Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (44)


__ADS_3

"Jadi sebenarnya Mirna dulu satu sekolah dengan mas, walaupun mas anak pesantren tapi Abi membebaskan mas untuk memilih sekolah yang mas sukai, asal mengajinya tetap.


Di sekolah Mirna termasuk anak yang baik, dia pendiam, cantik dan berprestasi.


Sehingga banyak anak-anak cowok yang berlomba ingin mendekatinya, tapi Mirna selalu menolaknya.


Kami cukup dekat, karena kami memang satu kelas dan rumah kami juga tidak begitu jauh. Sering kami pulang bersama saat ada tugas kelompok.


Hingga saat acara universary sekolah, Mirna tidak kelihatan di acara itu.


Esok harinya, mas dapat kabar jika ternyata Mirna telah di lecehkan oleh beberapa anak laki-laki kakak kelas. Awalnya para pelaku belum di ketahui, tapi beberapa hari kemudian bukti menunjukkan ada sekitar sepuluh orang yang telah melecehkannya.


Semenjak kejadian itu, Mirna tidak pernah datang lagi ke sekolah. Ia mengurung diri di dalam kamar, orang tuanya juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Hingga kabar yang lebih memperburuk keadaannya, ternyata dia mengandung karena kejadian itu.


Orang tua Mirna merasa malu, kemudian mereka meninggalkan Mirna begitu saja membuat Mirna semakin depresi.


Mirna jadi Suak bicara sendiri, tidak mau mandi. Beruntung Mirna masih menyayangi anak dalam kandungannya walaupun mungkin sebelumnya tidak dia inginkan.


Hingga akhirnya Mirna melahirkan Diah, Mirna begitu menyayanginya. Ia menjaga Diah sendiri, banyak yang ingin mengadopsi Diah tapi Mirna menolaknya, dia benar-benar histeris saat di pisahkan dengan putrinya.


Jadilah Mirna yang sekarang, tapi sayangnya karena begitu protektif dengan sang putri, ia tidak mau jika putrinya sampai mengalami hal yang sama seperti dirinya, ia pun mendandani Diah layaknya anak laki-laki. Dia juga tidak mau jika Diah masuk sekolah.


Karena menurutnya sekolah adalah awal dia mengalami ketidak adilan."


Raka menjelaskan panjang lebar sedangkan Asna, tanpa terasa air matanya sudah mengalir melewati pipinya. Raka segera mengusap air mata sang istri dan memeluknya.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?"


"Mas, seandainya aku bukan berada di dalam keluarga ku yang saat ini, apa mungkin aku juga akan sama seperti Mirna?"


"Bersyukurlah karena kamu berada dalam keluarga yang menyayangimu!"


"Terimakasih ya mas sudah membawa Asna ke sini!"


"Hmm!"


Setelah berhasil menguasai perasaannya kembali. Mereka pun segera berpamitan untuk pulang karena sudah hampir menjelang ashar.


Sepanjang jalan Asna hanya terus memeluk Raka dan diam, dia sepertinya sedang mengembalikan segala memorinya.


"Kita ke masjid dulu ya!"


"Iya!"


Raka pun menghentikan motornya di salah satu masjid saat mendengar azan berkumandang.


"Nanti bertemu lagi di sini ya!"


"Iya!"


Raka menuju ke tempat wudhu pria sedangkan Asna ke tempat wudhu wanita.


Beberapa jama'ah juga sudah memasuki masjid, Asna mengambil mukena yang di sediakan oleh masjid karena dia tidak terbiasa membawa mukena saat bepergian. Ia memilih shaf di tengah bersama jamaah lainnya.

__ADS_1


***


Beberapa mulai keluar dari masjid saat dia selesai, Asna terlihat masih khusyu dalam doanya.


Ya Allah, engkau telah memberiku keluarga, teman-teman yang luar biasa. Hanya karena ujian yang engkau berikan membuatkan tidak pandai bersyukur ya Allah, terimakasih ya Allah karena engkau telah mengirimkan seorang imam yang baik buat hambaMu yang penuh dengan dosa ini. amiiin


Asna mengakhiri doanya dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di wajahnya.


Saat Asna menoleh ke arah luar, ternyata suaminya sudah menunggunya di luar. Senyum langsung tersungging di bibirnya.


Asna dengan cepat melepas mukenanya dan melipatnya kembali dengan rapi.


Ia bergegas menemui suaminya yang sudah duduk di depan. Melihat Asna keluar, Raka segera berdiri dan menata sendal milik Asna agar Asan lebih mudah memakainya.


"Terimakasih mas!"


Raka hanya mengusap kepala Asna yang tertutup jilbab berwarna coklat susu itu.


"Ayo!" ajak Raka setelah Asna selesai memakai sendalnya.


"Mas, kita ke rumah mama papa dulu nggak pa pa ya mas?"


"Buat istriku tercinta, apa yang nggak bisa mas kasih!"


"Terimakasih mas!"


Raka pun membawa Asna ke rumah orang tuanya. Kedatangan mereka langsung di sambut bahagia oleh keluarnya.


Asna sampai langsung memeluk sang mama,


"Terimakasih ya ma, atas kesabaran mama selama ini!"


Mama Asna benar-benar bersyukur karena melihat putrinya yang sudah begitu baik sekarang.


Setelah memeluk mamanya, Asna juga melakukan hal yang sama pada papanya.


"Terimakasih karena papa sudah tabah demi Asna!"


"Papa yang harusnya terimakasih karena Asna sudah mau kembali menjadi putri papa yang dulu!"


"Mudah-mudahan sekarang Asna lebih baik pa, karena Asna berada di sisi orang sebaik mas Raka!"


Papa Asna menatap ke arah menantunya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Papa Asna segera melepas pelukan Asna dan beralih memeluk menantunya.


"Terimakasih!"


"Bukan sama saya pa, sama Allah! Raka hanya perantaranya saja!"


"Papa benar-benar beruntung karena Allah mempertemukan keluarga papa sama kamu!"


Setelah acara haru itu, mereka pun lanjut dengan makan malam bersama. Ini untuk pertama kalinya mereka makan malam dalam keadaan yang lebih baik.


"Kalian menginap di sini saja ya!" ucap mama Ayu.

__ADS_1


"Iya, ini sudah malam! Lebih baik pulang besok saja ya!" papa Tedi menambahkan.


"Saya terserah Asna sama pa, ma!"


"Bagaimana Asna, mau ya?" mama Ayu tampak begitu bersemangat.


"Iya!"


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah orang tua Asna.


"Mas, pakek bajunya papa apa Aslan?" tanya Asna saat menyadari jika suaminya tidak punya baju ganti di rumah orang tuanya.


"Kalau punya papa kayaknya kebesaran, punya Aslan aja deh!"


"Baiklah, tunggu sebentar ya mas! Mandilah dulu!" Asna kembali keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar adik laki-lakinya.


"Aslan, Bizar, boleh kakak masuk?" tanyanya di depan pintu saat melihat kedua adiknya sedang asik berbincang di atas tempat tidurnya masing-masing.


"Kak Asna!" teriak mereka bersamaan.


"Kalian kok seperti anak kecil sih, liat kakak!" Asna segera keluar dan ikut duduk bersama mereka.


"Lagi ngomongin apa? Ngomongin kakak ya?"


"Bukan!" jawab Aslan dengan pasti membuat Asna mengerutkan keningnya,


"Siapa?"


"Kak Raka! Kak Raka itu kayak pahlawan tau kak, dia itu bisa aja tingkahnya, pengen nanti kalau besar kayak kak Raka!"


"Harus dong, kalian harus jadi laki-laki yang menyayangi dan mengormati wanita, siapapun itu!"


"Boleh peluk lagi nggak kak?" tanya Bizar yang masih merasa ragu untuk memeluk kakaknya, takut kakaknya histeris.


"Boleh dong!" akhirnya kedua adiknya itu memeluk Asna dengan begitu erat seakan-akan tidak mau lepas lagi.


"Sudah, sudah! Kalau kalian kelamaan meluk kakak kasihan mas Raka nanti, dia nggak punya baju ganti!"


Abizar dan Aslan pun segera melepaskan pelukan kakaknya.


"Aslan, kakak pinjam baju santainya dong buat mas Raka!"


"Pilih sendiri aja deh kak di lemari!"


"Baiklah!" Asna pun kembali berdiri dan menuju ke lemari Aslan, ada dua lemari yang berjejer dengan nama masing-masing di daun pintunya.


"Aku ambil yang ini aja ya?" tanya Asna saat menemukan baju santai milik Aslan.


"Bawa aja kak!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2