Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( Nisa & Leon 21)


__ADS_3

...Semua orang punya masa lalu, ada yang baik dan ada juga yang buruk. Akan lebih baik adalah orang-orang yang punya masa lalu yang buruk tapi dia punya kemauan untuk memperbaikinya di masa sekarang hingga menjadikannya orang yang baik, dari pada orang yang punya masa lalu baik dan kemudian menjadi buruk, dia pasti jauh lebih buruk dari orang yang punya masa lalu buruk karena dia tahu jika berbuat seperti itu salah tapi ia mengabaikannya ~ Nisa...


...🌺Selamat membaca🌺...


Kini Leon berjalan cepat menuju kamarnya, ia melihat pintu kamarnya sudah terbuka, mungkin istrinya sudah selesai mandi karena dia terlalu lama pergi.


Dan benar saja saat kakinya melangkah di ambang pintu, ia melihat istrinya sudah duduk di depan sebuah meja kecil dengan di atasnya begitu banyak makanan yang sudah ia pesan tadi.


Ia menyapa istrinya dengan mengucapkan salam, istrinya itu tersenyum dan menjawab salamnya lalu berdiri menghampirinya dan menyambut tangan Leon, mencium punggung tangannya.


"Dari mana mas? Kok lama sekali? Tadi ada yang mengirimkan makanan ini, kata mereka kamu yang pesan!" wanita itu begitu cantik dengan balutan baju tidur berwarna ungu dan jilbab dengan warna pastel, pertanyaan itu mengingatkannya pada seikat bunga yang sebagian ia simpan di balik punggungnya.


"Aku punya ini untukmu!" Leon mengeluarkan sembilan tangkai bunga mawar dan menyerahkannya pada Nisa.


Wajah Nisa terlihat bersemu merah, dia sedikit salah tingkah kali ini,


"Dapat dari mana mas?" sambil bertanya Nisa terlihat sibuk mengambil sebuah gelas trasparan dan meletakkannya di tengah meja, setelah mencium aroma bunga itu, Nisa meletakkan satu per satu bunga itu ke dalam gelas yang ia jadikan vas bunga dadakan.


"Tadi ada yang mengatakan padaku kalau bunga itu bisa menggambarkan perasaan kita pada pasangan!" Leon mengatakan persis seperti apa yang di katakan oleh anak kecil yang ia temui tadi.


"Lalu?"


Ada lagi ya?


Leon terlihat bingung harus mencari jawaban apa lagi, dia juga terlihat salah tingkah sekarang.


"Jika tadi juga ada seseorang yang yang mengatakan bahwa seorang wanita akan sangat senang jika diberi seikat bunga!"


Sebenarnya Leon hanya mengarang saja mengenai hal itu, dia tidak pernah memberi bunga pada siapapun, sebelumnya ia tidak pernah mengungkapkan perasaan sayang, benci, rindu pada seseorang. Ia tumbuh di keluarga yang hanya tahu caranya hidup dengan menjatuhkan orang lain atau dia sendiri yang akan di jatuhkan, di bunuh atau membunuh, seperti itulah kehidupan keluarga Alex dan Leon sebelumnya, hidup di keluarga mafia membuatnya merasakan kehidupan yang keras, walaupun Alex ataupun papa Alex tidak pernah mengikut sertakan dia di kehidupan gelap itu, tapi tetap saja ia sudah sering melihat banyak darah. Beruntung Oma Widya membawanya pulang ke indonesia sebelum tragedi itu, hingga rasa trauma yang di alami Alex tidak terjadi juga dengannya.

__ADS_1


"Aku senang mas dengan hadiahnya!" Nisa kembali duduk dan meminta Leon untuk duduk.


Leon sibuk mengamati wajah istrinya itu, cantik. Bahkan ia bisa menikmati kecantikannya dari dalam.


"Mas, kenapa melihat Nisa terus?" Nisa terlihat kembali salah tingkah.


"Kalau kamu tahu sejahat apa di masa laluku, apa kamu akan tetap mencintaiku?" entah kenapa ia kembali merasakan jika dirinya bukanlah orang yang benar-benar baik seperti apa yang di terima oleh keluarga Nisa saat ini.


