
"Semoga kehidupan pak Alex jauh lebih baik setelah ini ya, selamat jalan pak Alex!"
Seorang polisi penjaga yang biasa berjaga di gerbang penjara itu mengantar pria yang sudah empat tahun itu tinggal di sana.
"Terimakasih ya pak, saya akan menyempatkan untuk ke sini berkunjung nanti!"
"Iya pak, asal jangan sampai masuk lagi karena hal yang sama!"
"Insyaallah, saya permisi! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Akhirnya setelah empat tahun berada di lingkup yang sama dengan aktivitas yang sama juga. Kini pria tiga puluh lima tahun itu bisa menghirup udara bebas lagi.
Kevin Alexander, bebas karena ada potongan hukuman. Dia terkenal dengan disiplin dan berperilaku baik selama di dalam tempat itu.
"Selamat atas kebebasan tuan!" pria dua puluh tujuh tahun itu sudah berdiri di samping mobilnya menunggu kebebasan pria yang biasa di panggil tuan itu.
"Terimakasih Leon!"
"Silahkan tuan!" Leon sudah membukakan pintu untuk Alex. Dan pria yang baru menghirup udara kebebasan itu pun segera masuk ke dalam mobil.
Leon segera menyusulnya dan duduk di balik kemudi.
Mobil mulai meninggalkan tempat itu.
"Kita ke mana dulu tuan?"
"Kita ke makam nenek ya!"
"Baik tuan!"
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, beberapa kali mobil terpaksa berhenti saat traffic light itu menyala merah.
"Apa sudah ada petunjuk di mana Aisyah?"
"Belum tuan!"
Dimana kamu sayang ..., aku sudah bebas , apa kau mengetahuinya ...? Aku merindukanmu, tapi dimana pun kamu, aku pasti akan menemukanmu ...
Mobil pun kembali berjalan, tidak ada percakapan lagi yang terjadi hingga mereka sampai juga di depan kompleks pemakaman dekat dengan rumahnya.
"Silahkan tuan!" seperti biara Leon masih mengerti tugasnya, ia membukakan pintu untuk tuannya itu.
"Terimakasih, kita beli bunga dulu ya!"
"Baik tuan!"
Alex tidak membawa uang sama sekali jadi Leon yang membelikan bunga untuknya. Setelah mendapatkan bunga akhirnya mereka menuju ke makan.
Berjejer empat makan yang saling berdekatan, ada ayah, kakak, nenek dan juga ibunya. Semua adalah orang yang begitu berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
Alex segera berjongkok di depan pusaran neneknya setelah menaburkan bunga ke seluruh makan keluarganya.
"Assalamualaikum nek, ini Alex! Alex sekarang sudah bebas, setelah ini Alex janji, Alex akan menjemput Aisyah!"
"Maafkan Alex ya nek, Alex belum bisa menjadi cucu yang baik buat nenek!"
"Bahkan di hari terakhir nenek, Alex tidak bisa menemani nenek!"
Sesekali terlihat pria itu mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Belum sempat ia membahagiakan neneknya tapi neneknya sudah lebih dulu di panggil oleh sang maha pencipta.
Setelah selesai, Alex pun mengajak Leon untuk meninggalkan pemakaman.
"Kita kemana lagi tuan?"
"Aku harus potong rambut!"
Rambutnya memang terlihat gondrong, kumis dan jenggotnya juga sudah tumbuh liar di wajahnya.
"Baik tuan!"
Mereka segera menuju ke tempat potong rambut langganan Alex dulu. Setelah merapikan rambutnya, mereka pun langsung pulang.
Leon pun membukakan pintu kamar yang sudah lama ia tinggalkan, kamar yang banyak sekali menyimpan kenangannya dengan istri tercinta. Kamar itu masih sama, bersih dan rapi. Seperti nya Leon sangat menjaga rumah itu.
"Silahkan beristirahat tuan, saya akan menunggu di bawah jika tuan membutuhkan sesuatu!"
