
Asna terus menggandeng tangan Gus Raka meskipun ia tahu jika suaminya saat ini cukup kesusahan memilih belanjaan.
"Tidak ingin membantuku memilih sesuatu? Atau kamu ingin membeli sesuatu selain di list ini?"
"Kamu saja!" pegangan Asna semakin erat saja, sebenarnya jika itu dalam keadaan normal, sudah pasti Gus Raka sangat suka, ia senang istrinya terus menggandengnya seperti itu, kalau perlu ia memeluk pinggang istrinya seperti penganten-pengantin baru lainnya.
"Dek, ini sudah hampir semua loh, yakin nggak mau beli sesuatu?" Gus Raka selalu bicara dengan lembut pada istrinya itu.
"Sudah ku bilang enggak ya enggak!"
"Baiklah, karena sudah kebeli semua, kita ke kasir ya!"
Asna terus membuntuti Gus Raka, ia benar-benar tidak merasa nyaman saat orang menatap ke arahnya. Ia tidak sadar apa yang ia lakukan pada Gus Raka saat ini tentu menjadi pusat perhatian.
"Mbak, takut suaminya ilang ya dari tadi di gandeng terus!" akhirnya setelah sekian lama baru ada satu orang yang berani menegurnya saat mereka sama-sama di kasir.
Asna langsung melepaskan genggaman tangannya pada Gus Raka. Tapi Gus Raka seperti biasa kembali tersenyum.
"Ini Bu, kami pengantin baru jadi lengket begini!" Gus Raka kembali meraih tangan Asna dan kali ini dia yang menggandengnya.
"Ohhh pantes romantis sekali!"
Lagi-lagi Gus Raka hanya tersenyum menanggapinya, berbeda dengan Asna _ ia memilih untuk menundukkan kepalanya, ia merasa semua orang akan mengenalinya dan menertawakannya.
Setelah melakukan pembayaran atas belanjaannya, tepat saat mereka keluar dari pusat perbelanjaan suara azan magrib berkumandang.
"Dek, mas sholat dulu nggak pa pa ya!"
"Aku?"
"Kamu ikut dek, nanti nunggu di depan masjid!"
"Baiklah, terserah kamu!"
"Kok terserah mas, memang adek maunya nunggu di mana?"
"Ya ikut kamu!"
"Berarti terserah kita dong!"
"Iya ah jangan ribet, ayo buruan!"
Gus Raka pun segera memutar motornya, meletakkan semua barang belanjaannya di depan. Jarak masjid dengan pusat perbelanjaan tidak jauh sehingga mereka tidak mengenakan helmnya.
"Kamu tunggu di sini ya!"
"Iya!"
Gus Raka pun segera berlari memasuki masjid. Meninggalkan Asna yang duduk sendiri di atas motor.
Di luar masjid sudah sepi karena semua sedang fokus beribadah di dalam. Hingga Asna tidak menyadari ada seseorang yang menghampirinya.
"Asna, ini Asna kan?"
Asna cukup hafal suara siapa itu, dia adalah teman kerjanya di rumah sakit. Pria yang selalu menaruh hati padanya, sehingga walaupun Asna memakai masker tentu pria itu akan dengan mudah mengenalinya.
Asna yang kepalang tanggung tidak bisa menghindar lagi,
"Hai Zaky!"
"Asna, aku khawatir karena kamu tidak pernah lagi datang ke rumah sakit! Kamu sudah baik-baik saja kan? Aku ikut sedih mendengar apa yang menimpa padamu!"
Jadi benar, orang rumah sakit semuanya sudah mendengar tentangku ...
__ADS_1
"Na, apapun yang terjadi padamu, perasaanku tetap sama sama kamu! Jangan menghindar dariku!"
"Zak, kamu nggak sholat?"
"Na, aku bicara serius! Kalau kamu mau aku akan melamarmu!"
"Zak, sholat jama'ah nya keburu habis!" Asna bicara dengan sedikit berteriak.
"Baiklah, aku akan segera kembali nanti!" pria bernama Zaky itu segera berlari masuk ke dalam masjid.
Asna mulai cemas saat ini, ia berharap Gus Raka akan keluar lebih dulu di bandingkan Zaky.
"Bagaimana ini? Aku belum siap bertemu siapapun tapi ya Allah kenapa engkau pertemukan aku dengan Zaky?"
Asna memilih berjongkok di samping motor agar saat Zaky keluar tidak akan melihatnya.
Hingga satu per satu jama'ah meninggalkan masjid, dalam hati Asna terus berdoa semoga Raka yang lebih dulu keluar.
"Na!"
Deg
Ternyata bukan, ia lupa jika sudah menikah dengan seorang ustadz. Tentu doanya pasti lebih panjang dari pada Zaky walaupun ia tahu Zaky datangnya belakangan.
Asna tidak bisa bersembunyi, percuma bersembunyi di balik motor, kini Zaky sudah melongokkan kepalanya ke arah Asna.
