Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Sepasaran


__ADS_3

Dini dan Ajun pun akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah lama Rendi yang ada di surabaya.


Dua rumah yang saling berhadapan itu sebenarnya dua duanya sudah di beli oleh Rendi sebagai pengenang atas pertemuan besar cinta mereka setelah menyadari kesalahan dan juga sebagai awal di mana ia harus memulai dengan hal yang baru sebagai suami yang tidak hanya egois dengan perasaannya sendiri dan lebih menghargai pasangannya.


"Kardus ...., apa aku tidur di rumah depan aja ya, aku kan udah biasa di sana, kalau di sini belum pernah!"


"Kenapa?"


"Takut aja ntar di mana-mana malah ngebayangin pak Rendi terus, kan jadi serem!"


"Emang aku juga se serem itu?" tanya Ajun yang mulai memutar kuncinya, kunci dua rumah itu memang di jadikan satu oleh Rendi dan di bawa Ajun.


"Kamu kan sebelas dua belas sama dia!" gumam Dini lirih membuat Ajun menghentikan kegiatannya.


"Kamu bicara apa?" tanya Ajun yang sepertinya mendengar Dini bicara.


"Enggak ....! Siapa juga yang bicara, mungkin kamu juga ngebayangin ada pak Rendi kali ...!"


Ceklek


Pintu pun terbuka, "Ayo masuk!"


Dini pun hanya bisa mengikuti langkah suaminya, tepat di belakang suaminya. Tiba-tiba saja suaminya berhenti mendadak.


Dukkkkk


"Agh ....!" keluh Dini sambil memegangi keningnya yang terbentur punggung Ajun.


"Kalau berhenti itu bilang-bilang dong ..., kan jadi kepentok!" keluh Dini dengan masih memegangi keningnya. Ajun pun segera berbalik menatap Dini.


"Kalau jalan itu jangan nunduk kayak kuda ...!" ucap Ajun sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap istrinya itu.


"Kalau punya punggung jangan kayak kardus ...., emang aku yang milih buat kepentok, bisa bisanya nyalahin aku ....!" Dini tidak mau kalah.


"Ini ....!" ucap Ajun sambil mengacungkan se gandeng kunci dengan berbagai ukuran tepat di depan Dini.


"Ini buat apa?" tanya Dini yang masih ragu untuk mengambil kunci itu.


"Katanya mau menginap di rumah depan? Ini kuncinya!"


Ajun masih begitu tenang dengan wajah lempengnya.


Ini maksudnya apa ya ...., aku harus bisa kan membaca teka teki di wajahnya ....., batin Dini sambil terus menatap wajah Ajun suaminya itu.


"Mau apa enggak nggak?" tanya Ajun lagi saat Dini hanya menatapnya tanpa bergerak untuk mengambil kunci itu.

__ADS_1


"Kalau aku ambil, berarti aku akan tidur di sana? Sendiri?" tanya Dini.


"Iya ...., bisa jadi seperti itu!"


"Tapi kan aku nggak mungkin tidur sendiri! Aku kan punya suami!"


"Nahhhh itu tahu!" ucap Ajun sambil menarik kembali kuncinya dan melemparnya ke atas meja.


Ajun pun berjalan begitu saja meninggalkan Dini yang masih termenung di tempatnya.


"Apa aku yang sangat bodoh atau si kardus yang paling pinter bikin teka teki ya ...., nggah ngehhh aku .....!" gumam Dini yang masih memandangi punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar.


"Ehhhh dia nutup pintu kamarnya ...., apa-apaan nih ....!"


Dini pun segera menyusul Ajun dan ternyata pintu itu hanya di tutup saja tanpa di kunci, Ajun sudah masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar gemericik air di dalam sama, Dini yakin Ajun pasti sedang mandi.


Dini pun mengambil baju yang masih di tinggal di ruang tamu dan membawanya ke dalam kamar.


Menyiapkan baju untuk suaminya, tepat saat bajunya sudah siap Ajun keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang masih basah, terlihat totol-totol air di tubuh Ajun dan rambutnya yang masih basah.


Dini tidak mampu beralih dari menatap tubuh suaminya yang begitu menggoda itu, bukannya ia tidak pernah melihatnya. Tapi walaupun setiap hari, ia masih saja tidak puas untuk menatap tubuh itu.


"Kebiasaan ....!" ucap Ajun yang ternyata tanpa Dini sadari sudah berdiri di depannya dan mengusap wajah Dini dengan tangannya yang masih basah.


