Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Bahagia itu sederhana)


__ADS_3

Setelah satu Minggu di rumah sakit, Hari Senin yang di nanti pun tiba, Nisa di perbolehkan untuk pulang, dan dokter mengatakan kalau untuk sementara Nisa harus bad rest.


Setelah kemarin melakukan perdebatan sengit antar Nisa dan mamanya.


"Kamu yakin mau tinggal sendiri di sana?"


"Ma, Nisa nggak sendiri, kan ada mas Leon!"


"Tapi Leon kalau siang hari pasti ngga di rumah, Nisa!"


"Tapi ma, ini cara Nisa agar bisa mandiri ma, boleh ya ma, janji deha nanti kalau butuh sesuatu Nisa pasti hubungi mama, lagian ma, dulu Nisa juga sering tinggal di kost an Asna, tapi mama nggak pernah protes tuh!"


"Ini beda Nisa, kamu bukan tinggal di rumah orang tapi di rumah sendiri_!"


"Nah itu mama tahu!"


"Mama cuma takut saja Nisa jadi lupa mengunjungi mama!"


"Ihhh mama parnoan deh! Jangan khawatir ma, nanti kalau Nisa udah selesai bad rest nya Nisa bakal sering-sering mengunjungi mama, tapi untuk beberapa bulan ini mama aja dulu yang ngalah Yo, kunjungi Nisa!"


"Ya udah deh, mama nyerah!"


Setelah perdebatan itu akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah sendiri atas persetujuan dari kedua orang tua Nisa dengan berbagai syarat yang pastinya di ajukan terutama dari sang mama. Padahal dulu yang paling getol menahan Nisa agar tidak pindah rumah adalah sang papa, tapi kini tiba-tiba sang papa malah jadi lebih legowo.


***


Di rumahnya sendiri, jauh lebih baik dari pada di rumah orang lain, saat kita sudah menikah bahkan rumah orang tua tidak jauh lebih baik dari rumah sendiri.


"Kamu butuh sesuatu? Aku akan membuatkannya untukmu?" tanya Leon saat sudah menurunkan Nisa di tempat tidurnya.


"Aku nggak pa pa sih mas, kerja aja masih kuat!" Nisa benar-benar tidak enak jika harus meminta suaminya ini itu sedangkan ia merasa tubuhnya sehat-sehat saja.


"Memang siapa bilang kamu nggak kuat kerja!" ucap Leon kesal sambil mengusap kepala Nisa, "Mintalah sesuatu, biarkan aku merasakan gimana susahnya saat istri sedang ngidam!"


Nisa mengerutkan keningnya tidak percaya dengan apa yang baru saja Leon ucapkan, "Nisa nggak tahu caranya ngidam, mas!"


Leon tampak berpikir, "Misalnya kamu minta martabak pas malam-malam, atau minta mangga muda pas nggak waktunya ada mangga muda, minta di buatkan yang aneh-aneh, atau minta ketemu sama siapa gitu?"


"Mas Leon dapat teori ngidam dari mana?" tanya Nisa yang merasa lucu dengan ucapan sang suami.


"Buku!"


"Buku?" Nisa kembali memastikan, Leon yang melihat tatap tidak percaya dari sang suami pun segera mengambil sesuatu di laci nakas tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah buku.


"Ini!"


Sampai segitunya, sejak kapan buku itu di laci? Nisa sebelumnya tidak melihat buku itu, atau memang dia yang jarang membuka laci itu.


"Aku sengaja meletakkan buku ini di sini, agar sewaktu-waktu kamu ngidam aku bisa membacanya dan tidak perlu kesal!"


"Ihhh mas Leon, aku jadi makin cinta deh!" ucap Nisa sambil merentangkan kedua tangannya dan mengerucutkan bibirnya seperti hendak mencium Leon.


Leon segera menahan kening Nisa dengan jari telunjuknya hingga membuat tubuh Nisa terhenti,


"Jangan aneh-aneh ya, jangan memancingku!"


"Memang ya kenapa kalau di pancing, kayaknya mas Leon tidak membaca bab yang ini deh!"


