
Nisa terus menatap pria itu, sedikit tertarik untuk mengamatinya sejenak sebelum ia melanjutkan tugasnya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali memakai sepatunya Ket nya.
"Sudah satu jam di sini!" gumamnya sambil menatap jam tangannya. Tidak terasa cukup lama dirinya berada di tempat asing.
Nisa berjalan di tengah teriknya matahari yang memantul di lapangan yang tepat berada di depan masjid, lapangan itu mungkin memang sengaja di buat di tengah-tengah area sebagai tempat yang paling strategis untuk berkumpul, karena dari lapangan Nisa bisa melihat beberapa bagian dari rumah binaan itu. Rasa panas yang cukup menyengat membuat Nisa mempercepat langkahnya, ia harus segera menemui kepala rumah binaan itu, sebuah ruangan menjadi tempat pertamanya mendaratkan kaki.
...Kantor kepala polisi...
Nisa bisa melihat dari luar, ada beberapa orang dengan seragam lengkapnya sedang duduk di depan ruangan itu ada juga yang sedang duduk di depan meja, sepertinya sedang makan siang.
Nisa tidak ingin menunggu lagi, ia harus memanfaatkan hari liburnya yang tinggal setengah hari ini dengan benar, sudah satu Minggu dan dia tidak pulang ke rumah. Mamanya sudah sering mengomel padanya, untung kedua kakaknya selalu bisa membujuk sang mama.
Tok tok tok
Tangannya mengetuk pintu yang sebenarnya terbuka, karena suara ketukan itu membuat polisi yang sedang berjaga di depan menoleh padanya, polisi yang sedang makan siang itu segera mengakhiri makannya dengan meneguk sebotol air yang ada di samping kotak makannya.
"Iya, silahkan masuk!"
Nisa pun segera masuk, ia berdiri di depan pria yang sudah berdiri dari tempatnya.
"Permisi pak, bisakah saya mengunjungi salah satu warga binaan di sini, namanya Kevin Alexander?" ucap Nisa sambil mengingat kembali nama yang di tunjukkan oleh Leon.
Pak Polisi tampak mengedarkan pandangannya, ia sudah tahu di mana jam-jam seperti ini pria yang sedang di cari itu, dan sepertinya dugaannya benar saat melihat senyum di bibir pria itu.
"Mbak keluarganya?" tanyanya lagi.
"Saya di minta keluarganya untuk mengantarkan sesuatu!"
"Iya pak, dokumen yang harus di tanda tangani, mungkin penting jadi saya harus menunjukkan hanya padanya!"
"Mas Leon?"
Pak polisi kenal?
Nisa sedikit heran saat mengetahui jika polisi di depannya mengenal pria yang bernama Leon, dari sekian banyak orang kenapa Leon yang yang di kenal olehnya, tapi sepertinya polisi paham dengan arti tatapan Nisa.
"Mas Leon hampir setiap Minggu ke sini dan itu tidak sebentar!"
"Memang boleh ya pak menjenguk lama?"
"Walaupun tidak menemui pak Alex, mas Leon suka duduk dan mengamati pak Alex dari jauh!"
"Ohhh!"
Aneh banget ...., itu saat ini yang ada di pikiran Nisa. Ia jadi tambah penasaran dengan yang namanya Alex ini. Sebenarnya orang seperti apa yang sudah membuat Leon bisa menganggap begitu penting orang yang akan dia kunjungi ini.
"Mbak lihat kan, itu pria yang duduk di serambi masjid memakai baju Koko warna putih, dia orangnya!"
__ADS_1
Hahhh, dia orang yang tadi!!!
Nisa cukup terkejut, ia sempat mengagumi pria itu walaupun hanya satu kali melihat. Mungkin ini salah satu alasannya kenapa Leon juga menganggap orang ini penting.
"Terimakasih ya pak atas informasinya, saya permisi ke sana dulu!"
Nisa pun terpaksa harus kembali ke titik awal menembus panasnya sinar matahari. Bahkan setitik awan pun tidak terlihat di langit hingga menampakkan langit yang begitu biru.
Nisa kembali mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di depan orang yang tadi di tunjuk oleh pak polisi.
"Assalamualaikum!" sapa Nisa membuat pria yang ada di depannya mendongak.
Ia mengerutkan keningnya saat melihat wanita yang sedang berdiri mematung di depannya itu, caranya berpakaian dan caranya menyapa mengingatkannya pada seseorang yang sangat dia cintai dan terpaksa ia relakan untuk pergi jauh.
"Waalaikum salam!" jawabnya sedikit ragu.
