
Di dalam kamar pengantin yang megah itu hanya ada kesunyian walaupun ada dua insan
di sana. Aisyah masih duduk di depan meja rias, sedangkan Alex sedang asyik
memainkan ponselnya di atas tempat tidur yang penuh dengan kelopak bunga khas kamar pengantin itu.
Aisyah hanya bisa melirik dari pantulan cermin yang ada di depannya, Alex menguasai
tempat tidur itu. Rasa jijik terus membayangi Aisyah setiap kali melihat wajah
Alex, bayangan wanita seksi itu mencium Alex dengan sangat mesra membuatnya
bergidik.
Walaupun ijab qabul telah dilafalkan rasanya tidak mengurangi rasa bencinya pada pria
itu. Masih membekas di ingatannya betapa gugupnya pria itu saat menyentuh
ubun-ubun nya dan mengikuti doa yang di bimbing oleh penghulu, berbeda sekali
dengan sika arrogantnya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” ternyata Alex menyadari jika Aisyah telah memperhatikannya.
“Kenapa anda tidak di kamar anda yang kemarin saja, ini kan kamar saya!”
Ya memang kamar yang sudah di rubah menjadi kamar pengantin itu adalah kamar yang di tempati nya semalam.
“Nenek melarang ku meninggalkan kamar ini!” jawab Alex santai tanpa rasa bersalah, padahal saat ini Aisyah sudah sangat mengantuk dan ingin segera merebahkan tubuhnya, tapi pria itu menguasai tempat tidurnya.
“kenapa?”
Alex mengangkat kedua bahunya, “Mana aku tahu!”
“Saya tidak bisa tidur satu ranjang dengan anda!” ucap Aisyah begitu formal.
“Ya terserah, kamu saja yang tidur di kamar lain, lagian kamu hanya aku yang di larang meninggalkan kamar ini, bukan kamu!”
Aisyah diam memejamkan matanya sejenak menahan kesal, pengen banget aku cekek nih orang, halal kali ya bunuh orang yang nyebelin gini? Batin aisyah. tak mau semakin kesal, Aisyah memilih mengambil tasnya dan mencari baju gantinya dan keluar kamar. Jika tidak ada
kamar lain yang bisa ia gunakan untuk tidur, ia akan tidur di mushola hotel saja, hanya sampai besok pagi, pikirnya.
“Kemana, Sya?” suara seseorang mengagetkannya, itu adalah suara nenek Widya.
Jujur Aisyah …, jujur ….., batin Aisyah. “Aisyah nggak bisa tidur satu kamar dengan tuan Alex, nek!”
Nenek Widya terlihat menghela nafasnya, ia tidak mungkin membiarkan hal kecil ini
terjadi. Jika di biarkan bisa menjadi kebiasaan, ia harus merencanakan untuk
selanjutnya.
“Ya harus biasa dong, sayang. Kalian sudah menikah sudah sepatutnya kalian tinggal satu kamar!”
“Tapi Aisyah belum siap nek!” rengek Aisyah, walaupun baru beberapa kali bertemu
dengan nenek Widya, Aisyah sudah merasa nyaman dengan nenek widya karena
__ADS_1
kelembutan hati nenek Widya, berbeda sekali dengan cucunya.
“Aisyah …, apa kau lupa jika jika suamimu adalah surgamu, menjauhi suamimu sama saja
kamu menjauhi surganya Allah. Seburuk
apapun dia, mengingatkannya menjadi tugasmu sebagai istri!”
Aisyah menghela nafas, memang benar apa yang di katakan oleh nenek widya, terlepas
perjanjian mereka di atas kertas ada hukum yang masih harus dia pertanggungjawabkan di depan Allah, janji yang langsung di saksikan oleh Allah.
“Aisyah kembali ke kamar nek!”
Aisyah meninggalkan nenek Widya begitu saja, tapi langkahnya kembali terhenti saat nenek Widya kembali memanggilnya.
