Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Assalamualaikum, Ay?


__ADS_3

“Mas Alex tega banget sih …, aku mau sholat dhuhur jadi nggak bisa, kan jadi telat sholatnya!” protes Aisyah saat Alex masuk ke dalam mobil itu, membuat Alex mengerutkan keningnya, bukan kata itu yang ingin ia dengar setiap pertama gadis itu menyapanya. Seperti ada yang kurang saja.


“Bukan itu!” protes Alex tapi Aisyah sepertinya menjadi lebih bingung, ia hanya bisa


mengerutkan keningnya yang sebagian tertutup jilbabnya.


“Maksudnya?”


“Lupakan saja, nggak penting! Nanti aku turunin di masjid depan sana!” ucap Alex


mengalihkan pembicaraan, ia segera menjalankan kembali mobilnya.


Dan benar saja Alex kembali menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah sakit itu,


“Turunlah!”


“Mas Alex nggak ikut turun?” tanya Aisyah saat ia sudah hampir membuka pintu mobilnya.


“Nggak!”


entah kenapa ada rasa kecewa saat pria arrogant itu kembali menolaknya,


walaupun ia tahu jika memang itu jawabannya.


“Aku turun ya mas, assalamualaikum!” kali ini


Aisyah tahu apa yang akan terjadi makanya ia tidak begitu berharap jawaban dari


pria yang sudah menikahinya itu, ia segera menutup kembali mobilnya.


“Waalaikum salam, Ay!”


Walaupun samar tapi Aisyah masih bisa mendengarnya, ia menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada pria itu. Tapi sepertinya pria itu sedang sengaja


menghindari tatapannya hingga ia pura-pura sibuk dengan ponselnya.


“Sepertinya aku benar-benar mendengarnya tadi …!” gumam Aisyah sambil kembali berjalan. Ia harus segera sholat dhuhur karena sudah sangat terlambat.


Masjid itu masih begitu ramai, mungkin karena masjid yang berada di dekat fasilitas


umum lainnya itu hingga membuat masjid itu silih berganti pengunjungnya.


Aisyah segera mengambil wudhu dan bergegas melaksanakan sholat duhur, dan


melanjutkannya dnegan berdoa sebentar. Ia tidak mau berlama-lama takut jika


pria arrogant itu akan mengeluh karena telah menunggunya terlalu lama.


Saat Aisyah kembali ke mobilnya, ia tidak bisa menemukan pria Arrogant itu di


mobilnya,


“Mas Alex kemana? Kenapa mobilnya kosong?”


Ia mengedarkan pandangannya, mencari di mana pria arrogant itu. Matanya terpaku


saat melihat pria itu berjalan dari arah yang sama dari tempatnya tadi dengan


wajah yang lebih segar.


“Mas Alex…? Ke masjid? Ngapain?” gumam Aisyah dengan penuh tanda tanya hingga pria


itu benar-benar berada di dekatnya sekarang.


Aisyah masih terpaku di tempatnya sambil terus menatap pria yang sekarang terlihat


begitu tampan menurutnya. Dia memang

__ADS_1


ciptaan-Mu yang luar biasa …, mata Aisyah terus membidik kemana pun pria


itu bergerak.


“Mau tetap di situ atau mau masuk!”


Ucapan Alex segera menyadarkan Aisyah yang masih berada di samping mobil. Aisyah pun


segera membuka pintu mobil itu dan masuk, mata nya masih juga tidak beralih pada pria yang sedang menggerakkan lengannya dengan otot-otot yang saling menonjol itu karena lengan kemejanya yang di Selingsing kan hingga sikunya itu.


“Mas …!” kali ini Alex benar-benar tidak tahan untuk bertanya.


‘hemmm?”


“Mas Alex sholat ya?” tanya Aisyah dengan begitu lembut, membuat Alex menoleh


padanya. Kali ini ia bisa melihat tatapan lembut dari pria itu bukan tatapan penuh kearroganan atau penuh dengan kemarahan.


Bukannya menjawab, tangan Alex malah terulur begitu saja ke wajah lembut Aisyah.


mendapat perlakukan itu Aisyah cukup terkejut hampir saja ia menjauhkan wajahnya tapi ia segera menahannya.


Mata itu saling bertemu, tangan Alex sudah berada di pelipis pelipis aisyah,


“Rambutmu ada yang keluar!” ucap Alex sambil menyisipkan anak rambut Aisyah


yang tidak sengaja keluar  lalu menarik


tangannya menjauh dari Aisyah.


