
Nisa kembali mengingatnya tapi sepertinya begitu sulit.
"Masak sih aku pernah ngomong gitu?"
"Iya, Nisa!" Asna terlihat bingung menjelaskan pada sahabatnya itu, kemudian sebuah ide muncul di benaknya, "Kamu masih nyimpen foto mas Raka yang lama nggak?"
"Ya nggak lah, buat apa coba!"
"Gini deh, foto yang ada kamu, mas Raka sama suami kamu, kapan gitu! Masak nggak pernah sama sekali sih?"
Nisa kembali mengingat dan akhirnya ia membuka galeri fotonya, seingat ya memang pernah saat mereka tahu kalau mereka ternyata kembar, tepat satu Minggu sebelum mereka pergi ke Bali.
"Ada Nisa?" Asna begitu penasaran hingga ia tidak sabar menunggu jawaban dari Nisa.
"Bentar, aku cari!"
Akhirnya tangan Nisa berhenti pada sebuah foto yang mereka ambil di acara syukuran waktu itu. Di sana mereka foto bertiga dengan Nisa berada di samping Leon.
"Ini!" Nisa menunjukkan foto itu pada Asna, Asna pun segera meraih ponsel Nisa dan men-zoom nya agar lebih jelas.
"Perhatikan ini!" Asna kembali mensejajarkan ponselnya yang ada foto Leon yang menyamar menjadi Gus Raka dan foto yang ada di ponsel Nisa, foto yang ada Gus Raka dan Leon nya.
Nisa menggeser duduknya hingga begitu dekat dengan Asna.
"Lihat di sini, ini mata suami kamu, tapi ini wajah mas Raka, mata mas Raka jelas berbeda dengan mata suami kamu di foto itu, dan lihat giginya juga, mas Leon ada gingsulnya sedangkan suami kamu giginya rata!" Asna menjelaskan panjang lebar pada Nisa, "Dan mas Raka yang sekarang, giginya jadi rata! Tidak mungkin kan mas Raka sempat memberi kawat gigi selama menghilang!"
Nisa masih terdiam, ada rasa bahagia sekaligus sedih. Ia begitu berharap apa yang di pikirkan oleh sahabatnya itu adalah sebuah kebenaran tapi ia juga tidak tahu bagaimana ia akan bersikap nanti pada Raka yang sekarang ada di rumahnya.
Kalau benar yang di rumahnya sekarang adalah suaminya, yang selalu menjadi pertanyaan dalam dirinya adalah kenapa harus melakukan kebohongan sebesar itu dan membuatnya menangis selama ini? Kalau ternyata dugaannya salah, bagaimana? Ia sudah banyak berharap tentang kebenaran pikirannya itu.
Nisa pun mengambil ponselnya dan menyimpannya ke dalam tas,
"Nisa kamu mau ke mana?" Asna terlihat khawatir.
"Untuk kali ini saja, jangan katakan apapun pada mas Raka atau kak Reza dan kak Ardan, aku harus memastikan semuanya!"
"Iya, tapi kamu mau ke mana?"
"Aku harus pulang sekarang dan memastikan semuanya Asna!"
"Aku ikut!"
"Jangan!"
"Aku nggak akan tenang kalau kamu pergi sendiri, pokoknya aku harus ikut!"
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu!"
"Itu gampang, ayo kita naik taksi saja!"
"Motor kamu?"
"Motor aku gampang Nisa, jangan di pikirin!"
"Baiklah!"
Mereka pun akhirnya memilih memesan taksi online, mereka keluar dari rumah sakit secara diam-diam dan hanya meminta ijin pada teman yang satu sift dengan mereka.
Kini mereka sudah berada di dalam taksi saat ponsel Nisa kembali berdering.
"Ayo angkat!" perintah Asna saat melihat nama Raka di sana.
"Nggak ah, biarkan saja dulu!"
Karena beberapa kali Nisa tidak mengangkat telponnya, akhirnya Leon pun menelpon Asna.
"Telpon ke sini, Nisa!"
__ADS_1
"Ya udah angkat, tapi jangan katakan kalau kita pulang, katakan kalau aku sedang sibuk melayani pasien!"
Asna pun mengangukkan kepalanya dan segera menggeser tombol hijau,
"Assalamualaikum Asna, apa Nisa sama kamu?"
"Waalaikum salam mas Raka, iya Nisa sama aku, tapi maaf mas, Nisa nya lagi sibuk makanya nggak bisa angkat telpon!"
"Tapi dia baik-baik saja kan?"
"Iya, dia sangat baik, ya sudah ya mas saya harus bantu Nisa sekarang!"
"Iya, tolong jaga Nisa ya, Asna!"
"Iya mas!"
Setelah mengucapkan salam, barulah Asna menutup sambungan telponnya..
"Kamu nggak pernah kepikiran Nis, kenapa mas Raka bisa begitu perhatian sama kamu?"
