Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Pertama menjadi istri


__ADS_3

Di dalam kamar pengantin yang megah itu hanya ada kesunyian walaupun ada dua insan


di sana. Aisyah masih duduk di depan meja rias, sedangkan Alex sedang asyik


memainkan ponselnya di atas tempat tidur yang penuh dengan kelopak  bunga  khas kamar pengantin itu.


Aisyah hanya bisa melirik dari pantulan cermin yang ada di depannya, Alex menguasai


tempat tidur itu. Rasa jijik terus membayangi Aisyah setiap kali melihat wajah


Alex, bayangan wanita seksi itu mencium Alex dengan sangat mesra membuatnya


bergidik.


Walaupun ijab qabul telah dilafalkan rasanya tidak mengurangi rasa bencinya pada pria


itu. Masih membekas di ingatannya betapa gugupnya pria itu saat menyentuh


ubun-ubun nya dan mengikuti doa yang di bimbing oleh penghulu, berbeda sekali


dengan sika arrogantnya.


“Kenapa menatapku seperti itu?” ternyata Alex menyadari jika Aisyah telah memperhatikannya.


“Kenapa anda tidak di kamar anda yang kemarin saja, ini kan kamar saya!”


Ya memang kamar yang sudah di rubah menjadi kamar pengantin itu adalah kamar yang di tempati nya semalam.


“Nenek melarang ku meninggalkan kamar ini!” jawab Alex santai tanpa rasa bersalah, padahal saat ini Aisyah sudah sangat mengantuk dan ingin segera merebahkan tubuhnya, tapi pria itu menguasai tempat tidurnya.


“kenapa?”


Alex mengangkat kedua bahunya, “Mana aku tahu!”


“Saya tidak bisa tidur satu ranjang dengan anda!” ucap Aisyah begitu formal.


“Ya terserah, kamu saja yang tidur di kamar lain, lagian  kamu hanya aku yang di larang meninggalkan kamar ini, bukan kamu!”


Aisyah diam  memejamkan matanya sejenak menahan kesal, pengen banget aku cekek nih orang, halal kali ya bunuh orang yang nyebelin gini? Batin aisyah. tak mau semakin kesal, Aisyah memilih mengambil tasnya dan mencari baju gantinya dan keluar kamar. Jika tidak ada


kamar lain yang bisa ia gunakan untuk tidur,  ia akan tidur di mushola hotel saja, hanya sampai besok pagi, pikirnya.


“Kemana, Sya?” suara seseorang mengagetkannya, itu adalah suara nenek Widya.


Jujur Aisyah …, jujur ….., batin Aisyah. “Aisyah nggak bisa tidur satu kamar dengan tuan Alex, nek!”


Nenek Widya terlihat menghela nafasnya, ia tidak mungkin membiarkan hal kecil ini


terjadi. Jika di biarkan bisa menjadi kebiasaan, ia harus merencanakan untuk


selanjutnya.


“Ya harus biasa dong, sayang. Kalian sudah menikah sudah sepatutnya kalian tinggal satu kamar!”


“Tapi Aisyah belum siap nek!” rengek Aisyah, walaupun baru beberapa kali bertemu


dengan nenek Widya, Aisyah sudah merasa nyaman dengan nenek widya karena

__ADS_1


kelembutan hati nenek Widya, berbeda sekali dengan cucunya.


“Aisyah …, apa kau lupa jika jika suamimu adalah surgamu, menjauhi suamimu sama saja


kamu menjauhi surganya Allah.  Seburuk


apapun dia, mengingatkannya menjadi tugasmu sebagai istri!”


Aisyah menghela nafas, memang benar apa yang di katakan oleh nenek widya, terlepas


perjanjian mereka di atas kertas ada hukum yang masih harus dia pertanggungjawabkan di depan Allah, janji yang langsung di saksikan oleh Allah.


“Aisyah kembali ke kamar nek!”


Aisyah meninggalkan nenek Widya begitu saja, tapi langkahnya kembali terhenti saat nenek Widya kembali memanggilnya.


