Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Syukuran)


__ADS_3

Satu Minggu setelah kepulangan Nisa, acara syukuran itu benar-benar berlangsung.


Keluarga Nisa juga turut andil dalam acara itu. Yang awalnya hanya Alex dan Aisyah, ternyata papa dan mama Nisa juga tidak mau tinggal diam.


Gus Raka juga demikian, meskipun mereka tidak terlalu dekat sebelumnya tapi untuk acara ini Gus Raka sengaja untuk melibatkan diri.


Hubungan yang masih canggung antara Leon dan Gus Raka akhirnya bisa di cairkan karena acara ini, mereka di libatkan dalam berbagai hal, terutama saat menerima tamu.


Selain perwakilan dari pesantren, beberapa anak panti asuhan sengaja mereka datangkan.


Rumah Leon tidak terlalu besar sehingga mereka memilih menggelar acara di halaman dengan membangun tenda besar.


Masalah jamuan makan, Alex dan Aisyah yang bertanggung jawab, mereka menghadirkan penjualnya langsung ke rumah mereka dengan sistem borong satu hari.


Berbagai makanan tradisional di hadirkan di sana, ada sate, bakso, nasi goreng, siomay, mie ayam, cap cay, soto, rawon, nasi pecel, rujak cingur, lontong balap, dan jajanan tradisional lainnya.


Acara di buka dengan pembacaan ayat suci alquran yang di bacakan langsung oleh Gus Raka dan di lanjut dengan pengajian, acara itu juga terbuka untuk masyarakat sekitar. Walaupun sebagian dari mereka hanya ingin ikut makan gratis dan setelah makan pergi tanpa menunggu pengajian selesai.


Gus Raka sengaja mengundang salah satu mubalig ternama yang sering Wira Wiri di tv.


Setelah acara ceramah selsai, di akhirnya di dengan pembagian santunan untuk pada anak yatim piatu yang mereka undang dari panti asuhan terdekat di rumah mereka.


Selama acara Nisa hanya di perbolehkan duduk tanpa melakukan apapun, menyalami tamu dan tidak boleh sampai kecapekan.


"Aku bahagia!" ucap Leon yang sedang berdiri di samping saudara kembarnya membuat Gus Raka yang awalnya fokus untuk melihat keramaian yang tercipta di rumah itu berbalik menatapnya.


"Tentang apa?"


"Banyak hal, semua hal yang saya lalui adalah perjalan hidup dan Allah langsung membalasnya di dunia, sedikit kekhawatiran pun terjadi!"


"Apa?"


"Bagaimana jika balasan ini Allah berikan di dunia tapi Dia menyisakan untuk akhiratku kelak?"


"Maka terus perbaiki diri, biar malaikat kuwalahan untuk mencatat semua amal baikku!" ucap Gus Raka dengan senyum teduhnya. "Aku bersyukur ternyata kamu saudara kembar ku. Awalnya ada was-was di hati ku, jika orang itu bukan kamu, jika orang itu orang lain apakah jadinya akan sama? Apakah sebahagia saat ini?"


"Mungkin jika kamu bertemu denganku sepuluh tahun yang lalu, atau tujuh tahun yang lalu, kamu tidak akan menemukan aku yang seperti saat ini!"


"Itulah kenapa Allah menunda pertemuan kita, agar kita saling menjadi baik terlebih dulu dan pantas untuk saling bertemu sebagai sepasang saudara!"


"Jadi Yeni, saudara kamu adalah saudaraku juga?"


"Iya!"


"Satu penyesalanku karena tidak bisa melihatnya di hari terakhirnya, seandainya waktu itu aku datang lebih cepat_!"


"Jangan sesali apa yang sudah terjadi, apa yang kita lewati itu berarti bukan menjadi takdir kita tapi apa yang kita dapat hari ini adalah bagian dari takdir kita, Allah tahu apa yang terbaik untuk kita!"


"Tentang Nisa_?" jujur Leon menjadi sangat tidak enak dengan saudara kembarnya itu mau bagaimanapun, dia telah membuat saudaranya itu menjadi saingannya.


