Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (PoV Gus Raka 2)


__ADS_3

Besok adalah hari bahagia Nisa dan Leon, begitu ragu rasanya untuk bisa biasa saja saat menghadiri pernikahan mereka. Aku sudah berusaha untuk ikhlas tapi tetap saja ikhlas itu memang butuh di usahakan dan usaha butuh waktu yang panjang.


Hehhh ....


Aku hari ini begitu malas untuk pergi kemana pun, aku sudah mengatakan pada Abi perihal undangan pernikahan Nisa, Abi adalah sosok yang selalu bisa aku jadikan panutan, beliau membesarkan hatiku untuk bersabar.


"Umi boleh masuk!" sebuah ketukan halus dan suara lembut dari umi menyadarkanku, aku pun langsung tersenyum hangat pada sosok wanita yang telah begitu sabar merawatku selama ini. Wajahnya masih terlihat cantik walaupun usianya tidak lagi muda, kerudung besarnya yang dulu selalu aku jadikan tempat bersembunyi dari Abi saat aku melakukan kesalahan.


"Masuklah umi!" aku segera bangun dan duduk di tepi tempat tidur, umi berjalan mendekatiku lalu menggeser kursi kecil yang biasa aku gunakan untuk duduk sambil mengerjakan beberapa tugas.


Beliau menatapku dengan wajah sayunya. Walaupun aku tidak pernah mengatakan keluhanku, tapi wanita ini selalu mampu menebaknya hanya dengan menatapku.


"Raka!" panggilnya lembut.


"Hmm!" jawaban singkat hanya sebagai penanda kalau aku juga sedang memperhatikan apa yang akan beliau katakan.


"Raka, umi memang bukan wanita yang melahirkan kamu tapi umi adalah wanita yang ada saat kamu menangis, kamu sakit, kamu bahagia, kamu sedih. Umi tahu apa yang kamu rasakan sekarang, sedih, kecewa, sakit, tapi percayalah ada takdir lain yang sedang Allah siapkan untuk kamu, mungkin Allah tahu kamu belum siap untuk menjalani semuanya, Allah ingin kamu punya prioritas lainnya yang harus kami lakukan!"


Aku terpancing untuk memperhatikan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh umi, ini ternyata bukan tentang kesedihanku saja, tapi ada hal lain yang sedang ingin di sampaikan oleh umi,


"Ada apa umi?"


"Umi harus memastikan kamu baik-baik saja saat umi menyampaikannya, kalau kamu sendiri belum baik-baik saja, umi tidak bisa membebanimu dengan masalah lainnya, umi sholat dulu!"


Wanita yang begitu aku hormati itu beranjak meninggalkan aku, aku masih bisa menatap punggungnya hingga pintu kamarku kembali tertutup.


"Astaghfirullah hal azim!" istighfar terus keluar dari bibirku. Aku segera beranjak dan mengambil wudhu, sudah dua hari ini bahkan aku tidak melakukan apapun selain melamun dan menunaikan kewajibanku sebagai hamba yang lemah.


Segera pakai sarung yang sedari tadi menggantung di sandaran kursi, songkok hitam turut menghiasi kepalaku. Tujuanku saat ini adalah masjid pesantren. Pesantren dengan rumah kami begitu dekat, hanya sebuah tembok besar yang memisahkan, sengaja kata Abi biar kalau ngajar di pesantren nggak jauh-jauh.


Setelah selesai sholat dhuhur, aku memilih duduk di serambi masjid untuk menenangkan diri, udara yang panas tidak sampai masuk ke masjid.


"Raka!"


Seseorang memanggilku dari belakang, aku tahu itu suara Abi. Beberapa santri masih terlihat duduk di dalam masjid meskipun Abi sudah keluar.


Tanpa meminta.persetujuan dariku, beliau duduk di sampingku.


"Umi sudah bicara padamu?"


Mendengar pertanyaan Abi, aku jadi kembali teringat dengan umi. Apa yang akan di bicarakan sama umi?

__ADS_1


"Belum, Abi!"


"Segeralah pulang, tanyakan pada umimu!"


"Tapi para santri?" tanyaku, sudah dua hari aku melakukan kewajibanku mengajar di pesantren dan aku pinta salah satu pengurus untuk menggantikan ku, rasanya tidak enak kalau terus merepotkan mereka.


"Biar Abi yang menggantikan, Abi memang sengaja ada yang ingin di bicarakan sama para santri mengenai libur semester!"


"Baiklah kalau begitu Abi, Raka pulang dulu!"


Setelah mengucapkan salah segera ku pakai sendal jepit tujuh ribuan berwarna biru, sebenarnya awal beli warnanya hijau karena terlalu pasaran pulang dari masjid berubah warna jadi biru mungkin ketuker dengan yang pulang lebih dulu.


Umi sudah menungguku di teras rumah, senyumnya selalu berhasil membuat hatiku tentram.


"Umi kira kamu ikut ngajar sama Abi!" gumamnya saat aku sudah duduk di sampingnya, kami hanya berjarak sebuah meja kecil dengan vas bunga plastik di atasnya.


"Abi minta Raka buat pulang umi!" aku menatap wanita di sampingku itu, "Oh iya umi, tadi mau mengatakan apa?"


