
Gus Raka segera tersenyum dan menegakkan duduknya,
"Iya, sebenarnya sengaja menunggu anda!"
Bukan tanpa sebab ia berbicara seperti itu, Gus Raka sedang ingin tahu banyak tentang pria yang kabarnya cukup dekat dengan Leon itu.
Alex yang sudah menatap ke depan kembali menoleh pada pria itu.
"Saya?"
Gus Raka menganggukkan kepalanya, "Melihat anda yang seperti ini, seperti ada sesuatu yang menggelitik pikiran saya, lebih tepatnya rasa kagum sama anda!"
"Tentang?"
Tentang penampilan anda, maaf walaupun sekilas tapi saya sempat melihat tato yang menghiasi tubuh anda, tapi saat saya bertemu kembali dengan anda di sini, apa yang saya pikirkan tadi di ruangan saja!" tangan Gus Raka sambil menunjuk ke gedung yang tepat berada di depan mereka duduk sekarang, "Semuanya sirna, berubah menjadi rasa kagum!"
Alex tersenyum, "Kalau boleh memilih dan itu bisa, saya ingin kembali ke masa lalu dan merubah semua hal buruk yang pernah saya lakukan, tapi jelas itu tidak bisa. Untuk saat ini saya hanya bisa berusaha untuk menjadi yang lebih baik dan tidak merugikan orang lain, dan lagi menghapus tato yang mungkin bisa menghalangi ibadah saya!"
Alex bicara dengan. sambil tersenyum, senyumnya itu sedari tadi tidak pernah pudar membuat Gus Raka terpaku di buatnya, hingga sosok yang hadir di depan sana mengalihkan perhatian pria bertato itu.
"Mas, kami mencarimu!" seorang wanita dengan dress panjang dan longgar sedang menghampiri mereka yang sedang duduk, di sisi kanan dan kirinya ada dua anak yang juga melambaikan tangan.
Gus Raka berusaha mengamati pria yang sudah berdiri saat ini, ia menoleh kembali pada Gus Raka saat akan berlalu,
"Dan mereka, sebuah kebaikan mungkin karena Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang baik juga! Saya permisi, saya akan menghubungi anda besok!"
Alex terlihat berlalu setelah mengenakan sendalnya, wanita berhijab panjang itu segera mencium punggung tangannya begitu pun dengan kedua anak itu, Alex terlihat meraih tubuh kecil anak laki-laki yang berusia sekitar empat tahunan ke dalam gendongannya.
Gus Raka akhirnya tahu jika itu adalah istri dan anak-anaknya,
Mungkin penampilannya tidak baik, tapi Allah yang maha tahu kebaikan apa yang telah pria itu lakukan hingga di pertemukan dengan wanita baik-baik
Setelah keempat orang yang terlihat bahagia itu berlalu, Gus Raka pun memilih menyimpan ponselnya dan segera memakai kembali kaos kakinya, ia Harau segera pergi dari sana agar bisa sampai di toko kembali sebelum ashar.
__ADS_1
***
Setelah mengetahui istrinya hamil, Leon pun berusaha untuk menghubungi Alex memberitahukan keadaan istrinya pada sang kakak. Walaupun hanya kakak angkat, tapi bagi Leon, Alex dan keluarganya adalah keluarga sejatinya. Hanya mereka yang ada saat ia dalam keadaan susah.
"Mas, nggak di kasih tahu kalau kita sudah di rumah aja ya?" tanya Nisa tidak enak, ia tidak mau menyusahkan orang yang begitu berjasa pada suaminya itu.
"Nggak pa pa, mas Alex pasti marah kalau aku kasih tahunya terlambat, kakak ipar akan memarahinya juga!"
"Bukan kamu yang di marahi?" tanya Nisa sambil memicingkan matanya, menatap suaminya. "Apa hubungannya mbak Aisyah marahi pak Alex kalau kamu nggak kasih tahu, seharusnya mbak Aisyah marahin kamu mas!"
"Kakak ipar lebih sayang sama aku dari pada sama mas Alex!" ucap Leon dengan tersenyum membuat Nisa menceburkan bibirnya.
"Kenapa bibirnya di gituin? Ini di rumah sakit jadi jangan menggodaku!" Leon mencubit hidung istrinya dan membetulkan jilbab instan istrinya yang sedikit miring agar anak rambutnya tidak terlihat. "Kenapa nggak pakek iket?" protesnya.