"Aisyah!"
"Iya?" Aisyah kembali berbalik.
"Jangan memanggilnya tuan lagi, dia suami kamu sekarang, panggil dia mas!"
"Insyaallah nek!" Aisyah memilih berbalik kembali dan kembali masuk ke dalam kamar. Alex yang melihat Aisyah kembali masuk ke dalam kamar mengerutkan keningnya.
“Kenapa kembali lagi?” tanya Alex saat melihat Aisyah kembali ke kamar.
Aisyah tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Alex, ia memilih terus berlalu dan
masuk ke dalam kamar mandi, mengganti bajunya dan berwudhu.
Aisyah kembali keluar, Alex hanya terus memperhatikan Aisyah dari atas tempat tidur.
Aisyah menggelar sajadahnya dan mulai melaksanakan sholat isya’ walaupun
terlambat.
Setelah selesai sholat, ia mendapati Alex sudah terlelap di atas tempat tidur dengan
ponsel yang masih bertengger di dadanya. Tempat tidur itu sebenarnya sangat
luas, tapi Alex menguasainya sendiri, ia tidur tepat di tengah tempat tidur.
Lagi-lagi Aisyah hanya bisa menghela nafas, ia pun melipat kembali mukena dan sajadahnya.
Ia melihat sofa di kamar itu memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk
tidur. Aisyah pun meletakkan sajadah dan mukenanya di dalam tasnya kembali. Ia
memutuskan untuk tidur di sofa itu.
Tapi matanya masih enggan terpejam, air wudhu yang mengenai wajahnya membuatnya
semakin segar saja, rasa kantuk yang tadi hadir kini menghilang. Aisyah memperhatikan cincin yang melingkar di jarinya itu. Baru tadi siang cincin itu melingkar. Bagus dan seperti nya juga sangat mahal.
Ia teringat pada kotak beludru dengan cincin di dalamnya pemberian dari gus Fahmi.
Ia kembali bangun dan mengambil tasnya, ia mengambil kotak kecil itu.
__ADS_1
Mengeluarkan cincin di dalamnya. Memandangi dua cincin yang berbeda itu,
Yang di jariku memang lebih bagus
dan lebih mahal, tapi cinta gus Fahmi untukku lebih dari harga cincin yang
melingkar di jariku ini. Aku meninggalkan pria yang benar-benar mencintaiku dan
memilih pria yang tidak berakhlak itu …, sungguh bodohnya aku …
ya Allah …, sebenarnya rencana
besar apa yang sedang kau siapkan untukku …?
Aisyah menutup kembali kotak cincin itu, ia seharusnya sudah mengembalikan sebelum ia
menikah tapi rasanya belum siap benar-benar mengembalikan dan melepaskan hatinya.
Aisyah terus menatap kotak cincin itu, ia merebahkan tubuhnya. Kantuknya kembali
datang hingga ia terlelap sambil memeluk kotak cincin itu.
***
Suara azan samar-samar terdengar di telinga Aisyah. ia mengerjapkan matanya beberapa
kali, mulai menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Kamar itu tidak
begitu terang hanya ada lampu tidur yang menyala.
Aisyah menatap langit-langit kamar hotel itu, berusaha keras mengembalikan
kesadarannya. Mengembalikan sebagian nyawanya yang masih melayang-layang entah
kemana.
Ia segera bangun, tapi tangannya menyentuh sesuatu, sebuah selimut menutupi
sebagian tubuhnya, menutup kaki hingga pinggangnya. Seingatnya semalam ia tidak
memakai selimut. Kapan aku pakek
selimutnya? Batinnya.
Ia menatap ke arah tempat tidur, ia tidak mendapati Alex di sana.
“Dia sudah bangun? Sepagi ini? Untuk apa?”
Masa bodoh ah …, bukan urusanku
juga, mungkin dia sedang bersenang-senang dengan wanita seksi itu ….
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰😘❤️
__ADS_1