Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Nisa & Leon 8)


__ADS_3

...Istrimu adalah rezekimu. Istrimu adalah pilihanmu. Istrimu adalah takdirmu. Maka jangan memandang kepada selain milikmu dan jangan membanding-bandingkannya dengan wanita yang bukan milikmu."...


sumber ; https://www.google.com/amp/s/m.brilio.net/amp/wow/75-kata-kata-mutiara-islami-pengantin-baru-nasihat-berumah-tangga-211007g.html


Leon mengusap pipi Nisa lembut dan ternyata usapan itu membuatnya terus ingin tangannya tetap berada di situ. Perlahan Leon mencondongkan tubunya agar mendekat ke arah Nisa hingga wajah mereka begitu dekat.


Nisa sampai memejamkan matanya tapi tampak wanita itu tidak beralih dari Leon.


"Kamu tidak takut sama aku?" pertanyaan dari Leon itu berhasil membuat Nisa membuka matanya dan memiringkan kepalanya mencoba mencerna ucapan suaminya itu.


Apaan sih maksudnya mas Leon nih, Nisa memilih memalingkan wajahnya. Ada rona merah di sana dan dia tidak ingin suaminya menyadari. Ia sudah memikirkan hal-hal romantis saat dua orang bersama, tapi ternyata suaminya tidak seromantis itu.


"Kamu nggak takut?" lagi-lagi pertanyaan itu yang muncul dari bibir suaminya.


"Apa ada hal yang perlu aku takutkan?" Nisa menggeser tubuhnya hingga mereka tidak saling berhadapan lagi.


Mereka kembali duduk berdampingan dengan menghadap ke arah dinding yang sama. Leon meletakkan tangannya di atas pangkuannya dan terlihat sesekali jari-jarinya ia ketukkan dia atas paha.


"Kamu tidak pernah di sentuh oleh pria manapun kecuali papa dan kakak-kakak kamu, dan aku orang asing yang tiba-tiba menjadi bagian dari dirimu, saat aku menyentuhmu apa tidak ada yang kamu khawatirkan?"


"Khawatir!" Nisa menjawabnya dengan sangat jelas dan tegas tapi tetap saja tidak menatap ke arah Leon.


Leon menoleh sejenak ke arah Nisa, ada senyum tipis di bibir wanita itu.


"Kalau begitu aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu benar-benar siap!"


"Ini tidak adil!" lagi-lagi ucapan Nisa yang singkat itu berhasil membuat Leon bertambah khawatir. Wanita di sampingnya itu selalu berhasil mengaduk-aduk hatinya. Bahkan sekarang tangannya sudah sangat berkeringat karena terlalu dekat dengan Nisa, sebelumnya dia tidak pernah sedekat ini dengan wanita di sampingnya itu, bahkan mereka duduk dengan bahu yang saling menempel.


"Aku?" Leon menunjuk ke arah dirinya sendiri, "Maksudku, bagaimana bisa kamu kecewa denganku? Aku melakukan ketidak adilan apa?"


Nisa tersenyum dan menoleh menatap Leon, "Ada mas!"


"Apa?" sepertinya Leon saat ini sedang sangat frustasi, di hari pertama dia menjadi seorang suami, istrinya sudah merasa kecewa padanya. Padahal ia sudah sangat berusaha agar tidak menyakiti atau melukai Nisa.


"Mas Leon nggak menanyakan pendapatku dulu langsung menyimpulkan sesuatu!"


Yang benar saja, sedari tadi aku sudah bertanya. Sepertinya Leon juga tidak ingin di salahkan terlihat sekali dari sorot matanya yang tidak terima, tapi walaupun begitu Leon tetap berusaha untuk mengendalikan diri.


"Mas Leon belum mendengar apa aku keberatan jika mas Leon menyentuhku, aku hanya mengatakan jika aku khawatir tapi mas Leon tidak mananyakan aku khawatirnya kenapa? Padahal aku ingin mas Leon menyentuhku setelah mas Leon mengucapkan 'saya terima' dan saat itu aku pun juga harus siap menerima mas Leon apapun itu, termasuk mas Leon mau nyentuh aku!"


Leon benar-benar tercengang dengan perkataan istrinya. Sebelumnya ia tidak terlalu tahu jika Nisa adalah wanita yang begitu terbuka. Tapi hari ini ia tahu bagaimana wanita di depannya itu. Rasa terkejutnya berubah menjadi senyum saat mengingat kembali kata-kata panjang yang di utarakan oleh sang istri.


"Jadi maksudnya tidak keberatan?" Leon tidak mampu menahan senyumnya.


"Bahkan kalau lebih juga boleh!" ucap Nisa lirih, tapi karena di kamar begitu tenang membuat Leon bisa mendengarkan dengan jelas ucapan sang istri.


Cup


Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Nisa membuat wanita itu menoleh ke pemilik ciuman pertamanya dan memengangi pipinya yang memerah.

__ADS_1


"Wajahmu lucu sekali kalau seperti itu!" ucapan Leon ini membuat pipi Nisa malah semakin merona saja, wajah putih bersihnya memperjelas ekspresi Nisa saat ini.


