Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Meluapkan kerinduan


__ADS_3

Setelah meluapkan rasa rindunya, Alex dan Aisyah pun segera membersihkan diri. Mereka harus segera menyiapkan acara tahlil nanti malam.


"Kamu istirahat saja ya, biar baby Kia aku yang gendong!" ucap Alex saat melihat wajah lelah istrinya itu.


"Tapi mas ...., mas Alex juga belum istirahat kan!"


"Tidak pa pa, biarkan aku menghabiskan waktuku satu hari ini saja bersama baby Kia!"


Aisyah pun menyerah, ia membiarkan suaminya yang menjaga baby Kia. Alex mengambil baby Kia dari Nino dan mengajaknya bermain.


Baby Kia seperti juga sangat merindukan papa nya.


"Kia ...., papa tahu kamu anak yang kuat! Jadilah gadis yang kuat nantinya agar ayah tidak begitu cemas padamu!"


Tangan mungil Baby Kia begitu senang memegangi jenggot tipis milik papanya.


"Kamu suka ya sama ini? Mama mu juga suka!"


Seseorang tiba-tiba menghampirinya dan menepuk pundaknya.


"Assalamualaikum!"


Alex pun segera menoleh, ia mengingat suara siapa itu. Itu adalah suara gus Fahmi.


"Waalaikum salam!"


Alex pun beralih menatap gus Fahmi,


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya nenek Widya, semoga segala amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT!"


"Amin!"


Alex kembali beralih menatap baby Kia, baby Kia terlihat asyik bermain dengan kaki dan tangannya dan sesekali berceloteh.


"Pak Alex ...., apa kita bisa bicara sebentar?" tanya gus Fahmi.


"Baiklah!"


Alex pun memanggil kembali Nino, ia meminta tolong Nino untuk menjaga baby Kia.


Alex mengajak gus Fahmi berbicara di teras belang yang langsung terhubung dengan taman belakang dan juga kolam renang.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Alex.


"Saya mendengar tentang kasus yang menimpa anda!"


"Saya sudah menduganya! Kamu akan menyalahkan ku atas kesedihan yang di terima oleh Aisyah, Kamu pasti berpikir jika saja Aisyah menikah denganmu bukan denganku dia pasti akan lebih bahagia? Iya kan?"


"Maaf ...., tapi bukan hal itu! Saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi di masa lalu, saya sudah punya keluarga sendiri, begitupun dengan anda! Saya cukup tahu posisi saya saat ini! Bisakah kita berteman dan insyaallah hubungan kita akan membaik!"


"Maksudnya?"


"Biarkan saya membantu sebisa saya ....! Kita bisa mengobrol soal agama! Saya sudah mendengar semua tentang anda dari abi! Dan saya sangat bangga bisa mengenal anda, dan juga Aisyah tidak salah memilih anda!"


Alex pun terdiam, ia tidak percaya pria di depannya itu akan berbicara seperti itu. Ia berpikir jika pria itu akan menertawakannya atau mungkin malah menyalahkannya atas semua yang terjadi.

__ADS_1


"Saya siap! Tapi saya tidak di sini!"


"Saya tahu, saya juga biasa datang ke sana, jadi nanti kita tidak akan sulit untuk bertemu!"


Obrolan mereka yang awalnya begitu dingin kini berubah menjadi hangat, Aisyah melihat mereka dari balik jendela kamarnya.


"Bagaimana mereka bisa seakrab itu!?" gumam Aisyah.


...***...


Malam pun datang, para tetangga yang mengikuti tahlil bersama pun sudah mulai berdatangan, Alex menyambut ke datangan mereka di depan pintu.


Setelah semuanya datang, tahlil pun di mulai, pembacaan tahlil di imami langsung oleh gus Fahmi sebagai perwakilan atas kyai Hamid.


Pembacaan tahlil berlangsung selama satu jam, setelah acara selesai, para tamu pun berpamitan untuk pulang. Alex lagi-lagi menyalami di depan pintu dan mengucapkan terimakasih.


Setelah semua tamu pulang, dan rumah kembali rapi, orang-orang yang membantu pun ikut berpamitan untuk pulang.


"Mas ..., istirahatlah ....! Dari siang mas Alex sama sekali tidak beristirahat!" ucap Aisyah, ia mengajak Alex masuk ke dalam kamar dan memintanya untuk duduk, Aisyah segera memijat kaki suaminya itu.


