
...Kamu memang orang asing awalnya, tapi apakah kamu tahu, sisa hidupku ingin ku jalani denganmu...
...🌺Selamat membaca🌺...
Sebenarnya masih ingin menemani papa ngobrol di rumah keluarga setelah makan, tapi mama memintaku untuk segera ke kamar sedangkan Nisa masih sibuk di dapur untuk membereskan piring bekas makan kami.
"Leon masih belum ngantuk ma, biar Leon temenin papa nonton bola!" ucapku saat menolak permintaan mama.
"Hari ini nggak ada acara bola, iya kan pa?" mama beralih menatap papa yang sedang sibuk membuka bungkus kripik dan memindahkan isinya pada sebuah toples berbahan kaca.
Papa terlihat bingung, "I_iya!" jawab papa ragu. Apa iya tidak ada acara bola, perasaan beberapa hari lalu walaupun saya buka pecinta bola ada jadwal permainan bola malam ini.
"Tapi sepertinya ada ma!" aku masih dengan pendirianku, ku lihat Nisa melirik padaku dan tersenyum dia juga sempat menggelengkan kepalanya.
"Kamu salah pasti, baru saja papa mengeceknya, mama sama papa juga mau buru-buru tidur besok pagi ada acara, pagi-pagi sekali, iya kan pa?"
Lagi-lagi yang di tanya sepertinya sedang tidak fokus.
"I_iya!" jawabnya ragu.
Karena mama terus memaksaku untuk kembali ke kamar saja, aku pun akhirnya menyerah. Ku bawa tubuh ini menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Ku hempaskan tubuh ini ke sofa yang ada di kamar Nisa, sofa berwarna merah jambu sungguh kontras dengan kamar pribadiku di rumahku.
Ku mainkan ponselku sambil menunggu Nisa menyusul. Beberapa berkas sudah masuk ke dalam email ku. Ku teliti satu per satu agar besok tidak ada kesalahan.
Hingga hampir setengah jam ku lihat pintu mulai terbuka dari luar, mataku terpancing untuk menatap ke arah pintu dan kulihat Nisa sedang tersenyum menatapku. Dia memang suka sekali tersenyum dan aku suka itu.
"Mas, aku bawakan coklat panas untukmu!" benar saja di tangannya ternyata membawa segelas coklat panas. Aku terlalu fokus pada senyumnya hingga tidak memperhatikan yang lainnya.
Nisa sudah berdiri di depanku dan meletakkan coklat itu di atas meja yang ada di samping sofa kecil yang sedang aku duduki.
"Duduklah!" pintaku sambil ku tepuk pelan tempat kosong di sampingku.
Nisa duduk di sampingku, aroma sampo yang keluar dari kerudung Nisa membuatku tertarik untuk mendekatkan hidungku.
"Samponya mahal ya?" tanyaku.
Nisa mengerutkan keningnya,
"Aromanya wangi sekali, aku suka!"
Nisa tersenyum, pipinya terlihat merona. Aku sebenarnya bicara serius tapi ya sudahlah kalau dia kita aku sedang gombal.
"Sebenarnya rambut Nisa masih basah, tidak pa pa ya kalau aku lepas sekarang?"
__ADS_1
Dia selalu saja meminta ijin padaku saat aku ingin membuka penutup kepalanya.
"Aku suamimu kan?"
Nisa mengganggukkan kepalanya atas pertanyaanku.
"Berarti aku boleh dong melihat rambutmu?"
Lagi-lagi Nisa menganggukkan kepalanya tapi sekarang dia tersenyum, "Lebih dari itu mas!" ucapnya kemudian.
Deg
Seperti ada hawa dingin yang tiba-tiba menyusup ke dalam tubuhku, jantungku juga bekerja lebih. Sebuah terjemahan dari otakku menguasai pikiranku, ahhh mungkin aku terlalu mesum.
"Boleh aku bantu membukanya?" aku akan mencoba bersikap nakal sekarang.
Nisa tersenyum, ku letakkan benda pipihku di samping gelas yang berisi coklat yang masih mengepulkan asapnya walaupun tidak sebanyak tadi.
Ku normalkan tanganku yang sempat tergetar, sebentar saja lalu ku arahkan tangan ini untuk melepas peniti yang ada di bawah dagu Nisa. Perlahan jilbab segi empat yang di bentuk segi tiga itu terbuka dan lepas dari kepala Nisa.
Cantik ...