"Sekarang sudah lebih baik?" ada rona khawatir di wajahnya.


"Insyaallah umi!"


Umi memintaku untuk segera ke Bali menemui saudara dan kakek kandungku.


Sekarang aku sudah bersiap-siap dengan sebuah tas rangsel di punggungku, aku sudah memesan tiket pesawat online jadi tidak perlu ke bandara dulu.


Sebelum meninggalkan kamarku, ku tatap sebuah boks yang aku bungkus rapi dengan kertas kado berwarna silver. Rencananya boks itu aku akan berikan pada Nisa dan Leon di hari pernikahannya.


Aku pun segera mengambilnya, mungkin lebih baik aku serahkan sekarang sembari meminta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahan mereka.


Sebelum.ke bandara, aku memilih untuk singgah sebentar ke rumah Nisa. Masih ada waktu satu jam dengan jadwal pemberangkatan pesawat yang akan aku tumpangi.


Di depan aku langsung bertemu dengan Reza, dia kakak Nisa. Kami sepetinya seumuran, aku meminta tolong padanya untuk memanggilkan Nisa sebentar.


Setelah ku serahkan boks kado pernikahan mereka, aku pun segera berlalu. Melihat gadis yang aku cintai memakai pernak-pernik pernikahan hati ini berdesis. Ada rasa tidak rela yang masih menyusup ke relung hatiku yang egois, tapi segera ku tepis. Allah punya rencana lain di balik semua ini.


Sesampai di Bali, aku melihat adik Perempuanku terkulai lemah. Tubuhnya sangat kurus, hanya dalam beberapa bulan saja sudah begitu banyak perubahan.


Ternyata aku tahu alasan kenapa mereka mencari ku setelah sekian tahun, adikku mengidap kanker stadium empat. Kata dokter sudah tinggal menunggu waktu saja, aku hanya bisa berserah pada Allah dan di barengi dengan ihtiar. Adik Perempuanku mengkhawatirkan kakek kami, ia tidak bisa meninggalkan kakeknya sendiri.


"Kak, jaga kakek ya saat aku tidak ada!" itu permintaan terakhirnya, berkali-kali ia ucapkan hingga nafas terakhirnya.

__ADS_1


Aku punya kehidupan sendiri di Surabaya, keputusan yang sangat berat pastinya untuk meninggalkan semua dan memilih tinggal di Bali bersama kakek. Lalu bagaimana dengan Abi dan umi, aku harapan mereka untuk mengelola pesantren yang sudah mereka bangun.


Kakek ternyata membuat berbagai macam kerajinan membuatku tertarik untuk mencoba memasarkannya, menawarkannya ke beberapa toko oleh-oleh khas Bali dan ada toko yang ternyata sangat menyukainya, insyaallah hasilnya akan cukup untuk menghidupi kakek.


Hal yang tidak aku duga, entah keterikatan apa aku dengannya hingga kami selalu di pertemukan dalam situasi yang tidak terduga.


"Mas Leon!"


Pria itu sedang melaksanakan sholat magrib di tempat yang sama denganku, kami terlibat dalam obrolan singkat. Walaupun singkat tapi obrolan kami selalu berkesan, dia begitu polos dengan ucapannya yang selalu lugas.


Aku berbohong soal adikku, aku Tidka mengatakan kalau adik Perempuanku sudah meninggal dunia, rencananya ke Bali untuk bulan madu.


Keesokan harinya, aku kembali terkejut saat tiba-tiba dua orang yang baru saja melangsungkan pernikahannya itu singgah di rumah kakek.


Karena kami masih dalam suasana berkabung, kakek sengaja tidak membuka rumahnya untuk kunjungan wisatawan, tapi melihat mereka yang datang aku tidak mungkin mengusir mereka. Akhirnya aku pun memberitahukan perihal adik Perempuanku dan terlihat sekali kalau mereka begitu tidak enak hati. Hanya sebentar dan mereka pun memilih untuk berpamitan.


Setelah kepergian Nisa dan Leon, tiba-tiba kakek mengajakku bicara serius. Beliau menunjukkan fakta lain dari hidupku, aku memiliki seorang saudara lagi, saudara kembar.


Kakek menyerahkan sebuah foto dua anak kecil seumuran sama dengan wajah yang berbeda.


Kakek memintaku untuk mencarinya, dia yakin saudaraku itu belum meninggal. Ada seseorang yang menyelamatkannya saat kecelakaan itu terjadi. Namanya Dika.


Kakek mau aku menemukannya, "Kalau pun sudah tiada. Kakek akan merasa tenang kalau kalian sudah bertemu!"


Hanya berbekal sebuah foto masa kecil kami, aku juga tidak yakin dia mengenali masa kecilnya. Namanya juga mungkin sudah berganti.


Saat akan pulang, aku kembali di pertemukan dengan Leon dan Nisa. Mungkin ini jawaban yang aku cari, Leon punya banyak anak buah dia juga punya kemampuan untuk menyelidiki.


Aku pun menunjukkan foto yang di berikan oleh kakek dan meminta bantuannya.


...Ada banyak hal di dunia ini yang tidak kita ketahui dan jawabannya adalah apa yang terjadi dalam hidup kita....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2