Gus Raka tersenyum, "Nisa adalah takdirmu, mau sekeras apapun aku berusaha kalau Allah menakdirkan dia untuk kamu akan tetap menjadi milik kamu!"


"Maafkan aku!"


"Tidak ada yang bersalah dalam hal ini, mungkin Allah sedang mempersiapkan jodoh untukku, atau mungkin Allah sedang mempersiapkan takdir lain dalam hidupku nanti, tidak ada yang tahu kita cukup menjalaninya saja!"


"Terimakasih karena kamu saudaraku!"


Acara pun berjalan dengan lancar, setalah acara jamuan satu persatu tamu pun berpamitan. Tidak ada tamu yang pulang dengan tangan kosong, sebuah bingkisan sudah mereka siapkan untuk para tamu yang akan di bawa pulang.


Rombongan dari pesantren pun pulang dengan mobil pesantren meninggalkan Gus Raka yang masih akan bantu-bantu membersihkan rumah Leon.

__ADS_1


Kiandra dan Arsy yang sudah tidak ada teman bermain lagi karena para anak panti asuhan juga sudah di pulangkan dengan mobil perusahaan, mereka pun beralih mengpiri Gus Raka yang masih menumpuk kursi plastik.


"Paman!" panggil Arsy pada pria bersahaja itu.


"Iya?" Gus Raka menoleh pada kedua anak itu dan Hongkong mensejajarkan tubuhnya, "Ada apa?" tanyanya dengan begitu lembut.


"Arsy kelak mau mondok!" ucap polos tapi tampak begitu serius.


"Kenapa mondok nak?"


"Karena Arsy pengen kayak paman, tadi suara paman merdu sekali!"


Gus Raka tersenyum dan mengusap kepala Arsy, "Semoga apa yang kamu cita-cita kan di ijabahi oleh Allah ya!"


Percakapan mereka ternyata mendapat perhatian dari kedua orang tua anak kecil itu, mereka yang berencana mengajak Gus Raka masuk di urungkan demi mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu kamu, cantik?" tanya Gus Raka beralih menatap kiandra yang hanya diam mendengarkan ucapan sang adik.


"Aku mau jadi jodoh paman!" ucapnya dengan polos.


"Jangan cantik, nanti kalau kamu besar, paman sudah terlanjur tua, bagaimana kalau paman doakan semoga kelak kamu akan mendapatkan jodoh yang sangat mencintaimu, menjadikan kamu ratu di dalam hidupnya!"


"Kalau Kia bukan jodoh paman, lalu jodoh paman siapa dong?"


"Biarkan itu menjadi rahasia Allah ya!"


"Padahal Kia terlanjur jatuh cinta sama paman!"


Ucapan polos Kia berhasil membuat Gus Raka tertawa,


"Kia, kamu genit ya! Kecil-kecil sudah ngomongin cinta!" Aisyah dan Alex berjalan menghampiri mereka.


"Sudah ah, Kia sama Arsy jangan ganggui paman Raka lagi!" Aisyah mengajak kedua buah hatinya itu untuk meninggalkan suami dan Gus Raka.


Alex masih menatap punggung orang-orang yang berarti dalam hidupnya itu,


"Ahhh, nggak kebayang bagaimana kalau nanti ada yang meminang dia!" gumamnya.


Obrolan tentang jodoh Kia membuat bapak dua anak itu khawatir sendiri membayangkannya.


Gus Raka yang mengerti dengan perasaan Alex hanya tersenyum.


"Kamu jangan berpikir mau menikahi putriku ya!" ucapnya lagi pada Gus Raka.


"Tapi sepertinya putri anda begitu jatuh cinta sama saya!" Gus Raka malah semakin menggoda bapak posesif itu.


Alex menatap tajam pada pria bersahaja yang wajahnya jika di perhatikan dengan seksama memang mirip dengan Leon itu, menatap dengan sebal lalu berlalu begitu saja meninggalkan Gus Raka yang tertawa.


"Dia benar-benar membuatku cemburu, awas saja berani mengambil putriku!" gerutunya sambil terus berjalan.


