
Kini Leon bisa dengan mudah memakan makanannya tanpa repot memisahkan tulangnya. Sesekali menatap Gus Raka yang begitu menikmati makanannya, terselip senyum dari bibirnya. Ada ungkapan yang kembali dia ingat tentang bagaimana besarnya dia akan tetap menjadi anak kecil saat berhadapan dengan orang yang menyayanginya.
Ahhh dia bukan ayahku, batin Leon mengingatkan siapa sosok yang beberapa kali ia perhatikan itu.
Setelah menyelesaikan makannya, kali ini Gus Raka lagi-lagi membayarkan makan mereka,
"Mas Leon jangan tersinggung dengan apa yang aku lakukan, jarang kita melakukan ini dan saat kita bertemu, aku tahu mas Leon jauh lebih bisa mentraktirku tapi biarkan kali ini aku yang melakukannya, hanya dengan ini aku bisa membalas kebaikan mas Leon."
"Saya mengerti, Terimakasih untuk traktirannya!"
Dua pria itu berjalan beriringan menghampiri sepeda motor yang terparkir di ujung, hawa dingin mulai menusuk kulit, sesekali terlihat mereka mengeratkan jaketnya, sesekali terdengar candaan yang membuat suasana sedikit mencair.
Kali ini gantian Leon yang menyetir, jaraknya dari kota sudah tidak begitu jauh. Leon merasa saat bersama Gus Raka, ia seolah sedang di perhatikan oleh seorang Abang yang begitu baik.
Sepanjang jalan ada saja obrol yang mereka bahas, hanya obrolan-obrolan ringan untuk menghilangkan rasa bosan.
Jam sembilan malam akhirnya mereka sampai di tempat mereka memarkirkan mobil Leon, mereka terlebih dulu melaksanakan sholat Isyak di masjid tepat di samping rumah itu agar saat sampai di rumah bisa langsung istirahat.
"Terimakasih ya mas Leon atas bantuannya hari ini, untuk selanjutnya insyaallah saya akan cari sendiri." ucap Gus Raka, tapi entah ada sesuatu yang hilang dalam hati Leon saat Gus Raka mengatakan itu.
Tapi tetap saja ia tidak bisa memaksa Gus Raka untuk mau mencari bersamanya lagi, lagi pula ini hak Gus Raka untuk memilih mencari sendiri atau meminta bantuan Leon.
Gus Raka sebenarnya masih ingin di bantu, tapi jelas dia merasa tidak enak dengan Leon. Mereka sebelumnya bukan orang yang begitu dekat hingga ia bisa meminta bantuannya terus menerus.
"Saya sungguh tidak keberatan jika Gus mau meminta bantuan saya lagi!"
"Sudah cukup, ini bahkan lebih dari cukup, insyaallah dengan ijin Allah saya akan menemukan orangnya!"
"Amiin, saya doakan semoga segera di pertemukan dengan saudara Gus!"
Setelah saling berpamitan, Leon pun segera menaiki mobilnya begitupun dengan Gus Raka yang menaiki motornya.
Mereka berpisah di persimpangan jalan karena memang arah mereka berbeda, suara klakson yang saling bersahutan menandakan mereka benar-benar akan berpisah setelah lampu lalulintas itu berganti menjadi hijau.
Hening malam dan dinginnya udara malam membuat mereka kembali mengingat kebersamaan di waktu yang singkat itu, meninggalkan kesan yang mendalam di sana.
***
Nisa terlihat mondar mandir depan rumah, rencananya hari ini mereka seharusnya menginap di rumah Leon, tapi pria yang telah hampir dua minggu resmi berstatus suaminya itu tidak juga pulang, ponselnya juga tidak bisa di hubungi membuatnya semakin cemas saja.
"Tetap nggak bisa di hubungi suami kamu?" pertanyaan dari wanita yang telah melahirkannya itu berhasil membuatnya menoleh dan tersenyum. Wanita dengan uban yang mulai tumbuh di beberapa bagian rambutnya yang di kuncir itu sudah berdiri di ambang pintu.
"Belum ma, sepertinya hp nya mas Leon mati deh ma, soalnya terakhir on line tadi jam e tiga sore, selebihnya mati!"
__ADS_1
"Mungkin masih di jalan, sosial medianya gimana?"
"Sama ma!"
"Tunggu bentar, mungkin memang ponselnya kehabisan baterai!"
Sebenarnya yang sedang Nisa cemaskan kali ini adalah kejadian di rumah Leon yang ada peneror, tapi dia tidak mau menceritakan hal itu pada mama atau papanya, ia takut membuat orang tuanya semakin cemas. Biarlah urusan keluarganya dia selesaikan sendiri dengan sang suami.
"Mama tidur dulu aja ma, pasti bentar lagi mas Leon juga sampai!"
"Mama temenin aja ya!"
"Nggak usah ma, takutnya nanti mas Leon malah nggak enak sama mama sama papa, nanti deh kalau mas Leon udah pulang Nisa kasih tahu, mama istirahat ya!" Nisa mendorong pelan mamanya agar wanita yang begitu berjasa dalam hidupnya itu segera masuk dan tidur, udara malam pasti sangat tidak baik untuk mamanya yang tidak muda lagi.
