
Sudah satu minggu Gus Raka menyamar bekerja sebagai cleaning service, tapi selama itu dia belum mendapatkan informasi tentang siapa orang yang sengaja di masukkan ke dalam rumah Leon dan Nisa.
Beberapa bukti, salah satunya berkas kecurangan yang di lakukan oleh pihak Extensio sudah ia dapat, tapi semuanya belum cukup.
Sore hari seperti biasa ia akan menjemput Nisa, sudah mengganti bajunya dengan baju yang ia kenakan tadi pagi dan kembali menggunakan mobilnya, ia berdiri di depan rumah sakit tampak Nisa sedang berjalan beriringan dengan Asna.
"Ya Allah, Nisa! Itu bang ganteng pujaan hati, dia kesini_!" tampak mata Asna berbinar berbeda dengan Nisa yang lesu.
Nisa sedang menghindari prasangka dalam hatinya, ia tidak mau merasa begitu nyaman dengan pria itu.
Saat dekat dengan Gus Raka, ia merasa berada di samping suaminya. Dan rasa itu begitu menyiksa, rasa berharap banyak dengan perasaan yang tidak menentu.
"Assalamualaikum, Nisa! Asna!" sapa Gus Raka saat mereka sudah berada di dekat Gus Raka.
"Waalaikum salam, mas Raka! Tambah ganteng aja, kayak ada yang beda ya sama mas Raka?" Asna meminta pendapat pada sahabatnya itu, "Ya nggak Nis, matanya kayak ngingetin sama siapa gitu ya?"
Gus Raka yang di perhatikan segera menundukkan kepalanya,
"Sudah sore, kami duluan ya!" Gus Raka segera membuka pintu mobil untuk Nisa, "Masuk Nisa!"
Nisa segera menoleh pada temannya, "Kamu beneran nggak sekalian ikut aku?" tawarnya pada sahabatnya itu.
"Nggak usah lah nis, motorku aku kemanain kalau barengan kalian!"
"Ya udah aku duluan ya, kamu hati-hati!"
"Iya, Bye! Sampai jumpa besok!" Asna melambaikan tangannya saat Nisa masuk ke dalam mobil.
"Kami duluan ya, Asna!" ucap Gus Raka dan di jawab dengan anggukan oleh Asna, tapi kembali mereka saling bertatap hingga Gus Raka benar-benar berlalu dari hadapannya.
Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah sakit, Asna masih berdiri dengan kebingungannya.
"Kayaknya ada yang aneh deh! Rasanya benar-benar beda!"
Rasa penasaran Asna sepertinya tidak mampu di bendung lagi,
"Suaranya juga tidak selembut seperti mas Raka biasanya! Serak tapi seraknya seperti sengaja di buat!"
"Siapa ya? Telingaku kayaknya yang saliwang nih!"
...***...
Nisa masih tetap diam di dalam mobil, kali ini Nisa tidak duduk di belakang. Gus Raka juga masih fokus dengan menyetirnya.
Hingga sebuah lampu lalu lintas yang menyala merah di sebuah perempatan memaksa mobilnya berhenti sejenak.
"Mas Raka!"
Mendengar namanya di panggil, dengan reflek Gus Raka menoleh pada wanita dengan perut yang sudah lumayan besar itu hingga membuat mata mereka saling bertatap.
Deg
Kenapa mata mas Raka mengingatkanku pada mata mas Leon?
Saat Nisa ingin kembali memastikan apa yang baru saja ia lihat, Gus Raka sudah menatap ke arah lain, seperti sengaja menghindari tatapan Nisa.
Ini untuk pertama kalinya Nisa dan Gus Raka saling bertatapan semenjak mereka tinggal dalam satu rumah.
"Kamu mau sesuatu?" pertanyaan dari Gus Raka menyadarkan Nisa, ia pun segera melihat ke arah lain juga.
Lampu lalu lintas juga sudah menyala hijau saatnya mobil kembali berjalan, perlahan mobil berjalan memecah keramaian jalanan di jam-jam pulang kantor.
__ADS_1
Sebenarnya Nisa ingin mengungkapkan keberatannya kembali saat Gus Raka menjemputnya hingga ke depan rumah sakit tapi ia urungkan,
"Aku ingin makan bakso di tempat favorit aku!"
"Baiklah, kita beli bakso dulu kalau gitu!" Gus Raka mempercepat laju mobilnya agar nanti tidak keburu magrib.
Hingga mereka sampai juga di penjual bakso yang ada di samping alun-alun kota.
"Mas Leon!" ucap Nisa tanpa sadar membuat Gus Raka menoleh padanya.
"Nis, kamu nggak pa pa kan?"
Nisa tersadar jika dia sudah memanggil pria di sampingnya dengan nama suaminya,
"Maaf mas, aku hanya teringat sama mas Leon saja!"
"Tidak pa pa, ayo turun!"
Gus Raka sudah hampir membuka pintu mobil, tapi langsung di cegah oleh Nisa.
"Bentar mas!"
Gus Raka kembali menoleh, tapi kali ini tidak berani menatap Nisa.
"Ada apa?"
"Aku belum menyebutkan di mana tempat makan bakso favoritku, kenapa Mas Raka bisa langsung mengajakku ke sini?"
