Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ektra part (Pria Luar biasa)


__ADS_3

"Iya mas!" kemudian Leon kembali teringat tentang Gus Raka yang ia temui sebelum ia ke rumah sakit, "Oh iya mas, apa tadi mas Alex kedatangan tamu, maksud saya soalnya yang meeting di ruangan tadi mas Alex, jadi aku bertanya seperti ini!" entah kenapa dia merasa canggung sendiri, walaupun sudah pasti Alex akan menjawab semua pertanyaannya.


Sebelum Alex sempat menjawabnya seorang pelayan datang dengan membawa dua cangkir kopi hitam untuk teman ngobrol mereka.


"Minumlah dulu!" Alex mengangkat cangkirnya dan menyeruputnya sedikit karena jelas masih panas.


Leon yang memang juga sudah lama tidak minum kopi, ia pun ikut menyesap kopinya. Selama di rumah Nisa, Nisa selalu membuatkan coklat panas. Memang salahnya juga, ia tidak pernah memberitahu sang istri kebiasaannya minum kopi karena dia tidak mau menyusahkan sang istri, apalagi papa mertuanya juga tidak terlihat minum kopi, atau mungkin memang dia belum tahu.


Setelah meneguk kopinya yang masih panas, Leon kembali menunggu jawaban dari sosok selama ini menjadi panutannya itu. Darinya lah ia bisa belajar banyak tentang bisnis dan mengahadapi lawan.


"Iya tadi ada yang menemuimu!" ucap Alex kemudian membuat Leon semakin penasaran apakah benar jika tamunya itu adalah Gus Raka.


Melihat Leon kembali bertanya walaupun terlihat sekali sorot matanya begitu penasaran, Alex pun tersenyum dan melanjutkan ucapannya,


"Dia sainganmu dulu!"


Memang walaupun tidak tahu pasti, setidaknya dia juga pernah mendengar cerita tentang kisah cinta Leon itu, bagaimana perjuangannya mendapatkan restu dari papa mertuanya.


Leon memalingkan wajahnya ke tempat lain, mencoba menyembunyikan pipinya yang tersipu.


Hanya sebentar, lalu Leon pun segera menormalkan wajahnya lagi dan menatap sang kakak.


"Apa ada hubungannya dengan toko Nurul Jannah?"


Alex menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan, ada urusan lain!"


Leon semakin penasaran saja, tapi sayang tiba-tiba ponsel Alex berdering menghentikan percakapan mereka.


"Masih di kantin!"


"...."


"Iya bentar ya, papa habiskan kopi papa dulu!"


"...."


"Iya sayang!"


Alex meletakkan lagi ponselnya di samping kopinya, ia segera menyesap kopinya yang tinggal separoh.


"Tadi kamu tanya apa?"


Sebenarnya Leon masih ingin bertanya tapi mendengar tadi kiandra meminta papanya untuk buru-buru menghampirinya membuat Leon memilih untuk mengurungkan niatnya untuk bertanya, akan lebih baik jika dia tidak terlalu ikut campur yang bukan urusannya.


"Tidak pa pa, nanti saja!" Leon pun juga segera meminum kopinya hingga habis, "Kita kembali!" ajaknya kemudian.


"Baiklah!"


Setelah melakukan pembayaran mereka pun segera kembali ke tempat Nisa di rawat, Kiandra dan Arsy sudah menunggu mereka di depan ruangan.


"Kenapa di luar?" tanya Leon pada kedua anak kakaknya itu.

__ADS_1


"Kia bosan, Kia sama Arsy pengen ke ruang bermain tapi sama mama nggak boleh katanya suruh nunggu papa kembali!" ucapnya sambil cemberut.


"Bagaimana kalau kita bermain di mall saja?" tanya sang papa.


"Asyikkk, kita ke mall!" Arsy meloncat senang.


"Ya sudah kakak bilang sama mama sana, kasihan nanti Tante Nisa nya kalau di ajak ngobrol terus!"


"Siap papa!" Kia dengan langkah cepatnya kembali menghampiri sang mama yang terlihat masih asik berbincang dengan Nisa.


Tapi karena rengeken dari Kia akhirnya Aisyah menyerah, ia berpamitan pada Nisa dan juga Leon.


Setelah kepergian keluarga kecil itu, kini Leon kembali menghampiri sang istri.


"Mau makan apa? Biar aku suapi? Atau aku lupakan buah?"


"Jeruk aja deh mas kayaknya, mulutku rasanya pahit!"


"Baiklah!" Leon pun segera bangkit kembali dari duduknya dan membual parsel buah segar yang di bawa oleh Aisyah, mengambil buah jeruk yang terlihat begitu segar dan besar.


