Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Kami saudara)


__ADS_3

"Dia anak anda?" tanya Merry lirih agar pembicaraan mereka tidak sampai di sadari oleh orang yang ada di sana.


"Bukan, sungguh saya tidak mengenalnya. Aku melihatnya sudah tergeletak di sini, terlihat dari jalan sana!" ucap pria itu sambil menunjuk gerobak cilot miliknya, Merry mencoba untuk mencari kebohongan dari tatapan matanya, tapi ia gagal. Sepertinya pria itu memang tidak berbohong.


Merry kembali menatap anak laki-laki yang tidak berdaya itu, jiwa keibuannya terpanggil. "Baiklah, biar saya yang membawa anak ini ke rumah sakit!"


"Tapi mbak_!" pria itu terlihat ragu apalagi dengan penampilan wanita itu yang jelas tidak seperti wanita-wanita pada umumnya.


"Saya berikan kartu nama saya dan anda bisa mencari saya di rumah saya kalau tidak percaya!"


Mungkin setelah di timbang-timbang akhirnya pria itu menyetujuinya.


Tanpa memberitahukan pada teman-teman nya, Merry pun segera berlari membopong tubuh anak yang terkulai lemas itu ke mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.


Merry tidak mau mengambil resiko dengan membawanya ke rumah sakit umum, ia membawa anak itu ke dokter keluarga David, David punya bisnis gelap dan jika ia sampai muncul dengan membawa anak kecil dalam keadaan berlumuran darah, sudah pasti akan berbuntut panjang.


Kedatangannya langsung di sambut oleh dokter yang juga temannya saat masih SMA,


"Ada apa Mer? Dia siapa?"


"Aku juga nggak tahu Dit, anak ini berlumuran darah begini, cepet tolong dia!"


"Bagaimana kalau Tante Widya sampai lihat kamu?"


"Jangan sampai, kalau nanti Tante Widya ke sini, katakan saja kalau kamu yang menemukan anak ini!"


"Trus, kamu mau ke mana lagi sekarang?"


"Aku nggak mungkin lama-lama di sini, kalau nyonya Widya ke sini tiba-tiba gimana? Pokoknya kabari saja bagaimana keadaan anak ini!"


"Baiklah, hati-hati!"


Bukannya tidak mau menunggui anak itu tapi akan lebih bahaya kalau sampai nyonya Widya melihatnya di sana. Ia kembali ke Indonesia karena sebuah misi, dan akan segera kembali ke Singapure untuk menemui David.


Dokter Radit memilih untuk merawat anak itu di kliniknya. Butuh penanganan khusus karena lukanya cukup parah. Setelah satu Minggu di rawat akhirnya anak itu sadar, tapi sayang anak itu tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Padahal dokter Radit sudah berencana untuk menyerahkan anak itu pada keluarganya saat sudah sadar.


"Jadi kamu tidak mengingat siapa kamu?" tanya dokter Radit dengan telaten dan anak itu hanya menggelengkan kepalanya.


Hingga akhirnya nyonya Widya mengetahui keberadaan anak itu di klinik dokter Radit.


"Dia siapa dokter?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu Tante, saya menemukannya di jalan!" ucap dokter Radit berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Merry lah yang menemukan anak itu.


"Lalu bagaimana keadaannya?"


"Dia hilang ingatan, Tante!"


"Baiklah, biar aku rawat saja anak ini, jangan biarkan siapapun mengenalinya lagi!"


"Baik Tante!"


Akhirnya setelah benar-benar sehat, nyonya Widya pun membawa anak itu ke rumahnya.


Merry menceritakan kejadian itu pada David membuat David penasaran dengan anak yang di maksud itu. Ia.juga sudah bertanya pada dokter Radit dan mengatakan apa yang terjadi.


David pun memilih pulang untuk melihat anak itu.


"Mama yakin mau ngerawat dia?"


"Iya, mama juga kan kesepian di rumah, kamu bawa anak-anak kamu menjauh dari mama!"


"Tapi ma_!"


"Setuju atau tidak aku akan tetap merawatnya!"


"Jangan harap kamu bisa membawanya juga bersamamu, biarkan dia hidup normal di sini!"


