Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Perasaan tidak enak)


__ADS_3

Semuanya sudah kembali lagi ke rumah masing-masing setelah acara pemakaman selesai begitu juga dengan Leon dan Raka.


Mereka sudah memberikan kabar ke keluarga yang ada di Surabaya, banyak doa di terima, mereka berencana untuk datang ke Bali tapi Leon dan Raka sepakat untuk tidak mengijinkan mereka menyusul dengan alasan berbagai hal.


Mereka hanya meminta keluarga di sana menggelar acara tahlil untuk mendoakan sang kakek sekalian untuk sang adik juga yang sudah lebih dulu pergi.


Mereka tidak bisa menggelar acara di Bali karena memang mayoritas penduduknya beragama Hindu sekalian untuk menghormati karena sebentar lagi hari raya Nyepi.


Pastilah di Bali tidak ada yang menggelar acara rame-rame, Leon dan Gus Raka hanya di bantu beberapa tokoh agama Islam yang ia kumpulkan dari desa terdekat untuk membantu mereka berdoa.


Hanya sampai tiga harian dan setelah itu selesai, ingin sampai selesai tapi mereka tidak mungkin berlama-lama di rumah itu.


Gus Raka pun memilih menitipkan rumah itu pada Bu Murti biar di rawat, jika ada yang menyewa Gus Raka pun mengijinkan dari pada di biarkan kosong tidak terawat.


"Kita benar mau pulang sekarang?" tanya Leon yang sedang duduk menyaksikan saudara kembarnya sedang mengemasi barang-barang mereka. Sengaja Gus Raka tidak membiarkan Leon untuk membantu karena jatuhnya malah berantakan bukannya beres.


Seperti kemarin setelah acara tahlilan selesai, Leon berniat untuk membantu Gus Raka mengepel lantai tapi pria dewasa itu malah menumpahkan semua air ke lantai hingga menimbulkan sebuah genangan dan Gus Raka harus kembali mengeringkan lantai dengan susah payah.


Gus Raka yang memang sudah selesai mengemas baju-bajunya dan baju milik Leon pun menoleh pada sang adik,


"Kita berangkat nanti malam, biar saat sampai pas nanti acara empat bulanan kehamilan Nisa!"


***


Di dapur rumah mertua Leon sudah ramai orang-orang yang membantu menyiapkan acara empat bulanan.


Seperti yang di rencanakan, mereka akan mengadakan acara empat bulanan sebagai tanda rasa syukur atas anugrah yang di berikan oleh Allah.


Di sana juga sudah ada Aisyah yang bergabung dengan kakak-kakak ipar Nisa dan kakak tertuanya. Sambil mengerjakan sesuatu mereka terdengar saling melontarkan candaan, sepertinya mereka sefrekwensi makanya begitu nyambung saat bicara.


Tidak ada rasa saling canggung lagi, anak-anak mereka juga tampak begitu bahagia dengan bermain bersama di halaman rumah mertua Leon yang cukup luas dengan beberapa pohon buah tumbuh di sana.


"Bagaimana, apa mereka sudah ada kabar?" tanya Aisyah pada Nisa yang sedang membantu melipat kardus.


"Katanya mau berangkat dari sana malam ini mbak!" wajahnya begitu sumringah, berharap yang di tunggu segera datang.


"Berarti kemungkinan sampai di sini pagi buta ya?"


"Iya, insyaallah!"


***


Malam ini, mereka bersiap untuk pulang. Tapi ada yang aneh dengan Gus Raka, tampak wajahnya begitu cemas apalagi setelah menerima telpon dari seseorang.

__ADS_1


"Apa ada masalah?" tanya Leon yang mulai curiga.


"Tidak pa pa, apa tidak sebaiknya kita berangkat besok pagi saja?" pertanyaan Gus Raka membuat Leon menatap saudara kembarnya dengan tatapan tidak mengerti.


"Ada apa?"


Gus Raka segera mengalihkan tatapannya, "Tidak pa pa, perjalana. dari sini ke kota cukup jauh, dan jalan pasti gelap!"


"Kok jadi parnoan sih?" Leon menatap saudaranya itu dengan menyelidik. "Apa ada yang sedang kamu sembunyikan?"


