Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (11)


__ADS_3

Setelah kedua orang tuanya keluar dari kamar, Asna berdiri di balik pintu dan menangis di sana. Ia benar-benar merasa terhina dengan lamaran itu, apalagi Gus Raka tahu apa yang terjadi padanya.


Beberapa kali memukul dadanya agar sedikit mengurangi rasa sesak di dadanya.


"Begitu hinanya aku, mas! Kamu begitu ingin aku lebih hina, iya ...!" rancaunya dalam tangis, bahkan sekarang kakinya pun tidak mampu. menopang berat tubuhnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Menangis sesenggukan tanpa ada yang bisa memeluknya.


"Apa salahku sama kamu mas Raka, apa salahku?"


"Kenapa seolah semua orang menertawakan aku sekarang? Menatapku dengan tatapan jijik!"


"Ya Allah tidak pantas kan aku untuk bahagia?"


"Aku harus apa ya Allah ...., aku harus apa ...!"


Bahkan sekarang jilbab instan nya sudah lepas dari kepalanya, rambutnya terurai tak tertata, sepanjang malam ia terus menangis.


Hal yang sama juga terjadi pada orang tuanya, mereka juga sama menangis. Bedanya mereka bisa saling berpelukan untuk menguatkan sedangkan Asna sendiri.


Aslan yang tidak tega membiarkan kakaknya sendiri, ia pun membuat pintu kamar kakaknya, ia tahu walaupun semarah apapun kakaknya kecuali waktu itu, kakaknya tidak pernah mengunci kamarnya.


Dan benar saja, saat ia membuka pintu kamar kakaknya, terlihat sang kakak sedang duduk di sudut kamar dengan menelungkupkan kepalanya dan menyangganya dengan kedua lututnya.


"Kak!" Aslan mendekat dan segera memeluk sang kakak, Asna yang merasa ada yang memeluk segera mengangkat kepalanya.


"Lan!"


"Kakak jangan nangis, ada Aslan yang selalu jaga kakak!"


Asna pun segera memeluk adiknya itu, dulu mereka tidak pernah sedekat ini. Setiap kali Asna pulang, Aslan yang paling rajin menggoda Asna, menjahili Asna. Tapi saat Asna terluka, Aslan adalah adik yang baik, adik yang bahunya begitu nyaman untuk sandaran.


"Sudah jangan menangis kak!" Aslan mengusap rambut Asna dan menyisihkan anak rambut Asna. Akhirnya untuk pertama kalinya Asna tersenyum dengan tulus dari hati setelah tragedi itu.


"Terimakasih ya Lan, untuk malam ini saja, temani kakak ya!"


"Untuk malam-malam selanjutnya Aslan mau kok nemenin kakak kalau kakak mau!"


"Cukup hari ini saja!"


Aslan pun membantu Asna untuk berdiri dan memapahnya ke tempat tidur, Aslan memakaikan selimut untuk kakaknya dan mengusap kepala kakaknya sepanjang malam. Bahkan ia sampai mengabaikan rasa kantuknya sendiri demi sang kakak.


"Kakak jangan marah ya sama kak Raka, Aslan tahu dia orang baik!" mendengar ucapan Aslan, Asna pun segera membuka kembali matanya dan menatap sang adik.


"Lan, kamu tahu_?"


"Aslan hanya mencoba memberi pendapat berdasarkan apa yang Aslan tahu, Aslan tidak mau kakak sampai jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, Aslan tadi diam-diam bertemu dengan kak Raka!"


Kali ini tanggapan Asna tidak meluap-luap seperti tadi saat bersama kedua orang tuanya,


"Kamu bertemu?"


"Iya kak, Aslan tidak bilang sama papa dan mama, Aslan ke sana sendiri dan mengobrol banyak sama kak Raka, setelah banyak mengobrol Aslan tahu jika kak Raka adalah orang yang baik!"


"Aku tahu, tapi_!"


"Alasan apa yang membuat kak Raka melamar kakak padahal dia tahu kalau dia tahu apa yang terjadi sama kakak? Kak Raka mengatakan semuanya pada Aslan kak!"


