
Kini aku sudah berada di kantor, langkah pertama adalah langsung menemui mas Alex. Aku kembali menormalkan degup jantungku saat berada di depan ruangannya.
Tok tok tok
Aku ketuk pintu yang tidak tertutup sempurna dan menunggu jawaban dari dalam. Aku sudah sangat terlambat, rasanya sungguh tidak enak pada pemilik perusahaan ini.
"Masuk!" suara Barito itu selalu membuatku tidak bisa membantah. Aku pun perlahan membuka pintu dan ku lihat mas Alex sedang duduk di balik mejanya, entah apa yang sedang dia kerjakan saat ini. Malunya aku, dia sudah bekerja dan aku masih datang.
Pria itu mendongakkan kepalanya menatapku, aku tidak bisa berkutik sekarang.
"Leon, aku kira kamu belum masuk hari ini!"
Aku sekarang sudah mendekati mejanya, jelas aku tidak bisa mengabaikan semua ini.
"Maaf pak, saya terlambat!" rasa bersalah ini membuncak.
Hehhh
Ada ******* halus keluar dari bibirnya, aku tidak tahu apa artinya tapi yang jelas sekarang aku merasa bersalah.
"Duduklah!" perintahnya kemudian.
Aku pun memilih duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja kerja itu, jelas aku cemas, takut juga. Pasti mas Alex akan marah padaku, dia bukan tipe orang yang suka memberi toleransi untuk orang yang terlambat,
"Maaf karena aku terlambat, pak!" ucapku dengan gugup, walaupun mas Alex sudah menganggapku sebagai keluarga, tetap saja di kantor tidak ada yang di istimewakan.
Mas Alex menutup beberapa berkasnya lalu kembali menatapku,
"Seharusnya kamu minta maaf karena kamu tidak berniat membawa istri kamu ke rumah kami!"
Padahal apa yang aku pikirkan tadi sungguh..., ah ya sudahlah ternyata mas Alex malah mempermasalahkan yang lainnya. Dia aku rasa sudah sangat dewasa sekarang, dia bukan Alex yang dulu yang aku kenal. Keras kepala dan grusa-grusu dalam mengambil keputusan. Tidak terbayang bagaimana dulu Oma Widya dan Merry begitu kerepotan mengurusnya.
Tapi sekarang, dia benar-benar kakak yang perfect menurutku. Tapi sungguh apa yang dia katakan membuatku syok, aku sampai tidak bisa menahan bibir ini agar tidak terbuka.
"Hahh?"
"Ajak istri kamu main ke rumah, kita makan malam bersama, kiandra dan Arsy pasti senang!"
Bibir ini tidak mampu menahan senyum saat mendengar penuturannya, Nisa sepertinya sudah punya ikatan batin dengan mas Alex sampai tahu apa yang sedang di pikirkan, baru tadi pagi Nisa meminta ijin untuk ke rumah mas Alex tapi hati ini mas Alex sendiri yang mengudang kami, sungguh kebetulan.
"Iya!" jawabku dengan pasti.
"Sudah sekarang bekerjalah!" mas Alex mengusirku dengan mengibaskan tangannya,
"Baik!" aku pun segera berdiri, rasanya begitu senang dan tidak sabar ingin memberitahukan pada Nisa saat ini juga.
"Tunggu!" langkahku seketika berhenti saat suara itu kembali keluar, aku yang sudah membawa tubuh ini hingga hampir mencapai pintu segera urung dan menoleh padanya,
"Iya!"
"Lain kali aku tidak akan mengampuni jika terlambat lagi."
__ADS_1
Ahhhh tetap saja aku tidak bisa lolos ...
"Mengerti pak!"
"Satu lagi, jam sebelas kita ada meeting dengan perusahan Extensio."
"Baik pak!"
"Jangan lupa siapkan semuanya, berkasnya sudah siap kan?"
"Sudah pak!"
"Pergilah!" lagi-lagi mas Alex mengibaskan tangannya untuk mengusirku dari ruangannya.
Aku pun segera meninggalkan ruangan itu dan menuju ke ruanganku, bibirku tidak mampu aku tahan agar tidak tersenyum. Aku segera duduk dan mengambil gawaiku.
Nisa
Nama itu sekarang berada di urutan paling atas, bahkan pamornya mengalahkan nama mas Alex. Egoisnya aku.
//Assalamualaikum, sayang// send, read.
Sebenarnya ingin menghapusnya tapi terlanjur terbaca. Ahhh aku malu sendiri memikirkan kata-kata terakhir tadi.
//Waalaikum salam, mas, kenapa mas, sudah kangen ya sama Nisa?// read.
Jelas aku langsung membacanya, ponsel ini sama sekali tidak berpindah dari tanganku. Tapi kata-kata Nisa malah membuatku diri ini seakan sedang terbang. Aku segera berdiri dari dudukku dan jogetan ala kepop keluar begitu saja.
