
Gus Raka kembali masuk ke toko yang tadi, ia menuju ke rak yang di minta istrinya.
"Apa dulu yang harus aku ambil?"
"Sabun deh mas kayaknya!"
"Baiklah!" Gus Raka menuju ke lorong yang berisi sabun wajah wanita, Asna mulai menunjuk beberapa barang melalui kamera ponselnya.
"Yang ini?" Gus Raka mengambil satu kemasan sabun dengan merk yang di sebutkan oleh Asna.
"Jangan yang itu, yang sebelahnya! Yang warna putih!"
"Padahal sama aja, merk-nya sama!" gumam Gus Raka sambil memperhatikan kemasan dengan merk yang sama hanya warnanya saja yang berbeda.
"Yang ini ya?"
"Jangan mas, yang kecil aja!"
"Tapi ini lebih besar loh!"
"Harganya lebih mahal, yang itu aja!"
"Baiklah!" tidak bisa di bantah pokoknya, setelah selesai mengambil sabun, akhirnya Gus Raka mulai berjalan kembali.
"Lanjut ke mana lagi?"
"Cream wajah, lotion, sama sekalian pembersihnya!"
"Aku harus jalan ke mana?" Gus Raka menunjukkan kamera ponselnya ke lorong kiri kemudian ke kanan.
"Kayaknya ke kiri deh mas!"
"Baiklah, ke kiri ya!" gus Raka mendorong trolinya ke kiri, ternyata di ujung lorong masih ada pertigaan lagi.
"Kemana lagi?"
"Itu belok kiri, yang ujung, kayaknya di situ!"
Gus Raka terus mengikuti arahan istrinya, mengambil barang-barang yang di butuhkan sang istri.
"Ini sudah cukup?"
"Sudah deh kayaknya!"
"Baiklah, kalau begitu mas ke kasir ya!"
Gus Raka tetap saja tidak mematikan sambungan telponnya, ia tetap ingin memantau keadaan istrinya dari jauh.
Terlihat beberapa kali kasir memperhatikan Raka, ia tidak membawa pasangannya tapi ia membeli semua barang milik perempuan.
"Masnya belanja sendiri ya?"
"Iya!" Raka hanya menjawab sekenanya tapi tetap terlihat ramah.
"Buat pacarnya ya mas?" walaupun sambil menghitung belanjaan Gus Raka, kasir masih terus menanyainya.
__ADS_1
"Buat istri saya!"
"Wah suami idaman banget!" terlihat wajah kagum dari beberapa wanita yang ada di sekitar Gus Raka, karena memang toko ini di penuhi oleh beberapa wanita yang sedang berbelanja kebutuhannya, ada juga beberapa yang memang membawa pasangannya.
"Terimakasih!"
Setelah menyelesaikan pembayarannya, Gus Raka pun segera meninggalkan toko itu. Ia tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian.
"Assalamualaikum, dek!" Gus Raka sudah mematikan sambungan telponnya saat manik matanya sudah bisa menangkap langsung bayangan sang istri.
"Waalaikum salam, mas! Gimana? Sudah dapat semua?"
Gus Raka tidak menjawabnya, ia langsung menunjukkan pada sang istri.
Asna pun segera mengecek, dan benar semua lengkap seperti apa yang ia tunjukkan tadi.
"Sudah semua mas!"
"Baiklah, sebagai gantinya karena aku sudah membantu kamu belanja, bagaimana kalau kita makan es krim?"
"Es krim ya?"
"Iya, bukankah kamu suka es krim!"
"Nisa juga!" gumam Asna tapi masih bisa di dengar oleh gus Raka.
"Sepertinya aku mendengar sesuatu tadi!"
"Nggak aku nggak ngomong apa-apa, jadi beli es krim nggak?"
"Apaan sih mas?"
"Lagi sayang aja! Ayok!" Gus Raka mengambil kantong plastik yang ada di tangan Asna dan membawanya di tangan kiri sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengandeng tangan Asna.
Gus Raka sengaja mencari kedai es krim yang sedikit sepi agar Asna lebih nyaman.