Terpaksa_ Asna berdiri tanpa berani menatap Zaky.
"Ada apa zak?"
"Bagaimana jawabannya?"
"Jawaban yang mana?"
Ia sedikit lega saat melihat Gus Raka berjalan menghampiri mereka.
"Dek!"
Zaky tertarik untuk melihat ke arah pria yang memanggil Asna dengan dek itu.
"Dek dia siapa?"
"Bukan siapa-siapa, ayo kita pergi sekarang!" Asna buru-buru memakai helmnya dan memakaikan helm.u tuk Gus Raka juga.
"Aku pergi dulu zak!"
Motor Gus Raka berjalan meninggalkan pelataran masjid, meninggalkan Zaky yang masih berdiri kebingungan.
"Dek, itu tadi siapa?" Gus Raka langsung menanyai Asna saat sudah menjauh dari masjid.
"Sudah aku bilang kan mas, dia bukan siapa-siapa! Kenapa kepo sih!?" Asna semakin jutek saja, sepertinya ia kesal karena pertemuan tidak terduga nya dengan Zaky.
"Tapi tadi dia menatap dek Asna dengan tatapan yang berbeda loh!"
"Jangan sok tahu deh mas, dia itu hanya teman Asna di rumah sakit!"
"Hanya teman?"
"Iya! Kok mas Raka jadi maksa gini sih!"
"Ya bukan gitu, maksudnya biar mas tahu aja!"
"Mas, Asna bakal turun nih kalau mas terus bahas soal Zaky!"
__ADS_1
Ohhh jadi namanya Zaky..., akhirnya Gus Raka tahu siapa nama pria itu. Walaupun hanya berbicara tapi entah kenapa rasanya dia tidak rela melihat istrinya berbicara begitu dekat dengan pria lain. Mungkin saat ini dia sedang cemburu.
"Iya iya maaf, dek mas lapar! Kita makan dulu ya!"
"Hmm!"
"Mau makan apa?"
"Terserah mas Raka!"
"Dek Asna suka apa?"
"Jangan ribet mas, kalau lapar makan apa aja suka!"
"Baiklah, kita makan gurami bakar aja ya!"
"Hmmm!"
Gus Raka menatap pantulan wajah Asna dari kaca spion,
Walaupun jutek tetap cantik ...
Mereka akhirnya berhenti di salah satu warung makan gurami bakar yang cukup terkenal di Surabaya.
Mereka memilih lesehan yang setiap mejanya ada sekat pemisah degan meja yang lain agar Asna lebih nyaman saat makan.
Tidak berapa lama pesanan mereka pun datang lengkap dengan teh hangatnya.
Sepanjang makan, Asna masih tetap diam. Percuma jika Gus Raka menunggu Asna untuk cerita walaupun ia tahu jika istrinya itu saat ini sedang memikirkan pria tadi.
Gus Raka tampak sibuk mengamati istrinya itu, ia begitu penasaran apa hubungan istrinya dengan pria itu, apa benar hanya sekedar teman atau sesuatu yang istimewa.
"Mas, kenapa lihatin Asna seperti itu? Masih curiga ya?" Asna yang terus di amati akhirnya merasa tidak nyaman.
"Bukan curiga dek, hanya saja_!"
"Hanya saja apa? Nggak mungkin kan mas Raka cemburu! Mas Raka kan menikah sama aku cuma karena pengen menjaga kehormatan aku aja, tidak lebih!"
"Dek, kamu kok ngomong gitu lagi sih! Mas ini menikah sama dek Asna karena mas mau dek Asna jadi ibu dari anak-anaknya mas kelak, mas pengen dek Asna menjadi satu-satunya dalam hidup mas! Kamu masih suka su'uzhon yang sama mas!"
"Memang pria waras mana yang mau menikah sama wanita yang jelas-jelas sudah ternoda!"
"Aku, mas yang mau dan kamu juga harus bisa menerimanya!"
Walaupun kesal tapi Asna tidak mempu membantah lagi, entah kenapa kekesalannya karena bertemu dengan Zaky malah ia lampiaskan pada suaminya yang tidak tahu apa-apa.
"Aku sudah kenyang, kita pulang mas!" Asna hanya memakan sebagian saja makanya dan segera mencuci tangannya.
"Baiklah, mas bayar dulu ya!" walaupun ia masih ingin melanjutkan makannya tapi jelas tidak bisa karena istrinya jauh lebih penting dari perutnya yang masih lapar.
Sambil melakukan pembayaran, ia juga meminta untuk membungkus dua porsi lagi, ia tahu saat ini Asna sedang emosi tapi nanti saat emosinya reda , dia pasti akan merasa lapar.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Gus Raka segera menghampiri Asna yang sudah siap di samping motor.
Seperti sebelumnya, Gus Raka tidak berani banyak bertanya, mereka hanya saling diam hingga sampai di rumah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...