
Kini Nisa dan dokter Reza sudah berada di depan rumahnya, kedatangan mereka langsung di sambut mama dan papanya.
"Assalamualaikum ma, pa!" sapa Nisa dan dokter Reza pada kedua orang tuanya. Seperti biasanya mereka selalu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikum salam!"
Nisa dan dokter Reza saling menatap, sepertinya mereka bingung dengan apa yang terjadi. Tidak biasanya kedua orang tuanya itu menyambut dengan begitunya. Memang tadi sebelum kembali mereka sudah mengubungi mamanya bahwa mereka akan pulang, tapi biasanya tidak seperti itu.
"Ada apa ma, heboh banget pakek di sambut di depan pintu?" tanya Nisa yang sudah menggandeng mamanya.
"Masuk dulu, papa sama Mama mau ngomong!" ajak papanya.
Nisa menoleh pada dokter Reza, dan dokter Reza mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan memilih untuk duduk di kursi ruang keluarga, seorang asisten rumah tangga menyuguhkan minum untuk mereka.
Nisa duduk di samping dokter Reza sedangkan mama dan papanya duduk di sofa yang sama yang ada di depan mereka hanya terhalang sebuah meja kecil.
"Ada apa sih ma?" tanya Nisa lagi yang masih terlihat bingung.
"Kamu benar mau merawat pasien kamu itu di rumahnya?"
Hahhh, mama sama papa tahu dari mana?
Nisa benar-benar terkejut dengan pertanyaan papanya.
"Mama sama papa tahu? Tahu dari mana?" tanya Nisa lagi.
"Iya, mama sama papa nyewa detektif ya?" dokter Reza juga ikut bertanya.
"Beberapa hari lalu ada yang datang ke sini minta ijin sama mama sama papa!"
Ucapan mamanya berhasil membuat Nisa dan dokter Reza tercengang. Nisa dan dokter Reza lagi-lagi saling berpandangan.
"Mama setuju?" tanya Nisa.
Hehhh,
Mama Nisa terlihat menghela nafas.
"Kalau mama, lebih baik jangan deh nak, mama khawatir! Kalau di lamar sih mama ayok!"
"Mama ...!" protes Nisa dengan ucapan mamanya yang terakhir.
"Mama serius! Kalau papa gimana pa?" tanya mamanya pada sang papa.
Papa Nisa memang terlihat begitu tegas, dia memang tegas saat berhadapan dengan kasus hukum yang menimpa kliennya tapi kalau di rumah aslinya papa sangat hangat dan penyabar.
Jika pertama kali melihat, mungkin akan beranggapan sama, papa Nisa adalah papa yang galak.
"Papa nggak masalah kamu mau kerja gimana aja, asal kamu tetap bisa menjaga kehormatan kamu, kehormatan keluarga! Papa sepenuhnya percaya sama kamu!"
"Papa kok gitu?" protes mama, dia tidak suka dengan keputusan suaminya.
"Jangan khawatir ma, Nisa nggak terima tawarannya kok ma!"
"Bagus!" jawab mama bersemangat.
"Kenapa posesif sekali sih ma sama Nisa, Leon ini baik loh mas, sopan lagi orangnya. Mama kalau ketemu dia pasti suka!" protes dokter Reza.
"Apaan sih kak!"
"Kakak mengatakan yang sebenarnya!"
"Tau ah...., Nisa mau mandi dulu!"
Nisa pun memilih meninggalkan mereka dan pergi ke kamarnya.
Menjadi kekhawatiran tersendiri memiliki anak gadis, saat usianya sudah layak untuk menikah. Beberapa hal membuat orang tua suka tarik ulur dengan keputusannya.
...🌺🌺🌺...
Setelah libur satu hari, kini Nisa harus kembali dengan rutinitasnya. Langkahnya begitu pasti menuju ke kamar yang sudah dua Minggu ini menjadi tempatnya bekerja.
Hingga seseorang yang sedang berdiri di tengah lorong sepi menghentikan langkahnya.
"Kak Ardan!"
__ADS_1
Nisa mempercepat langkahnya setelah memastikan jika itu benar kakaknya.
"Kak!"
"Duduklah sebentar, kakak mau bicara!"
Setelah memastikan tidak ada siapapun di situ, Nisa pun segera duduk.
Mereka duduk di kursi panjang di depan lab, karena masih pagi ruangan itu masih kosong jadi mereka bisa leluasa berbicara.
"Ada apa kak?"
"Kamu nolak tawaran Leon?"
Nisa menganggukkan kepalanya,
"Kenapa?"
"Mama nggak suka kak, aku kerja di rumah mas Leon!"
"Kalau kamu?"
Hehhhh
Nisa menghela nafas, dia menggelengkan kepalanya.
"Mungkin ini lebih baik kak, aku tidak ingin sesuatu yang terlalu di kejar jatuhnya malah salah!"
"Tapi kamu tahu kan, kalau kamu berhasil, kamu akan jadi perawat tetap di rumah sakit ini, bukan perawat magang lagi?"
Lagi-lagi Nisa menganggukkan kepalanya, "Tahu!"
"Jadi?"
"Tidak kak!"
"Ya sudah terserah kamu saja, kakak pergi dulu!"
Dokter Ardan pun meninggalkan Nisa yang masih duduk di tempatnya.
Hehhhh
Setelah puas dan yakin, Nisa pun kembali berjalan menyusuri lorong yang sepi itu, hingga langkahnya berhenti di depan sebuah kamar.