"Dari pada cuma berimajinasi, di pegang-pegang juga boleh!" ucap Ajun sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Dini, membuat posisi Dini hampir saja tertidur dengan tangan Ajun yang mengungkung tubuhnya.


"Aku be_lum mandi ...!" Dini terdengar begitu gugup saat nafas Ajun bahkan menyapu wajahnya.


"Aku tidak tanya!" ucap Ajun dan segera mendaratkan bibirnya di atas bibir Dini, mel*mat dan menggigitnya, tangannya juga sudah meraih kancing baju Dini dan mulai membukanya satu per satu hingga memperlihatkan tubuh Dini tanpa menghalang apapun.


...****...


Di rumah besar nenek Widya


Terlihat semua orang sudah sangat sibuk dengan acaranya, acara aqiqah dan sepasaran sudah siap sembilan puluh persen.


Alex juga sudah siap dengan baju yang samaan dengan baju yang di kenakan oleh Aisyah. baby Kia pun juga dengan bajunya yang cantik.


Setelah delapan hari kelahirannya, pipi baby Kia juga terlihat lebih berisi sekarang. Aisyah juga memberikan asi eksklusif pada baby Kia.


Bu Santi dan juga orang tua Dini juga sudah di sana, Nino juga ikut bersama ibunya. Nino terus sibuk menimang baby Kia dari balik keranjang bayinya.


Sebagian tamu juga sudah banyak yaang datang.


Dini dan Ajun juga membantu menata dekorasi dan menyambut tamu, terlihat Bianka dan gus Rahmi juga sudah datang, perut Bianka juga sudah mulai terlihat sedikit buncit.

__ADS_1


"Maaf ya Ay kemarin pas lahiran nggak bisa datang!"


"Iya ...., aku tahu! Kamu sekarang kan udah jadi bu Nyai jadi kan pasti sibuk!" goda Aisyah pada sahabatnya itu.


"Jangan gitu ahhhh ...., aku kan jadi malu!"


"Sudah berapa bulan ini?" tanya Aisyah lagi sambil mengelus perut Bianka.


"Ini sudah lima bulan Ay ...!"


"Bentar lagi baby Kia bakal ada temennya!"


Mereka pun mengobrol asik, Alex sudah bergabung dengan lainnya, dengan Ajun, papanya Dini dan juga gus Fahmi. Kali ini gantian Kyai Hamid dan bu Nyai sarah yang tidak bisa hadir karena harus memimpin acara di tempat lain.


Acara pun akan segera di mulai, orang yang di dapuk sebagai pemandu acara pun segera membuka acara dengan puji syukur dan sholawat kepada nabi, kemudian membacakan susunan acaranya.


Acara akan di mulai dengan ceramah singkat yang akan di sampaikan oleh gus Fahmi, pembacaan sholawat thiba' dan pemotongan rambut baby Kia dan di lanjutkan dengan santunan anak yatim yang sengaja Alex undang khusus dari panti asuhan terdekat dan juga anak-anak di sekitar rumah mereka.


Acara berlangsung hampir setengah hari, tamunya lumayan banyak. Setelah acara selesai, Alex dan Aisyah mengucapkan terimakasih kepada para tamu undangan sambil membagikan bingkisan untuk para tamu sambil berpamitan.


Semua tamu pun meninggalkan rumah nenek Widya kecuali keluarga inti, Bianka dan gus Fahmi pun juga tidak bisa berlama-lama karena di pesantren abi dan uminya juga sedang pergi.


Saat Aisya dan Alex hendak masuk karena tamu sudah meninggalkan rumah mereka semua, tiba-tiba sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah mereka.


"Mas ...., kenapa ada mobil polisi?" tanya Aisyah yang sudah mulai cemas, ia segera melingkarkan tangannya di lengan suaminya.


"Kamu tenang ya ...., tidak akan terjadi apa-apa! Tenang lah ...!" ucap Alex sambil mengusap tangan Aisyah agar Aisyah lebih tenang.


Dua orang polisi turun dari dalam mobilnya dan menghampiri Alex dan Aisyah.


"Selamat siang saudara Alex!" sapa salah satu polisi itu dengan memberikan hormat.


"Selamat siang pak!"


"Kami mau menyampaikan surat tugas, di mohon kehadiran saudara Alex ke lapas untuk menjadi saksi atas kejahatan yang di lakukan oleh saudara Tito dan anak buahnya!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2