Belum sempat Gus Raka menjawab tuduhan dari Leon tiba-tiba ponselnya kembali berdering,


"Aku angkat telpon dulu!"


Tidak biasanya, beberapa kali pria itu tampak menghindar saat menerima telpon, biasanya dia akan dengan senang hati menjawab telponnya di depan Leon.


Tanpa sepengetahuan Gus Raka, Leon pun berdiri di balik dinding kayu yang memisahkan dia dengan Gus Raka, ia ingin tahu apa yang sebenarnya di bicarakan di dalam telpon itu.


"Aku tidak bisa mencegahnya!"


"....."


"Bagaimana kalau dia curiga padaku?"


"...."


"...."


"Sebahaya itu kan?"


"......"


"Lalu cara lain bagaimana?"


"...."


"Baiklah, kalau begitu aku akan melakukan cara lain, bukan aku kan incarannya?"


"..."


"Biarlah itu menjadi urusanku!"


setelah mengucapkan salam, Gus Raka pun segera mematikan sambungan telponnya, terlihat sekali wajahnya semakin cemas.

__ADS_1


Sebenarnya dia sedang bicara dengan siapa? batin Leon. Leon pun segera meninggalkan tempat itu agar Gus Raka tidak sampai melihatnua sedang menguping pembicaraan.


Leon kembali duduk di ruang makan, masih ada makanan yang belum sempat mereka sentuh tadi.


Tidak berapa lama Gus Raka kembali dengan senyumnya dan duduk di tempat biasanya, mereka saling berhadapan.


"Apa ada masalah?" tanya Leon lagi berharap saudara kembarnya itu akan bicara jujur padanya.


"Sedikit, kata orang melakukan perjalanan di malam hari itu cukup berbahaya!" ucap Gus Raka lalu mengambil sendoknya dan bersiap untuk menyantap makanannya yang mereka beli di warung depan gang, dia bungkus nasi dengan lauk lengkap. Mereka sengaja melarang Bu Murti memasak untuk mereka, sengaja agar tidak merepotkan.


"Ini kan ide kamu kalau kita menunda lagi berarti kita jelas tidak bisa ikut dalam acara empat bulanan!" ucap leon terlihat sedikit kesal, ia sungguh sudah begitu merindukan istrinya, berpisah dari sang istri lebih dari satu Minggu membuat dadanya begitu sesak. Ia sudah menuruti untuk tidak pulang tadi pagi, tapi saat sudah bersiap untuk pergi pria yang menjadi saudara kembarnya itu kembali lagi menundanya dengan alasan yang sama.


Hehhhh


Terdengar helaaan nafas halus dari bibir Gus Raka, membuat saudaranya marah bukanlah ide yang bagus, takut ya malah saudaranya itu akan nekat pergi sendiri tanpa dirinya.


"Baiklah kita pergi malam ini!" mendengar Gus Raka menuruti keinginannya, Leon tersenyum kembali walaupun dalam hati masih saja ada rasa yang mengganjal.


Hal itu juga ternyata di rasakan oleh Nisa, hatinya tiba-tiba merasa cemas, sebentar sebentar ia pergi ke kamar mandi.


"Kenapa kok bolak balik ke kamar mandi sih kamu?" tanya mama Nisa yang sedang mengerjakan sesuatu di dapur.


"Nggak pa pa ma!"


"Kamu sedang mencemaskan apa?" sepertinya sang mama juga ikut merasakan apa yang di rasakan oleh sang putri.


"Nggak tahu ma, cuma perasaanku nggak enak aja!" ucap Nisa sambil mengambil air putih dan meneguknya hingga air dalam gelas habis tak bersisa.


"Sholatlah dan berdoa agar semua akan baik-baik saja!" mama menepuk punggung sang putri agar sedikit menguatkan putrinya.


"Iya ma, Nisa ke kamar dulu ya!"


Nisa segera menuju ke kamarnya, tidak melanjutkan pekerjaannya lagi. Para kerabat dan tetangga yang membantu mempersiapkan untuk hajatan besok pagi sudah pulang semenjak tadi sore dan akan kembali esok pagi-pagi buta.


Ia segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat sunah, agar Allah memberi ketenangan dalam batinnya.


Setalah sholat ia melantukan ayat suci Al Qur'an hingga malam, membaca setiap makna yang terkandung dalam ayat yang ia baca.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2