Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Gadis kecil


__ADS_3

Alex berkeliling kota Blitar, ia mengendarai mobilnya dengan begitu pelan berharap bisa menemukan orang yang sedang ia cari.


Udara yang sejuk membuat Alex begitu betah menikmati pemandangan, sebuah kota yang tidak hanya di penuhi oleh gedung-gedung bertingkat. Tapi juga lahan persawahan di beberapa jalan yang ia lalui.


Hingga akhirnya ia berhenti di pinggir jalan, ia tertarik dengan jajanan yang jarang ia temukan di kota Surabaya.


"Mbak cenil nya satu ya!"


Alex memilih untuk duduk di kursi panjang yang berbahan kayu yang berada di dekat gerobak.


hanya butuh beberapa detik saja, sepincuk cenil siap.


(cenil adalah makanan yang terbuat dari pati ketela pohong. Makanan ini bisa dibentuk bulat-bulat kecil atau kotak kemudian diberi warna sesuai selera sebelum direbus. Cenil biasanya disajikan dengan parutan kelapa dan di siram gula merah yang di lelehkan).


Bungkus daun pisang menjadi daya tarik tersendiri bagi jajanan itu, aroma daun pisang membuat nya semakin sedap.


"Monggo mas!"


"Terimakasih!"


Melihat penampilan Alex yang sangat rapi dan juga tidak menggunakan logat jawa membuat penjual cenil itu penasaran untuk bertanya.


"Mas e bukan orang asli Blitar ya?"


Alex yang mulai menusuk cenil itu dengan tusuk lidi itu segera menghentikan nya dan menoleh ramah pada penjual cenil, ia bukan Alex yang dulu yang tidak suka di tanya macam-macam.


"Iya mas!" ucapnya dengan senyum ramah.


"Pantes ...., rapi banget mas e yo guanteng!"


"Terimakasih!"


Alex kembali memakan cenilnya hingga habis.


"Berapa mas?"


"Dua ribu lima ratus mas!"


"Dua ribu lima ratus?"


Satu bungkus cenil dua ribu lima ratus, cukup membuat Alex tercengang.


"Bagaimana kalau saya minta mas nya bungkus kan tiga lagi?"


"O .... enggeh mas, tak bungkus kan!"


Penjual cenil itu segera membungkus kan tiga lagi dan Alex menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Waduh besar sekali ini mas uangnya, masih pagi lagi! Mas nya ada uang pas nggak? Sepuluh ribu saja!"


"Itu ambil saja buat mas, anggap sebagai penglaris hari ini!"


"Wahhh guyon iki mas e (Wah becanda ini mas nya) ...., gimana ya, tak kembalikan saja wes, cenil nya buat mas e!"


"Nggak mas, saya serius! terimakasih ya!"


"Tapi mas! Iki okeh loh (ini banyak lo)...!"

__ADS_1


"Buat mas!"


Alex segera masuk ke dalam mobil dengan membawa sekantong plastik kecil berisi tiga bungkus cenil.


Alex kembali melihat jam tangannya, sudah jam delapan. Ia kembali mengecek ponselnya ternyata Irwan sudah beberapa kali menghubunginya tapi ia meninggalkan ponselnya di dalam mobil.


Alex pun kembali melalukan panggilan kepada pria yang bernama Irwan itu.


"Assalamualaikum!"


"Iya pak!"


"Saya sudah di jalan, kita bertemu di sana saja, segera serlok!"


"Baik pak!"


Alex segera mematikan sambungan telponnya. Tidak berapa lama sebuah pesan masuk.


Ting


Irwan sudah mengirimkan lokasinya, Alex pun segera melajukan mobilnya menuju tempat yang di maksud.


Jalannya tidak begitu ramai, tidak ada kata macet di Blitar. jalanan terlihat lengang walaupun harus beberapa kali melewati lampu merah.


Setelah dua puluh menit akhirnya mobilnya berhenti di depan sebuah lokasi yang dikirimkan oleh Irwan


Irwan juga sudah menunggunya di depan gerbang. Pikirnya lokasi itu belum di gunakan untuk sekolah tapi ternyata tidak di bagian sisi kanan sekolah sudah beroperasi hanya tinggal menunggu pembangunan tingkat SMP dan SMA.