"Apa?"


"Mas Leon nggak tahu ya kalau hormon seorang wanita yang sedang hamil itu juga sering naik, biasanya nafsunya juga naik loh mas!"


"Memang tidak pa pa?" saat seperti ini, Leon pasti menunjukkan wajah bodohnya.


"Memang mas Leon tidak ingin, sudah satu Minggu loh mas?" Nisa malah balik bertanya dengan senyum menggoda.

__ADS_1


Leon menelan Salivanya, menatap wajah Nisa bergantian dengan menatap perut Nisa yang masih rata, ia hanya selama ini tidak menyadari saja jika tubuh Nisa semakin berisi, lebih menggoda.


"Memang serius tidak pa pa?" Leon masih begitu ragu walaupun dia juga sangat merindukan tubuh wanita di depannya itu.


"Ini juga bagian dari ngidam loh mas!"


"Apa aku perlu tanya seseorang dulu?"


Nisa langsung memelototkan matanya tidak percaya, suaminya benar-benar polos.


"Nggak usah mas!"


"Nggak bisa deh, kayaknya harus tanya seseorang!" Leon segera meraih benda tipis yang sempat ia letakkan di atas nakas.


Ia melakukan panggilan pada orang yang paling mengerti dengan keadaannya saat ini.


"Hallo dokter Reza!"


Mendengar nama kakaknya di sebut Nisa dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya akan menghubungi kakak laki-lakinya itu mengenai masalah seperti ini.


"Iya, apa ada masalah sama Nisa? Kalian baru pulang kan?" terdengar di seberang sana karena Leon sengaja men-loundspeaker.


"Sebenarnya kami ada masalah!"


"Masalah apa?"


"Apa tidak pa pa jika melakukan itu saat hamil muda?"


"Itu? Itu apa ya?" sepertinya di luar sana juga sedang bingung karena ucapan Leon.


"Itu, ya itu!" Leon sendiri bingung bagaimana cara menjelaskannya pada kakak ipar, "Maksudnya melepas rindu, hubungan suami istri!"


Terdengar gelak tawa dari pria yang ada di seberang sana membuat wajah Nisa semakin memerah karena malu, sudah pasti setelah ini kakaknya akan menggodanya terus.


"Ohhh, dari tadi ini itu, aku kan jadi bingung! Udah nggak nahan banget ya?"


Pertanyaan itu langsung di tanggapi dengan saling tatap antara Leon dan Nisa dan kembali lagi menatap ponsel yang masih dalam panggilan itu.


"Ya kalau udah nggak tahan, boleh deh tapi jangan kasar ya, buat yang lembut kalau bisa nggak menindih perutnya ya!"


Setelah mendapat jawaban itu, Leon dengan cepat menekan tombol merah dan menyingkirkan ponselnya begitu saja tidak peduli dengan pria yang sekarang sedang menggerutu di seberang sana.


Leon mendekati tubuh Nisa dan mendaratkan bibirnya di bibir Nisa, menjadikan moment kepulangan Nisa kali ini menjadi moment yang indah untuk melepaskan rindu.


(Untuk adegannya di skip dulu ya, takutnya ada bocil yang lewat)


Suara bel pintu membuat dua orang yang masih berada di balik selimut itu pun bergegas untuk bangun,


Leon segera memakai celana dan kaosnya,


"Kamu mandi dulu, biar aku yang lihat siapa yang datang ya!" ucap Leon yang sudah berjalan menuju ke pintu dan Nisa hanya menganggukkan kepalanya.


Leon segera menuju ke depan membuka pintu utamanya. Memang rumah itu akan ada pelayan dan penjaga di jam-jam tertentu saja.


"Mas Alex! Kakak ipar!"


Ternyata di depan pintu ada Alex dan keluarga kecilnya.


Aisyah yang mendengar kepulangan Nisa segera mengajak suaminya untuk menjenguk setelah menjemput anak-anak pulang sekolah.


"Mari masuk!"


