Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (36)


__ADS_3

Gus Raka menggandeng tangan Asna mendekat pada Leon dan Nisa.


Nisa begitu bahagia mana kala Asna tidak lagi menghindarinya, tidak lagi menjauhinya.


Kini jarak mereka hanya sebatas satu langkah saja, Asna tepat berada di hadapan Nisa. Nisa segera menggenggam tangan Asna yang terulur karena Gus Raka yang mengulurkannya.


"Asna, aku begitu merindukanmu! Boleh aku memelukmu?" terlihat sekali saat ini tangan Asna bergetar, keringat dinginnya keluar, wajahnya semakin pucat saja.


Hingga saat Nisa benar-benar akan memeluk Asna, tiba-tiba tubuh Asna limbung. Dengan sigap Gus Raka menangkap tubuh Asna yang terjatuh.


"ASNA!" semua terkejut dan memanggil nama Asna, Gus Raka menepuk pipi Asna beberapa kali agar istrinya kembali sadar. Sedangkan Nisa saat ini sedang menangis tergugu karena begitu merasa bersalah.


Leon terlihat bingung harus melakukan apa hingga ia memutuskan sesuatu,


"Ka, kamu bawa apa? Maksudku ke sini pakek motor atau mobil?"


Gus Raka yang di tanya segera mendongakkan kepalanya, menatap saudara kembarnya,


"Motor!"


"Baiklah, bawa Asna pakek mobil kami!"


"Lalu kalian?"


"Gampang, ada sopir yang akan menjemput kami!"


"Baiklah!"


Gus Raka dengan cepat mengendong Asna, dan mengikuti Leon yang sudah berjalan lebih dulu.


Leon juga sudah meminta Nisa untuk menunggu di tempat dengan di temani salah satu karyawan kedai es krim.


Leon membukakan mobil untuk Raka dan Asna,


"Kamu nggak pa pa kan nyetir sendiri?" Leon juga tidak mungkin meninggalkan istrinya sendiri saat ini, Nisa juga sangat butuh dukungan. Terlihat sekali kalau Nisa tidak kalah stoknya dengan apa yang terjadi pada Asna.


"Aku bisa!"


"Alhamdulillah!" Leon mengusap wajahnya sedikit lega, ia tahu kalau Raka masih ada ketakutan saat mengendarai mobil. Tapi dia tidak pernah bertanya apa alasannya.


"Terimakasih ya!"


"Sama-sama, maaf mungkin jika tadi Nisa tidak memaksa, semua tidak akan terjadi!"


"Jangan di sesali yang sudah terjadi, aku juga ikut andil dalam hal ini!"


"Baiklah pulanglah, dokter yang akan datang ke rumah kamu!"


"Terimakasih!"


"Jangan terus mengucapkan hal itu, aku jadi seperti orang asing!"


Gus Raka tersenyum dan mengusap bahu Leon, "Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Gus Raka berlari mengitari mobil dan duduk di balik kemudi, di sampingnya Asna yang masih belum sadarkan diri.


"Bismillahirrahmanirrahim!" dengan yakin ia mulai menghidupkan mobilnya, ini kali kedua ia mengendarai mobil setelah bangun dari koma nya.

__ADS_1


Leon dengan cepat kembali ke dalam untuk melihat keadaan istrinya, saat sampai di depan Nisa, Leon segera memeluk istrinya yang masih menangis.


"Bagaimana mas?"


"Sudah tidak pa pa, jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja!"


Leon menarik sebuah kursi dan duduk di depan Nisa,


"Mau es krim?"


Nisa menggelengkan kepalanya,


"Benarkah? Padahal aku sedang ingin makan es krim, ya sudah kalau kamu nggak mau, aku saja yang makan es krim!"


Leon menatap wanita yang masih menunggui Nisa, salah satu karyawan kedai es krim,


"Mbak, saya mau dua cup es krim rasa coklat!"


"Baik mas!"


"Saya tunggu di sini ya!"


Wanita itu mengangguk dan meninggalkan mereka, tidak berapa lama wanita itu kembali dengan dua cup es krim ukuran sedang.


"Terimakasih!"


Setelah menerima es krimnya, Leon segera memakannya tanpa menawari Nisa.


Terlihat beberapa kali Nisa menelan Salivanya karena Leon,


"Tinggal satu, baiklah aku akan menghabiskannya sendiri!"


