Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (13)


__ADS_3

Setelah Gus Raka selesai bercerita, Nisa kembali menangis. Ia benar-benar tidak pernah bertanya tentang apa yang di inginkan oleh sahabatnya itu. Padahal begitu banyak waktu yang telah mereka habiskan bersama, begitu banyak kesempatan untuk bertanya tapi Nisa tidak pernah menanyakan hal itu. ia bahkan tidak pernah tahu pria seperti apa yang di inginkan oleh sahabatnya. Ia terlalu asik dengan dunianya sendiri tanpa memperdulikan dunia orang lain meskipun itu sahabatnya.


"Aku pasti sahabat yang sangat buruk, bahkan Asna tahu semua tentangku tapi aku tidak tahu apapun tentang Asna!"


"Bukan seperti itu sayang, mungkin memang Asna nyaman dengan hubungan kalian yang seperti ini!" Leon berusaha untuk menghibur istrinya agar tidak terus menyalahkan diri sendiri.


"Iya Nisa, jadi jika hari ini aku memberi jawaban bukan hanya karena kasus yang menimpa Asna, tapi memang sudah sejak lama aku memiliki janji sama Asna!" Gus Raka pun menambahkan, ia tidak mau sampai Nisa beranggapan jika apa yang ia lakukan hanya semata ingin menjaga kehormatan Asna walaupun memang salah satunya itu.


"Terimakasih ya mas, sudah mau menjaga Asna! Aku yakin Asna akan bahagia bila bersama dengan mas Raka! Mungkin untuk sekarang masih sangat sulit tapi aku yakin dengan kesabaran yang mas Raka miliki bisa meluluhkan hati Asna!"


"Amin, insyaallah!"


Setelah puas berbincang-bincang akhirnya Nisa dan Leon pun berpamitan untuk pulang.


Walaupun sebentar tapi sekarang Nisa sedikit lebih tenang, walaupun Asna belum mau bertemu dengannya. Dengan berjalannya waktu pasti Asna akan bisa membuka hatinya apalagi ada Raka di sampingnya.


Gus Raka menunggu hingga sore, setelah menutup toko ia pun segera melajukan motornya dengan perlahan menuju ke rumah Asna. Ia sudah mulai belajar mengendarai motornya kembali, walaupun tidak berani cepat.


Hingga sampai di rumah Asna kedatangannya langsung di sambut pak Tedi.


"Saya kira tidak jadi ke sini!" ucapnya setelah menjawab salam dari Gus Raka.


"Jadi pak, pasti!"


"Mari masuk!"


Gus Raka pun mengikuti pak Tedi yang masuk lebih dulu dan mereka pun duduk ruang tamu. Bu Ayu, istri pak Tedi keluar dengan membawakan dua cangkir kopi dan juga setoples camilan.


"Di minum nak Raka, kopinya!"

__ADS_1


"Terimakasih, Bu!"


Bu Ayu pun ikut duduk bersama mereka. Setelah berbicara ini itu akhirnya Gus Raka mulai ke intinya.


"Apa Asna nya ada?"


"Asna di kamar, kami sudah memberitahu jika kamu akan datang tapi tetap saja Asna tidak mau keluar dari kamarnya, ia malah mengunci pintunya dari dalam!" terang Bu Ayu. Memang sebelum kedatangan Gus Raka mereka sudah memberitahukan hal ini pada putrinya itu.


"Kalau di ijinkan, bolehkan saya berbicara berdua sama Asna! Tidak pa pa saya akan bicara dari depan kamarnya!"


"Oh boleh, tentu saja boleh!" pak Tedi begitu bersemangat, "Siapa tahu Asna akan berubah pikiran!"


"Insyaallah, kita hanya bisa berdoa kan pak!"


"Ya sudah, mau sekarang atau minum dulu?"


"Sekarang saja pak!"


Kini Gus Raka mulai mengetuk pintu kamar Asna.


"Assalamualaikum Na, ini aku Raka! Bisa keluar sebentar nggak? Aku mau bicara!"


Tidak ada sahutan dari dalam, walaupun ia tahu wanita itu sekarang sedang di dalam.


Asna yang mendengar suara Gus Raka, rasanya dadanya berdebar tapi segera ia tepis. Ia hanya menjawab salam Gus Raka dari dalam hati, ia juga mendekatkan tubuhnya ke pintu tapi tidak berniat untuk membukanya. Ia berdiri tepat di depan pintu dengan punggung yang ia sandarkan ke pintu.


"Na, aku tahu kamu di dalam. Baiklah aku tidak akan menuntut kamu untuk menjawabnya, tapi ijinkan aku bicara ya!"


"Na, maaf mungkin aku sedikit terlambat, tapi aku ke sini hanya ingin menyampaikan jawaban atas apa yang kamu tanyakan padaku beberapa bulan lalu!"

__ADS_1


"Na, kamu boleh menyebut namaku dalam doamu dan biarkan aku juga melakukan hal yang sama!"


"Aku ke sini ingin melamar kamu, dan kamu seharusnya menjawab lamaranku, bukan seperti ini!"


"Na, aku serius melamarmu. Kalaupun sekarang kami jawab 'Iya' maka saat ini juga aku akan menghalalkanmu!"


Asna di dalam malam semakin menangis. Ia tidak kuat menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Tidak semudah itu mas, banyak sekali pertimbangan yang harus Asna pikirkan.


Tetap saja walaupun bibirnya ingin menjawab ucapan Gus Raka tapi hatinya merasa tidak sanggup.


"Na, jika kamu menerima lamaran aku, aku tunggu besok di toko, kalaupun kamu menolak kamu juga harus datang. Kalau tidak aku akan ijab Qabul dengan bapak kamu, terserah kamu setuju atau tidak, kamu akan tetap menjadi istri aku!" Gus Raka sengaja memberikan ancaman agar Asna mau keluar menemuinya. Kalaupun tidak sekarang setidaknya besok pasti Asna akan menemuinya. Hanya ada dua pilihan menemuinya untuk membicarakan pernikahan mereka atau Gus Raka sendiri yang akan memutuskan dan Asna tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah.


"Sampai jumpa besok na, assalamualaikum!"


Gus Raka segera meninggalkan kamar Asna saat Asna tidak juga keluar dari kamarnya. Ia kembali menghampiri kedua orang tua Asna dan memberitahukan apa yang baru saja ia utarakan pada Asna.


"Tapi nak Raka, bukankan itu namanya pemaksaan?"


"Memaksa untuk kembalikan pak, insyaallah besok Asna pasti akan datang menemui saya!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2