Tok tok tok


Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Leon dari sang istri.


Ahhhh, Alhamdulillah! untung ada yang ngetik. Nisa bisa bernafas lega sekarang. setidaknya ia bisa menghidari tatapan suaminya untuk beberapa saat kedepan.


"Mas aku buka pintu dulu ya!" Nisa sudah akan beranjak tapi dengan cepat Leon kembali menahan tangannya.


"Tetaplah di sini, istirahatlah biar aku yang buka!"


Leon pun segera berdiri dan meninggalkan Nisa yang kembali duduk. Ia membuka pintu yang di ketuk dan ternyata ada papa mertuanya yang sedang berdiri di depan pintu.


"Ada apa pa?"


"Papa mau sholat jama'ah di masjid sebelum acara di mulai, kamu mau ikut sekalian?"


"Iya pa, bentar ya pa! Saya ambil sarung dulu!"


"Bawa?"


Ahhh, perkataan papa mertuanya menyadarkannya jika dia ternyata masuk ke dalam kamar itu tanpa membawa apapun kecuali baju yang sedang ia kenakan saat ini.


Leon menatap bajunya, ahhh aku lupa.


"Jangan khawatir, ini papa bawakan baju Koko dan sarung buat kamu, papa tunggu di bawah ya! Mandilah dulu!"


Leon kembali menutup pintunya saat papa mertuanya pergi, di tangannya kini sudah ada sarung dan baju Koko berwarna abu-abu muda yang tampak masih baru.


"Mau sholat dhuhur mas?" Nisa sudah memunggunginya dan tampak mengambil sesuatu di dalam melati besarnya.


"Iya!"


Nisa pun memegang sebuah handuk yang masih terlipat dengan begitu rapi dan menyerahkannya pada Leon.


"Mandilah mas, Nisa biar keluar dulu!"


Leon memicingkan matanya, "Memang perlu keluar?"


Nisa menatap pintu kamar mandi yang sedikit transparan. Walaupun tidak jelas, ia bisa melihat pergerakan orang yang ada di dalam kamar mandi. Suara gemericik air juga akan terdengar karena tidak ada peredam suara nya.


"Nisa keluar saja, lagi pula ada yang perlu Nisa ambil!"


"Baiklah!"


Nisa pun benar-benar keluar dari kamar dan Leon segera menuju ke kamar mandi dengan membawa handuk di tangannya. Sesekali ia mencium aroma handuk yang masih terlipat rapi seolah-olah sedang mencium aroma sabun Nisa.


Leon mempercepat mandinya karena tidak ingin membuat papa mertuanya menunggu. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama di kamar mandi Nisa, aroma sabun, sampo yang ada di kamar mandi persis seperti yang baru saja ia hirup dari tubuh Nisa.

__ADS_1


Wangi ....


Setelah menyelesaikan mandinya, Leon pun segera keluar dengan mengenakan handuk yang ia lilitkan di abgian bawah tubuhnya. Ia segera menggantinya dengan baju dan sarung yang baru saja di kirim oleh papa mertuanya.


Ceklek


Beruntunglah kini Leon sudah memakai baju lengkapnya hanya tinggal kancin atasnya saja yang belum benar-benar terkancing saat pintu kamar kembali di buka.


"Maaf mas, Nisa lupa kalau di dalam ada mas Leon!" Nisa sudah berbalik dan berdiri memunggungi Leon.


"Tidak pa pa, aku juga sudah selesai!"


Mendengar hal itu, Nisa kembali berbali dan mendapati suaminya memakai sarung lengkap dengan peci yang sudah menghiasi kepalanya. rambutnya juga masih terlihat basah.


Ya Allah, betapa besar kuasamu hingga engkau menciptakan makluk-Mu sesempurna ini, Nisa sampai tidak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya sedang ingin menikmati pemandangan yang indah ini. Ini halal, ia seperti melihat aktor Korea favoritnya di dalam kamarnya.


"Nisa, kamu tidak pa pa?" akhirnya pertanyaan Leon menyadarkan Nisa. Dengan cepat Nisa mengalihkan tatapannya ke sembarang tempat.


"Ini mas, sebenarnya tadi ada orang dari mas Leon mengantar ini!" ucapnya sambil menunjukkan sebuah tas di tangannya.


"Apa?"


"Katanya baju ganti dan beberapa barang penting mas Leon!"


"Terimakasih ya!" Nisa hanya menganggukkan kepalanya.


"Cepetan mas, papa udah nunggu di bawah!"


"Baiklah, aku pergi dulu ya!"


"Iya!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah Leon pergi dari kamar, Nisa pun menjatuhkan tubuhnya di sofa kamarnya. Ia memegangi letak jantungnya.


"Ahhh kerasa kedatangan ji Chang wook di rumah!" Nisa tersenyum sendiri mambayangkan betapa konyolnya wajahnya tadi saat melihat ketampanan suaminya.


...Aku tidak perlu suami yang sempurna, aku juga tidak sempurna. Tapi sadarkah kita jika sesaat kita bersama, kebersamaan itu menyempurnakan kita...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2