Leon terlihat begitu telaten mengupas kulit buahnya, menyuapkan satu per satu ke mulut sang istri.


"Mas!" ucap Nisa setelah saling diam.


"Hemm?"


"Kata mbak Ais, mas Leon suka minum kopi ya?"


Mendengarkan pertanyaan Nisa, Leon pun tersenyum.


"Kenapa mas Leon tidak bilang sama Nisa? Tahu gitu Nisa bisa buatkan mas Leon kopi setiap hari!"


"Sama seperti di rumah mas Alex, apa yang di berikan itu yang aku minum dan insyaallah lama-lama menjadi terbiasa!" ucapnya sambil tersenyum membuat Nisa terdiam. Ia tahu jika suaminya itu pasti tidak ingin membuatnya repot.


"Mas, nanti kalau pulang langsung ke rumah mas Leon ya!" ucapnya setelah terdiam cukup lama, Leon langsung menatap wajah istrinya dengan penuh pertanyaan.


"Nisa rasa sudah waktunya kita tinggal di rumah kita sendiri mas, kalau hari libur kita bisa menginap di rumah papa mama sesekali!"


"Apa tidak sebaiknya itu nanti kita bicarakan sama mama dan papa saja?"


"iya mas, nanti pas mama sama papa ke sini, biar Nisa yang bicara, insyaallah mereka mengijinkan!"


"Sudah jangan berpikir macam-macam, habiskan buahnya setelah ini aku akan panggil temen kamu yang bernama Asna untuk menemanimu, aku akan ke mushola dulu, tidak pa pa kan?"


Nisa menganggukkan kepalanya cepat.


...***...


Pria yang baru saja melipat sajadahnya yang baru ia gunakan untuk alasnya sholat Dhuha segera meletakan. sajadahnya asal saat pintu ruangannya di ketuk.


Peci hitam yang masih bertengger di kepalanya segera ia lepas dan ia letakkan di atas meja kerjanya, tangannya ia gunakan untuk menyunggar rambutnya yang masih terlihat basah karena terkena air wudhu.

__ADS_1


"Masuk!"


Salah satu karyawan tokonya menghampiri.


"Ada apa?" tanyanya dengan ramah.


"Di depan ada yang cari mas Raka!"


"Siapa?"


"Tidak tahu mas, kayaknya belum pernah ke sini!"


"Baiklah, aku akan menemuinya!"


Setelah karyawannya pergi, Gus Raka segera merapikan rambutnya dan menyusul keluar. Tidak mau membuat tamunya menunggu lama.


Seorang pria berdiri membelakangi dirinya, tampak pria itu sedang mengamati buku-buku yang berjejer rapi dengan pemisahan jenis buku sesuai dengan jenisnya, membuat orang yang akan membeli tidak kesusahan untuk memilah-milah.


Gus Raka segera tersenyum saat tahu siapa pria yang ada di depannya itu sekaligus merasa tidak enak, ia Sudja memeriksa ponselnya sedari pagi tapi memang tidak ada pesan.


"Pak Alex!"


Pria yang di panggil itu segera menoleh dan tersenyum padanya.


"Maaf saya datang ke sini tanpa memberitahu dulu, sebenarnya saya sengaja karena ini melihat toko mas Raka!"


"Saya yang begitu tersanjung karena pak Alex berkenan untuk datang ke sini, sungguh sebuah kehormatan bagi saya!"


"Jangan berlebihan, hanya perbuatan baik seseorang yang membedakan derajat kita di mata Allah!"


Gus Raka lagi-lagi di buat terperangah, pria di depannya itu begitu tidak sombong dengan apa yang ia punya saat ini, begitu banyak bisnis yang sudah ia kelola tapi tidak membuat pria itu sombong dan tinggi hati,


"Baiklah, silahkan duduk pak Alex!" ucap Gus Raka setelah sekian lama mereka berdiri.


"Bagaimana kalau kita segera berangkat saja, Pumpung masih pagi?"


"Berangkat?" tiba-tiba Gus Raka blank begitu saja dengan rencana mereka.


"Iya, kita ke rumah pemilik alamat itu!"


"Ahhh, iya!" barulah Gus Raka ingat dengan hal itu, "Kalau begitu saya ke dalam dulu tidak pa pa ya pak Alex, saya harus mengambil ponsel dan dompet saya!"


"Iya, silahkan!"


Gus Raka pun dengan cepat kembali ke ruangannya untuk mengambil benda pipih dan dompetnya, tidak lupa sebuah jaket berwarna hitam ia pakai juga.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2