Netra ini langsung melihat ke arah pintu yang ternyata belum aku tutup, karyawan lain yang kebetulan ruangannya berada di depan ruanganku menatapku aneh.
Stay Cool ...
Hanya itu satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk menutupi rasa Maluku, aku pun segera meletakan benda pipih di atas meja dan berjalan ke arah pintu dengan menyakukan kedua tanganku ke dalam saku celanaku.
Saat sampai di depan pintu, aku pun menatap dingin pada mereka membuat mereka kembali fokus pada pekerjaan, mungkin karena takut jika aku akan marah pada mereka.
Hmmmm
Sedikit deheman membuat nyali mereka menciut, tiba-tiba mereka jadi sibuk sendiri, pengen tertawa tapi takut dosa. Lagi pula aku harus tetap jaga image di depan mereka.
Ku tutup perlahan pintu dan segera berlari menuju ke mejaku kembali.
"Ahhh bodohnya aku. Pasti mereka sudah mikir aku tidak waras.
*Kasak kusuk di luar ruangan Leon.
"Pak Leon kenapa ya? Memang begitu ya efek abis nikah?" tanya salah satu karyawan bertubuh tambung itu pada rekan kerja ada di sebelahnya.
"Ya gitu kalau terlambat jatuh cinta kali." jawab pria muda yang sepertinya baru saja selesai masa trainingnya.
"Padahal pak Leon idaman aku banget, ehh malah kecantol sama cewek lain!" gadis yang tampak berpenampilan seksi itu ikut menimpali.
__ADS_1
"Tapi sayangnya kamu buka tipe nya pak Leon, pak Leon biar gitu tipe nya yang pakek hijab, nggak kayak kamu!" si tubuh tambun berkomentar pedas pada si seksi.
"Apaan sih Dro, aku kan juga pengen punya cowok cakep, pinter sholat lagi!"
"Rajin kali!" ucap salah satu pria berkaca mata yang duduk di ujung tanpa memindahkan perhatiannya pada layar komputernya.
"Sudah-sudah, nanti pak Leon dengar malah runyam urusannya!" seorang yang terlihat sudah senior memperingatkan mereka, ruangan yang terdiri dari sekitar delapan orang itu kembali tenang, memang pria dengan tubuh ideal dan berusia kisaran empat puluh tahun itu salah satu kepercayaan di kantor itu sudah pasti karyawan lain menghormatinya.
...Kembali kepada Leon*...
PoV author
Leon kembali duduk di tempatnya dan mengambil ponselnya, ia membaca pesan dari lagi dan lagi.
Bibirnya tidak mampu ia tahan agar tidak tersenyum. Debaran dalam jantungnya seakan menunjukkan betapa senangnya ia mendapatkan pesan itu.
Setelah puas membaca pesan dari istrinya, Leon pun segera mengetikkan sesuatu di layar ponselnya,
//Mas Alex mengudang kita makan malam, kamu nunggu aku pulang aja ya, kita ke sana barengan// send, read.
Tidak berapa lama, ia kembali mendapatkan balasannya karena setelah terbaca ada tulisan. sedang mengetik
Itu tandanya Nisa langsung ingin membalas pesannya.
//Aku kira rindu, padahal aku sudah berharap banyak tadi// read.
Leon langsung membacanya, membayangkan Nisa mengetik pesan itu sambil memanyunkan bibirnya kesal membuat Leon kembali tersenyum.
//Jangan manja seperti itu, nanti aku tidak bisa menahan rindu// send, read.
//Baiklah aku akan menahannya sampai nanti sore ♥️♥️♥️, sampai jumpa nanti sore mas// read.
"Ahh aku nggak yakin bisa tahan tidak bertemu dengannya sampai nanti sore, sekarang saja wajahnya sudah melayang-layang di pelupuk mata. Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Leon lirih, dia sekarang benar-benar seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
"Ahhh aku sekarang jadi suka warna merah jambu!" ucapnya pada dasi yang hari ini ia kenakan, memang sedikit berwarna. Pria macho dengan dasi merah jambu.
Ia pun akhirnya memilih untuk mengalihkan pikirannya dari senyum manis Nisa dengan berusaha untuk sibuk dengan pekerjaannya yang belum sempat selesai tadi malam gara-gara ramuan yang membuatnya ketagihan.
Untung saja Alex mengajaknya untuk meeting, sedikit mengurangi rasa rindunya pada sang istri setidaknya sampai jam makan siang.
...Debar cinta ini menandakan betapa aku sangat menginginkanmu untuk tetap selalu berada di siniku setiap waktu, seperti setiap nafas yang keluar makan seperti itu juga aku akan menggantinya dengan yang baru dengan nama yang sama, semoga Allah menakdirkan kita bersama meski maut memisahkan...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1