Ceklek
Tangannya menarik handle pintu hingga membuat pintu itu terbuka. Pemandangan yang sama yang selalu ia lihat ketika pagi hari. Pria itu sudah bekerja dengan layar tabletnya.
Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang yang ada di dalam layar, Nisa tidak langsung menyapanya. Ia memilih untuk memeriksa beberapa data yang baru masuk pagi ini, data perkembangan Leon. Sebelum dokter memeriksanya satu jam lagi, Nisa sudah harus menyiapkan semuanya.
Setelah setengah jam Nisa berada di dalam ruangan itu, terlihat Leon mematikan sambungan telponnya dan menatap Nisa.
Nisa yang menyadari jika pria itu sedang menatapnya, Nisa pun segera mendongakkan kepalanya,
"Assalamualaikum mas Leon!" sapa Nisa, walaupun dia tidak berharap jawabannya dari pria itu setidaknya dia tetap ingin mengucapkan salam.
"Waalaikum salam!"
Mendengar jawaban dari Leon, Nisa segera menghentikan kegiatannya. Ia dengan cepat menoleh pada Leon. pria itu untuk pertama kalinya menjawab salamnya setelah dua minggu mereka lewati bersama di rumah sakit.
"Mas Leon jawab salamku ya?"
"Menurut kamu ada orang lain ya di sini?"
"Enggak!"
Leon hanya memutar bola matanya dan kembali dengan rutinitasnya. Walaupun tidak berada di kantor dari punya tanggung jawab besar untuk mengurus perusahaan milik Alex.
Apalagi setelah nenek Widya meninggal dunia dan Aisyah pergi, hanya dia satu-satunya yang harus mengurusnya.
Walaupun sering kali Alex meminta Leon untuk mengambil alih perusahaannya, tapi tetap saja Leon tidak melakukannya.
Sudah cukup baginya di besarkan oleh nenek Widya dengan baik, di anggap saudara oleh Alex dan menjadi orang kepercayaannya.
Kalau tidak mungkin sekarang dia bukan siapa-siapa, menjadi orang yang tidak berguna dan lontang-lantung tanpa arah.
"Aku dengar kamu menolak tawaranku, kenapa?"
__ADS_1
Nisa menatap pria itu, ada sedikit gurat kecewa di wajahnya. Tapi menurutnya itu keputusan terbaik. Tidak akan ada yang mempermasalahkan untuk kedepannya.
"Maafkan saya ya mas Leon sudah mengecewakan mas Leon! Ada banyak alasan dan pertimbangan, dan alasan yang utama yang ingin aku jelaskan saat ini adalah, aku adalah wanita muslim yang di larang berada dalam satu rumah dengan pria yang bukan muhrimnya dan semoga mas Leon memakluminya!"
"Terimakasih atas alasanmu!"
"Mas Leon tidak marah?"
"Itu hak kamu!"
...🌺🌺🌺...
Nisa meminta ijin satu hari karena calon kakak iparnya sedang mengajaknya untuk fitting baju pengantin. Acara pernikahan mereka tinggal dua Minggu lagi.
Walaupun awalnya sulit tapi akhirnya Leon mengijinkan Nisa untuk pergi.
"Maaf ya mas, besok aku janji akan datang pagi-pagi sekali!"
"Tidak usah janji, aku nggak perlu!"
"Mas Leon marah ya karena aku ijin hari ini?"
"Enggak!"
"Tapi kenapa jawabnya kayak gitu?"
"Tidak pa pa, itu hal kamu!"
"Tapi intinya mas Leon ngasih ijin kan?"
"Aku bukan atasan kamu, kalau mau minta ijin ya minta ijin sama atasan kamu!"
Nisa terus menggerutu sepanjang jalan karena Leon terlihat tidak iklas mengijinkannya untuk pergi. Padahal ini bukan pertama kalinya dia ijin dan untuk pertama kalinya dia keberatan atas ijin yang dia ajukan.
"Ada apa sih, suntuk banget?" tanya dokter Reza yang melihat sedari tadi adik perempuannya itu terus saja mengomel.
"Maaf kak, tapi hari ini mas Leon bikin kesel!"
"Kenapa?"
"Dia keberatan banget aku ijin!"
"Ya jelas lah keberatan!"
"Kenapa?"
"Hari ini hari terakhir dia di rumah sakit!"
"Maksudnya?"
"Dia mengajukan rawat jalan di rumah dengan dokter khusus!"
"Jadi maksudnya?"
"Kamu nggak tahu?"
Nisa menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak diberi tahu sama sekali oleh Leon.
Percakapan mereka berakhir dan Nisa dengan pikirannya sendiri, seharusnya dia bersyukur karena tugasnya berakhir tapi hatinya berkata lain. Rasanya sangat berat.
Nisa masih melanjutkan untuk menemani kakak dan calon kakak iparnya untuk fitting baju pengantin walaupun sekarang hati dan pikirannya sedang tidak di tempat tapi di tempat lain.
Ia masih berharap pria itu menunggunya hingga besok saat ia kembali, setidaknya ucapan selamat jalan bisa sedikit meringankan beban di hatinya saat ini.
Bersambung
..."Tidak ada seorangpun yang bisa kembali ke masa lalu dan memulai awal yang baru lagi. Tapi semua orang bisa memulai hari ini dan membuat akhir yang baru." -...
... Maria Robinson...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1