
Kali ini Leon berlagak sebagai kapten, walaupun Gus Raka juga termasuk lulusan pencak silat terbaik, tetap saja pengalaman untuk berkelahi jauh lebih banyak Leon.
"Setelah hitungan ke tiga, kita maju!" ucap Leon lagi, "satu, dua, ti_!"
Leon dan Gus Raka pun maju, mereka hanya sedang menunggu bantuan datang, jika bi Merry ada di Bali juga, berarti tidak butuh waktu lama untuk datang.
Setelah beberapa kali terpelanting jatuh, akhirnya Leon berhasil mengambil sebuah pisau yang tidak sengaja terjatuh dari tangan salah satu dari mereka karena tangannya di tendang oleh Gus Raka,
"Ambil pisaunya!" teriak Gus Raka dan Leon pun mengulingkan tubuhnya hingga berhasil mengambil pisau.
Tapi saat tangannya sudah mencapai pisau, salah satu dari mereka hampir berhasil menancapkan pisau ke punggung Leon tapi gus Raka segera menendangnya hingga terguling di samping Leon.
Leon tersenyum dan segera bangun, menyerang pria itu dengan satu tusukan di kakinya.
"Rasakan itu!"
Leon pun segera bangun dan membantu Gus Raka. Menyerang dengan hanya bersenjatakan sebuah pisau kecil, beberapa kali rantai berbahan logam mengenai tubuh mereka. Beberapa kali sabetan pisau sudah berhasil melukai lengan dan beberapa bagian tubuh mereka.
Beberapa dari anggota mereka juga sudah banyak yang terluka, tapi tetap saja Leon dan Gus Raka masih kalah jumlah.
Sedangkan pria yang bernama Adi hanya berdiri dan menyaksikan perkelahian mereka.
"Pergilah, biar aku yang melawan mereka!" perintah Gus Raka.
"Mana ada seperti itu!"
"Ada, ini perintah dari kakak kamu, jadi kamu harus nurut!" ucap Gus Raka saat ia sudah merasa kuwalahan, akan lebih baik jika salah satu dari mereka ada yang selamat.
"Itu ide gila, kalau harus mati itu aku orangnya!" Leon dan Gus Raka terus menangkis serangan mereka walaupun beberapa kali harus tumbang tapi mereka tidak mau menyerah.
Darah segar sudah mengalir di tubuh dan wajah mereka, bahkan baju yang mereka kenakan sudah penuh dengan darah.
...****...
Di tempat lain, Nisa merasakan hal yang tidak enak. Beberapa kali ia menghubungi suaminya, tapi tidak di jawab. Sang mama yang menyadari jika putrinya sedang cemas pun memilih untuk menemani sang putri di kamarnya.
"Mungkin sekarang dengan di pesawat makanya nggak di angkat Nisa!"
"Tapi perasaan Nisa masih nggak enak ma, pak Alex mungkin tahu sesuatu!" gumam Nisa, ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi pria yang selama ini paling dekat dengan suaminya.
"Hallo, assalamualaikum pak Alex!"
"Waalaikum salam, Nisa! Ada apa?"
"Maaf menggangu pak Alex malam-malam, apa pak Alex bisa menghubungi mas Leon?"
"Kenapa?"
"Sudah dua jam, tapi dia tidak bisa aku hubungi! Perasaanku nggak enak! mas Raka juga sama!"
"Baiklah, kamu tenang dulu ya, biar saya cari tahu!"
__ADS_1
"Terimakasih pak Alex!"
Setelah mengucapkan salam, Nisa pun segera mematikan sambungan telponnya.
...***...
Di rumah besar itu, Alex kembali menghampiri sang istri yang sudah duduk di atas tempat tidur.
"Dari siapa mas?" Aisyah merasa suaminya sekarang terlihat cemas setelah menerima telpon.
"Dari Nisa, katanya Leon tidak bisa di hubungi!"
"Apa sungguh kamu nggak kirim siap gitu ke sana?" Aisyah meyakinkan sesuai dengan apa yang ia dengar kemarin.
"Enggak, aku sudah katakan sama Leon agar membawa beberapa orang, tapi Leon menolaknya!"
"Kok bisa sih mas!? Ini perjalanan jauh loh!" baru kali ini Aisyah tahu suaminya tidak menempatkan anak buahnya untuk menemani Leon.
"Katanya cuma sebentar, jadi aku tidak meminta siapapun ke sana!" Alex pun kembali bangun dan menyambar ponselnya.