"Apa baby Kia sudah tidur?" tanya Alex karena Aisyah hanya sendiri.


"Iya mas ...., Kia siang tadi tidak tidur sama sekali!"


"Duduklah di sampingku!" ucap Alex sambil meminta Aisyah untuk duduk di samping Alex.


"Tapi mas ....., Aisyah masih mijitin kaki mas Alex!"


"Tidak pa pa ...., ke sini lah!"


"Ada apa mas?"


"Aku begitu merindukanmu!" ucap Alex yang sudah menarik dagu Aisyah hingga membuat bibir Aisyah begitu dekat dengan bibirnya.


Alex pun mengulang kembali apa yang mereka lakukan tadi siang, rasanya tidak pernah cukup untuk menjamah tubuh istrinya, rasa rindunya bukan menghilang tapi semakin besar saja.


Aisyah terkulai lemah di atas tempat tidurnya,


"Tidurlah sayang!" ucap Alex sambil meninggalkan kecupan di kening istrinya.


Alex memakai kembali bajunya dan menutup tubuh Aisyah dengan selimut.


Ia berusaha keras untuk menutup matanya, tapi ternyata tidak bisa. Wajah tenang istrinya begitu dekat dengannya, seakan seperti sebuah mimpi.


Alex pun memutuskan untuk turun dari tempat tidur,bia memilih untuk menuju ke kamar nenek Widya. Ia kembali mengenang nenek Widya.


Alex duduk di atas tempat tidur sang nenek, mengambil album foto yang ada di atas nakas dan mulai membukanya.


Nenek Widya begitu gemar melihat foto itu setiap kali nenek Widya akan tidur.


"Nek ...., nenek pergi secepat ini ....!"


"Kenapa nenek membiarkan Alex melalui ini semua sendiri?"


"Alex sudah meninggalkan Aisyah, tapi nenek juga begitu! Apa nenek tidak kasihan pada Aisyah?"

__ADS_1


Alex terus saja berandai-andai, tapi semuanya tidak mungkin terjadi.


...***...


Pagi ini Alex sudah bersiap-siap, dua polisi sudah menunggunya di depan rumah.


"Aku harus pergi sayang!" ucap Alex.


Aisyah masih terus memeluk suaminya itu, ia baru saja merasakan kembali bersama dengan suaminya.


"Kenapa harus seperti ini mas, Aisyah nggak sanggup untuk melepaskan mas Alex!"


"Jangan khawatir sayang ...., aku hanya ingin suatu saat nanti kita tetap bersama-sama sampai di surga, jika aku tidak mempertanggung jawabkan kesalahanku di dunia, aku takut sayang ...., nanti kita berada di tempat yang berbeda di tempat yang abadi itu!"


"Lalu bagaimana dengan aku dan Kia saat ini mas, kita juga membutuhkan mas Alex di sini!"


"Jangan lemah sayang ...., percayalah ...., kita bisa melewati semua ini dengan baik!"


Aisyah hanya bisa terus memeluk suaminya itu,


"Jangan menangis ...., lihatlah ..., Kia butuh ibunya yang kuat, kamu Aisyah ku yang kuat dan pantang menyerah!"


Alex menciumi wajah Kia yang ada di dalam gendongan Aisyah,


"Ayo sayang ...., antar aku ke depan! Anggaplah jika saat ini kamu sedang mengantar suamimu ke medan perang!" ucap Alex sambil merangkul Aisyah yang menggendong baby Kia.


Mereka pun berjalan menghampiri dua polisi itu, Alex kembali mengecup kening Aisyah dan juga baby Kia.


"Sampai jumpa di persidangan sayang, doakan semoga hukuman ku di peringan ya!"


"Amiiin!"


"Assalamualaikum, Ay!"


"Waalaikum salam, mas!"


Alex pun di bawa masuk ke dalam mobil polisi itu, Aisyah masih tetap berdiri menunggu hingga mobil itu menghilang.


Aisyah kali ini lebih tenang di bandingkan saat pertama kali suaminya di giring ke kantor polisi.


"Yang sabar, nduk ....! Yakinlah semua akan baik-baik saja ...., suamimu orang baik nduk ....!" ucap bu Santi yang terus menemani putrinya itu.


"Amin bu ...., semoga ....!"


Bersambung


...Iman itu seperti rollercoaster, kadang kita merasa iman kita berada di paling puncak tapi tidak jarang kita merasa iman kita juga berada di paling bawah....


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2