Leon pun menuntun mereka untuk masuk dan duduk di sofa. Rumah Leon yang memang tidak terlalu besar membuatnya tidak membutuhkan pelayan untuk hanya sekedar membuatkan minum untuk tamunya, para pelayan akan datang di pagi hari dan sore hari. Setelah menyelesaikan pekerjaannya mereka akan langsung pergi.


"Nisa nya mana?" tanya Aisyah sambil mengedarkan pandangan ke rumah yang terlihat sepi.

__ADS_1


"Masih mandi, kakak ipar!" ucapnya sambil ikut melihat ke arah anak tangga yang menghubungkan ke kamar utama, "Mau minum apa? Biar saya buatkan!"


"Kenapa tidak pakek asisten rumah tangga?" tanya Aisyah yang sebenarnya tidak pernah datang ke rumah ini, ini untuk pertama kalinya mereka ke sini. Saat pernikahan Leon dulu, Leon menyewa rumah besar yang berada di dekat rumah Nisa.


"Saya lebih nyaman jika seperti ini!"


"Mungkin nanti butuh saat karena Nisa pasti butuh bantuan!"


"Itu akan saya pikirkan!"


Akhirnya Leon pun ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya. Tepat setelah ia selesai menyajikan minuman dingin untuk alex dan Aisyah, Nisa keluar dari dalam kamarnya.


"Kia, Arsy !" Sapa Nisa pada kedua anak yang sedang asik bermain di ruang keluarga, "Sama siapa?"


"Sama papa sama Mama!" jawab Kiandra dengan polosnya.


Nisa pun beralih menatap ke ruang tamu yang hanya bersekat sebuah lemari kaca besar. Bibir Nisa tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum.


"Mbak Asiyah, pak Alex!"


"Bagaimana kabar kamu? Aku langsung ke sini saat tau kamu sudah pulang, sekalian mau lihat rumah kalian!" ucap Aisyah yang sudah memeluk tubuh Nisa.


"Alhamdulillah baik mbak, seperti yang mbak lihat!"


Setelah Nisa bergabung, kini giliran Leon yang pamit untuk mandi karena sebentar lagi waktunya sholat ashar.


Kali ini Alex dan Aisyah sengaja bertamu sampai malam, Aisyah yang membuatkan makan malam untuk mereka semua di bantu sedikit-sedikit oleh Nisa. Walaupun beberapa kali Aisyah terus melarangnya.


Selesai makan malam mereka menghabiskan waktunya untuk mengobrol.


"Sebenarnya kami berencana untuk mengadakan syukuran untuk kalian, kalau bisa di rumah ini saja!" ucap Alex membuka percakapan mereka.


"Syukuran?" Leon terlihat menatap Nisa. begitupun dengan Nisa.


"Iya, atas kehamilan Nisa dan di pertemukan kamu dengan saudara kembar kamu, untuk masalah konsep saya serahkan sama kamu, tapi untuk lain-lainnya biar kami yang mengaturnya!" ucap Alex memberi penjelasan.


"Saya juga setuju, bagaimana kalau kalian nanti juga mengundang perwakilan dari anak pesantren Raka, sekalian menyambung tali silaturahmi?"


"Saya setuju dengan usulan mbak Aisyah!" ucap Nisa sambil menatap sang suami.


Ucapan syukur selalu Leon sampaikan kepada sang pemilik kehidupan, rasa bahagianya selama tidak akan pernah pudar, sedikit kesedihan dan Allah menggantinya dengan begitu banyak kebahagiaan.


"Terimakasih banyak, saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan bagaimana lagi untuk semua yang mas Alex dan keluarga berikan!" sudut mata Leon terlihat mulai menitikkan cairan bening itu tapi dengan cepat ia usap agar tidak sampai jatuh ke pipi.


Alex mendekat dan mengusap punggung Leon, "Cukup jadi adik yang baik buat kami!"


Srekkk


Leon membalas usapan Alex dengan pelukan hangat, pelukan antara kakak dan adik.


...Jangan pernah menyesali sehari dalam hidupmu. Hari-hari baik memberimu kebahagiaan dan hari-hari buruk memberimu pengalaman....




Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2