"Apa?"


"Katanya dia juga bukan pria yang sempurna, bukan pria yang seperti orang-orang lain lihat, ia ingi kakak sama kak Raka akan menjadi pasangan yang saling menguatkan!"


"Sudahlah Lan, kakak ngantuk, kakak mau tidur!"


Walaupun masih ingin melanjutkan ceritanya, Aslan terpaksa menghentikannya karena dia tahu jika kakaknya sudah tidak ingin mendengarkan tentang Gus Raka lagi.


...****...

__ADS_1


Pagi harinya pak Tedi pergi ke rumah ustadz Arif, ia ingin menyampaikan penolakan yang di lontarkan putrinya. Ia tidak mau sampai pihak ustadz Arif menunggu lama tanpa kepastian.


Kedatangannya langsung di sambut oleh ustadz Arif dan istrinya, kebetulan Gus Raka juga belum pergi ke toko jadi Gus Raka pun ikut bergabung bersama mereka.


"Ada apa nih Ted, pagi-pagi sudah kesini saja? Semoga membawa kabar baik ya ini!"


"Maaf Rif, justru sebaliknya!"


Semuanya terdiam tampak menduga-duga apa yang sebenarnya kabar yang di bawa oleh kawan lamanya itu,


"Asna menolak lamaran nak Raka, maafkan saya, sungguh saya tidak enak sama kamu Rif!"


Gus Raka yang tahu bagaimana perasaan Asna dulu padanya, tidak mungkin semudah itu perasaannya hilang, Asna pernah mengutarakan perasaannya pada Gus Raka walaupun hanya melalui pesan singkat, dan saat itu Gus Raka belum sempat menjawabnya karena dia masih harus pergi ke Bali dan ia berencana menjawabnya saat pulang tapi Allah mempunyai rencana lain untuk mereka berdua.


Pasti ada alasan lain yang membuat Asna menolak lamarannya.


"Pak, boleh tidak saya bicara sama Asna? Sekali saja!"


"Asna tidak mau keluar kamar, dia menutup diri dari dunia luar!"


"Saya akan bicara di depan kamarnya jika perlu, tapi sungguh niat saya sungguh-sungguh!"


"Baiklah, kapan kamu akan datang ke rumah?"


"Kalau bisa, hari ini juga!"


Istri ustadz Arif yang belum tahu duduk perkaranya hanya diam dan menatap Gus Raka.


Gus Raka yang di tatap uminya, tahu apa maksud tatapannya.


"Insya Allah nanti ba'dha ashar, saya akan ke rumah bapak!"


"Baiklah kalau begitu kami tunggu!"


Setelah pak Tedi berpamitan pulang, Gus Raka pun segera menemui uminya yang sudah kembali di dapur. Ia tahu uminya sekarang sedang marah padanya.


"Umi, maafkan Raka ya umi, sungguh Raka tidak berniat untuk menyembunyikan semuanya!"


Uminya hanya menatapnya sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Umi, Raka sudah membicarakan lamaran Raka terhadap Asna!"


"Lalu apa masalahnya? Semua tidak perlu umi kan, sudah sana urus sama Abi kamu saja!"


"Umi tambah cantik deh kalau marah, jangan marah-marah ya, nanti Abi tambah sayang loh sama umi!"


Raka memang paling bisa mengambil hati uminya saat marah, akhirnya hati uminya luluh juga.


"Nah gitu kalau tersenyum cantiknya kan biasa saja!"


Seikat sayur akhirnya melayang juga ke bahu Raka,


"Sudah jangan goda umi lagi, sekarang katakan pada umi apa yang terjadi!?"


Gus Raka pun menceritakan semuanya, semua hal yang terjadi pada Asna juga.


"Astaghfirullah hal azim, sampai seperti itu?"


"Iya umi, umi tidak masalah kan jika Raka menikah dengan Asna meskipun sekarang Asna_!"


"Husttttt_, tidak ada makluk yang hina di hadapan Allah! Asna anak yang baik, umi tahu itu! Dia temannya Nisa, sudah pasti dia juga baik seperti Nisa. Baik buruk seseorang di mata Allah tergantung dari amal perbuatannya, bukan apa yang menurut orang katakan!"