Begitulah yang aku lihat saat ini dengan rambut yang sedikit berantakan karena tadi tidak di ikat, segera ku letakkan jilbab segi empat itu di sandaran tangan pada sofa yang ada di sebelahku, di sisi lain Tempak Nisa duduk.
Tanganku kembali terulur, dan Nisa hanya diam menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan, aku merapikan anak rambut Nisa dan menyelipkannya ke belakang telinganya.
"Mas Leon sengaja menggoda ya?" Nisa tampak malu-malu.
"Tidak, aku sungguh serius!" kali ini ku usap dagu Nisa dengan lembut hingga tiba-tiba mata ini tertarik untuk menatap bibir merah milik Nisa, terlihat begitu segar.
Tapi segera ku tarik kembali tanganku, ada keinginan yang menggebu dari dalam diriku tapi, ah sudahlah. Aku pun berbalik dan mengambil gelas coklat yang ada di sampingku hingga aku lupa jika itu masih panas.
Dengan cepat kembali ku letakkan ke tempatnya semula, leherku seperti ingin di potong gara-gara memintum coklat yang masih terlalu panas.
"Hah hah hah ....!"
"Mas, itu masih panas!" sekarang Nisa terlihat panik, dia segera berdiri dan mengambil air putih berada di nakas samping tempat tidur dan berjalan cepat menghampiriku.
"Ini mas minumlah!" aku segera menarik gelas di tangan Nisa dan meneguknya.
"Ceroboh sekali sih mas, sudah tahu panas masih di minum, tunggu dingin dulu!" ucap Nisa panjang lebar setelah memastikan jika aku sudah baik-baik saja, ia juga sudah kembali duduk di sampingku saat ini.
"Kamu yang membuat seorang pria teliti menjadi ceroboh!" ucapku sambil mengipasi lidahku yang masih terasa kebas.
"Kok jadi aku sih mas, siapa suruh minum buru-buru, kan jadinya kayak gitu!" Nisa kemudian menatapku, "Sini aku sembuhkan!"
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Siniin!" aku pun menurut, mendekatkan lidahku yang sudah aku julurkan dari tadi.
Cup
Entah dapat keberanian dari mana gadis di hadapanku hingga ia dengan sengaja mengecup lidahku. Aku sampai terdiam terpaku tidak bisa mengatakan apa-apa, hingga rasa kebas yang tadi begitu terasa hilang berubah menjadi rasa yang, entahlah sulit di artikan.
"Sembuh kan sekarang?" tanya Nisa setelah dia sudah kembali ke tempatku saat dengan senyum yang selalu membuatku terpana.
Dia benar-benar membuatku tidak percaya, rasanya tangan ini begitu gemas ingin menarik tubuhnya dan menciumnya dengan rakus seperti hari kemarin.
Tapi, ingin segera ku abaikan. Aku takut tidak bisa menguasai diri.
Isssttttt ...
Ternyata naluri kelaki-lakianku tidak bisa bertahan. Tanganku sudah menarik tubuh Nisa dalam pelukanku dan aku berbisik padanya,
"Kamu yang menggodaku, jadi tanggung akibatnya!"
"Siapa takut!" Nisa malah balik menggodaku membuatku semakin gemas hingga aku mendorong tubuh Nisa pelan dan aku berada di atas tubuhnya.
Tapi terlihat sekali kini wajahnya begitu tegang walaupun masih ada senyumnya.
Sepertinya Nisa menyadari keraguan dalam diriku,
"Mas, Nisa sudah siap!"
Seperti angin segar, aku tersenyum mendengarnya. Tapi ada keraguan dalam diriku, apa aku bisa?
"Mas aku punya kejutan untuk mas Leon."
"Apa?"
Aku jadi penasaran apa yang di maksud Nisa dengan kejutan, aku pun kembali dalam posisi duduk dan membiarkan Nisa berdiri.
"Tunggu aku di tempat tidur ya mas!" selalu saja ucapannya terdengar menggoda. Rasanya tidak sabar ingin menerkamnya saat ini juga.
"Baiklah!" tapi aku menyerah, aku menuruti apa yang di inginkan Nisa. Nisa berdiri dan mengambil sesuatu di dalam lemari pakaiannya. Tidak seperti di kamarku, kamar Nisa lemari pakaiannya ada di ruangan yang sama dengan kamar tidur, walaupun begitu tapi Nisa tidak memperlihatkan padaku, dia buru-buru ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...