"Mau ke mana lagi mas?" tanya Aisyah saat melihat suaminya kembali pergi.
"Aku harus menghubungi seseorang!"
Alex pun segera keluar dari kamar, ia tahu dengan melibatkan sang istri akan membuat istrinya ikut cemas.
Entah kenapa karena telpon dari Nisa, membuat perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Leon menghubungi seseorang dengan telponnya dan berdiri di balkon ruang kerjanya.
"Maaf tuan, Bu Merry tidak ada di rumah!"
"Kamu tahu dia kemana?"
"Kalau tidak salah, satu jam setelah keberangkatan pak Leon, bu Merry dan beberapa orang ikut dengannya ke Bali!"
"Bali?"
"Iya tuan!"
Alex pun segera mematikan sambungan telponnya, dari sini ia sudah sadar pasti ada yang tidak beres.
Alex pun segera menghubungi Merry, tapi ternyata wanita itu tidak bisa di hubungi juga membuat Alex semakin khawatir saja.
Kalaupun saat ini dia menyusul ke Bali, tidak akan membantu. Butuh waktu lama untuk sampai ke sana, walaupun pakai helikopter sekalipun.
Kini Alex hanya bisa menunggu sampai Merry atau Leon bisa di hubungi.
...****...
Dua pria berwajah mirip itu saat ini sedang tergeletak di atas rumput dengan darah segar yang membasahi tubuhnya, untuk bangun sepertinya mereka sudah kehabisan tenaga.
__ADS_1
Terdengar gelak tawa dari orang-orang yang saat ini sedang mengelilingi tubuh mereka, Adi di antaranya, dia yang paling mendekat
"Bagaimana sekarang? Masih mau melawan atau sudah saja? Aku akan membantu kalian untuk menemui ajal lebih cepat!" ucapnya dengan seringai yang menakutkan. Seringai penuh kemenangan.
"Baiklah, begini saja, kalian berdua lakukan acara perpisahan sebelum nyawa kalian terpisah dari tubuh kalian, lima menit cukup kan?"
Baik Leon dan Raka hanya bisa saling berpegangan tangan, ingin rasanya menyelamatkan salah satu dari mereka, tapi tidak ada jalan lain, tenaga mereka bahkan sudah terkuras habis.
Sebuah ide gila muncul di benak Leon, ia melihat di samping mereka ada sebuah jurang, jika mereka jatuh masih ada dua kemungkinan, mati atau hidup sedangkan jika mereka tetap di tempat ini, mereka hanya punya satu kemungkinan saat melihat pisau dan parang siap di ayunkan ke tubuh mereka yaitu mati.
"Kamu masih ada tenaga kan?" tanya Leon lirih dan Gus Raka pun menganggukkan kepalanya.
"Berdirilah!" perintah Leon dan perlahan Gus Raka mulai berdiri dengan sisa kekuatannya.
Srekkkkkk
Dalam sekejap, Leon dengan sisa kekuatannya segera menarik tubuh Gus Raka, menendang dengan kakinya dan melompat ke jurang yang ada di samping mereka membuat para penjahat itu kebingunan di buatnya, mengejar ke dasar hutan juga tidak mungkin.
"Sial, mereka kabur lagi!" ucap Adi yang tampak begitu marah.
Dan dari arah berlawanan, terlihat sebuah mobil datang, beberapa pasukan yang di bawa Bu Merry.
Adi dan kawanannya pun segera pergi meninggalkan lokasi.
Merry segera turun bersama sopir yang tadi mengantar mereka dan beberapa anak buahnya.
Mereka sempat mengejar kawanan Adi, berharap bisa menangkap salah satu dari mereka, tapi gagal.
"Sytttttt, kita terlambat! cari mereka!" perintah Merry.
Merry bisa melihat begitu banyak bekas darah, sudah pasti mereka terluka saat ini.
"Ada ini milik mereka?" tanya salah satu anak buah Merry.
Sebuah ponsel terjatuh di samping jurang,
"Ini milik Leon! Di mana kamu menemukannya?"
"Di sana!" orang itu menunjuk pada tepi jurang.
"Cari mereka di sana!"
"Baik!"
Anak buah Merry yang berjumlah lima orang itu segera melakukan pencarian di jurang tempat Leon dan Gus Raka menjatuhkan diri, memang tidak terlalu dalam, tapi malam begitu gelap, apalagi hujan turun membuat mereka kesulitan untuk mencarinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...