
"Aku pulang dulu ya!" raka tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menyambar jaket yang ada di kursi kerjanya.
Leon menoleh tidak percaya, "Loh kok gitu, ini gimana ceritanya? Bahkan kita belum mulai membicarakan pekerjaan!"
"Bicara saja sama Ardi atau Chusna!"
"Trus kamu?"
"Aku ada urusan yang tidak bisa di tunda sama Asna! Assalamualaikum!"
Tanpa menunggu jawaban dari Leon, suara pintu yang kembali tertutup menandakan kalau pria itu sudah benar-benar pergi.
"Ckh, dia ini benar-benar ya! Nggak hargai banget aku ke sini, memang aku bukan orang sibuk, seenaknya saja main tinggal-tinggal!" pria dengan wajah hampir mirip dengan yang baru saja keluar itu hanya bisa menggerutu dan berkacak pinggang, tidak berapa lama ia pun menyusul keluar.
Ia memperhatikan sekitar, lalu tatapannya tertuju pada mobil yang masih terparkir rapi di depan,
"Dia belum pergi!" gumamnya pelan lalu melangkah mendekati mobil, ternyata mobil itu sudah penuh dengan buku dengan para karyawan yang sibuk memasukkan tumpukan buku dari pintu belakang, lalu ia mengenal salah satu pria yang kerap mengantar Raka kemanapun pergi,
"Ridwan!" panggilnya dengan suara yang tidak terlalu keras tapi masih bisa di dengar olehnya.
Pria yang di panggil itu segera mendekati saudara kembar atasannya,
"Iya mas Leon, ada yang bisa saya bantu?"
"Raka? Maksudnya apa dia belum pergi?"
Pria itu terdiam, ia terlihat bingung untuk menjawab apa,
"Ada apa?" tanya Leon lagi.
"Sebenarnya ini mas, tadi saya sudah mencegahnya tapi mas Raka tetap ngotot, dia bawa motor saya, mas!"
Mendengar hal itu, wajah Leon terlihat tegang, ia pun segera berpamitan untuk mengejar saudara kembarnya dengan mobil miliknya.
Motor pasti akan lebih cepat sampai di banding dengan mobil, apalagi saat ini ia sedang terjebak di bawah lampu lalu lintas,
"Nekat sekali dia, memang ada urusan apa sama Asna sampai segitunya membahayakan dirinya!?" Leon terus menggerutu, sesekali tangannya mengepal dan memukul stang stir bundarnya. Ia berharap bisa segera menyusul saudaranya itu.
Hingga sebuah kemacetan panjang membuatnya semakin panik, matahari yang semakin condong ke barat itu sedikit menyengat sinarnya, hingga begitu silau saat ingin melihat apa yang terjadi di depan.
"Ada apa sih?"
__ADS_1
Karena tidak sabar, ia pun memilih memelongokkan kepalanya melalui jendela pintu mobilnya. Ia melihat seorang tukang parkir baru saja berjalan dari depan.
"Mas, mas!" panggilnya hingga membuat pria berrompi orange itu berhenti.
"Iya mas, ada apa?"
"Di depan ada apa?"
"Itu mas di depan ada kecelakaan motor, motor ketabrak truk!"
"Astaghfirullah hal azim!" perasaan Leon sudah carut marut, ia segera menaikkan menaikkan kembali kaca mobilnya dan memilih keluar dari mobil. Dengan berlari ia menuju ke depan, melihat hal yang menimbulkan kemacetan panjang ini.
Leon seakan tidak bisa mengendalikan kakinya sendiri, ia memilih terus berlari, tidak peduli bagaimana orang-orang sedang memandangnya, bahkan sesekali jas yang masih melekat di tubuhnya harus nyangkut beberapa kali di kaca spion mobil dan stang setir pesepedah motor, dengan langkah gontai ia mendekati korban kecelakaan yang sudah di tutup dengan koran bekas.
Kaki dan tangannya mencoba menguatkan untuk bisa melihat siapa yang tergeletak di tengah aspal dengan darah segar yang mengalir di sekelilingnya.
Srekkkkk
Seseorang menarik tangannya yang hendak membuka penutup,
"Mas jangan, polisi belum datang, jangan di pegang-pegang, itu sudah meninggal!" Seorang pria menarik paksa tangannya agar menjauh.
"Tidak pak, saya harus memastikan sesuatu!" teriak Leon dengan suara yang gemetar.
"Tapi pak, saya_!" Leon tidak yakin sanggup untuk menyelesaikan ucapannya, tepat saat Leon hendak membuka lagi suara mobil polisi datang dan meminta orang-orang untuk mundur termasuk Leon dan orang yang telah memperingatkannya.
"Sudah mas jangan mendekat, biar polisi ya b menangani!"
"Tapi itu_!" Leon terus merona untuk melihat pemilik jasat itu, hingga salah seorang polisi tampak menyuruh anak buahnya untuk memeriksa identitas korban.
"Siap komandan!" polisi itu segera mendekat dan membuka koran yang menutupinya, Leon terus memberanikan diri untuk menatap dan memastikan apa yang ia pikirkan itu salah.
"Namanya Rokani komandan, warga xxx!"
Seketika jantung yang tadi seperti tak berbentuk itu seakan kembali memiliki wujud, Leon dengan cepat mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan berjalan menjauh dari kerumunan.
Ia memilih berdiri di trotoar, merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih.
Ia menormalkan detak jantungnya terlebih dulu sebelum melakukan panggilan, tidak lupa ia mengusap sudut matanya yang sedikit berair,
Hehhhhh .....
__ADS_1
"Assalamualaikum, Asna!"
"Waalaikum salam mas Leon, ada apa ya? Nisa tidak pa pa kan?" mungkin Asna merasa aneh saat pria dingin dan kaku itu menghubunginya, itu bukan kebiasannya.
"Tidak, aku cuma mau tanya, apa Raka sudah datang?"
"Mas Raka?"
Leon mengangguk tanpa mengeluarkan suara, sekarang tenaganya sudah habis terkuras dan rasanya bel sanggup untuk bicara banyak.
"Itu di luar kayaknya ada suara motor, bentar aku lihat dulu mas!"
Terdengar langkah kaki, walaupun tidak jelas tapi ia yakin jika saat ini Asna sedang berjalan ke luar,
"Astaghfirullah!" wanita itu tampak terkejut.
"Ada apa na?" rasa cemas kembali melanda dirinya.
"Itu mas, mas Raka datang pakek motor, sendiri!"
"Tapi dia tidak pa pa kan?"
"Alhamdulillah tidak pa pa mas!"
Tidak berapa lama terdengar ucapan salam yang dalam sekejap begitu ia rindukan.
"Assalamualaikum dek, siapa yang telpon?"
"Waalaikum salam, mas! Ini mas Leon telpon, nanyain mas Raka!"
Tanpa permisi Leon mematikan telponnya begitu saja, rasa lega yang ia rasakan saat ini melebihi kelegaan tadi saat mengetahui mayat itu bukan saudaranya.
Leon dengan langkah gontai kembali menghampiri mobilnya yang ia tinggal begitu saja.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...