Gus Raka tampak bingung harus menjawab apa, dia sampai harus mengalihkan tatapannya ke tempat lain,
"Tidak_, itu_, saya pikir kamu akan suka di sini, soalnya ini tempat favorit aku! Tapi kalau kamu tidak suka kita bisa pindah ke tempat lain!"
"Enggak mas, ini tempat favorit aku sama mas Leon kalau sore-sore pengen makan bakso!"
Akhirnya Gus Raka dan Nisa pun turun, mereka memilih tempat yang lesehan. Tempat yang sama yang selalu di tempati Nisa dan Leon saat mereka di situ.
"Mbak sama masnya sudah lama ya nggak ke sini, pesanannya seperti biasa kan?" tanya pedagang yang mengira Nisa datang dengan Leon.
Nisa hanya tersenyum, "Iya mas, kalau aku seperti biasa kalau mas Raka?"
"Aku juga biasanya aja mas!"
Nisa kembali menatap pria di depannya itu,
"Aku suka apa aja!" ucap Gus Raka kemudian.
"Masnya buatkan yang biasa aja mas, yang kayak punyaku!"
"Baik mbak!"
Penjual bakso pun kembali menuju ke rombong baksonya dan membuatkan pesanan mereka berdua.
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya pesanan mereka datang juga.
"Silahkan mbak, mas!"
"Terimakasih!"
Nisa dan Gus Raka mulai nikmati bakso pesanannya. Terlihat Gus Raka menyisihkan beberapa sayur yang ada di dalam mangkuknya dan memindahkan ke mangkuk kecil yang biasaa di gunakan untuk menempatkan saus.
"Mas Raka nggak suka sayur juga?" Nisa ternyata sedari tadi mengamati apa yang di lakukan oleh Gus Raka.
__ADS_1
"Suka, hanya daun bawang saja yang tidak suka!"
Kenapa mas Raka juga memiliki kesamaan seperti mas Leon?
"Sudah jangan di pikirkan, ini hanya sedikit. Lanjutkan saja makannya nanti kalau mau tambah boleh tapi jangan banyak-banyak ya!" Gus Raka kembali makan seperti sedang menutupi sesuatu.
Tepat sesaat setelah Gus Raka menyelesaikan pembayaran, suara azan magrib berkumandang.
"Kita sholat di masjid dulu ya!"
Nisa hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan di belakang pria itu. Hingga mereka berpisah saat masuk ke tempat wudhu masing-masing.
Setelah mereka selesai melaksanakan sholat magrib, Gus Raka segera keluar dan menunggu nisa di depan masjid. Ia tidak mau sampai membuat Nisa yang menunggu, apalagi ini di tempat umum sudah pasti akan sangat berbahaya.
"Mas Raka, tumben doanya nggak lama?" Nisa yang baru keluar itu segera bertanya pada pria yang duduk menunggu di tangga masjid.
"Iya! Nggak pa pa, sudah akan yang mendoakan aku tadi di dalam!" ucapnya sambil tersenyum, tangannya sekarang mulai sibuk memakai kembali kaus kakinya.
Nisa pun ikut duduk, mereka hanya berjarak satu meter. Nisa juga melakukan hal yang sama.
"Siapa?" Nisa masih penasaran dengan orang yang di maksud oleh Gus Raka.
"Orang yang menyebut namaku dalam doanya!"
Nisa kembali mengerutkan keningnya.
Apa mas Raka sekarang sedang dekat dengan seseorang? Tapi siapa?
"Sudah yukk, pulang! Nanti kemalaman!"
Nisa mengikuti langkah Gus Raka kembali menuju ke mobil mereka yang terparkir, tapi sungguh pikiran Nisa saat ini sedang melayang dan mencari-cari nama seseorang yang dekat dengan Gus Raka.
Selama perjalanan mereka hanya saling diam, tidak ada percakapan lagi hingga mereka sampai di rumah.
Seperti biasa, Gus Raka selalu mengantar Nisa sampai di depan kamarnya, sebelum Nisa masuk Gus Raka selalu memastikan jika kamar itu memang aman untuk Nisa.
"Sudah aman, masuklah!" Nisa memilih untuk tidak menjawab, ia segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Gus Raka pun segera meninggalkan kamar Nisa dan menuju ke ruang bawah. Tapi saat ini, Gus Raka tidak bisa berlama-lama di ruang bawah karena musuh berkeliaran di rumah itu, setidaknya berada di dekat kamar Nisa sedikit membuatnya tenang.
***
Malam ini Nisa benar-benar tidak bisa tidur, ia masih kepikiran dengan tatapan Gus Raka tadi.
"Kenapa saat aku menatap matanya, seolah-olah aku sedang menatap mata mas Leon?"
"Mas Raka punya seseorang yang dekat? Siapa? Kenapa aku ngerasa nggak rela?"
"Nisa_, jangan aneh-aneh deh, jangan cuma gara-gara tatapan mas Raka kamu jadi terbawa perasaan!"
"Kalau iya, bagaimana? Aku belum siap menggantikan posisi mas Leon di hati aku, aku yakin ini hanya kebetulan saja!"
"Nisa_, jangan mudah terpengaruh, ini mungkin hanya perasaan kesepian saja, iya kan Nisa?"
Nisa hanya terus bisa bermonolog sendiri, memecahkan kebingungan dalam hatinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...