
Satu per satu beban Asna akhirnya berkurang, ia sudah bisa melunasi toko yang menjadi impian suaminya, tinggal rumah yang mereka tempati, ternyata suaminya bahkan sudah membayar separoh dari angsuran rumahnya, kini tinggal beberapa kali saja angsuran dan rumah itu lunas.
"Mas, hari ini Asna sudah menyelesaikan akad yang pernah mas Raka lakukan sama pak haji, ternyata dia orang baik mas, bahkan dia sudah mensertifikat toko atas nama mas Raka!"
Asna terus menggengam tangan suaminya,
"Dua bulan lagi Asna melahirkan, mas nggak mau meng azan i anak kita saat lahir nanti? Mas bangun ya sebelum Asna melahirkan!"
Asna tidak pernah lelah mengajak bicara suaminya, meskipun ia tahu jika suaminya tidak akan meresponnya.
Kali ini Asna ternyata tidak hanya datang dengan umi saja, ada Nisa dan Leon juga. Si kembar Arkan dan Azlan sudah cukup besar untuk bisa di tinggal-tinggal.
Nisa mengusap punggung sahabatnya saat melihat punggung Asna mulai bergetar, ia tahu walaupun terlihat kuat sebenarnya sahabatnya itu begitu rapuh.
Asna memang sosok yang selalu bisa menyembunyikan kesedihannya dari orang lain, ia suka memendam sendiri rasa sedihnya tanpa ingin berbagi.
"Asna, mas Raka pasti sembuh!"
"Aku tahu Nis!"
Di balik kaca besar yang ada di dinding itu, Leon sedang mengusap sudut matanya, si garang itu ternyata tidak bisa menyembunyikan lukanya juga saat melihat saudaranya tidak bergerak seperti itu.
"Aughhhhh!" Asna tiba-tiba memekik kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Na, kamu kenapa?" Nisa segera memegangi tubuh Asna.
"Perutku sakit Nis!" Asna mulai memegangi perutnya dan tiba-tiba cairan bening mengalir di bawah kaki Asna.
"Na, ketuban kamu pecah!" Nisa menatap keluar ada suaminya di sana.
"Mas, panggil dokter mas, Asna mau lahiran!"
Mendengar teriakan Nisa, Leon dan umi segera masuk dan benar melihat Asna yang memegangi perutnya karena kontraksi.
Leon pun segera memanggil dokter dan membawa Asna ke ruang persalinan.
Umi tampak sibuk menghubungi keluarga lainnya.
"Bagaimana dok?"
"Kali butuh pertanggung jawaban dari keluarga, pasien harus segera melakukan operasi karena ketuban sudah lebih dulu pecah sebelum waktu melahirkan!"
"Saya dok, saya saudara suaminya!" Leon segera maju dan memberi surat persetujuan atas tindakan operasi Asna.
Mama Ayu dan papa Tedi datang tepat saat Asna di masukkan ke ruang operasi.
"Apa yang terjadi mbak?" tanya mama Ayu pada umi Nazwa.
"Asna harus melahirkan dini mbak, ketuban Asna tiba-tiba pecah, dokter harus melakukan tindakan operasi!"
__ADS_1
"Ya Allah selamatkan anak dan cucu hamba ya Allah!" Mama Ayu limbung, beruntung papa Tedi sigap menangkap tubuhnya dan membawanya ke tempat duduk menunggu pasien.
Butuh waktu satu jam hingga lampu di ruang operasi itu mati, seorang dokter keluar dari ruangan. Nisa segera menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan Asna dan bayinya dok?"
"Ibunya masih belum sadarkan diri sedangkan bayinya harus di masukkan ke ruang inkubator hingga keadaannya stabil!"
"Cowok atau cewek dok!"
"Bayinya perempuan!"
"Alhamdulillah!" Nisa bisa bernafas lega, meskipun lahir sebelum waktunya, tidak ada yang serius terjadi pada bayi Asna.
"Saya permisi dulu!"
Dokter pun meninggalkan Nisa dan keluarga yang lain. Ia lega sekaligus cemas memikirkan keadaan Asna selanjutnya.
Butuh waktu beberapa jam hingga Asna di pindahkan ke ruang perawatan. Terlihat Asna masih sangat lemah.
