Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Cinta tak sampai)


__ADS_3

"Ikutlah bersamaku, aku pasti akan membebaskan kamu! Kita akan hidup bahagia berdua saja, atau berempat dengan anak-anak kamu sama pria itu. Tidak apa, aku akan menjaganya seperti anakku sendiri!"


"Jangan gila kamu Adi, aku tidak akan pernah melakukan hal itu."


"Kamu terlalu keras kepala, Nisa!" Adi berdiri dan menjauh dari Nisa, ia menyunggar rambutnya yang terlihat sedikit basah karena keringat. Tampak wajahnya frustasi, "Ayolah Nisa, sebelum semuanya terlambat! Aku tidak mau kamu sampai celaka!"


"Aku lebih baik celaka dari pada harus pergi sama kamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah pergi sama kamu!"


"Sebentar lagi bos akan datang, kamu akan mati di tangannya! Jangan membuatku bersalah karena telah menangkap mu!"


"Menurutku itu jauh lebih bagus!"


Apa yang dikhawatirkan Adi benar, suara mobil masuk ke halaman rumah itu, Adi begitu hafal dengan suara mobil itu.


"Pergilah denganku, please!" Adi memohon dengan suara pelannya, ia sampai menakupkan tangannya dan bersimpuh di depan Nisa dan Nisa memilih untuk memalingkan kepalanya menatap ke arah lain.


"Apa ada masalah?" suara Barito seseorang berhasil membuat Adi berdiri dan berbalik.


"Tidak bos, aku hanya sedang berusaha untuk mengorek informasi dari dia!" Adi mencoba memberi alasan.


Seorang pria bertubuh tambun dengan kumis tebal yang menghiasi wajahnya sedang berjalan mendekati Nisa yang masih memilih untuk duduk di lantai karena kakinya tadi sempat terkilir, tapi tangannya terus menggenggam tangan Asna.


Pria itu tersenyum seolah-olah mengatakan kalau mangsanya kali ini benar-benar tepat.


Berbeda sekali dengan Adi, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ingin rasanya segera menarik tangan Nisa dan membawanya kabur dari sana. Tapi itu sama dengan cari mati.


"Cantik juga dia, walaupun hamil tapi aura cantiknya tetap terpancar!" ucapnya setelah memperhatikan wajah Nisa, "Ambilkan aku tempat duduk!" ia mengayunkan tanganya tanpa menoleh ke belakang memberi isyarat agar lebih cepat.


Salah satu dari mereka menghampiri dengan membawa bangku plastik tanpa sandaran punggung berwarna putih yang nampak sudah usam.


Ia segera duduk dan menyilang kan kakinya tepat di depan Nisa, Nisa yang merasa risih memilih untuk memalingkan wajahnya ke tempat lain.


Leon sudah hampir saja berdiri, tapi segera di tarik kembali oleh anak buahnya.

__ADS_1


"Sabar bos, jangan sampai kemarahan bos mengacaukan segalanya, kita harus melanjutkan rencana kita!"


"Tapi di sana, istriku!"


"Kemarin kan sudah janji, siapapun yang akan tertangkap berarti harus siap untuk di jadikan umpan, dan kebetulan istri bos yang jadi umpan, coba kalau salah satu dari keluarga tuan Alex, tuan Alex pasti juga sedih!"


Leon pun terdiam, memikirkan apa yang di katakan oleh anak buahnya. Memang dalam rencana, mereka akan menjadikan salah satu keluarga Alex sebagai umpannya, tentu dengan pertimbangan yang sangat matang. Alex pun menyetujuinya, tapi ternyata yang mereka incar justru Nisa. Ini adalah hal yang tidak pernah di duga oleh Leon maupun Alex, karena berdasarkan rencana mereka akan menangkap salah satu dari keluarga Alex sebagai jaminan agar pihak Alex mau melepaskan proyek besar itu. Karena letak kekuatan Alex adalah Leon dan keluarganya dan mereka merasa sudah berhasil menyingkirkan Leon.