"Terimakasih umi atas semua pengertian umi, Raka beruntung punya Abi dan umi!"


"Abi dan umi juga beruntung punya kamu, seandainya saja Leon juga bersama kita di sini pasti kebahagiaan Abi dan umi semakin lengkap!"

__ADS_1


"Semua sudah Allah umi yang menentukan, mungkin memang Allah ingin Leon tinggal di tempat yang berbeda biar kita tahu jika di luar sana begitu luasnya dunia yang bahkan kita tidak tahu sebelumnya!"


Setelah mendapat restu juga dari uminya, Gus Raka pun akhirnya berangkat ke toko. Karena rencana untuk datang ke rumah Asna ba'dha ashar, sebelum itu ia bisa menyibukkan diri di toko.


Ternyata kabar Gus Raka melamar Asna sampai juga ke telinga Nisa. Mama Asna sengaja memberitahukan hal itu pada Nisa, hal itu membuat Nisa ingin bertemu dengan Gus Raka.


"Tapi sayang, perut kamu sudah sebesar itu, kamu di rumah saja ya, biar aku aja yang ke sana!"


"Nggak bisa mas, aku harus ketemu langsung sama mas Raka! Aku harus tahu apa alasannya melamar Asna!"


"Kamu keras kepala sekali!"


"Kalau mas Leon nggak mau anter Nisa, Nisa bisa berangkat sendiri!"


"Jangan buat aku di pecat jadi mantu di rumah ini ya! Awas saja kalau itu sampai kamu lakukan!"


Leon pun segera keluar kamar, Nisa tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Ia tahu pasti suaminya sekarang sedang menyiapkan mobil untuk mereka pergi.


Dan benar saja, persis seperti dugaannya. Leon kembali lagi ke kamar,


"Kamu belum siap-siap juga!?"


Nisa menatap penampilannya, tidak ada yang aneh.


"Memang aku harus apa mas, aku gini aja!"


"Itu nggak ada pengamannya?"


"Pengaman bagaimana sih maksudnya?"


"Ya apa gitu untuk nahan perut kamu agar nggak jatuh!"


Nisa tersenyum melihat suaminya begitu khawatir pada anak-anak nya yang masih dalam kandungan,


"Ya Allah mas, Allah itu menciptakan perut wanita begitu kuat dan elastis, perut ini bisa menopang berat bayi, emang udah di bentuk kayak gini, jadi jangan khawatir, kalau belum waktunya lahir juga nggak akan lahir mas!"


"Beneran?"


"Iya mas!"


"Baiklah, ayo!" akhirnya Leon memilih menggandeng Nisa dan tangan satunya ia gunakan untuk menahan bagian bawah perut Nisa.


"Kalau kayak gini susah mas jalannya, biar Nisa aja yang nahan perut Nisa, mas Leon cukup gandeng tangan Nisa soalnya nggak keliatan tangganya pas Nisa turun!"


"Baiklah kalau gitu Leon akan bilangs Ama mama buat pindahin kamar kamu di bawah aja!"


"Terserah lah mas!"


Setelah berpamitan pada mamanya, mereka pun pergi ke toko Gus Raka.


Melihat kedatangan saudara kembar dan istrinya, Gus Raka begitu senang. Ia ikut heboh menyiapkan tempat untuk duduk Nisa agar nyaman, ia sengaja mengeluarkan bantal sofanya yang ada di dalam ruangannta agar Nisa tidak keras duduknya.


"Ini merepotkan sekali mas Raka!" Nisa benar-benar merasa tidak enak.


"Tidak pa pa Nisa, itung-itung aku bantuin jagain ponakan-ponakan aku!"


Leon pun duduk di samping Nisa, di sandaran tangan kursi kayu yang di duduki Nisa itu, sedangkan Gus Raka duduk di kursi lainnya di depan mereka.


"Seharusnya jika kalian ingin bertemu denganku, kalian bisa telpon saja, pasti aku akan ke sana!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2