hingga dekat dengan tangan Alex.


Alex mengerutkan keningnya, itu kartu nama lama. Ia tahu persis siapa pemilik kartu nama itu, tapi sekarang bahkan dia sudah tidak pernah menemukannya lagi dari wanita itu.


"Anda mendapatkan ini dari mana?" itu yang lolos dari pikiran Alex, bagaimana orang asing bisa menanyakan tentang pemilik kartu nama itu.


"Ada orang yang memberitahukan pada saya!"


Alex menimang kembali apa yang ingin ia katakan, sejujurnya ia tidak kenal dengan pria di depannya dan tidak mau gegabah dengan langsung memberi tahunya tentang pemilik kartu nama itu, bisa jadi salah satu dari musuhnya atau musuh keluarganya.


"Saya akan bersedia memberikan informasi, bahkan sangat bersedia, tapi maaf, bolehkan saya tahu apa alasan anda menanyakan pemilik alamat ini?"


Gus Raka kembali menatap pria di depannya itu, hanya sebentar lalu kembali menunduk. Sangat tidak sopan rasanya jika menatap pria yang jelas lebih segalanya.


"Saya sedang mencari saudara saya!"


Ucapan Gus Raka membuat Alex kembali terpancing untuk mengamati pria di depannya itu, jelas tidak mungkin jika pria di depannya itu adalah saudara pemilik alamat itu, mereka beda jauh usianya. Jika orang tua, itu lebih pantas tapi juga tidak mungkin karena setahunya wanita itu tidak pernah menikah.


Dan lagi, pria di depannya itu bahkan jauh lebih muda dari dirinya, usianya sekitar enam atau delapan tahun lebih muda darinya.


"Saudara saya hilang sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, waktu itu kami sedang dalam perjalanan dari Bali menuju ke Surabaya. Bus yang kami tumpangi mengalami kecelakaan, saudara kembar saya terpisah dari kami!"


"Kami?" Leon penasaran dengan kata kami, atau mungkin kami yang di maksud di sini, pria di depannya dengan wanita pemilik alamat itu.


"Iya, saya dan kakek!"


Seketika pemikiran Alex tentang hubungan darah antara pria di depannya dengan wanita pemilik alamat itu sirna, entah sebuah rasa lega atau miris karena sejujurnya ia berharap setidaknya wanita pemilik alamat itu memiliki keluarga selain dirinya dan sang istri.

__ADS_1


Alex pun memilih mendengarkan cerita pria muda di depannya itu dari pada menyimpulkan sendiri dan ujungnya ia kembali menuai kekecewaan.


Gus Raka kembali melanjutkan ceritanya setelah melihat Alex sudah siap untuk mendengarkannya lagi.


"Kata pria yang memberi saya kartu nama ini, dia di selamatkan oleh seorang wanita, sebelum membawa tubuh saudara saya yang berlumuran darah, wanita itu memberikan sebuah kartu nama!"


Jujur selama ini ia tidak pernah melihat wanita pemilik kartu nama itu membawa seorang anak, apalagi seumuran dengan pria muda yang ada di depannya.


Hal itu membuatnya menjadi sangat penasaran, ia juga ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi.


"Baiklah, saya tahu siapa pemilik kartu nama itu. Tapi kalau tidak keberatan bagaimana kalau saya yang akan mengantar anda menemui wanita itu, tapi maaf bukan sekarang, saya harus segara pergi sekarang!" Alex menatap jam dinding dan sudah jam satu, jelas ia tidak bisa melaksanakan sholat dhuhur berjamaah saat ini.


"Bagaimana kalau besok _? Atau sata meninggalkan nomor telepon saya agar nanti anda bisa menghubungi saya kalau sudah siap, itu pun jika tidak merepotkan!"


"Saya sudah berjanji, pasti akan saya tepati!"


Karena melihat Alex yang sudah tidak tenang lagi Gus Raka pun segera berpamitan, ia pun juga belum melaksanakan sholat duhur karena memilih menunggu pria di depannya itu.