"Selamat datang pak!"


"Terimakasih!"


"Oh ini ...., kebetulan tadi aku mampir ke penjual cenil, ini ada tiga bungkus, kamu bisa bagikan untuk yang lainnya!"


"Wah pak Alex ini repot-repot sekali!"


Mereka pun segera menuju ke lokasi pembangunan. Terlihat sekali jika sekolah ini akan sangat besar dengan tiga lantai.


Alex ikut mengawasi pembangunannya.


"Aku ingin berkeliling sebentar!"


"Biar saya temani pak!"


"Tidak perlu, saya hanya akan berkeliling di area sekolah saja!"


"Baiklah pak!"


Alex pun berjalan meninggalkan para pekerja dan juga Irwan. Ia penasaran dengan sekolah yang sudah berjalan. Ia begitu merindukan anak-anak, mungkin dengan melihat anak-anak yang sedang belajar sedikit mengobati kerinduannya terhadap putrinya Kia.


Langkah kakinya menyusuri lorong kelas yang memang tidak terlalu banyak, sisi kana dan sisi kiri terpisah sebuah pagar yang tidak di kunci. Mungkin karena memang masih ada kegiatan belajar mengajar dan akan di tutup pada sore hari.


Alex melewati gedung-gedung anak sekolah SD yang hanya beberapa anak saja yang ada di dalam karena sebagian besar bermain di luar, jam sepuluh adalah waktu istirahat.


Hingga langkahnya terhenti di ujung, di ruang yang paling dekat dengan gerbang masuk. Sepertinya itu adalah TK dan paud.


Beberapa anak sudah di jemput untuk pulang tapi beberapa yang lainnya masih menunggu jemputan.

__ADS_1


Bug


Tiba-tiba sesuatu menabraknya, Alex segera menoleh. Seorang gadis kecil terjatuh karena menabraknya.


"Aughhhhh ...., sakit!" keluh anak itu sambil memegangi sikunya yang terluka.


Alex segera berjongkok dan meraih anak itu, meniup sikunya yang terluka.


"Maafkan om ya, om nggak liat tadi kalau kamu lari!"


Gadis kecil itu segera mendongakkan kepalanya menatap lekat pada Alex.


Deg


Saat menatap mata bening gadis kecil itu, ia jadi teringat dengan seseorang.


"Kenapa om yang minta maaf, kan aku yang salah!"


"Tapi kamu sakit!"


"Tidak pa pa, mama bilang ini cuma luka kecil, kalau aku yang salah nggak boleh nangis!"


Gadis kecil itu mengeluarkan sebuah hansaplas dari dalam tasnya.


"Apa om bisa membantuku?" tanya gadis kecil itu. Alex masih saja terpaku dengan gadis kecil yang membuat hatinya tergetar itu.


"Tentu!"


Alex segera melepas perekatnya dan merekatkan pada sikunya yang terluka.


"Itu ayah ku sudah datang, terimakasih ya om!"


Gadis kecil itu segera berlari meninggalkan Alex yang masih terdiam di tempatnya.


Gadis kecil itu menghampiri seseorang yang tetap duduk di atas motornya tanpa melepas helm yang melekat di kepalanya.


"Kia bicara sama siapa? Jangan suka bicara sama orang asing! Pakai helm mu!"


"Siap ayah!"


Alex samar-samar mendengar percakapan mereka. Ia jadi teringat kembali dengan suara itu.


"Kia? Apa aku tidak salah mendengar nya tadi?" gumam Alex.


Alex pun segera menoleh ke arah gadis kecil itu, saat ia hendak melangkah. Motor itu sudah lebih dulu membawanya pergi.


"Sepertinya dia, pria itu menyebut nama Kia? Tapi ayah?"


bersambung


...Tidak peduli betapa sulitnya aku untuk menemukanmu, harapanku tidak akan pernah sirnah untuk bisa memelukmu kembali dalam hidupku...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2