Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra Part (Penyelamatan)


__ADS_3

"Tidak, aku tidak percaya! Kamu pasti Leon! Pastikan sesuatu!" perintahnya pada anak buahnya. mereka pun segera mendekat, tapi salah apa yang di pikirkan oleh Leon. Bukan mendekat padanya tapi pada Nisa.


"Apa yang akan kalian lakukan padanya?"


"Sdikisentuhan saja!" pria itu seakan tidak peduli dengan pertanyaa Leon, ia terus meminta anak buahnya untuk mendekat. Nisa hanya bisa pasrah ia memejamkan matanya, ia tahu jika suaminya tidak akan mungkin mengatakan hal itu.


Tepat saat tangan dari salah satu pria itu hampir menyentuh baju Nisa, leon pun segera berteriak.


"Berhenti! aku akan mengatakan semuanya!"


"Menyingkirlah! pria bertubuh tambun itu segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk mejauh dari Nisa.


"Katakan!" perintah pria itu saat anak buahnya sudah kembali ke tempatnya.


"Iya benar, saya Leon!"


"Apa buktinya?"


Leon pun segera melepas topengnya hngga menampakkan wajah aslinya.


"Sekarang percaya kan?"


Dengan kompak anak buah pria itu mengeluarkan senjatanya dan di arahkan pada Leon semua, memang yang sebenarnya menjadi mansa utamanya adalah Leon.


Pria itu tersenyum, "Ringkus dia!"


Mereka bersama-sama menyerang Leon, tapi anak buah Leon segera keluar, mereka lebih dari lima orang membantu sementara Leon sebelum Alex dan anak buah lainnya datang begitupun dengan para polisi.


Leon terlibat perkelahian sengit untung pistolnya tidak terlalu jauh ia membuangnya, hingga ia bisa mengambilnya dan menumbangkan beberapa musuhnya.


Anak buah pria itu yang ada di uar pun mulai masuk, karena mereka menyadari anak buah Leon semakin banyak saja, padalah jika di perkirakan jumlah mobil yang ada di tengah hutan itu pasti hanya ada lima orang saja.


Hingga akhirnya seserang menendang tangan pria bertubuh tambun itu hingga membuat pistolnya terlepas jauh.


"Alex?!"


"Kenapa? Kamu takut padaku? Kamu salah jikabisa melawan kami!" Alex berdiri tepat di depan Nisa, Nisa akhirnya bisa tersenyum lega sekarang.


Karena mendapat isyarat dari Alex, Nisa pun dengan suah payah berdiri dan melepaskan ikatan Asna,


"Asna, kita harus pergi dari sini!" Nisa menarik tangan Asna, tapi Asna malah menahan tangannya membuat Nisa berhenti dan berbalik pada sahabatnya itu, "Ada apa?"


"Nisa, pergilah! Jangan pedulikan aku aku akan di sini saja!"


"Asna apa sih maksud kamu?"


"Pergilah, hidupku sudah tidak ada artinya, jadi pergilah!" Asna malah mengibaskan tangan Nisa,

__ADS_1


"Asna!" Nisa hampir menyentuh tangan Asna tappi Asna segera menghindar'


"Jangan sentuh aku, aku terlalu kotor untuk kamu sentuh!"


Nisa kembali menjatuhkan tubuhnya, ia merasa bersalah sekaligus ikut terluka dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya. Mereka berdua hanya terus menangis di sudut ruangan, di mana orang-orang sedang sibuk berkelahi.


Leon yang menyadari ada yang aneh dengan istrinya sedang berusaha ntuk mendekat tapi dia beberapa orang terus menghadangnya, karena tidak terlalu fokus dengan musuh-musuhnya hingga tangannya harus tersabet oleh senjata tajam.


"Aughhhhh!" Darah segar mengucur dari lengan bawahnya dan dengan cepat ia pun melawan balik.


Sedangkan Alex, ia memilih untuk berhadapan dengan pria tambun itu, jalas saja pria itutakut di hadapan Alex. Siapa yang tidak kenal dengan alex, sepak terjang Alex di dunia hitam membuatnya di segani oleh semua lawan-lawannya.


"Jangan harap kamu bisa main-main denganku! Kamu pikir dengan melakukan semua ini akan membuatku gentar!" pria itu tetap berusaha bersikap tenang.