"Jangan!"


"Apa kamu juga mau?"


Srekkkkk


Dengan cepat Nisa merebut cup es krim yang tinggal satu itu,


"Kenapa suka sekali menggodaku sih!?"


"Siapa juga yang menggoda, aku hanya sedang ingin makan es krim, tapi istriku tidak mau, jadi aku habiskan!"


"Isssttttt!" Nisa mencebirkan bibirnya dan segera menyantap es krimnya.


...****...


Akhirnya mobil yang di kendarai Raka sampai juga di rumah dengan selamat, walaupun tampak sekali saat ini tangannya sedang bergetar, tapi dia harus kuat demi sang istri.


Raka segera menggendong Asna ke dalam rumah, karena kedatangannya sudah di sambut dokter yang di hubungi oleh Leon.


Raka menidurkan Asna di tempat tidur dan membiarkan dokter memeriksa keadaan Asna.


"Bagaimana dok?"


"Tidak pa pa, ini hanya reaksi traumanya! Mungkin memang butuh waktu untuk bisa sembuh! Tapi melihat kemajuannya sekarang, sepertinya tidak lama lagi istri mas Raka akan sembuh! Selama dia terus mendapatkan aliran energi positif dari orang-orang di sekitarnya!"


"Saya mengerti dok!"

__ADS_1


"Untuk sementara, jangan biarkan mbak Asna sendirian, kalau terpaksa di tinggal, minta salah satu dari keluarga untuk menemani!"


"Baik dok!"


"Dan ini resepnya, dosisnya sudah saya turunkan!"


Raka pun mengantar dokter hingga ke depan.


Setelah memastikan dokter pergi, Raka kembali menghampiri sang istri. Ia duduk di samping istrinya yang sudah mulai sadar.


"Bagaimana? Apa ada yang pusing?"


Asna menggelengkan kepalanya,


"Biar aku bukakan ya hijabnya?"


Asna lagi hanya menganggukkan kepalanya dan dengan lembut Gus Raka membukakan hijab instan yang di pakai oleh Asna.


"Mas, maafkan aku! Kamu pasti sangat kecewa kan sama aku?"


Raka menggelengkan kepalanya, "Enggak, tapi aku bangga sama kamu, kamu sudah berusaha untuk melawannya! Mungkin memang bukan sekarang waktunya! Kamu yang sabar ya!"


Asna kembali menganggukkan kepalanya, "Mas, boleh nggak malam ini aku tidurnya peluk mas Raka?"


Raka langsung tersenyum, seperti sedang mendapatkan lampu hijau dari sang istri,


"Pasti, mau! Baiklah kita tidur sekarang!"


Raka segera merebahkan tubuhnya dan hendak mendekap tubuh Asna tapi dengan cepat tangan Raka di tahan oleh Asna.


"Mas, cuma peluk ya! Nggak untuk yang lainnya!"


"Cium? Apa cuma cium juga nggak boleh?"


"Mas_, kamu kok jadi mesum banget sih!"


"Mesum sama istri sendiri ibadah, dek!"


"Belajar dari mana jadi suka goda kayak gitu? Perasaan dulu dinginnya minta ampun!"


"Dari Leon!"


"Nggak salah mas, kalau mas Leon kayaknya batu deh!" saat mengobrol santai, Asna tidak sadar jika dia sudah bisa menyebut nama suami sahabatnya tanpa ada rasa takut atau perasaan traumanya kembali.


"Kayaknya memang dari dulu mas Raka agar jahil ya orangnya, cuma ke cover sama sikap mas Raka yang lebih dan agamis, jadi nggak kelihatan! Kayaknya Asna perlu deh nanya sama umi tentang mas Raka!"


"Kenapa harus ke umi? Ke orangnya aja boleh kok! Aku siap menerima setiap pertanyaan kamu, bagaimana?"


"Kalau sama mas Raka langsung, kebenarannya nggak bakal akurat!"


Mereka jadi berbincang sepanjang malam hingga mereka saling terlelap sendiri.


Keadaan Asna memang kadang tiba-tiba drop dan bisa kembali normal dalam waktu yang singkat, tapi saat traumanya kembali dengan cepat keadaannya akan berubah memburuk. Penting bagi orang-orang di sekitar Asna untuk memberikan suasana yang positif bagi Asna.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2