Kini Leon sedang mengantar Nisa kembali ke kamarnya,


"jangan lakukan apapun lagi setelah ini, awas saja sampai aku tahu, aku akan_!" Leon menghentikan omelannya saat menatap wajah manis sang istri.


Kenapa dia cute sekali ....


"Tapi kan aku ingin bersama mereka mas!" ucap Nisa dengan begitu manis.


Kenapa dia manis sekali ....


"Jangan bantah, aku nggak suka ya kamu nggak nurut, pokoknya tetap di sini biar mama sama kak Anya yang aku suruh ke sini!"

__ADS_1


"Bagaimana kalau Kia dan Arsy atau sama_!" ucapan Nisa terhenti saat mendapat tatapan tajam dari sang suami tapi Nisa malah mengedipkan matanya berkali-kali.


"Please ....!"


Ahhh dia merayuku ..


"Boleh ya mas???"


"Terserahlah!" Leon pun segera berlalu. Nisa tahu jika suaminya sudah berbicara seperti itu tandanya dia setuju.


Benar saja tidak berapa lama, kamar itu penuh dengan keponakan-keponakannya.


Arsy dan Kia yang pastinya sangat mendominasi, anak dokter Ardan dan anak kakak perempuan Nisa juga bergabung di sana membuat kamar itu semakin ramai saja.


Leon memilih turun dan membantu yang lainnya membereskan rumah.


***


Malam hari setelah semuanya pulang kini kembali tinggal Nisa dan Leon saja di rumah itu.


Rumah yang baru saja di buat acara itu sudah kembali bersih seperti semula.


Kini Leon sudah merebahkan tubuhnya, tidur dengan berbantalan di pangkuan Nisa yang duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


Matanya sengaja ia pejamkan untuk menikmati usapan dari tangan sang istri, terlihat sekali wajahnya begitu lelah.


"Capek banget ya mas?" tanya Nisa membuat Leon perlahan membuka. kembali matanya.


"Iya, tapi aku senang!" Leon memegang telapak tangan Nisa dan mengusapkan ya ke pipinya sendiri seolah memberitahu jika ia ingin di usap pipinya.


"Aku juga bahagia, akhirnya mas Leon punya keluarga yang sempurna, keluarga kita bisa bersatu. Rasanya begitu indah!" tapi tampak di wajah sang istri ada sebuah kekhawatiran di sana.


"Tapi wajahmu menampakkan hal lain, Nisa?"


"Hehhhh!" Nisa menghela nafas, "Tidak pa pa mas, hanya saja. Allah itu begitu adil, sebuah kebahagiaan pasti ada kesedihan di baliknya, kebahagiaan adalah ujian kesedihan juga, bagaimana jika setelah ujian kebahagiaan ini Allah memberikan ujian kesedihan juga?"


"Jangan biarkan karena kesedihan yang hanya menimpamu satu jam menghapuskan kebahagiaan kamu dua puluh tiga jam dalam harimu!"


"Maksudnya?"


"Ya syukuri saja semuanya, hidup itu memang harus tetap ada sedih dan senangnya, kita punya waktu dua puluh empat jam dalam satu hari, satu jam hari ini kamu dapatkan keburukan tapi dua puluh tiga jam lainnya kamu dapat kebahagiaannya apakah mungkin kamu ingin mengorbankan dua puluh tiga jam itu hanya untuk kesedihanmu yang satu jam?"


Nisa menganggukkan kepalanya, Leon segera bangun dari pangkuan Nisa,


"Tidurlah, kamu pasti juga capek kan hari ini!"


Leon membantu Nisa untuk merebahkan tubuhnya, menjadikan tangannya sebagai bantalan istrinya. Semenjak menikah sepertinya Nisa jadi punya kebiasaan baru, ia akan bisa tidur jika tidak berbantalan tangan Leon.


Malam ini mereka melewati malamnya dengan hanya saling menikmati kebersamaan, menikmati hangatnya tubuh pasangannya tanpa berniat melakukan hal yang lebih.


...Mencintai diri sendiri berarti memahami bahwa kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi baik. love yourself...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2