"Mau es krim rasa apa?"
"Alpukat!"
"Tunggu di sini tidak pa pa kan?"
"Tidak!" karena tempatnya sepi, Asna meras lebih nyaman. Lagi pula jarak antara tempat duduknya dengan meja kasir tidak begitu jauh hingga ia masih bisa melihat suaminya dari dia duduk.
Gus Raka tidak mau membuang waktu, ia dengan cepat memesan dua cup es krim dengan rasa durian dan rasa alpukat.
Setelah menunggu beberapa saat, ia pun membawa kembali cup itu.
"Ini untuk istriku tercinta, dan ini untuk aku!"
"Mulai deh gombalnya!"
"Bukan gombal dek, memang kamu istri yang paling aku cinta!"
"Jadi ada rencana dong buat punya istri yang di cinta biasa saja, kurang di cinta, dan lebih di cinta!"
__ADS_1
Gus Raka menelan es krimnya bulat-bulat begitu mendengarkan jawaban Asna.
"Kok gitu?"
"Kalau ada paling, ada lebih, ada kurang juga, most, more, ordinary!"
"Aaaaahhhh, akhirnya aku terjebak di ucapanku sendiri!"
"Baru sadar ya!"
"Tapi kalau paling yang ini insyaallah nggak ada duanya!"
Mereka terus berdebat hingga mereka tidak menyadari dua orang yang baru saja datang.
"Sayang, duduklah! Biar aku yang belikan es krimnya!"
"Bentar deh mas, itu ada mas Raka sama Asna!" wanita hamil itu tengah menahan tangan suaminya agar melihat ke arah di mana ia melihat.
"Sayang, jangan ganggu mereka! Biarkan mereka berkencan!"
"Tapi mas aku kangen Asna!"
Ternyata Asna dan Gus Raka sudah selesai, Gus Raka mengajak Asna untuk pergi. Tepat saat Meraka berdiri dan berbalik, Asna melihat Nisa dan Leon.
Langkah Asna terhenti, Gus Raka menyadari arah tatapan Asna.
"Dek, yakin kamu akan baik-baik saja! Dia Nisa, sahabat kamu! Jangan buat trauma kamu mengalahkan persahabatan kalian, ingat yang indah-indah saat masih bersama Nisa!"
"Aku akan mencoba!" walaupun tampak tangannya bergetar, Asna akan berusaha mengalahkan rasa traumanya. Dia bukan benci pada Nisa, tapi dia sedang membenci kejadian di malam itu, kejadian di mana dia harus bertemu dengan Nisa dan suaminya.
Kejadian di mana sebelumnya ia keluar dari rumah Nisa untuk mengungkapkan kebenaran suaminya, sebenarnya hal itu dia lakukan untuk membenarkan hatinya, membenarkan perasaannya.
Pertanyaan demi pertanyaan yang ingin ia tahu sendiri jawabannya kenapa Gus Raka mengingkari janjinya, kenapa saat ia kembali dari Bali, pria itu sama sekali tidak menemuinya dan memberi jawaban atas apa yang ia ungkapkan? Kenapa harus tinggal di rumah Nisa padahal jelas mereka bukan suami istri? Dan ternyata apa yang ia sangka itu benar, dia bukan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Tapi sekaligus hatinya hancur mana kala mengetahui kenyataan lainnya, jika yang mati bukan Leon besar kemungkinan itu adalah Gus Raka, pria yang telah membuatnya jatuh cinta.
Dan dari semua yang pahit itu, sebuah mobil menariknya ke dalam dan menyekapnya di sebuah rumah yang kumuh, pria-pria biadab itu telah memaksanya, mengambil semua yang ia punya. Tidak tersisa lagi.
Membayangkan hal itu, mata Nisa tiba-tiba memerah menahan tangis, dengan cepat Gus Raka menggengam tangan sang istri.
"Aku tahu kamu pasti kuat!"
Gus Raka menggandeng tangan Asna mendekat pada Leon dan Nisa.
Nisa begitu bahagia mana kala Asna tidak lagi menghindarinya, tidak lagi menjauhinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1