"Dengan pak Kevin Alexander ya?" tanya Nisa, ia harus memastikan agar tidak salah orang, bisa jadi yang di maksud pak polisi adalah orang yang sedang berdiri di ambang pintu masjid. Ia takut karena obsesinya untuk mengenal pria itu, ia jadi hanya fokus padanya.
"Iya benar!"
Jawaban itu membuat Nisa lega, ia pun segera mengeluarkan beberapa map yang di berikan oleh Leon,
"Saya sebenarnya ke sini hanya ingin mengantar ini, pak!"
Alex mengerutkan keningnya, "Ini apa?"
"Saya di minta mas Leon untuk mengantar ini dan meminta tanda tangan anda!"
"Apa terjadi sesuatu sama dia?"
What's ?????
Nisa sampai terkejut mendengar pertanyaan dari Alex, ia jadi berpikir seberapa dekat pria ini dengan pria yang ada di rumah sakit. kalau di lihat dari wajahnya mereka sama sekali tidak mirip jadi tidak mungkin mereka saudara. Tapi kenapa feeling-nya sangat kuat hingga bisa menebak hal yang terjadi.
Tapi Nisa tidak mungkin mengatakan.kalau Leon sedang terkapar di rumah sakit karena ada yang berusaha untuk melukainya.
Ia sudah terlanjur berjanji pada Leon untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya, tapi dia juga tidak mungkin berbohong.
"Dia di rumah sakit, pak!"
"Rumah sakit?" Alex terkejut, "Ada yang mencelakainya?"
"Tidak, sebenarnya kecelakaan. Tapi tidak parah sungguh hanya saja dokter melarangnya untuk meninggalkan rumah sakit dulu hingga benar-benar pulih!"
Bukannya menjawab lagi ucapan Nisa, Alex malah memilih mengambil berkas itu dan mengambil bolpoin yang masih berada di tangan Nisa tanpa menyentuh tangannya.
Nisa hanya sibuk mengamati hingga Alex benar-benar selesai untuk membubuhkan tanda tangan ke beberapa lembar berkas itu.
Apa dia jahat? bisa jadi orang-orang itu menyerang Leon, wong temennya saja narapidana....
__ADS_1
Nisa seakan membenarkan sesuatu yang belum benar-benar ia ketahui kebenarannya.
"Sudah! Sekarang pulanglah!" ucap Alex sambil menyerahkan berkas itu, Alex berdiri dan pergi begitu saja memakai kembali sendal jepitnya.
Nisa hanya terdiam, ia terus menatap punggung pria yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di balik pagar pembatas.
Hehhhh ....
Helaaan nafas itu seakan menjadi penanda bahwa Nisa sudah mengakhiri opini yang keluar dari otaknya.
Nisa sampai lupa kalau dia sudah meninggalkan pak sopir taksi terlalu lama, hampir dua jam.
Nisa cepat-cepat memeriksa ponselnya dan benar saja sudah banyak sekali panggilan dari sopir taksi itu,
"Astagfirullah! kenapa bisa lupa gini sihhh!?" keluhnya pada diri sendiri.
Nisa pun bergegas merapikan kembali berkas-berkas itu dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Ia berjalan cepat keluar dari rumah binaan pemasyarakatan itu. Dengan sedikit berlari keluar gerbang.
Huuuuhhhhhh .....
Kelegaan muncul saat melihat taksi itu masih berada di tempatnya,
"Ya Allah mbak, hampir saja saya tinggal!" ucap pak sopir saat melihat Nisa sudah menampakkan batang hidungnya, "Kalau saja setengah jam lagi tidak muncul sudah saya tinggal tadi mbak!"
"Maaf ya pak, soalnya di dalam urusannya panjang!"
Mereka pun kembali masuk ke dalam taksi, pak sopir segera menjalankan taksinya meninggalkan rumah binaan pemasyarakatan itu, kali ini tujuannya bukan ke rumah sakit lagi. Ia harus pulang barang sehari sebelum mamanya ngamuk-ngamuk dan membakar rumah sakit karena putri bungsunya tidak pulang-pulang.
Hingga akhirnya sampai juga di depan rumah Nisa,
"Ini pak upahnya!" Nisa memberikan lima lembar uang seratus ribuan.
"Ini kebanyakan loh mbak, di argonya hanya seratus lima puluh!"
"Nggak pa pa pak, anggap saja hari ini bapak saya sewa!"
"Terimakasih ya mbak!"
"Sama-sama pak!"
Setelah menyelesaikan urusannya dengan pak sopir taksi, Nisa pun segera turun dan taksi pun meninggalkannya di depan rumah orang tuanya.
Bersambung
...Ada yang bilang jika melupakan itu susah, tapi yang paling susah adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk bertahan tanpa kita...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...