
Ternyata hal yang sama terjadi pada Alex juga, terlihat Alex sesekali menyeka sudut matanya dengan lengan kemeja panjangnya.
Polisi itu membawa Alex ke arah tahanan, tapi bukan tempat biasanya ia di tempatkan.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Alex saat mereka berada di jalan yang berbeda.
"Anda di pindahkan!"
"Kenapa saya di pindahkan?"
"Sudah menjadi keputusan pengadilan, anda akan di pindahkan ke tempat dengan kasus yang sama karena anda sudah terbukti bersalah!"
Alex pun tidak lagi bertanya, ia memilih diam. Di manapun ia akan di tempatkan, tidak ada bedanya.
POV Alex
Aku sudah pasrah dengan keputusan pengadilan karena aku memang bersalah, tapi hatiku tidak bisa pasrah.
Suara salam Aisyah dan air matanya kembali membuatku patah. Tanganku masih menggenggam foto yang di berikan oleh Aisyah, mulai ku intip kembali foto itu. Senyum merekah di foto itu, pipi cabi baby Kia, tapi masih ada yang kurang tidak ada aku di sana, di dalam foto itu.
Apa memang seharusnya seperti itu, mereka tanpa aku. Aku hanya akan menjadi beban sepanjang hidup mereka, mereka orang-orang yang aku cintai akan merasakan imbas dari kesalahan ku di masa lalu.
Langkah kami terhenti di depan jeruji yang akan menghubungkan ke jeruji-jeruji di dalamnya, sepertinya tempat ini lebih ketat penjagaannya dari pada sebelumnya.
Dua polisi yang menahan tanganku sedari tadi memberi hormat pada polisi yang sedang berjaga di pintu itu lalu pintu jeruji pun di buka.
"Tahanan nomor 26!" ucap salah satu polisi dan polisi yang bertugas di meja itu memberikan sebuah kunci, itu pasti akan menjadi kunci rumahku selama entah berapa tahun lamanya.
Mereka membawaku kembali masuk, menyusuri jeruji-jeruji dengan tahanan di dalamnya, ada yang berperawakan sedang, sangar bahkan tampak seperti orang yang baik-baik.
Bahkan aku juga melewati tahanan khusus wanita. Apa yang para wanita itu pikirkan hingga sampai hati terdampar di tempat ini, kesalahan apa yang telah mereka lakukan.
Langkahku terhenti saat melihat wajah orang yang begitu aku kenal.
"Tito ...!"
Pria itu pun menatapku dengan tatapan penuh kebencian, aku bisa maklum karena aku, pria itu ada di tempat ini. Tapi aku tidak menyesal, aku tidak mau ambil resiko dengan mengorbankan keluargaku, lebih baik jika kami sama-sama di sini dan tidak ada yang akan mengancam keluarga ku lagi.
"Ha ha ha .....!"
Pria itu tertawa melihat aku juga di giring ke sel yang berbeda.
__ADS_1
"Silahkan masuk pak Alex!" ucap salah satu polisi itu setelah pintu sel terbuka, aku tidak melakukan perlawanan sama sekali, tapi mataku masih menatap pria itu.
Polisi-polisi itu pun kembali mengunci sel ku dan meninggalkan aku.
Pria yang berada tepat di depanku itu terus saja tertawa dengan penuh kepuasan.
"Aku begitu senang saat melihat orang yang menjebloskan ku ke penjara ternyata juga ikut masuk!" ucapnya dengan kearoganannya.
Aku tetap memilih untuk diam, tidak ada gunanya juga menanggapi Tito.
"Bagaimana rasanya? Menyedihkan kan? Apa istrimu sudah bersiap untuk pergi dari mu? Apa dia akan meminta bercerai denganmu?"
"Diam__!" teriakku dengan tanganku yang sudah mengepal sempurna menggenggam jeruji, hatiku panas saat pria itu membahas tentang istriku.
"Kenapa? Kamu takut ya jika istrimu pergi! Menyedihkan ......!" ucapnya lagi.
Aku memukul jeruji itu dengan begitu keras, aku mencoba mengendalikan emosiku tapi rasanya sangat berat.
"Jangan pernah menyebut istriku dengan mulut busuk mu itu!"