Jantung Aisyah rasanya dag dig dug begitu saja, untuk pertama kalinya seorang pria


menyentuh wajahnya dengan begitu lembut, bohong jika dia tidak gemetar, seperti


ada sesuatu yang tiba-tiba mendidih jantungnya.


Alex pun sepertinya mengalami hal yang sama, ia tidak berani lagi menatap wanita di


meninggalkan tempat itu.


***


Di tempat lain, Bianka sudah bersiap-siap untuk ke rumah ibunya Aisyah. ia tidak mungkin berlama-lama di rumah itu, bisa jadi mala mini orang itu akan datang lagi.


Ia terpaksa meninggalkan kontrakannya. Ia tidak mau mengorbankan dirinya demi


ambisi ayahnya.


Motor Bianka kini sudah berhenti tepat di depan rumah bu Santi. Rumah itu tampak


sepi, Nino masih dalam masa pemulihan jadi ia tidak mungkin bisa pergi-pergi.


“Assalamualaikum!”


gadis dengan kucur kuda dan dress selututnya itu dengan ragu mengetuk pintu


rumah sahabatnya itu.


“Waalaikum salam!” terdengar sahutan dari dalam, dan sejurus kemudian pintu terbuka, ada senyum wajah teduh dari seorang ibu muda. Ya bu Santi masih sangat muda,


usianya bahkan masih belum genap empat puluh tahun, tapi lingkar hitam di


matanya menandakan betapa keras hidup yang harus di lalui ibu muda itu.


‘Bianka!”


“Bibi…!”

__ADS_1


“Masuklah…!”


Kini mereka sudah berada di ruang tamu kecil itu dengan sofa sederhana yang mengisi


rumah itu, walaupun begitu rumah itu sudah berbeda dnegan sebelumnya, rumah itu


sudah sedikit di hiasi dengan barang-barang yang berharga,


TV yang dulu masih TV tabung 21 inc, sekarang sudah berganti TV LED, ada lemari es


dua pintu, mesin cuci, kompor listrik karpet buku untuk menonton televisi dan


masih banyak lagi yang dulu tidak ada.


“Ay sudah cerita sama bibi, jadi kamu nggak usah merasa tidak enak sama bibi!”


‘Maaf ya bi, karena Bianka Cuma bisa nyusahin bibi!”


“Nggak ada yang kayak gitu, bibi itu ngangap kamu sama seperti Aisyah! Sekarang kamu istirahat aja ya di kamar Ay, tadi sudah


bibi bersihin!”


‘makasih ya bi!”


Kini Bianka sudah berada di kamar berukuran tiga kali dua meter itu, itu adalah


kamar yang biasa ia kunjungi saat datang ke rumah itu. Itu adalah kamar aisyah.


banyak foto dirinya dan Aisyah yang terpajang di sana, ia bisa melihat sedekat


apa dia dengan pemilik kamar itu. Sudah semenjak sekolah dasar mereka sudah


berteman, bahkan Bianka sengaja mengikuti sekolah yang menjadi tujuan sekolah


aisyah karena ia merasa tidak ingin kehilangan teman sebaik Aisyah.


***


Aisyah dan Alex sudah sampai di rumah, mereka langsung menuju ke kamar nenek Widya karena semenjak Aisyah pergi, nenek widya terus menanyakannya.


“Assalamualaikum, nek!” sapa Aisyah, ia berjalan mendahului Alex dan segera mendekati nenek Widya.


“Waalaikum salam, dari mana saja? Kenapa tiba-tiba pergi?”


“Maaf nek karena Ay nggak pamit dulu sama nenek, Ay harus menemui temennya Ay! Tapi


mas Alex temenin Ay kok nek!”


“Benarkah?”


nenek Widya tidak percaya, ia menoleh pada cucunya yang berdiri berjarak satu


meter di belakang Aisyah dengan kedua tangan yang di sakukan ke saku celananya.


Alex segera berjalan dan naik ke tempat tidur neneknya, segera memeluk neneknya itu,


“Nggak percaya banget sih nek sama Alex!” ucap Alex sambil mencium neneknya


itu.


“Bukan seperti itu, tapi kamu kan suka banget bohongin nenek!”


“Nggak lagi nek …!”


“Baguslah…!”


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰😘😘


__ADS_2