"Aisyah!"


"Iya?" Aisyah kembali berbalik.


"Jangan memanggilnya tuan lagi, dia suami kamu sekarang, panggil dia mas!"


"Insyaallah nek!" Aisyah memilih berbalik kembali dan kembali masuk ke dalam kamar. Alex yang melihat Aisyah kembali masuk ke dalam kamar mengerutkan keningnya.


“Kenapa kembali lagi?” tanya Alex saat melihat Aisyah kembali ke kamar.


Aisyah tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Alex, ia memilih terus berlalu dan


masuk ke dalam kamar mandi, mengganti bajunya dan berwudhu.


Aisyah kembali keluar, Alex hanya terus memperhatikan Aisyah dari atas tempat tidur.


Aisyah menggelar sajadahnya dan mulai melaksanakan sholat isya’ walaupun


terlambat.


Setelah selesai sholat, ia mendapati Alex sudah terlelap di atas tempat tidur dengan


ponsel yang masih bertengger di dadanya. Tempat tidur itu sebenarnya sangat


luas, tapi Alex menguasainya sendiri, ia tidur tepat di tengah tempat tidur.


Lagi-lagi Aisyah hanya bisa menghela nafas, ia pun melipat kembali mukena dan sajadahnya.


Ia melihat sofa di kamar itu memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk


tidur. Aisyah pun meletakkan sajadah dan mukenanya di dalam tasnya kembali. Ia


memutuskan untuk tidur di sofa itu.


Tapi matanya masih enggan terpejam, air wudhu yang mengenai wajahnya membuatnya


semakin segar saja, rasa kantuk yang tadi hadir kini menghilang. Aisyah memperhatikan cincin yang melingkar di jarinya itu. Baru tadi siang cincin itu melingkar. Bagus dan seperti nya juga sangat mahal.


Ia teringat pada kotak beludru dengan cincin di dalamnya pemberian dari gus Fahmi.


Ia kembali bangun dan mengambil tasnya, ia mengambil kotak kecil itu.

__ADS_1


Mengeluarkan cincin di dalamnya. Memandangi dua cincin yang berbeda itu,


Yang di jariku memang lebih bagus


dan lebih mahal, tapi cinta gus Fahmi untukku lebih dari harga cincin yang


melingkar di jariku ini. Aku meninggalkan pria yang benar-benar mencintaiku dan


memilih pria yang tidak berakhlak itu …, sungguh bodohnya aku …


ya Allah …, sebenarnya rencana


besar apa yang sedang kau siapkan untukku …?


Aisyah menutup kembali kotak cincin itu, ia seharusnya sudah mengembalikan sebelum ia


menikah tapi rasanya belum siap benar-benar mengembalikan dan melepaskan hatinya.


Aisyah terus menatap kotak cincin itu, ia merebahkan tubuhnya. Kantuknya kembali


datang hingga ia terlelap sambil memeluk kotak cincin itu.


***


Suara azan samar-samar terdengar di telinga Aisyah. ia mengerjapkan matanya beberapa


kali, mulai menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Kamar itu tidak


begitu terang hanya ada lampu tidur yang menyala.


Aisyah menatap langit-langit kamar hotel itu, berusaha keras mengembalikan


kesadarannya. Mengembalikan sebagian nyawanya yang masih melayang-layang entah


kemana.


Ia segera bangun, tapi tangannya menyentuh sesuatu, sebuah selimut menutupi


sebagian tubuhnya, menutup kaki hingga pinggangnya. Seingatnya semalam ia tidak


memakai selimut. Kapan aku pakek


selimutnya? Batinnya.


Ia menatap ke arah tempat tidur, ia tidak mendapati Alex di sana.


“Dia sudah bangun? Sepagi ini? Untuk apa?”


Masa bodoh ah …, bukan urusanku


juga, mungkin dia sedang bersenang-senang dengan wanita seksi itu ….


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰😘❤️

__ADS_1


__ADS_2