"Terimakasih ya Leon!"
Leon pun segera meninggalkan Alex sendiri.
Alex mengelilingi kamar itu, masih banyak barang-barang Aisyah yang tertinggal di sana, istrinya itu hanya membawa barang-barang secukupnya.
Baju-baju nya juga masih penuh di dalam lemari, baju baby Kia juga hanya sebagian yang di bawa. Alex mengambil baju mungil itu dan menghirup aromanya seakan sedang mencium putri kecilnya.
"Sudah sebesar apa sekarang kamu sayang! Papa merindukanmu!"
Alex memeluk baju kecil itu dan membawanya ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sana dan beberapa kali menciuminya.
"Apa Aisyah meninggalkan petunjuk ya, biasanya Aisyah suka menyimpan barang-barang pribadinya di sana!" gumamnya.
Alex pun kembali bangun, Ia segera membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidur. Ia mencari buku yang biasa di gunakan oleh Aisyah untuk mencatat sesuatu yang penting. Untung saja buku itu tidak di bawa oleh nya.
Alex pun segera mengambil buku itu, ia membuka perlahan buku berwarna coklat tua itu.
Alex membaca lembar demi lembar, ia begitu penasaran dengan hal yang mungkin di tinggalkan oleh Aisyah.
Tapi ternyata Aisyah sama sekali tidak menuliskan apapun di dalam buku itu di hari sebelum dia pergi.
Klotek
Sesuatu tiba-tiba terjatuh dari dalam buku itu, sebuah kartu berwarna gold.
__ADS_1
Alex pun segera mengambil kartu itu, ia masih sangat ingat jika kartu itu ia berikan sebelum Aisyah pergi.
"Jadi dia meninggalkannya, lalu ...!" ucapan Alex terhenti. Ia pun segera beranjak dari duduknya.
Ia membawa kartu itu dan keluar dari dalam kamarnya.
"Leon ...., Leon ....!"
Alex terus berlari dan memanggil Leon. Leon yang merasa di panggil, dengan cepat menghampiri Alex.
"Iya tuan?"
"Apa kamu tidak tahu jika Aisyah meninggalkan kartunya?" tanya Alex sambil mengacungkan kartu berwarna gold itu.
"Kartu?"
"Lalu bagaimana mereka menjalani hidupnya selama ini jika ia meninggalkan kartunya di rumah?" Alex terlihat begitu panik, ia tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya itu melewati hidupnya tanpa uang yang cukup.
"Maaf tuan saya sungguh tidak tahu, saya hanya merasa heran karena selama ini nyonya Aisyah sama sekali tidak melakukan penarikan atas uangnya, saya kira jika memang nyonya belum membutuhkannya!"
"Maksudnya?"
"Sebelum berangkat, nyonya meminta saya untuk mencairkan uang tunai sebanyak sepuluh juta dan saya melakukannya tuan! Saya tidak tahu jika nyonya meminta saya untuk mengambilkan uang itu agar ia tidak perlu membawa kartunya!"
"Astagfirullah ...., uang sepuluh juta, mana cukup untuk hidupnya selama ini!"
Alex menjatuhkan tubuhnya di sofa, ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih kali ini. Bagaimana istrinya hanya membawa uang sepuluh juta, sedangkan mereka butuh susu, popok dan sekolah Nino.
"Pikirkan sesuatu, kira-kira siapa yang paling tahu keberadaan Aisyah saat ini!"
"Apa mungkin nona Dini, tuan!"
"Hubungi dia!"
Leon pun segera mencari kontak atas nama Dini. Setelah melakukan panggilan dan menanyakan keberadaan Aisyah, ternyata Dini pun tidak mengetahuinya.
Spesial visual Alex Aisyah
Bersambung
...Mencintaimu memang butuh perjuangan, tapi saat aku terus berjuang aku semakin merasa jika kamu memang pantas untuk ku perjuangkan sampai kapanpun...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1