"Baiklah, kalau ada apa-apa kasih tahu mama!"
"Iya ma!" Nisa tersenyum seperti biasanya, ia tidak mau membuat mamanya cemas gara-gara ia tidak bisa menampakkan senyumnya.
Akhirnya mama dan papa Nisa benar-benar masuk ke dalam kamar, Nisa juga merasa tidak enak menunggu suaminya di luar saat malam semakin larut, ia pun memilih menunggu di ruang tamu.
Sambil memainkan gawainya yang memang hanya di scroll naik turun tanpa berniat untuk membuka situs apapun, hatinya sedang tidak ingin.
Hingga suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya berhasil membuatnya bangun dari duduknya dan menghampiri pintu, dan benar saja sang suami sedang berdiri di depan pintu, bibirnya menyunggingkan senyum.
"Waalaikum salam! Masuk mas." rasa lega karena suaminya pulang dalam keadaan baik-baik saja sekaligus rasa kesal karena suaminya tidak memberitahukan perihal kepergiannya sampai selarut ini membuatnya enggan untuk menambahkan sapaan yang lainnya.
Nisa pun berjalan mendahului sang suami menuju ke kamarnya, saya sampai ujung anak tangga ia berpapasan pada asisten rumah tangga yang kebetulan berada di dapur,
"Bi, katakan sama mama kalau mas Leon sudah pulang!"
"Baik mbak!"
Nisa masih berjalan dan Leon hanya bisa mengekori istrinya di belakang.
"Nis!" Leon memanggil tapi tidak di indahkan oleh Nisa, ia masih terus berjalan dan pura-pura tidak mendengarkannya.
"Nisa!" kali ini Leon memanggilnya dengan suara yang lebih tinggi dan Nisa hanya menoleh sebentar sebelum akhirnya tangannya berhasil meraih gagang itu dan tubuh itu lolos masuk ke dalam kamar.
Hanya helaan nafas halus keluar dari bibir pria yang menampakkan guratan wajah capek karena perjalanan jauh itu.
Leon pun mengikuti sang istri hingga ke kamar, masih saja mengekori istrinya yang sepertinya sedang marah padanya.
"Nisa!" panggilnya lagi berharap wanita yang ia cintai itu mau menunjukkan senyumnya padanya.
__ADS_1
Benar Nisa menoleh, tapi tetap dengan wajah datarnya, "Tunggulah di sini mas, aku akan siapkan air hangat untuk mas Leon mandi!" Nisa segera berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Leon hanya bisa pasrah, ia melepas jaketnya yang sudah bau terkena matahari dan kemejanya juga, bau keringat dan asap kendaraan begitu menempel.
Saat ia selesai membuka kemejanya, Nisa sudah keluar dari kamar mandi masih dengan wajah datarnya tanpa ekspresi,
"Airnya sudah siap mas!"
Nisa sudah hampir berlalu tapi Leon segera menarik tangannya,
"Nisa, aku minta maaf!"
"Kita bicara nanti saja mas, setelah mandi!"
Akhirnya Leon mengalah, ia melepaskan tangan sang istri dan berlaku masuk ke kamar mandi.
Nisa menghela nafas setelah punggung pria itu menghilang di balik pintu, ada rasa marah sekaligus kasihan melihat wajah capek sang suami. Padahal dia tadi hanya butuh satu pesan saja agar tidak membuatnya cemas tapi ternyata pesan itu tidak juga kunjung datang.
Nisa memilih untuk kembali turun dan mengambilkan makanan untuk sang suami dan juga coklat hangat, kali ini sengaja tidak ia buat panas.
Saat ia kembali lagi ke kamar, ia Sudah bisa melihat sang suami memakai celana kolor dan kaos yang baru saja ia buka dari lipatannya,
Ia meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya di meja dekat sofa, mata Leon terus mengawasi gerak gerik Nisa,
"Makanlah mas!" ucapnya saat berbalik menatapnya, Leon tersenyum lalu berjalan mendekat. Sebenarnya perutnya masih kenyang tapi melihat Nisa begitu repot mengambil kan makanan untuknya, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Terimakasih ya!" Leon tersenyum sambil mengambil piringnya tapi tetap mendapat tatapan datar dari Nisa.
"Aku tidur dulu mas." ucap Nisa kemudian berlalu begitu saja dan naik ke atas tempat tidur. menutup tubuhnya dengan selimut.
Leon hanya bisa mengamati tanpa berpindah dari tempatnya, ada sepiring nasi di tangannya saat ini. Ia sudah berpikir jika Nisa akan menemaninya makan malam ini tapi nyatanya tidak. Leon pun terpaksa menghabiskan makanannya lebih dulu sebelum menghampiri Nisa.
...Rasa cemburu pasti ada, sebuah pesan singkat akan mewakili bagaimana aku berarti bagimu, jangan biarkan aku berpikir jika kau tidak menginginkan aku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1