Leon pun kembali memperhatikan apa yang akan mereka lakukan pada Nisa. Leon sudah janji, jika sampai mereka sampai kelewat batas, ia akan segera muncul tanpa menunggu aba-aba.


"Apa kamu ingin selamat?" pria tambun itu bertanya pada Nisa, tapi tetap Nisa sama sekali tidak mengubah posisinya, ia memilih untuk tetap diam dan menatap ke arah lain.


"Lihat padaku!" sepertinya pria itu mulai marah, terdengar dari cara dia berbicara. "Lihat padaku!"


Jangan harap aku akan melihat padamu ...., batin Nisa tanpa merubah posisinya.


Pria itu semakin marah saat Nisa sama sekali tidak merespon ucapannya. Ia pun mengambil tongkat yang ia bawa dan siap melayang ke tubuhnya tapi seseorang segera menahan tongkat itu agar tidak mendarat ke tubuh Nisa.


"Adi, apa yang kamu lakukan, apa kamu masih ingin melindungi dia?"


"Benar juga apa yang kamu katakan! Baiklah kalau begitu kamu saja yang Introgasi."


"Apa bisa bos tinggalkan kami sebentar saja!?"


Pria bertubuh tambun itu tampak menarik sudut bibir sebelahnya, senyum itu terlihat begitu menakutkan untuk pria yang berdiri di depannya itu, wajah yakinnya yang tadi berubah menjadi pucat.


"Maaf tuan, jika saya salah bicara! Sungguh aku tidak bermaksud apa-apa!"


"Kamu pikir aku bisa percaya sama kamu, aku pasti orang yang sangat bodoh jika percaya sama kamu. Kamu bisa menghanati Leon, itu berarti kamu juga bisa mengkhianati aku. Sayang saja Leon begitu naif dan percaya begitu saja sama orang seperti kamu!"


Adi begitu terkejut, ia segera bersimpuh di hadapan pria tambun itu, ia menunduk ketakutan,


"Sungguh aku tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang aku alakukan pada Leon, tolong ampuni aku!"

__ADS_1


Tapi sepertinya pria tambun itu sama sekali tidak peduli dengan permohonan ampun pria yang sudah pernah melakukan penghianatan itu. Ia menganut sebuah faham jika seseorang yang sudah pernah berhianat satu kali, maka di kemudian hari bukan tidak mungkin dia akan berkhanat lagi.


Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya yang berdiri tegak di belakangnya,


"Ikat dia dan buang di jurang!"


Adi segera menarik kaki pria yang masih dalam posisi duduk, ia benar-benar memohon ampun.


"Tuan, saya mohon! Saya sudah berbuat banyak pada anda, tidak kah ada belas kasih dari anda, biarkan saya hidup! Saya rela kalau harus jadi sopir atau jadi apa saja, tapi biarkan saya tetap hidup!"


Tapi dua pria bertubuh besar itu tetap saja menarik dan meyeret tubuhnya keluar dari ruangan itu, masih tetap terdengar raungan menyayat hati dari pria yang sudah pernah berkhianat itu. Hingga suara mobil berjalan barulah suara itu sayup-sayup menghilang.


Setelah urusannya dengan Adi selesai, pria bertubuh tambum dan berkumis tebal itu segera kembali fokus pada Nisa yang sedari tadi memeluk tubuh Asna.


"Cantik, saya punya satu pertanyaan untukmu! Siapa pria di rumah kamu, Leon atau kembarannya?"


Nisa tentu terkejut karena ternyata musuh suaminya mulai curiga.


Jadi mereka sudah mulai tahu ....


Nisa masih terdiam, ia hanya sedang mengatur jawaban yang paling tepat.


"Apa kau masih mau merahasiakan itu dariku? Apa kamu mau apa yang menimpa temanmu itu juga menimpa padamu?"


"Temanku?" Nisa segera buka suara, ia kembali menatap Asna, memperhatikan beberapa luka lebam di tubuhnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2