Setelah keluar dari ruangan itu, Gus Raka pun bertanya pada salah satu karyawan di kantor itu tentang keberadaan mushola.


Masjid, begitulah Gus Raka menggambarkan gedung dengan nuansa hijau di depannya, hawa dingin dan sejuk langsung menjalar di kulitnya manakala dia menampakkan kakinya di pelataran masjid. Atap-atap yang bisa membuka dan menutup sendiri berjajar di sepanjang masuk area mushola, beberapa minuman dingin tersedia di sepanjang jalan yang bebas di ambil oleh siapapun yang datang tanpa membayar.


Gedung itu begitu bersih dan di dominasi dengan warna emas dan hitam, kaca-kaca di sepanjang dinding masjid yang berlantai dua, ada beberapa takmir masjid yang sepetinya menerima gaji dari profesinya itu dengan seragam yang sama dengan tugasnya masing-masing.


Setelah terlepas dengan rasa terkesimanya itu, Gus Raka pun segera menuju ke tempat wudhu, tidak lupa ia mampir dulu ke toilet untuk membuang hajat kecilnya.


Setelah mengambil wudhu, Gus Raka segera menuju ke tempat sholat, netranya kembali di kejutkan dengan seseorang yang baru saja berbincang dengannya. Pria itu begitu kusyuk menghadap sang Khaliq.


Ya Allah, bahkan jika orang tidak mengenalnya akan mengira jika dia tidak mengenalMu ....


Gus Raka tidak membuang waktu, ia berdiri tepat di belakang pria itu di atas sajadah panjang yang menutup keramik mengkilat berwarna putih.

__ADS_1


Menghadap sang Khaliq dengan mengesampingkan urusan dunia, berserah padaNya dan meminta petunjuk di setiap langkah yang harus ia tempuh.


Assalamualaikum, assalamualaikum


Dua kalimat salam di sertai dengan kepala yang menoleh ke kanan kiri menandai berakhirnya rukun sholat.


Sejenak pria yang duduk di depan Gus Raka itu terkejut, tapi segera kembali fokus dan melantunkan doanya dalam hati.


Tidak berapa lama salam itu juga di ikuti Gus Raka yang memang memulai sholatnya belakangan.


Setelah memanjatkan doa sedikit, Gus Raka memilih untuk berlalu dan duduk sejenak di teras masjid sembari menghilangkan rasa lelahnya.


Sesekali netranya masih menatap sosok pria yang masih duduk di dalam masjid dengan begitu khusyuk itu, dalam hati ingin bertanya sebenarnya apa yang membuat pria itu bisa begitu khusyuk dalam doanya.


Gus Raka pun akhirnya memilih untuk mengecek ponselnya yang memang sedari pagi tidak sempat ia lihat, membuka beberapa pesan yang sudah berjubel di sana, sepanjang di ruangan Alex tadi memang ponselnya sengaja di silent biar tidak menggangu pembicaraan mereka, lagi pula menurutnya akan tidak sopan jika dia ponselnya sampai berbunyi di sela mereka bicara.


Begitu banyak pesan dari karyawannya yang mengatakan jika suplayer kertas sudah datang.


Gus Raka pun segera mengirimkan balasan. Dan ada juga yang dari umi nya, menanyakan jadwal mengajarnya hari ini. Gus Raka pun segera ijin karena setelah ini, ia masih harus ke toko untuk mengecek beberapa barang yang datang.


"Masih di sini?" pertanyaan seseorang yang sudah duduk di sampingnya duduk itu membuat Gus Raka mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ada di tangannya, bibirnya segera tersungging. Sebuah kebetulan atau memang pria yang sedari tadi ia amati itu memang tahu kalau dia sedang mengamati.


Gus Raka segera tersenyum dan menegakkan duduknya,


"Iya, sebenarnya sengaja menunggu anda!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2