"Tadi di lepas pas wudhu mas, ribet soalnya kalau pakek iket, kan tangannya yang satu di infus!"
Suara ketukan pintu membuat obrolan mereka terhenti dan dari arah pintu itu ada Alex dan keluarnya dengan membawa buah tangan berupa buah segar.
Setelah mengucap salam, mereka pun menghampiri Leon dan Nisa. Kiandra dan Arsy begitu antusias, ia bahkan sudah duduk di pangkuan Leon sekarang.
"Tante nggak pa pa sayang, cuma kecapekan!"
"Kata papa, Tante akan punya bayi ya?" celotehnya lagi. Anak usia enam tahun itu sudah cukup tahu dengan apa yang di bicarakan kedua orang tuanya saat berada di perjalanan menuju ke rumah sakit tadi.
Nisa tersenyum dan mengusap kepala kiandra hingga rambutnya sedikit berantakan,
"Iya Kia, Tante insyaallah bakal punya adek kembar!"
"Yeee, seru dong, Nanti pasti bakalan rame ada adek kembar juga! Jadi nggak sabar!"
"Tante Nisa nya jangan di ajak ngobrol terus!" Aisyah memperingatkan putrinya itu, walaupun protes dengan mengerucutkan bibirnya tapi kiandra akhirnya menurut. Ia dan Arsy segera turun dari pangkuan Leon, sebelum meninggalkan obrolan orang dewasa mereka terlebih dulu meminta gadgetnya dan berlari ke sofa untuk memainkannya. Bagi mereka, saat bepergian seperti ini adalah kesempatan untuk bermain gadget karena saat di rumah, mama nya sudah pasti akan melarang, kalaupun boleh hanya pas hari libur saja.
"Apanya yang sakit?" tanya Aisyah saat ia sudah menggantikan tempat duduk Leon. Pria yang sembilan bulan lagi resmi menjadi bapak itu pun sudah berdiri dan memberikan duduknya pada Aisyah.
__ADS_1
"Nggak sakit mbak, tadi cuma tiba-tiba pusing aja terus pingsan! Kata dokter memang kekurangan cairan karena akhir-akhir ini nafsu makan tiba-tiba menurun!"
"Di paksain aja makan walaupun nggak nafsu, kan kalau sakit kasihan bayinya kekurangan asupan makanan!"
"Iya mbak, nanti aku pasti bakal banyak-banyak tanya sama mbak Aisyah soal kehamilan!"
"Jadi ingat pertama kali tahu hamil_!" Aisyah jadi mengingat kembali bagaimana polosnya dia dulu sampai tidak tahu kalau dirinya sedang hamil. Hal itu langsung mendapat sambutan tawa dari mereka.
Setelah selesai menceritakan awal mula Aisyah hamil, Aisyah pun kembali penasaran.
"Papa sama Mama kamu?" tanyanya karena tidak menemukan mereka.
"Tadi sebenarnya langsung ke sini, kakak-kakaknya Nisa juga, karena mas Leon sudah ada mereka pamit dulu dan akan kembali lagi nanti malam untuk mengantarkan makanan dan alat yang di butuhkan mas Leon selama di sini!" Nisa menjelaskan panjang lebar.
"Iya, kasihan kalau di suruh tidur di sini, biar Leon aja kan dia masih muda!"
Karena menunggui wanita yang sedang mengobrol tidak akan pernah ada habisnya, Alex pun akhirnya mengajak Leon ke kantin rumah sakit hanya untuk sekedar cari kopi.
"Maaf karena mungkin selama Nisa di rumah sakit saya_!" Leon terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Jangan sampai kamu ke kantor kalau belum istri kamu sembuh, kamu boleh bekerja dan Vani akan membawakan berkasnya besok ke sini!"
"Iya mas!" kemudian Leon kembali teringat tentang Gus Raka yang ia temui sebelum ia ke rumah sakit, "Oh iya mas, apa tadi mas Alex kedatangan tamu, maksud saya soalnya yang meeting di ruangan tadi mas Alex, jadi aku bertanya seperti ini!" entah kenapa dia merasa canggung sendiri, walaupun sudah pasti Alex akan menjawab semua pertanyaannya.
Sebelum Alex sempat menjawabnya seorang pelayan datang dengan membawa dua cangkir kopi hitam untuk teman ngobrol mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰 ...