
Pagi ini Gus Raka sudah siap untuk menemui Leon, ia mengajak serta Abi dan uminya.
Sebenarnya ini di luar rencana, tapi karena Abi dan umi ya juga ingin melihat bagaimana sosok seorang Leon yang sering kali di ceritakan oleh putranya, mereka pun ikut penasaran sekalian menjenguk Nisa yang di rumah sakit.
Biasanya Gus Raka selalu menggunakan motornya untuk bepergian, tapi karena perginya bersama sang Abi dan umi, Gus Raka pun akhirnya bersedia memakai mobilnya.
Di kamar rumah sakit itu terlihat Leon sedang telaten menyisir rambut Nisa yang berantakan.
"Mas nanti kalau ada yang liat bagaimana?" protes Nisa.
"Kan pintunya sudah aku tutup, lagi pula aku sudah meminta Asna untuk menunggu di depan pintu!" ucap Leon dengan begitu santainya. Seketika membuat Nisa menoleh pada pria yang berdiri tepat di belakangnya sambil memegangi rambutnya dan masih begitu ribet mengoperasikan bagaimana cara melingkarkan ikat rambut ke rambut panjang itu.
"Kenapa sih gerak terus?" protes Leon karena baru saja ia hampir selesai mengikat semuanya tapi kembali tergerai karena ulah sang istri.
"Mas, kamu serius buat Asna nungguin di depan?"
"Iya!" jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Mas, serius? Ini kamu ngikat rambutnya sudah hampir setengah jam loh nggak beres-beres!"
Nisa tidak bisa membayangkan bagaimana ngomelnya temannya itu saat tidak ada Leon di sana.
"Benarkah selama itu?" Leon bahkan tidak sadar kalau dia sudah begitu lama tadi, "Baiklah aku nyerah!"
Leon meninggalkan Nisa yang masih belum mengikat rambutnya dan dengan kepala yang masih terbuka.
"Mas mau ke mana?" tanya Nisa saat langkah sang suami sudah berada di ambang pintu.
Leon menoleh pada sang istri, "Mau panggil Asna buat bantuin kamu ngikat rambut!"
Leon pun akhirnya benar-benar meminta Asna untuk masuk, gadis dengan mungil itu pun segera masuk saat di persilahkan. Ia segera mendekati tempat tidur Nisa sedangkan Leon memilih untuk duduk di sofa sambil memulai bekerja.
"Ngapain tadi aku di suruh.di depan pintu kayak satpam kalau ujung-ujungnya aku juga yang ngiket!?" protes Asna sambil mulai mengikat rambut Nisa.
"Kamu belum tahu Na rasanya diiket rambutnya sama suami!" Nisa tersenyum sambil menatap suaminya yang terlihat begitu manis saat serius seperti itu, "Makanya Na, segera cari suami!"
"Memang cari suami kayak milih buah apel, yang paling merah dan mengkilat yang paling manis! aku harus cari yang benar-benar klik, coba aja mas mas yang kemarin jengukin kamu ke sini mau sama aku, nggak nolak aku pasti!"
"Gus Raka maksudnya?" tanya Nisa, Asna yang sudah membantu mengenakan jilbab instan milik Nisa pun segera menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
"Assalamualaikum!" ucapan salam dari arah pintu seketika membuat Asna terdiam.
__ADS_1
"Ya Allah dia memang sengaja kau kirim untuk jodohku!" gumam Asna dengan mata berbinar.
"Kalau ada yang salam tuh jawab salamnya dulu!" ucap Nisa sambil mencubit pipi temannya itu.
"Ah iya, waalaikum salam!" ucap Nisa, Asna dan Leon bersamaan.
Di depan pintu sudah ada Gus Raka dan kali ini bukan hanya sendiri, ada Abi dan uminya.
Leon pun segera menyambut ke datangan mereka.
Leon terlihat sibuk mengambilkan kursi agar bisa duduk dekat dengan Nisa, untung saja Nisa sudah selesai merapikan jilbabnya.
"Bagaimana keadaan nak Nisa?" tanya umi Gus Raka.
"Alhamdulillah sudah baik Bu Nyai, insyaallah lusa sudah boleh pulang tinggal nunggu rekomendasi dari dokter saja, karena besok masih hari Minggu jadi dokter libur!" ucap Nisa panjang lebar, itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan Nisa menjawab satu pertanyaan dengan begitu banyak jawaban.
"Alhamdulillah, umi ikut senang! Sebenarnya sakitnya kenapa?"
"Alhamdulillah Allah mempercayakan momongan pada saya dan mas Leon, Bu nyai!"
"Ya Allah, Alhamdulillah, selamat ya!"
"Sama-sama Bu!"
"Sebenarnya saya ke sini ingin menepati janji saya yang ke Marin, Alhamdulillah Allah masih memberikan saya waktu!" ucap Gus Raka terdengar begitu serius.
Leon pun yang awalnya tidak terlalu mengingat pembicaraan mereka kemarin, kini mulai mengingat kembali,
"Jadi benar ada sesuatu yang berhubungan dengan saya?"
"Iya! Tapi sepertinya kita harus menunggu seseorang lagi!"
"Siapa?"
"Pak Alex!"
"Ada hubungannya dengan mas Alex juga?" Leon semakin di buat penasaran dengan ucapan Gus Raka. Ia mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya akan di bicarakan.
"Bukan, tapi seseorang yang akan datang bersamanya!"
Belum sampai Leon kembali bertanya, suara pintu di ketuk kembali menghentikan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Abi Gus Raka yang memang tidak punya wewenang apapun di sana memilih untuk diam dan mendengarkan sampai selesai. Sambil sesekali mengamati wajah Leon yang jika di lihat dengan seksama memang ada kemiripan dengan wajah Gus Raka.
Seseorang yang sedang mereka tunggu akhirnya datang juga. Melihat banyak orang yang datang Nisa pun menjadi tertarik untuk ikut mendengarkan apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
"Bi Merry!" Leon begitu terkejut dan meminta BI Merry untuk duduk.
"Tidak perlu Lee, saya cuma sebentar di sini, biarkan saya berdiri saja!"
"Tidak pa pa bi, saya yang akan berdiri!"
"Tapi untuk saat ini kamu butuh untuk duduk!" bi Merry tetap dengan pendiriannya dan meminta Leon untuk tetap duduk.
Akhirnya setelah semua berada di posisinya masing-masing, bi Merry mulai menceritakan bagaimana dulu ia menemukan sosok bernama Leon itu. Walaupun dia di besarkan oleh Oma Widya, tapi ia juga tahu jika dulu dia di selamatkan oleh Merry, itulah kenapa sampai sekarang Leon begitu menghormati sosok Merry dalam hidupnya.
Leon mengetahuinya dari pembicaraan beberapa orang di kalangan para pengawal yang sempat berkelahi bersama Merry waktu itu.
"Maksudnya saya masih punya saudara?" tanya Leon, tapi entah kenapa seketika arah tatapannya langsung tertuju pada pria berpeci di depannya itu Gus Raka hanya tersenyum membalas tatapan Leon.
"Iya!" ucap Merry dengan begitu yakin, "Tolong tunjukkan semuanya!" perintah Merry pada Gus Raka.
Gus Raka yang awalnya diam pun segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kotak yang di berikan oleh Merry kemarin.
"Lihatlah ini!"
Leon pun segera mengambilnya dan melihat ada foto yang sempat ia foto ulang menggunakan kamera ponselnya tapi di balik foto itu adalah benda baju yang sama persis seperti yang di pakai oleh anak laki-laki dalam foto itu.
"Jadi maksudnya, wanita yang di maksud pak Bejo itu bi Merry?" tanya Leon dan Gus Raka pun menganggukkan kepalanya.
"Dan anak yang di temukan Merry itu aku?" walaupun dia cerdas tapi sekarang sepertinya kecerdasannya tiba-tiba hilang.
Lagi-lagi Gus Raka hanya bisa mengangukkan kepalanya tapi terlihat mata keduanya sudah mengeluarkan cairan bening walaupun hanya sampai di sudut mata dan tidak sampai jatuh ke pipi.
...Aku mungkin tidak baik tapi aku akan melakukan yang terbaik untukmu agar nanti kamu tidak punya celah untuk mengeluh tentangku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...