
Tito sudah bersiap-siap menuju ke ruang sidang, pengacaranya sudah membaca kan banyak sekali tuntutan yang di tujukan pada Tito.
Tito kali ini tidak bisa mengelak, jika kasus tentang penyelundupan barang haram itu terungkap, ia sudah bisa memastikan kapan akan di vonis mati.
Rasanya saat ini hukuman seumur hidup lebih baik dari pada keputusan sidang.
Hakim agung segera membacakan keputusan pengadilan saat Tito sudah duduk di tempatnya, Setelah melakukan beberapa pembelaan yang di lakukan oleh pengacara Tito, akhirnya keputusan pun di bacakan di depan para saksi dan juga pengacara.
"Pada hari ini sidang perkara Terdakwa Tito Prakasa yang di dakwa sebagai pengedar narkoba internasional. Adapun acara sidang adalah pembacaan Putusan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri. Dalam persidangan, Terdakwa terbukti telah membawa narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 125 kilogram yang akan di edarkan ke seluruh Indonesia.
Terdakwa divonis hukuman mati.
Majelis Hakim dalam amar putusannya tidak melihat adanya hal-hal yang meringankan terdakwa. Adapun hal yang memberatkan Terdakwa adalah karena Terdakwa termasuk sindikat internasional!"
Dan hal itu tidak bisa di ganggu gugat lagi, memang kedatangan kembali Tito ke Indonesia adalah untuk menjalankan bisnis itu.
Setelah mendapatkan keputusan itu, Tito pun di ijinkan kembali ke tempatnya sampai eksekusi mati dilaksanakan, ia masih punya waktu beberapa minggu lagi untuk mempersiapkan diri.
...***...
Di tempat lain terlihat Aisyah begitu terburu-buru ke rumah sakit, Leon yang sudah berada di rumah sakit baru saja menghubungi Aisyah dan memintanya untuk segera datang.
Aisyah di antar sopir, ia menitipkan baby Kia pada bu Santi. Semenjak Alex di penjara, bu Santi tidak lagi berdagang, ia membantu Aisyah menjaga baby Kia.
Aisyah memang sangat sibuk karena ia harus menjaga baby Kia sekaligus nenek Widya, Dini dan Ajun terpaksa harus segera kembali ke Jakarta karena tidak bisa berlama-lama di Surabaya, ada banyak pekerjaan yang menanti.
Aisyah juha masih harus membantu Alex di perusahaan, mencarikan beberapa bukti untuk suaminya.
Mobil yang di tumpangi Aisyah pun akhirnya berhenti di depan gedung rumah sakit. Leon sudah menunggunya di sana.
Aisyah segera turun dari mobil dan menghampiri Leon.
"Assalamualaikum mas Leon!"
"Waalaikum salam, nona!"
"Apa yang terjadi sama nenek?" tanya Aisyah yang terlihat begitu panik.
"Sebaiknya nona menemui langsung dokternya!" ucap Leon.
__ADS_1
"Baiklah ...., di mana ruangannya?"
"Mari nona ..., biar saya antar!" ucap Leon lalu ia berjalan di depan Aisyah, Aisyah mengikutinya.
Langkah mereka terhenti tidak jauh dari kamar tempat nenek Widya di rawat.
"Assalamualaikum dok!" sapa Aisyah.
Dokter yang duduk di balik meja itu pun mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang datang.
"Waalaikum salam, nona Aisya! Duduklah ....!"
Aisyah pun kembali berjalan dan duduk di depan meja itu, Leon mengikutinya di belakang dan berdiri di samping Aisyah.
"Apa yang terjadi sama nenek dok?" tanya Aisyah.
"Nenek anda sudah sadar nona!"
Senyum di bibir Aisyah mengembang, "Alhamdulillah!"
"Tapi__!" ucapan dokter menggantung.
"Nenek anda kembali koma setelah sadar yang ke dua, dan kali ini sepertinya lebih parah!"
"Maksud dokter?"
"Bu Widya memerlukan alat bantu di seluruh tubuhnya, kami tidak bisa menggunakannya untuk waktu yang sangat lama, paling lama satu minggu, kalau satu minggu itu pasien tidak mengalami peningkatan, pihak rumah sakit terpaksa mencabut semua alat ini!"
"Jangan dok ...., saya mohon ..., nenek pasti akan kembali sehat!" ucap Aisyah dengan air mata yang tidak mampu ia bendung lagi.
"Kami hanya bisa memberi waktu sampai satu minggu saja , nona!"
"Saya harus bertanya pada suami saya, apa sekarang say bisa menemui nenek?"
"Silahkan!"
Aisyah pun menemui nenek Widya, ia terlebih dulu mengenakan baju steril berwarna biru yang di sediakan oleh rumah sakit, Aisyah pun segera masuk dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur nenek Widya.
"Assalamualaikum nek!" sapa Aisyah, walaupun tidak bisa menjawabnya. Aisyah yakin jika nenek Widya bisa mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
Air mata Aisyah kembali tumpah saat melihat segala macam alat bantu kehidupan yang melekat di tubuhnya, bahkan suara detak jantung itu masih ada di monitor.
"Bagaimana bisa para dokter akan melepaskan semua alat bantu ini nek? Nek bangunlah ...., apa nenek tidak ingin bermain dengan baby kia, dia sangat merindukan nenek!"
"Nek ...., kalau nenek pergi, bagaimana aku mengatakannya pada mas Alex?"
"Aku benar-benar telah gagal nek, Aisyah tidak bisa menjaga nenek!"
"Aisyah bingung nek, Aisyah butuh nenek, Aisyah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi semua ini! Aisyah tidak tahu tentang perusahaan, Aisyah tidak tahu tentang semuanya, nenek belum selesai mengajari Aisyah, jadi jangan pergi dulu ...!"
Setelah menumpahkan semua unek-unek nya, Aisyah pun keluar dari dalam ruangan itu. Ia merasakan bajunya mulai basah karena asi yang sudah minta untuk di keluarkan.
"Mas Leon, kita pulang ya!" ucap Aisyah yang sudah merasakan nyeri pada *********** yang semakin mengeras.
"Baik nona!"
Leon pun mengantar Aisyah pulang karena ia sudah meminta sopir untuk meninggalkan rumah sakit, sudah hampir setengah hari mereka di rumah sakit.
"Nona!" panggil Leon yang masih fokus menyetir.
"Iya?"
"Apa perlu saya meminta ijin ke pihak kepolisian untuk membawa tuan Alex menemui nyonya besar sebelum semua nya terlambat nona!"
"Jadi kamu memikirkan hal yang sama seperti yang di pikirkan oleh dokter itu?" tanya Aisyah tidak percaya.
"Maaf nona, tapi kita harus siap dengan kemungkinan terburuknya!"
Aisyah pun hanya bisa diam dan menatap ke luar jendela mobil, rasanya belum siap untuk kehilangan nenek, nenek Widya adalah orang yang telah mengajarkan banyak hal kepadanya.
Air matanya kembali luluh, bagaimana jadinya nanti ia tanpa Alex dan nenek di sisinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