Nisa hanya menggelengkan kepalanya, rasanya jantungnya sekarang sedang tidak karuan. Berdebar hebat, seperti ingin menemui seseorang yang begitu ia cintai dan lama tidak bertemu.
Mereka pun hanya saling diam hingga Meraka sampai di depan rumah. Asna membayar biaya taksi kali ini.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh penjaga dan juga asisten rumah tangga di rumah itu.
"Mbak Nisa, kok pulangnya nggak sama mas Raka?"
"Enggak bi, sengaja tadi ngajak Asna, kenalin ini teman Nisa bi, namanya Asna!"
Asna menyalami tangan wanita yang usianya kisaran empat puluh tahun itu dengan begitu sopan.
Nisa ke kamar bawah dulu ya bi!" ucap Nisa dan berlalu menarik tangan Asna. Saat sampai di depan pintu, tangannya berusaha untuk membukanya tapi ternyata tidak bisa.
"Di kunci Na!"
"Bentar, aku tanya sama bibi dulu!"
"Aku ikut!" Asna pun mengikuti Nisa di belakangnya dan menghampiri bibi tadi yang masih di dapur, ia sedang membuatkan minuman untuk tamu nyonya nya.
"Bi, kamar bawah memang selalu di kunci ya sama mas Raka?"
"Iya mbak, kalau waktunya bersih-bersih mas Raka selalu minta bibi dan mas Raka juga tidak pernah meninggalkan saya sendiri di kamar itu, hingga saya selesai bersih-bersih mas Raka selalu menenin, kalau sudah selesai langsung di kunci lagu!"
"Kamu nggak punya kunci cadangannya?" tanya Asna dan Nisa pun tampak mengingat sesuatu.
Seingat nya, satu bulan yang lalu memang Raka menitipkan sebuah kunci padanya.
"Ada_!"
"Di mana?"
"Seingatku di kamar, tapi aku lupa naruhnya di mana!"
"Aku bantu cari!"
Nisa pun mengajak Asna ke kamarnya yang ada di lantai tiga, walaupun kalau di lihat dari luar, rumah itu nampak seperti hanya berlantai dua saja.
Nisa kembali berhenti saat sampai di dalam kamar, ia mengedarkan pandangannya dan kembali berpikir. Asna menunghu sampai Nisa mau bicara.
"Di_, di_, di ruang_, di ruang ganti, coba!"
Asna sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang ganti, Asna di buat terkagum dengan ruang ganti yang ada di rumah itu, begitu luas. Seluas kamar kostnya.
"Gila, ini cuma ruang ganti!" Asna mengamati lemari-lemari kaca yang ada di ruangan itu, Bahkan Nisa punya lemari tas sendiri, lemari sepatu sendiri.
"Ini semua kok nggak pernah kamu pakek sih?"
__ADS_1
"Aku nggak terbiasa Asna, pakek-pakek yang kayak gitu!"
"Nggak terbiasa kok di beli?"
"Mas Leon yang belikan, kalau aku sih mending buat beli daster seratus ribu tiga, enak buat di rumah!"
"Seleramu jelek banget!"
"Sudah ah, kita ke sini mau nyari kunci jadi jangan di ajak bicara akunya, jadi lupa kan ngingetian!"
"Salah sendiri naruh kunci di ruang ganti, naruh kunci itu di laci!"
"Ahhh iya, laci!" Nisa jadi teringat bahwa dia sudah menaruhnya di laci tapi laci apa.
"Laci yang mana?" tanya Asna karena ada begitu banyak laci di sana.
"Pokok di buka dulu semuanya, siapa tahu ketemu!"
Nisa pun membuka laci yang ada lemari- lemari itu dan memastikan jika ada kunci di sana.
...***...
Di rumah sakit, dokter Reza sedang melakukan pemeriksaan pasien di tempatnya Nisa.
Tapi dia tidak bisa menemukan adiknya itu, padahal sore ini dokter Reza yang akan menemani Nisa sebelum di jemput oleh Leon.
"Sus, suster Nisa ke mana?" tanyanya pada salah satu suster yang mendampinginya di situ setelah selesai melakukan pemeriksaan.
"Suster Nisa ijin tadi dok!"
"Ijin?"
"Iya dok, katanya pulang karena kurang enak badan, di antar suster Asna tadi!"
"Begitu ya, terimakasih ya sus, kalau begitu saya pergi dulu!"
"Silahkan dok!"
Sebelum kembali ke ruangannya, dokter Reza memilih untuk menghubungi Leon yang menyamar menjadi Gus Raka terlebih dulu.
"Assalamualaikum, Ka!"
"Waalaikum salam, dokter! Apa ada masalah?"
"Apa Nisa memberitahu kamu kalau dia pulang?"
"Pulang?"
"Iya, kata suster yang berjaga sama Nisa, Nisa di antar pulang sama suster Asna karena kurang enak badan!"
"Tapi tadi_!" Leon menggantung ucapannya.
"Apa ada masalah?"
"Tidak, aku akan menyusulnya pulang!"
Leon segera mematikan sambungan telponnya tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1