
Semenjak hari itu, hampir setiap hari Aisyah selalu mengunjungi bu Nia di rumah sakit, ia merawatnya
seperti ibunya sendiri. Ia juga membawakan banyak buku tentang agama, mengajari bacaan-bacaan sholat dan beberapa surat pendek yang mudah di hafal.
Banyak sekali waktu yang Aisyah habiskan di rumah sakit, ia akan pulang sebelum Alex pulang. Leon selalu memberitahunya jika Alex akan pulang. Tapi Alex ternyata tidak setega itu membiarkan istrinya kesusahan, Alex masih terus memantau kegiatan Aisyah dari Leon.
Kini Aisyah dan Alex sudah berada di kamarnya, Alex selalu memijit kaki Aisyah setiap malam seperti ini, ia tahu jika siang hari istrinya itu tidak pernah istirahat siang, jika bu Nia tidur barulah Aisyah akan duduk berselonjor di sofa dan menghubungi suaminya.
"Mas ...., mas Alex nggak mau nengok bu Nia?" tanya Aisyah, Alex pun menghentikan pijatannya sejenak.
"Aku masih banyak pekerjaan!" ucap Alex yang sudah kembali memijat kaki Aisyah.
"Sebentar saja mas, bu Nia semakin hari semakin lemah saja, dokter juga sudah mengatakan tidak mungkin lagi melakukan operasi dalam keadaan yang seperti ini!"
Alex hanya diam, ia tidak tahu harus melakukan apa, hatinya masih sangat sakit tapi ia juga takut jika orang yang telah melahirkannya itu tiba-tiba pergi meninggalkannya juga.
...***...
Hingga keadaan bu Nia benar-benar drop, Alex masih belum mau menemui ibunya.
Aisyah tidak henti-hentinya untuk terus membujuk suaminya menemui ibu. Aisyah pun berusaha keras untuk membujuk suaminya itu.
Hingga bu Nia akhirnya harus masuk ruang ICU. Aisyah pun segera menghubungi suaminya itu.
"Assalamualaikum, Ay!"
"Waalaikum salam mas!"
"Kenapa sayang, ada apa? Kenapa suaramu panik seperti itu?" tanya Alex.
“Mas …, ibu mas …!”
“ada apa?”
"Ibu di bawa ke ruang ICU mas! Datanglah .., jangan sapek mas Alex menyesal nanti!”
Alex mematikan sambungan telponnya, ia duduk kembali di ruangannya, ia masih begitu
sakit saat mengingat hari-hari itu, tapi kemudian sekelibatan kasih sayang
yang pernah ibunya berikan padanya membuatnya sedikit melunak.
Ia kembali teringat dengan ucapan Aisyah.
Mas …, ibu itu sudah
mengandung mas Alex Sembilan bukan , menyusuinya, masih kurang kah kasih sayang yang ibu berikan untuk mas Alex
Kata-kata itu terus mengiang di telinganya hingga kata aisyah yang terakhir
Ibu di bawa ke ruang ICU mas!
Datanglah .., jangan sapek mas Alex menyesal nanti
Alex pun segera menyambar jas nya dan berjalan cepat meninggalkan ruangannya, melewati beberapa ruangan dan menuju ke pintu lift, terlihat sekali kalau dia sangat tidak sabar menunggu pintu lift itu terbuka.
“Siapkan mobil!" ucap Alex pada sambungan telponnya selama di dalam lift.
“Baik tuan!”
__ADS_1
Setelah pintu lift kembali terbuka, Alex berjalan setengah berlari menuju ke depan lobby, mobil sudah siap di sana.
Alex segera masuk ke dalam mobil saat mobil itu berhenti di depannya.
"Kita ke rumah sakit!” ucap Alex saat sudah benar-benar duduk di dalam mobil.
"Baik tuan!”
Mobil pun mulai melaju meninggalkan kantor,
“lebih cepat lagi!” ucap Alex yang terlihat tidak sabar.
“baik tuan!”
Kata-kata terakhir aisyah terus saja mengiyang di telinganya, ia mengingat kembali bagaimana saat kakaknya tidak lagi mampu mengucapkan selamat tinggal, bagaimana ia tidak bisa mengatakan jika dia begitu menyayanginya.
Saat ayahnya meninggal, ia tidak bisa melihatnya, bahkan ia sedang terkunci dari dunia luar. Ia ingin memperbaiki semuanya, dan ibunya, seburuk apapun wanita itu tetaplah ibunya. Tidak ada ibu yang tega menyakiti anaknya dengan sengaja.