Nisa tersenyum dan kembali menggenggam tangan suaminya yang berada di atas meja,


"Semua orang punya masa lalu mas, ada yang baik dan ada juga yang buruk. Akan lebih baik adalah orang-orang yang punya masa lalu yang buruk tapi dia punya kemauan untuk memperbaikinya di masa sekarang hingga menjadikannya orang yang baik, dari pada orang yang punya masa lalu baik dan kemudian menjadi buruk, dia pasti jauh lebih buruk dari orang yang punya masa lalu buruk karena dia tahu jika berbuat seperti itu salah tapi ia mengabaikannya! Bukankah itu lebih berdosa?"


Leon seperti mendapat buku dalam bentuk seorang istri, apa yang ia belum jumpai dalam buku, ia bisa mendapatkan keterangan langsungnya dari sang istri. Benar kata ustad, jika belajar itu bisa bersumber dari apa saja dan siapa saja, bahkan anak kecil yang baru ia temui tadi juga mengajarkannya untuk bisa pandai bersyukur. Mungkin dia bukan orang yang bahagian dengan keluarga yang lengkap seperti yang ia impikan selama ini, tapi dia punya kelebihan materi yang bahkan anak kecil pun sangat butuhkan. Uang empat ratus ribu baginya kecil tapi tidak untuk anak itu, dia bisa gunakan uang itu untuk menyambung hidup selama satu Minggu lebih bersama keluarganya.


"Aku beruntung karena di pertemukan dengan wanita sepertimu!"


"Bukan mas Leon saja yang beruntung, nisa juga beruntung memilik mas Leon sebagai imam Nisa!"


"Nisa tidak perlu menjadi orang lain saat bersama mas Leon, Nisa cukup menjadi diri sendiri dan mencintai mas Leon dengan segala yang menurut mas Leon itu kekurangan mas Leon, tapi justru menurut Nisa itu adalah kelebihan mas Leon yang orang lain belum tentu miliki, termasuk hari ini, aku baru tahu pria setampan mas Leon belum pernah pacaran, aku yang pertama menyentuh pipi mas Leon!" Nisa berucap dengan begitu bangganya.


Leon hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya, mereka kembali melanjutkan makannya hingga makanan itu habis, Leon sudah memanggil seseorang untuk mengambil piring kotor bekas makan mereka.


"Mas Leon nggak mandi?" pertanyaan Nisa menyadarkannya kalau dia bahkan belum mandi semenjak sampai. Nisa sudah duduk dan mengecek ponselnya karena sedari tadi dia bahkan belum mengecek ponselnya.


"Iya, mungkin memang aku harus mandi!"


Nisa pun kembali berdiri dan mengambilkan sebuah handuk untuk Leon, tapi matanya tercengang saat melihat koper yang ikut masuk ke dalam lemari, ia menoleh pada suaminya yang ternyata juga menatap ke arahnya,


"Mas, ini_!"

__ADS_1


"Sebenarnya aku kira tadi mudah, ternyata tidak semudah menyusun berkas pengajuan kontrak!" Leon tersenyum dengan kikuk, sepertinya sedikit merasa bersalah tapi senyumnya itu malah membuatnya jadi terlihat menawan.



Begini tingkahnya kalau ngerasa bersalah, tetap terlihat menawan. Bagaimana Nisa bisa marah kalau kayak gini.


Nisa pun kembali menatap lemari dan mengambil selembar handuk dan membawanya menghampiri sang suami.


"Nggak pa pa, mandilah! Biar Nisa aja yang beresin!"


Leon kembali tersenyum, "Terimakasih ya!"


"Jangan senyum terus!"


Leon sudah hampir mencapai pintu pun kembali berbalik,


"Kenapa?"


"Mas Leon tambah ganteng, nanti Nisa iri loh!" Leon hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.


Nisa kembali mengeluarkan koper itu dari dalam lemari, dan mengeluarkan isinya satu persatu dan kembali memasukkannya ke dalam lemari. Ia meminggirkan koper yang sudah kosong ke samping lemari, memang tempat untuk meletakkan koper, tidak sampai lima menit dan semua barang di dalam koper sudah berpindah semua ke dalam lemari, tidak lupa ia juga menyisakan satu stel baju yang akan di pakai suaminya.


...Kamu istimewa bagi aku yang mencintaimu, tidak ada yang benar-benar baik di dunia ini, hanya ada berusaha menjadi lebih baik maka akan baik juga untuk orang lain...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2