Akhirnya David pun menyetujuinya. Ia tidak pernah melibatkan anak itu di bisnis gelapnya. Hal itu bukannya tanpa sebab, ia hanya berharap suatu saat jika terjadi sesuatu anak itu yang bisa menyelamatkan semuanya.


Flashback off


"Jadi anak yang kamu maksud itu?" dari cerita Merry, Alex langsung sadar siapa yang sedang di ceritakan olehnya saat ini.


"Iya tuan, anak itu sudah menjelma menjadi pria dewasa yang luar biasa, bahkan kesetiaan nya tidak di ragukan kali!" ucap Merry menimpali.


Gus Raka memilih untuk tetap diam dan mendengarkan hingga dua orang itu menyebutkan sebuah nama.


Merry tersenyum dan menatap pria bersahaja di samping Alex itu, "Dia adalah Leon!"


Deg


Begitulah jantung Gus Raka yang seakan sejenak berhenti berdetak, suasana menjadi hening sepersekian detik. Ia sedang mencerna apa yang baru saj ia dengar.

__ADS_1


Ya Allah, maha besar Allah dengan segala nikmat yang di berikan, bahkan Allah berkali-kali sudah mempertemukan tanpa di minta.


Sudut mata Gus Raka terlihat menitikkan air mata dan dengan cepat ia mengusapnya dengan ujung jari kelingkingnya.


"Apakah yang saya dengar ini benar? Jadi mas Leon itu, Leon itu saudara kembar saya?" tanya Gus Raka memastikan, ia ingin benar-benar mengetahui secara pasti jika yang ia dengar itu memang benar adanya.


"Iya, benar! Memang dia anak yang sudah saya temukan dua puluh tahun lalu!"


Alex yang juga terlihat masih syok hanya bisa diam. Ia membiarkan orang di sampingnya itu merasakan kebahagiaannya.


"Terimakasih nyonya, saya akan segera memberitahukan ini padanya!" ucap Gus Raka dengan penuh syukur.


Sejenak Gus Raka kembali terdiam, ia seperti kurang sesuatu.


"Saya hanya punya ini untuk membuktikannya, bagaimana kalau dia tidak percaya!" ucap Gus Raka sambil menunjukan selembar foto, ada sebersit keraguan di dalam benaknya. Dia dan Leon jelas sangat berbeda, atau memangs sebenarnya mereka mirip tapi tidak di sadari oleh mereka.


"Tunggu, aku punya sesuatu untuk membuktikannya!" Merry pun. segera bangkit dari duduknya dan menuju ke sebuah gudang, mengambil sebuah kotak yang sengaja ia sembunyikan di dalam gudang ada siapapun tidak melihatnya.


Ia segera menemui Gus Raka Alex, menyerahkan kotak kecil berwarna biru yang sudah usam.


"Ini bisa membuktikan ucapan saya!" ucapnya sambil menyodorkan kotak itu pada Gus Raka.


Gus Raka segera membuka penutup yang lebih mirip seperti kotak sepatu. Sebuah kemeja anak kecil berwarna biru muda, sama persis seperti yang ada dalam foto yang dia miliki dan satu lagi, gantungan kunci yang sama persis seperti yang di buat oleh sang kakek waktu itu.


Gus Raka mengangkat gantungan kunci itu,


"Ini buatan kakek saya!"


"Sebenarnya gantungan itu ada dua, saya pikir mungkin itu milik dua anak tapi kebawa oleh Leon semua. Salah satunya Leon yang membawa, waktu itu tanpa sengaja saat Leon bermain di gudang menemukan kotak ini! Setelahnya Leon melihat isi kotak, tubuhnya tiba-tiba menggigil hebat, seperti mengingat sesuatu yang menakutkan dan semenjak saat itu aku tidak pernah mengijinkannya untuk melihatnya lagi. Tapi kemudian dia meminta satu gantungan kuncinya, katanya dia suka dengan gantungan kunci itu. Karena tidak berakibat buruk aku pun memilih untuk membiarkannya saja!"


"Mungkin karena ini, dia memborong semua gantungan kunci buatan kakek!" ucap Gus Raka menanggapi ucapan Merry.


"Iya, aku juga dapat. Yang seperti ini kan!" Alex mengeluarkan kunci mobilnya yang ada gantungannya, oleh-oleh dari Nisa dan Leon.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2