"Ha ha ha .....!" pria itu tersenyum puas padaku.
Aku tidak mau membuat kegaduhan di sini, aku tidak berharap bisa terus bersama pria.
Pagi ini menjelang subuh, kebiasaan di lapas, para petugas. berjaga membangunkan para tahanan.
Tahanan akan mulai aktifitas paginya, bagi yang beragama islam maka akan di bawa ke masjid untuk sholat berjamaah.
Alex pun bersama tahanan yang lainnya melaksanakan sholat, ia baru tahu jika ternyata di lapas juga ada polisi yang bertugas ceramah, atau memang tokoh agama yang sengaja datang untuk memberikan ceramah singkat setelah sholat subuh.
05.30 wib
Para petugas menggiring para tahanan untuk melakukan olah raga singkat sebelum beraktifitas fisik.
Tito terus saja mengikuti kemanapun Alex berada, ia seperti sedang mencoba membuat masalah dengan keberadaan Alex.
"Sebegitu bencinya kamu terhadapku!" ucap Alex lirih sambil melakukan pemanasan.
"Bukan benci ...., tapi aku cuma penasaran, bisa-bisanya kamu melakukan semua ini padahal kamu tahu sendiri kalau saya tertangkap berarti dengan otomatis kamu juga tertangkap! Sudah seberapa siap kamu untuk di sini?"
"Apakah itu wajib untuk saya jawab?!"
__ADS_1
"Harus ...., karena saya harus punya alasan untuk membencimu atau memuji mu!"
"Aku tidak perlu pujian darimu! Tapi aku akan tetap memberi alasan padamu karena apa, saya lakukan semua ini karena Allah!" ucap Alex.
Tito merasakan sangat asing dengan kata Allah, siapa Allah ....?
Percakapan mereka terhenti saat acara olah raganya selesai, ada beberapa pekerjaan selanjutnya, rutinitas pagi para tahanan harus bersih-bersih.
Tito terus menatap Alex, ia merasa butuh jawaban atas pertanyaan yang muncul di benaknya.
Hari ini hari persidangan kedua bagi Tito, kasusnya lebih berat dari Alex, bahkan sangat berat.
Alex tidak pernah tahu kalau ternyata Tito terlibat sindikat pengedar narkoba. Selama ini Tito tidak pernah mengikut sertakan Alex di bisnis itu.
"Saudara Tito, anda harus segera bersiap-siap!" ucap salah satu petugas yang menghampiri Tito.
"Sebentar pak, saya harus bicara sama dia sebentar!" ucap Tito sambil menunjuk ke arah Alex.
"Baiklah , segera bersiap-siap! Satu jam lagi akan ada petugas yang menjemput anda!" ucap petugas itu lalu meninggalkan Tito.
Tito pun meletakkan sapunya, ia berjalan mendekati Alex yang masih berkutat dengan sampah-sampah itu.
Melihat Tito yang mendekatinya, Alex pun menghentikan kegiatannya dan membersihkan tangannya dengan lap yang menggantung di saku celananya.
"Ada apa lagi?" tanya Alex saat Tito memilih diam saat berada di dekatnya.
"Siapa Allah?" tanya Tito, ia memang tidka tahu, ia tidak mengenal nama Allah. Padahal ia pikir jika istri Alex lah yang menyuruh Alex mengakui semua perbuatannya tapi ternyata bukan istrinya, Allah ...., lalu siapa Allah, apa saudara Alex, atau mungkin ada orang yang sangat berjasa di hidup Alex?
Alex tersenyum, "Saya dulu juga tidak mengenal siapa Allah, tapi setelah saya mengenalnya rasanya ingin selalu dekat dengan-Nya!"
Sepertinya Allah ini sangat luar biasa sampai Alex sangat mengaguminya ....
"Baiklah ...., setelah saya kembali ceritakan kepadaku tentang Allah! Dan aku akan mempertimbangkan apa aku akan menyalahkan mu atau Allah mu itu!"
Tito pun meninggalkan Alex yang masih tercengang, ia jadi teringat dengan dirinya beberapa waktu lalu saat ia belum mengenal Allah. Hatinya hampa walaupun hidupnya berkecukupan, hatinya tidak tenang, ambisinya begitu besar untuk memiliki sesuatu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