"Oh iya, benarkah seperti itu?" Alex hanya tersenyum dan semakin mendekat membuat pria itu memundurkan langkahnya, ia meminta anak buahnya untuk menyerang Alex satu persatu tapi hanya beberapa pukulan saja, meeka sudah tumbang.


Hingga akhirnya pria itu sampai juga di dekat pintu, ia pun segera berbalik dan berlari henda kabur saat anak buahnya iaminta untuk melawan Alex untuk yang ke sekian kali.


Hingga saat ia membuka pintu, ia kembali mundur karena ternyata pasukan polisi sudah mengepung tempat itu.


"Jangan bergerak!" ucap salah satu polisi saat pria itu berbalik dan hendak berlari kembali. Sebuah ujung pistol sudah menempel di kepala bagian belakangnya hingga dia hanya bisa pasrah dan mengangkat kedua tangannya.


"Tempat ini sudah di kepung, silahkan menyerahkan diri!" lebih dari dua puluh anggota polisi mengepung tempat itu membuat mereka berhenti melakukan perlawanan.


Satu persatu komplotan itu di giring ke luar dan di borgol di masukkan ke mobil polisi.


"Bawa teman-teman yang terluka!" perintah Alex pada anak buahnya dan satu persatu dari mereka membantu temannya yang terluka dan di bawa ke mobil medis yang di bawa oleh Alex sebelum di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih cepat.


"Tidak, kalian duluan saja!"


Kini di ruangan yang cukup besar lebih mirip seperti aula itu tinggal beberapa orang saja termasuk Asna dan Nisa leon dan Alex dan beberapa polisi. kemudian komandan polisi itu mendekati Alex sebelum Alex menghampiri Leon.


"Pak Alex!" Alex mengurungkan niatnya untuk mendekati Leon, ie berbalik menatap pak polisi yang berjalan mendekatinya.


"Iya pak?"


"Tolong ikut saya sebentar, atau mungkin orang lain untuk memberi keterangan pada kami!"


Sebenarnya yang lebih tahu kronologi kejadiannya adalah leon tapi melihat leon yang terluka dan hendak menghampiri sang istri, Alex pun tidak ingin mengganggu mereka.


"Baiklah saya saja!"


Tepat saat Alex dan polisi hendak keluar tiba-tiba Nisa bertertika,


"Tolong, tolong, tolong ..., Asna pingsan!"


Beberapa orang pun berlari mendekat termasuk leon, terlihat tubuh Asna terkulai lemah di pelukan Nisa.

__ADS_1


"Biar kami bawa ke mobil medis dan segera di larikan ke rumah sakit!" ucap salah satu dari anak buah Leon dan tubuh Asna pun dengan cepat berpindah ke gendongan seorang pria dan di bawa berlari ke luar.


Kini di dekat Nisa hanya ada Leon saja, tatapan Nisa langsung tertuju pada lengan Leon yang terluka itu,


"Mas tangan kamu terluka!"


"Ini tidak pa pa!"


Nisa hanya diam dan memilih mencari ujung jilbabnyayang lumayan panjang dan merobeknya sebagian lalu melilitkan ke lengan leon yang terluka.


"Kalau di biarkan terbuka lukanya, darahnya akan terus keluar mas!"


Leon tersenyum lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Terimakasih ya!"


"Untuk apa?"


"karena kamu tetap baik-baik saja, jika kamu sampai kenapa-napa aku pasti akan ma_!" Nisa segera menutup bibir Leon dengan telapak tangannya.


"Kamu nggak akan kenapa-napa mas, kita akan bersama membesarkan anak-anak kita!"


Leon tersenyum dan mengusap perut besar Nisa, menciumnya dengan penuh cinta.


"Mereka baik-baik saja kan?"


"Mereka anak-anak yang kuat mas, seperti kamu!"


"Seperti kamu juga!"


"Mas kamu masih punya hutang cerita sama aku mau cerita sekarang atau kapan, jangan sampai anak-anak kita akan penasaran nanti!"


"Masih ingat aja!"


"Ya iya dong!"


"Baiklah, aku akan cerita sambil kita jalan ke rumah sakit!"


"Baiklah!"


Leon pun menggendong tubuh Nisa, ia tahu jika istrinya terkilir saat ini.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2