"Ma, di mana bayi Asna?"
"Bayi Asna cantik, sama seperti kamu! Dia mempunya mata dan hidung seperti suami kamu!"
"Asna pengen lihat ma!"
"Kasihan sekali anaknya Asna ma!"
"Tidak pa pa, asal dia sehat kan!"
"Mas Raka pasti senang saat ia tahu sudah punya seorang putri!"
...****...
Di ruangan Raka, Leon setelah mengantar pulang sang istri ia duduk di ruangan saudara kembarnya itu. Menatap saudara kembarnya dengan tatapan nanar.
"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan? Apa kamu tidak capek berbaring terus? Lihat anak kamu sudah lahir, dia sangat cantik, wajahnya mirip sekali denganmu! Dia akan punya dua kakak laki-laki yang siap menjaganya nanti! Harusnya kamu bangun dan menyaksikannya, mengadzani nya, dia putrimu bukan putriku!" Leon tidak bisa menahan air matanya saat di hadapan saudara kembarnya.
"Aku hanya bisa bermanja sama kamu, kalau kamu tidak bangun, aku harus manja sama siapa? Bangunlah!"
Raka benar-benar tidak merespon ucapannya, ia bahkan sama sekali tidak mengerakkan tubuhnya membuat Leon semakin tidak bisa menahan air matanya.
Seandainya saat ini ada Alex, pastilah dia tidak akan serapuh ini, walaupun pria itu terlihat cuek tapi dia selalu bisa menguatkan hati Leon yang mulai lemah.
"Nak, mungkin ini belum waktunya! Mungkin Allah sedang ingin menguji kesabaran kita, Allah sayang sama Raka, sama kita, bersabarlah!" Leon sampai tidak menyadari sejak kapan ustadz Arif berdiri di belakangnya dan memperhatikannya yang sedang sangat lemah itu.
Leon segera mengusap air matanya, ia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.
"Terimakasih ustadz atas nasehatnya!" Leon pun segera berdiri, "Saya harus pergi, saya lupa masih ada acara hari ini, assalamualaikum!"
__ADS_1
"Waalaikum salam!" Leon segera meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepatnya.
...****...
Setelah di rawat selama satu Minggu di rumah sakit akhirnya Asna di perbolehkan untuk pulang tapi tidak dengan bayinya karena bayinya masih harus berada di ruang inkubator untuk beberapa waktu ke depan.
"Sayang, mama pulang dulu ya!" Asna hanya bisa melihat bayi nya dari luar ruangan.
Saat sampai di rumah, ia menyiapkan semuanya untuk sang bayi karena memang kelahirannya terlalu mendadak jadi Asna belum mempersiapkan banyak hal. Asna di bantu oleh mbak Rumi menghias kamarnya agar saat putrinya pulang kamar sudah siap di pakai.
"Ini luar biasa mbak! Terimakasih ya mbak!"
"Ini berkat kerja keras mbak Asna! Sudah sekarang mbak Asna harus istirahat, luka nya mbak Asna belum benar-benar sembuh!"
"Iya mbak!" Asna kembali duduk, ia teringat nama yang akan di berikan suaminya untuk calon bayinya.
"Mbak, bisa minta tolong nggak!?"
"Apa mbak?"
"Ambilkan buku catatan milik mas Raka yang berwarna coklat yang ada di ruang kerjanya!"
"Baik, bentar ya mbak!" mbak Rumi pun segera menuju ke ruang kerja, kamar sebelah kamar utama.
Tidak berapa lama, mbak Rumi kembali dengan buku yang di minta.
Asna pun segera membuka lembar terakhir yang Raka tulis, dua buah nama untuk anaknya. Nama untuk anak laki-laki dan nama untuk anak perempuan.
Walaupun mereka sudah pernah mendiskusikan tetap saja Asna ini meyakinkan kalau yang di diskusikan dengan yang di inginkan suaminya sama.
"Namanya Shahia Anindra, bagus kan mbak?"
"Nama yang bagus, artinya apa?"
"Wanita yang memiliki keteguhan hati dan cerdas!"
"Artinya juga bagus! Semoga Shahia di beri keteguhan hati seperti harapan kedua orang tuanya!"
"Amiiin!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1