Pasti ada alasan di balik semua itu, dan ibunya tahu alasannya.
Akhirnya Alex sampai juga di depan rumah sakit, ia berlari menuju ke ruangan bu Nia.
"Mas …!” sambut Aisyah sambil memeluk tubuh suaminya itu.
“Di mana dia?" tanya Alex.
“Ibu sedang di tangani dokter!”
"Semua akan baik-baik Ay, jangan menangis!" ucap Alex sambil mengusap punggung istrinya itu.
Alex pun melepas pelukan istrinya dan segera mengintip ruangan itu, bagaiman dokter mencoba memancing pernafasan pada
Nenek Widya juga sudah di sana, ia melihat cucunya kembali berkeringat. Nenek Widya segera mengusap punggung cucunya, Alex menoleh kepada neneknya
“nek …!”
“Sabar sayang …!”
“Nek …, Alex belum sempat mengucapkan maaf padanya, dia tidak boleh pergi dulu! ini tidak adil nek! Alex juga belum meminta penjelasan darinya, kenapa dia tega meninggalkan Alex!?”
"Jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja!"
Tidak berapa lama, pintu pun terbuka.
Ceklek
Seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu. Alex pun mengusap air matanya dan menghampiri dokter itu.
“Bagaimana ibu saya dok?" tanya Alex terlihat begitu cemas. Nenek widya sudah bersama Aisyah saat ini.
“Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi takdir berkata lain, bu Nia sudah berpulang pukul empat belas lebih dua menit!”
Alex pun segera menerobos masuk, menatap wanita dengan tubuh kurus itu, perawat mulai menutup tubuhnya dengan selimut tapi Alex menahannya, perawat pun segera mundur.
Alex menatap tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa itu dengan tatapan dingin.
“Kamu benar-benar jahat, kenapa tidak menungguku, kenapa tidak mengatakan maaf padaku, kenapa? Apa kau tahu apa yang ingin aku katakan padamu …, aku sangat
menyayangimu, Ibu …!” ucap Alex yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
__ADS_1
Aisyah ikut masuk menyusul suaminya itu, ia pun memeluk suaminya itu.
Ia tidak tahu seperti apa
yang sedang di rasakan oleh suaminya saat ini, satu persatu orang yang ia sayangi pergi tanpa ampun.
“Leon urus jenazahnya!” ucap nenek Widya.
“Baik nyonya!”
Leon pun mengurus surat-surat pada pihak atministrasi rumah sakit.
Alex terus saja diam sepanjang perjalanan pulang ke rumah bu Nia, bu Nia sudah berpesan jika nanti dia meninggal ingin di semayamkan di rumahnya sendiri.
Gus Fahmi dan keluarganya juga turut menghadiri pemakaman bu Nia.
"Kami turut berduka cita atas meninggalnya menantu bu Widya, semoga Allah memberi tempat terbaik di sisi-Nya!" ucap Kyai Hamid.
"Amin, terimakasih atas kedatang pak Kyai dan bu Nyai!"
"Sama-sama bu, kalau begitu kami permisi pulang ya bu! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam.
Banyak sekali pelayat yang datang, ternyata di lingkungan barunya itu bu Nia terkenal dengan kebaikannya. Suaminya sudah meninggal lebih dulu sekitar dua tahun yang lalu dan setelah itu bu Nia tinggal seorang diri.
Dengan suami keduanya itu bu Nia sama sekali tidak di karuniai anak, karena kandungan bu Nia harus di angkat ada mium yang bersarang di rahimnya.
Gus Fahmi pun menghampiri Alex yang masih terdiam duduk di kursi plastik berwarna putih milik karang taruna di wilayah itu.
"Mas ...!" sapa gus Fahmi membuat Alex menoleh padanya.
"Kami turut berduka atas kepergian ibu mas Alex!"
"Terimakasih!"
"Semua orang pasti akan menghadapi gilirannya, tidak tahu kapan giliran kita! Jadi ikhlaskan semuanya, Allah punya tempat untuk ibu mas Alex di sana! Doakan dia sebagai putranya!"
"Terimakasih atas nasehatnya!"
"Baiklah ..., hanya itu yang bisa saya katakan pada mas Alex, saya pamit ya, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah mengurus pemakaman bu Nia, mereka juga mengadakan pengajian di rumah bu Nia dengan
mengundang beberapa tetangga terdekat.
Setelah selesai, mereka pun segera kembali ke rumah mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1